Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh membuat Nina Safira kehilangan akal sehatnya. Dia datang ke sebuah bar berniat untuk menghibur diri, namun hal tak terduga terjadi, akibat kecerobohannya dia mabuk berat dan bermalam bersama pria asing di sebuah hotel. Bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah. Lantas tindakan apa yang diambil Nina setelah kehormatannya terenggut oleh pria yang belum dikenalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Kemarahan Wiryo
"Tuan, ada kabar buruk mengenai perusahaan kita."
Seorang pria datang dengan nafas tersengal menemui Wiryo yang diketahui sebagai pemimpin Roya Grup. Suryo yang tengah sibuk mengecek dokumen-dokumen penting langsung menoleh dengan alisnya mengerut.
"Mengenai apa?" Pria itu rupanya masih belum menyadari adanya masalah yang datang begitu cepat. Bahkan di kantornya karyawan sudah pada heboh, mereka berpikir akan adanya PHK besar-besaran.
"Ini mengenai perusahaan kita, Tuan. Saya barusan mendapatkan info bahwa perusahaan kita mengalami kebangkrutan. Kita di Blacklist dari perusahaan pusat. Untuk informasinya saya masih kurang tahu apa yang membuat perusahaan pusat tiba-tiba mem-blacklist perusahaan Roya Grup."
"Apa?" Nafas Wiryo tersengal-sengal. Dia terguncang hebat atas kabar yang tidak mengenakkan itu. Ia tidak begitu tahu apa permasalahan yang membuatnya di blacklist secara tiba-tiba, namun ia berpikir, tidak akan ada asap kalau tidak ada api.
"Cepat cari tahu apa penyebabnya. Saya kasih waktu sepuluh menit dari sekarang."
"Baik pak."
Wiryo mulai tak nyaman. Dia beranjak dan keluar dari dalam ruangannya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di perusahaan Kenapa tiba-tiba saja perusahaan pusat mem-blacklistnya dan tidak ingin lagi bekerja sama dengan perusahaannya.
Tidak sampai dalam waktu sepuluh menit, pria yang menjadi asistennya itu kembali menemuinya sebuah ruangan. Dia membawa informasi mengenai pemblacklistsan secara tiba-tiba itu.
"Permisi Pak. Menurut informasi yang saya dapat, hal ini berkaitan dengan keluarga anda yang menyinggung keluarga Pak Hermawan Adi jaya."
Dengan jelas pria itu memberikan informasi sesuai dengan yang dia dapat. Di situ Wiryo terkejut, ternyata yang mem-blacklistnya Hermawan, pria yang cukup berpengaruh di dunia bisnis.
"Jadi pak Hermawan yang melakukannya. Kenapa? Kenapa beliau langsung mem-blacklist perusahaan kita? Bukankah selama ini hubungan kerjasama kita sangatlah baik. Bahkan kemarin kami masih sempat bertemu, dan beliau tidak menunjukkan kekesalannya padaku."
Wiryo masih ingat betul bagaimana pertemuannya dengan Hermawan ketika sedang ada rapat di sebuah cafe. Bahkan dia juga memberinya undangan, namun diwakilkan kepada putranya.
"Menurut informasi yang saya dapat keponakan Bapak telah melakukan perundungan terhadap anak perempuan Bapak Hermawan Adijaya, dan beliau sangat marah besar."
Tak disangka, semua itu terjadi karena kecerobohan Maura. Anak haram yang terpaksa dirawat bersama istrinya kini mengundang masalah besar di kehidupannya. Sungguh ia tidak menyangka, Maura telah menutup jalannya mengais rezeki.
"Jika Bapak berkenan, sebaiknya Bapak datang langsung menemui Bapak Hermawan untuk meminta maaf, terlebih lagi harus melibatkan keponakan Bapak, karena sebenarnya keponakan Bapak lah yang membuat masalah."
"Maura!!" Tangan Wiryo mengepal marah. "Jadi semua ini terjadi karenamu! Lihat saja, aku akan membuat perhitungan denganmu!"
Pria paruh baya itu langsung pergi meninggalkan kantor dan kembali menuju rumahnya.
***
"Maura! Keluar kau!"
Setibanya di rumah, Wiryo masuk dengan berteriak lantang memanggil Maura, namun sayangnya gadis itu tidak kunjung keluar.
"Papa! Ada apa datang teriak-teriak? Apa yang tengah kau cari?"
Zoya yang tengah berdandan langsung keluar dari kamarnya. Dia bahkan belum selesai merapikan riasan di wajahnya.
"Mana perempuan tengik itu?!"
Zoya mengerutkan keningnya, jengkel. "Maksud kamu siapa?"
"Keponakanmu itu mana! Aku mau ketemu sama dia!"
