NovelToon NovelToon
Trading Thrones (Bertukar Tahta)

Trading Thrones (Bertukar Tahta)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Perjodohan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

​Di papan catur Leone, Nora hanyalah sebuah bidak yang dipahat untuk menahan badai, sementara Stella adalah permata yang disembunyikan di balik sutra. Selama lima tahun, Nora berdiri sebagai tameng, meredam peluru dengan detak jantungnya sendiri demi pria yang tak pernah benar-benar melihatnya kecuali sebagai pelindung bagi cintanya yang sejati.
​Namun, setiap baja memiliki titik retak.
​Ketika takdir menyajikan dua cawan beracun di atas meja jati, Nora memilih untuk meminum rahasia yang paling kelam. Dia menukar tahta di pesisir California dengan mahkota berduri di ranjang hantu New York. Di kota yang tak pernah tidur, dia tidak datang untuk menjadi perawat bagi jiwa yang koma, melainkan untuk membangun kekaisaran dari sisa-sisa pengkhianatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sutra Hitam

​Kegelapan telah lama menelan cakrawala California, menggantinya dengan kelap-kelip lampu kota yang tampak seperti berlian yang tumpah di atas beludru hitam. Namun, di dalam kamar utama mansion Thorne, suasana terasa mencekam dan dingin. Nora Leone meringkuk di bawah selimut sutra tebalnya, memunggungi pintu. Ia tidak menyalakan lampu; hanya cahaya kebiruan dari layar ponselnya yang menerangi wajahnya yang sembap.

​Ia terus menggeser layar ponselnya tanpa tujuan, melihat foto-foto lama ibunya, lalu beralih ke artikel-artikel berita yang tak ia baca. Pikirannya buntu. Kata-kata kasar Adrian di toko bunga tadi sore terus bergema di kepalanya seperti kaset rusak. “Kau tidak pantas menanam apa pun jika hatimu penuh racun seperti ini.”

​Setiap kali kalimat itu terlintas, dada Nora terasa sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya.

​Di lantai bawah, pintu depan terbuka dengan dentuman berat. Langkah kaki yang sangat dikenalnya bergema di lantai marmer.

​"Di mana Nora?" suara Adrian terdengar berat, ada nada keletihan yang terselip di sana.

​"Nona Nora belum keluar dari kamarnya sejak pulang sore tadi, Tuan," jawab Martha pelan, suaranya mengandung nada teguran halus yang jarang ia tunjukkan. "Beliau bahkan menolak makan malam. Saya sudah mengetuk pintunya dua kali, tapi tidak ada jawaban."

​Adrian menghela napas panjang—sebuah helaan napas yang terdengar seperti beban dunia sedang menumpu di pundaknya. "Siapkan teh hangat dan bawa ke ruang kerjaku nanti. Aku akan menemuinya sekarang."

​Nora mendengar gagang pintu kamarnya diputar. Ia segera mematikan layar ponselnya dan berpura-pura tidur, menyembunyikan wajahnya jauh ke dalam bantal. Ia merasakan kasur di belakangnya sedikit amblas saat Adrian duduk di tepi tempat tidur.

​Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa menit. Hanya suara detak jam dinding dan deru napas mereka yang terdengar.

​"Nora," panggil Adrian lirih.

​Nora tidak menjawab. Ia tetap bergeming dalam posisinya.

​"Nora, aku tahu kau bangun. Maafkan aku."

​Kata itu meluncur begitu saja dari bibir Adrian. Sebuah kata yang sangat jarang diucapkan oleh pria sekaliber Adrian Thorne. Nora merasakan getaran di hatinya. Kebencian dan rasa sakit yang ia bangun sejak sore tadi mulai menunjukkan retakan. Ia adalah wanita dengan hati yang terlalu lembut, terutama jika menyangkut pria yang telah memberinya dunia baru ini.

​Nora perlahan berbalik, menyembul dari balik selimut. Matanya yang coklat tampak kemerahan dan sedikit bengkak. Ia menatap Adrian dengan pandangan terluka, namun masih ada sisa-sisa pemujaan di sana.

