kau hadir saat ku benar benar merasa hancur dan nyaris gila dengan alur cerita hidupku. kau seperti malaikat tak bersayap yg di utus tuhan untuk menyadarkan dan menyelamatkan hidupku.
tanpamu aku bukan lah siapa siapa, tanpamu aku hanya orang hina yg kehilangan arah tujuan hidup.
takan cukup aku mengucap kata terimakasih kepadamu, atas segala kebaikan dan ketulusan hatimu.
kaulah jawaban do'a dalam hatiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lukmanben99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
teman yg konyol
1,2,3 dengan hitungan ke tiga kami merebahkan semak itu, setelah merebahkan semak itu, ternyata bukan hewan atau pun hal yang menakutkan lainya, ternyata itu adalah salah satu teman kami sedang berak di darat, kami langsung menutup hidung karena bau.
" Hehe, sory gak kuat kebelet.." ucap teman yang berak itu sambil malu cengengesan.
" Sialan loe, kirain gue apaan.." ucapku dengan kesal sambil menutup hidung.
" Berak sembarangan loe, bau banget lagi, makan bangke kali loe ya?!.." timpal dony.
" Cebok loe situ pake daun.." ucap riko, sementara teman yang berak itu malah cengar cengir sambil ngeden.
Setelah itu kami berjalan lagi mencari kayu bakar, dan tidak lama kami berjalan dari tempat tadi, kami menemukan kayu bakar yang terkumpul rapi.
" Nah, rezki emang gak kemana.!!." ucap dony saat melihat kayu kayu itu.
" Bener, udah yuk bawa ah..! " Timpal riko dengan girang.
" Jangan ah, punya orang itu.." larangku pada mereka.
" Emang ngapa sih, udah ini aja yang ada, dari pada kita nyari kemana mana capek capek, entar nyasar aja kita..!" Ucap dony.
" Iya bner sat kata dia, ini juga gue yakin orangnya udah tau kemana, kelupaan kali nih orang naro di sini.." ucap riko.
lalu aku melihat ke setiap sudut arah, namun aku tidak melihat orang selain kami. " Iya juga sih, yaudah yuk bawa, bagi tiga..!!!" ucapku, dan kami pun membawa kayu bakar itu ke tempat perkemahan kami.
*di rumah elina*
sementara orang tuanya elina. saat di dalam rumah mereka sedang merencanakan ke mana anaknya melanjutkan pendidikan. papahnya ingin elina melanjutkan pendidikan elina ke luar negri, namun mamahnya melarangnya, karena ia tidak mau jika sampai berpisah jauh dengan anak satu satunya itu, mamahnya elina memilih elina untuk melanjutkan pendidikanya di jakarta saja. papahnya tidak setuju, hingga akhirnya mereka berdebat saling mempertahankan ego nya masing masing, salah satu dari mereka tidak ada yang mau mengalah. mereka bercekcok berdebat hingga papahnya membawa bawa namaku satria, dan menjelek jelekanku di depan istrinya itu. Papahnya mengatakan bahwa aku lelaki tidak jelas, lelaki berandalan yang suram masa depanya.
namun mamahnya membantahnya, dan mengecam bahwa aku tidak seburuk apa yang suaminya pikirkan, dan jangan sembarang menilai orang, dan mengatakan bahwa masa depan seseorang itu tidak ada yang tau, terkecuali tuhan. papahnya merasa heran, karena se olah olah istrinya membelaku,
papahnya kesal kerena istrinya tidak percaya dan tidak menuruti apa ke inginanya terhadap anaknya itu, mamahnya elina bersih keras menolak ke inginan suaminya itu.
*kembali ke perkemahan*
Saat malam tiba. Sementara aku, Elina, Dony dan Maya dan juga teman yang lainya, kami menyalakan api unggun, kami berkumpul melingkari api unggun itu. Kami sangat begitu senang bernyanyi tertawa canda bersama. saat itu Dony yang bermain gitar, kami bernyanyi riang canda tawa bersama sambil menikmati suasana malam di tempat itu.
malam semakin larut. satu persatu teman temanku masuk ke dalam tendanya masing masing untuk tidur beristirahat. kini yang tersisa di luar hanya aku dony, elina dan juga Maya.
dan tak lama kemudian Maya mulai merasa ngantuk. “ ngantuk banget gue, lin tidur yuk” ajak maya kepada elina.