Zoya memutar bola matanya. Sejak kejadian malam itu Wiryo tak mau bertemu dengan Maura, bahkan dia tak ingin bertegur sapa dengannya, namun kini tiba-tiba dia datang dan langsung mencarinya.
"Maura tidak ada di rumah. Dia lagi keluar bersama teman-temannya," bantah Zoya.
"Kalau begitu cepat telepon dia, suruh pulang sekarang juga!"
Wajah Wiryo merah padam. Dia sudah tidak memiliki kesabaran untuk segera bertemu dengan keponakannya.
"Sebenarnya ada apa lagi sih pa! Bukankah masalahnya juga sudah kelar? Maura juga sudah minta maaf. Apa lagi yang membuatmu begitu marah?"
Zoya tak terima suaminya terlalu bersikap keras terhadap keponakannya. Bertahun-tahun merawat Maura dan kini sudah dianggap seperti anak sendiri, kini suaminya bersikap kasar bahkan sering membentaknya membuatnya sakit hati.
"Perlu kamu ketahui saja gara-gara ulah dia perusahaan kita di blacklist oleh perusahaan pusat yang dipimpin oleh Pak Hermawan Adijaya. Selama ini kita sudah bekerjasama dengan Adi jaya Group dan sekarang Adi jaya memblacklist perusahaan kita hanya gara-gara ulah Maura yang sudah melakukan kekerasan terhadap putrinya di pesta itu."
Zoya tercengang dengan mata melebar. "A—apa?" Dia tak pernah menyangka kejadian itu bakalan berbuntut panjang. "Jadi perempuan itu anaknya pak Hermawan? Tapi Maura bilang dia itu hanya wanita miskin yang menyusup masuk ke pesta hanya ingin mencari makanan gratis. Apa Papa yakin kalau dia itu anaknya Pak Hermawan Adijaya?"
Wiryo mendengus emosi. "Rupanya kau lebih mempercayai omongan sampah dibandingkan dengan kenyataan. Perempuan yang datang bersama kakaknya tadi malam itu putrinya pak Hermawan. Bagaimana kita bisa menghadapi beliau, sekarang beliau sangat marah. Kalau kita diblacklist dari pusat tentu kita bakalan hancur! Kau ingin kita kehilangan kepercayaan dari perusahaan lain? Memangnya kau ingin hidup menderita?"
Zoya menggeleng dengan matanya berkaca-kaca. "Ti—tidak! Aku tidak ingin hidup miskin. Aku juga tidak ingin bangkrut. Cepat lakukan sesuatu pa! Jangan sampai pak Hermawan memblacklist perusahaan kita. Kalau perlu kita datangi dia dan minta maaf."
"Kita memang harus datang menemui beliau untuk meminta maaf, tapi kita juga harus membawa Maura ke sana. Maura harus meminta maaf langsung kepada beliau dan juga kepada putrinya. Aku tidak mau alasan apapun yang keluar dari mulutnya!"
"Ba—baik, aku akan memintanya untuk segera pulang."
Sekitar satu jam menunggu akhirnya gadis itu pulang dengan membawa beberapa paperbag. Hampir setiap hari dia menghabiskan waktunya untuk berbelanja. Wiryo cukup jengkel, bahkan ia sampai meninggalkan anak kandungnya sendiri demi bisa bersama dengan wanita lain yang ternyata diamanahkan untuk merawat keponakannya yang terlahir tanpa seorang ayah. Entah bagaimana nasib anak kandungnya sendiri, ia bahkan tidak pernah mengetahui kabar beritanya.
"Tante, kenapa Tante memintaku untuk segera pulang? Aku bahkan belum selesai belanja. Jadi nggak mood!"
Gadis itu mendengus dengan menekuk mukanya. Meskipun Wiryo menaruh amarah padanya ia tak begitu mempedulikannya.
"Kamu harus ikut bersama kami," tegas Zoya.
"Maksud Tante?" Maura menyatukan alisnya dengan menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Kita akan temui pak Hermawan untuk meminta maaf. Gara-gara ulahmu perusahaan kami diblacklist. Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu, Maura!"
Maura mendelik tak terima. Dia merasa dirinya tidak pernah melakukan kesalahan apalagi melibatkan perusahaan.
"Loh! Memangnya kesalahan apa yang sudah aku perbuat Tante? Aku bahkan tidak mengenali Siapa itu pak Hermawan," bantahnya. "Kalau perusahaan tampil di blacklist, itu artinya Om yang membuat masalah, tidak ada sangkut pautnya denganku! Tidak Tante, aku tidak mau ikut bersama kalian!"
Wiryo melotot dan beranjak dari tempat duduknya. "Maura! Jangan membantah, atau aku tidak segan-segan akan mengirimmu ke tempat orang tuamu!"