"Sepuluh tahun lalu, ayahku menjualku. Dan malam ini, sang pembeli datang menjemputku."
Alana mengira hidupnya sempurna, sampai ia diseret ke Rusia oleh Alexei Dragunov seorang Tsar mafia yang dingin dan berbahaya. Alana bukan datang sebagai pengantin, melainkan sebagai aset yang telah dibayar lunas oleh Alexei untuk menutupi hutang ayahnya.
Di tengah badai salju Saint Petersburg, Alana terjebak di antara dua pria paling berkuasa, Ayah kandung yang menjadikannya barang dagangan, dan suami mafia yang menjadikannya tawanan obsesi.
Saat rahasia darahnya mulai terungkap, Alana menyadari, Di dunia Alexei, tidak ada jalan keluar. Ia harus memilih, hancur sebagai korban, atau bangkit menjadi Ratu di samping sang iblis.
"Kau adalah milikku, Alana. Hidup atau mati, kau tetap dalam genggamanku."
-Alexei Dragunov-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. BELATI DI BALIK SUTRA
Anggukan itu adalah sebuah kode. Sebuah kode atas selesainya sebuah tahap, dan dimulainya tahap yang baru.
Malam itu, di bawah hujan salju yang kian lebat, kebenaran yang baru saja ia peluk mungkin hanyalah bayangan yang sengaja diciptakan untuknya. Ia merasa telah menemukan sekutu terkuatnya, Dan di bawah bayang-bayang mansion yang angkuh, Alexei Dragunov merayakan kemenangannya yang paling besar, Ia tidak hanya memiliki tubuh Alana, ia kini memegang jiwanya.
Heningnya pagi di Mansion Dragunov tidak pernah benar-benar menenangkan. Bagi Alana, keheningan itu terasa seperti nafas monster yang sedang tertidur. Sesuai janjinya, Alexei memberikannya akses ke sayap timur mansion area pribadi mendiang ibunya, Elena Volskaya, yang selama dua dekade dibiarkan membeku dalam waktu.
Alana melangkah masuk ke dalam perpustakaan pribadi Elena. Ruangan itu berbau kertas tua dan lavender kering. Jemarinya meraba barisan buku bersampul kulit, mencari sesuatu yang mungkin terlewatkan oleh mata tajam Alexei. Di sudut rak paling bawah, ia menemukan sebuah buku partitur musik yang tampak sering dibaca. Saat membukanya, sebuah sobekan koran tua jatuh ke lantai.
Itu adalah berita tentang kematian Dmitri Volkov. Namun, ada coretan tangan di pinggirannya. “Bukan Wira yang menarik pelatuknya. Ada bayangan lain di balik salju.”
Jantung Alana berdegup kencang. Jika bukan Wira, lalu siapa? Apakah Alexei membohonginya? Ataukah ibunya yang saat itu sedang dalam kondisi mental yang tidak stabil? Tulisan itu ambigu, menggantung seperti kabut, menciptakan retakan kecil dalam kepercayaan yang baru saja ia bangun untuk Alexei.
"Kau sedang mencari jawaban, atau hanya sedang merindukan hantu?"
Suara bariton itu mengejutkan Alana. Ia segera menyelipkan sobekan koran itu ke dalam sakunya dan berbalik. Alexei berdiri di ambang pintu, mengenakan pakaian latihan hitam yang ketat, menonjolkan otot-tubuhnya yang keras. Tidak ada jas mewah atau topeng emas, hari ini ia tampak seperti predator yang siap menerkam.
"Aku hanya ingin mengenal ibuku," jawab Alana, berusaha menjaga suaranya tetap datar.
Alexei berjalan mendekat, matanya menyipit, menatap rak buku yang baru saja disentuh Alana. "Mengenal masa lalu hanya akan membuatmu lemah, Alana. Masa lalu adalah rantai. Dan hari ini, aku akan mengajarimu cara memutuskannya."
Alexei membawa Alana ke sebuah ruangan luas di bawah tanah yang dindingnya dilapisi beton kedap suara. Di sana, berbagai jenis senjata api dan belati tertata rapi di dinding perak. Suhu di ruangan itu jauh lebih dingin daripada di atas, menciptakan uap setiap kali mereka bernapas.
"Ambil ini," Alexei melemparkan sebuah pistol Glock 17 ke arah Alana.
Alana menangkapnya dengan kikuk. Senjata itu terasa berat dan dingin di tangannya. "Aku tidak tahu cara memakainya."
"Itu sebabnya kita di sini. Wira membesarkanmu seperti bunga kaca, Alana. Cantik, tapi mudah hancur. Di Rusia, bunga kaca akan pecah di malam pertama musim dingin," Alexei berdiri di belakang Alana, melingkarkan tangannya untuk memperbaiki posisi genggaman gadis itu.