“emm,, kamu duluan aja may, aku belum ngantuk..!” jawab elina di sampingku.
“ yaudah aku masuk tenda duluan ya, ngantuk banget” ucap maya. Dan ia pun berjalan masuk tenda.
kini hanya tersisa kami bertiga di luar.
Dony merasa lapar. " Laper gue, bntar gue ngambil makanan dulu.."ucap dony. Ia manaruh gitarnya di dekatku, lalu ia berjalan masuk tenda mengambil makanan.
" Gue juga mau don..!" ucapku melihat dony mengambil makanan.
" Kamu laper kang..?" Tanya elina di sampingku.
" Iya lin, kamu gak laper emang..?" Ucapku.
" Iya sama, bentar ya aku ambil makanan dulu.." ucap elina, lalu ia mengambil makanan siap saji dari dalam tenda.
Tak lama kemudian Dony datang membawa makanan, dony membawa sosis mentah. Dony menusuk sosis itu untuk membakarnya.
Kemudian elina datang membawakan makanan, lalu elina memberikannya kepadaku.
Dony melihat apa yang elina bawa." Gue mau dong.."
" Udah loe itu ajah bakar.." ucapku sembari mengunyah makanan yang elina berikan.
" Ini makan ambil ajah don..!" Tawaran elina.
" Nah gitu dong.." Dony sambil mengambil makanan dari elina.
Setelah itu Kemudian Dony membakar sosisnya itu di api unggun hadapanya.
Setelah makan.
" Bentar ya kang aku ambil minum dulu, kamu mau ngopi kang..?" Tawaran elina.
" Iya boleh lin..!!" Jawabku tersenyum.
“ Yaudah bentar ya kang..!” ucap elina, lalu ia berjalan ambil minum dan membuatkan kopi untukku.
Dony malah mengejek elina saat elina menawarkan kopi kepada ku, Dony mengejek dengan gerakan mulut, elina tidak melihatnya.
Elina menoleh ke arah dony. " Don kamu mau ngopi juga..?”
Dony berpura pura tidak mengejeknya." Hehe, iya boleh lin..!"
Tak lama kemudian elina membawakan kopi kepadaku dan Dony, lalu ia kembali lagi untuk mengambil teh hangatnya, setelah itu Elina duduk di sampingku lagi sambil menggenggam teh hangatnya.
Aku meminum kopi itu, lalu aku mengambil roko di saku dan membakar rokok, kemudian Dony mengambil rokokku itu dan membakarnya. Lalu aku mengambil gitar di dekat ku, aku memetik senar gitar itu dengan alunan tenang dan santay, seketika Dony memejamkan matanya sambil menghisap roko menikmati alunan gitar yang aku mainkan, elina pun meresapi alunan gitar yang aku mainkan.
Kemudian aku bernyanyi dengan pelan, elina terdiam saat mendengar suaraku. itu adalah pertama kalinya elina mendengarku bernyanyi, elina menatap wajahku yang sedang bernyanyi, elina tidak menyangka menurutnya aku memiliki suara yang merdu, aku bernyanyi membawakan lagu tentang cinta, lalu elina bersandar di bahuku, sambil menikmati dan meresapi lagu yang ku nyanyikan.
Dan sementara Dony perlahan mengikuti alunan lagu yang aku nyanyikan, ia ikut bernyanyi menjadi backing vokal sambil membakar sosisnya itu.
Setelah selesai aku bernyanyi, Dony kaget saat melihat ternyata sosis yang ia bakar gosong. ia terdiam melongo melihat sosisnya hitam gosong tak karuan. aku menertawakanya.
Lalu dony menoleh ke arahku sambil memegang sosisnya yang gosong " Suara loe membawa bencana..!" Ucapnya geleng geleng kepala.
Sementara elina, ternyata elina tidur bersandar di bahuku, lalu aku membangunkan elina. " Lin, yah tidur, bangun lin.." aku menepuk lembut pipinya.
" Hmm, " gumam elina terbangun dari tidur.
" Udah malem kamu masuk tenda gih, tidur istirahat..!" suruhku.
" Iya kang, aku ngantuk banget, aku tidur duluan ya kang.." ucapnya dengan mata yang sayup sangat mengantuk. elina berdiri dan berjalan masuk ke tenda melanjutkan tidurnya.