“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”
Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.
Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.
Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.
Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.
Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Anjing
Ia berdiri dengan goyah, mencoba mencari sedikit kehangatan di lorong gelap dekat gerbang.
Matanya yang bulat menatap nanar ke arah sebuah kedai mi di sudut jalan.
Di sana, seorang pria berpakaian sederhana, mungkin seorang kultivator tingkat rendah sedang memperhatikan anaknya yang makan dengan lahap.
Pria itu tersenyum, mengusap kepala sang anak meski di depannya sendiri tidak ada makanan. Dari sorot matanya, terlihat jelas bahwa kebahagiaan anaknya sudah cukup untuk mengenyangkan perutnya.
Kruyuk…
Lu Ming memegangi perutnya. Rasa lapar itu kini berubah menjadi rasa panas yang membakar. Ia merogoh saku bajunya yang penuh tambalan, berharap keajaiban muncul berupa sebutir manisan atau sekeping koin tembaga.
Hasilnya nihil. Hanya ada debu dan serat kain yang kasar.
Terdorong oleh rasa lapar yang tak tertahankan, langkah kecilnya membawa Lu Ming ke tumpukan sampah di belakang kedai.
Di sana, di antara sisa tulang dan sayuran busuk, ia melihat potongan bakpao dingin yang sudah mulai mengeras dan berjamur di satu sisi.
Baru saja tangannya yang gemetar hendak menyentuh sisa makanan itu, sebuah geraman rendah terdengar dari bayang-bayang. Seekor anjing liar dengan bulu rontok dan mata merah kelaparan muncul, memamerkan taringnya yang kuning.
"I-ini milikku…" bisik Lu Ming dengan suara parau.
Anjing itu tidak peduli. Dengan satu terkaman, hewan itu menerjang. Lu Ming terjerembap ke tanah yang keras, ia memekik saat taring tajam anjing itu merobek lengan kecilnya.
Bocah itu mencoba melawan, mendorong kepala anjing itu dengan sisa tenaganya, meronta di atas tanah hanya demi sepotong roti basi.
Pergumulan singkat itu berakhir dengan Lu Ming yang terlempar ke kubangan air kotor. Anjing itu lari menjauh sambil menggigit bakpao tersebut, meninggalkan sang bocah yang bersimbah darah dan debu.
Lu Ming tidak mengejar. Ia hanya meringkuk di atas tanah dingin, membiarkan luka di lengannya berdenyut nyeri. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah, menyatu dengan kebisingan kota yang tidak peduli.
"Sakit… Ibu… sakit sekali…" tangisnya pecah.
Di bawah naungan langit malam yang luas, di sebuah kota yang dipenuhi para pencari keabadian yang angkuh, seorang bocah kecil terkapar hancur. Namun, di tengah isak tangisnya yang sesak, ia masih membisikkan janji yang sama.
"Ibu tidak bohong… Ayah akan datang. Aku akan tetap di sini… menunggu di sini."
Malam itu, Kota Azure menjadi saksi patahnya hati yang paling murni, sementara di jalan setapak yang jauh, ibunya terus berjalan menjauh tanpa sekalipun menoleh ke belakang.
Langit Kota Azure pagi itu tidak menyambutnya dengan hangat. Mendung menggantung rendah, kelabu dan berat, seolah awan-awan itu sendiri membawa beban air mata yang siap tumpah ke bumi.
Lu Ming terbangun dengan tubuh yang gemetar hebat. Rasa dingin dari lantai batu tempatnya meringkuk meresap hingga ke sumsum tulang.
Namun, hawa dingin itu tidak seberapa dibandingkan rasa perih yang berdenyut dari luka gigitan anjing di lengannya. Luka itu sudah membiru, pinggirannya membengkak dan kotor akibat debu jalanan.
"Ibu..." bisiknya. Suaranya serak, nyaris hilang tertelan deru angin pagi.
Dengan sisa tenaga, ia mencoba mendudukkan tubuhnya yang ringkih. Kepalanya terasa ringan, dunianya berputar perlahan.
Di sekelilingnya, Azure mulai berdenyut. Para pedagang mulai sibuk membongkar muatan, dan para kultivator dengan jubah sutra yang berkilau melangkah angkuh.
Mereka berjalan dengan dagu terangkat, sama sekali tidak melirik sosok kecil kotor yang meringkuk di sudut gerbang.
Beberapa warga kota yang lewat sesekali membuang muka. Bagi mereka, kehadiran Lu Ming tidak lebih dari sekadar noda yang mengganggu pemandangan kota yang megah.
"Anak siapa ini? Kenapa ada anak terlantar di gerbang utama?" tanya seorang wanita paruh baya yang membawa keranjang tanaman obat. Ia berhenti sejenak, menatap Lu Ming dengan dahi berkerut.