Tubuh mereka menempel rapat. Alana bisa merasakan panas yang memancar dari dada Alexei, sebuah kontras yang memabukkan dengan udara ruangan yang beku. Tangan Alexei yang besar dan kasar membimbing jari telunjuk Alana menuju pelatuk.
"Jangan hanya menatap targetnya. Rasakan nyawanya di ujung jarimu," bisik Alexei tepat di telinga Alana. "Jika kau ragu meski hanya sedetik, orang yang kau benci itu akan membunuhmu lebih dulu."
DOOR!
Tembakan pertama Alana meleset jauh dari sasaran. Bahunya tersentak keras karena hentakan senjata, membuatnya hampir terjatuh. Namun Alexei menahannya, lengannya yang kuat melingkari pinggang Alana, memaksanya untuk tetap berdiri tegak.
"Lagi," perintah Alexei tanpa ampun.
"Tanganku sakit, Alexei!"
"Sakit adalah bukti bahwa kau masih hidup! Wira tidak akan memberimu ampun karena tanganmu sakit!" Alexei memutar tubuh Alana, memaksanya menatap matanya yang biru tajam. "Dengarkan aku. Saat ini, seluruh Rusia sedang menunggumu jatuh. Sergei ingin kepalamu. Ayahmu ingin kontrol atas dirimu. Di dunia ini, tidak ada tempat yang aman bagimu."
Alexei mengambil belati dari pinggangnya dan menempelkan ujungnya yang tajam ke leher Alana, terasa tipis, hingga Alana bisa merasakan dinginnya baja itu mengancam nadinya.
"Satu-satunya alasan kau masih bernapas sekarang adalah karena aku berdiri di depanmu sebagai perisaimu. Tapi aku tidak bisa selamanya menahan peluru untukmu. Kau harus menjadi belati itu sendiri."
Tatapan Alexei yang intens seolah menghipnotis Alana. Keraguan yang tadi ia rasakan di perpustakaan perlahan terkubur oleh kenyataan yang ada di depannya. Pria ini kasar, dia manipulator, mungkin dia juga berbohong tapi dia adalah satu-satunya yang memberikan Alana senjata untuk melawan. Dia adalah satu-satunya yang tidak membiarkannya mati di tangan Sergei.
"Tembak lagi," Alexei melepaskan belatinya dan kembali ke posisi di belakang Alana, memberikan perlindungan yang terasa nyata sekaligus menyesakkan. "Bayangkan Wira ada di sana. Bayangkan pria yang membunuh ayahmu sedang menertawakan kelemahanmu."
Alana menarik napas panjang. Ia menutup matanya sejenak, membayangkan wajah Wira, lalu membayangkan catatan misterius di perpustakaan tadi. Ia merasa terjepit di antara dua kegelapan. Namun, saat ini, kehangatan tubuh Alexei di punggungnya adalah satu-satunya hal yang nyata.
DOOR! DOOR! DOOR!
Tiga peluru bersarang tepat di dada target kertas itu. Napas Alana tersengal, dadanya naik turun karena adrenalin yang meledak. Ia berbalik dan mendapati Alexei sedang menatapnya dengan kilatan yang aneh campuran antara nafsu, rasa bangga, dan sesuatu yang jauh lebih gelap.
Alexei mengambil pistol dari tangan Alana dan meletakkannya di meja. Ia menarik Alana ke dalam pelukannya, mencium keningnya dengan cara yang hampir protektif.
"Kau lihat? Hanya aku yang bisa mengajarimu cara bertahan, Alana. Ayahmu hanya mengajarimu cara tunduk. Ingatlah itu saat kau mulai meragukanku."
Alana menyandarkan kepalanya di dada Alexei, mendengarkan detak jantung pria itu. Ia merasa seperti burung yang sayapnya dipatahkan agar tidak bisa terbang, namun kemudian diberikan emas agar tetap tinggal di sangkarnya.
"Kenapa kau melakukan semua ini, Alexei?" bisik Alana. "Kenapa kau begitu ingin aku menjadi kuat?"
Alexei mengangkat dagu Alana, menatapnya dengan tatapan yang membuat Alana merasa telanjang. "Karena serigala membutuhkan pasangan yang bisa berburu bersamanya, bukan domba yang hanya bisa ia lindungi. Dan karena aku ingin kau sadar... bahwa tanpa aku, kau hanyalah mayat yang sedang menunggu waktu."
Saat mereka keluar dari ruang latihan, Alana merasakan sobekan koran di sakunya bergesekkan dengan kulitnya. Ia masih memiliki keraguan. Namun, saat ia melihat bayangan mereka di pantulan dinding beton, Alexei yang berjalan dengan protektif di sampingnya, meski Alexei adalah iblis, dia adalah iblis yang memegang kunci kebebasannya.