​"Kau menghinaku di depan Stella, Adrian. Kau membelanya tanpa mendengarkan penjelasanku," bisik Nora dengan suara parau.

​Adrian menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil dari beludru hitam. Ia membukanya, memperlihatkan sebuah kalung mutiara yang sangat identik dengan yang sedang dipakai Nora—mutiara putih murni dengan kilauan yang luar biasa.

​"Tadi sore aku kembali ke toko itu setelah mengantar Stella pulang," bohong Adrian dengan lancar. "Mutiara yang kau pakai... aku ingin kau memiliki cadangannya, atau mungkin kau ingin memakainya bersamaan. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku memikirkanmu."

​Nora tertegun. Ia bangun dari posisi berbaringnya, meski separuh badannya masih tertutup selimut. Logika di kepalanya berteriak bahwa perhiasan tidak bisa menghapus luka kata-kata, namun hatinya yang haus akan kasih sayang justru merasa tersanjung. Ia menganggap ini adalah cara Adrian menebus kesalahan—cara seorang pria kuat menunjukkan penyesalan.

​Adrian meraih tangan Nora, membawa jemari gadis itu ke bibirnya dan mengecupnya dengan lembut. Matanya menatap Nora dalam-dalam, sebuah tatapan yang penuh dengan magnetisme yang memabukkan.

​"Aku refleks membela yang terlihat lemah, Nora. Maafkan aku jika itu melukaimu. Bisakah kita melupakannya?"

​Nora menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Aku memaafkanmu, Adrian. Jangan lakukan itu lagi."

​Adrian tersenyum tipis—sebuah senyum yang tidak mencapai matanya, namun cukup untuk membuat Nora luluh sepenuhnya. Pria itu mendekat, mengeliminasi jarak di antara mereka. Aroma maskulinnya kembali menguasai indra penciuman Nora, menghapus aroma kesedihan yang tadi memenuhi kamar itu.

​"Malam ini," bisik Adrian di dekat telinga Nora, "aku ingin melakukan sesuatu yang berbeda."

​Adrian meraih selembar kain sutra hitam panjang dari meja nakas. Ia menatap Nora dengan intensitas yang berbeda. "Tutup matamu, Nora. Percayalah padaku."

​Nora, yang sudah tenggelam kembali dalam pesona Adrian, hanya bisa mengangguk pasrah. Adrian melingkarkan kain sutra hitam itu di mata Nora, mengikatnya di belakang kepala dengan simpul yang kuat namun lembut. Pandangan Nora menjadi gelap gulita, membuat indra perabaannya menjadi seribu kali lebih sensitif.

​Di bawah penutup mata itu, Nora merasakan sentuhan Adrian yang mendesak. Ia merasa dicintai, ia merasa diinginkan seolah-olah ia adalah pusat gravitasi Adrian. Setiap sentuhan pria itu terasa seperti janji masa depan yang cerah.

​Namun, di balik kegelapan yang dialami Nora, kenyataan di kamar itu jauh lebih kejam.

​Adrian melakukan kontak fisik dengan Nora, namun pikirannya berada di tempat lain. Dengan satu tangan yang bebas, ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping bantal. Layarnya menyala, menampilkan sebuah foto yang telah ia simpan sebagai wallpaper rahasia—bukan foto Nora, melainkan foto Stella Leone yang sedang tertawa di sebuah taman.

​Sambil bergerak bersama Nora, mata Adrian terpaku pada layar ponselnya. Ia menatap wajah Stella dengan penuh kerinduan dan obsesi yang gelap. Di dalam pikirannya, ia sedang memeluk Stella, ia sedang menyentuh Stella. Tubuh Nora di bawahnya hanyalah medium fisik untuk menyalurkan hasrat yang sebenarnya ditujukan untuk adiknya.

​Setiap desahan yang keluar dari bibir Nora dianggap Adrian sebagai latar suara bagi fantasinya tentang Stella. Penutup mata hitam itu bukan hanya untuk sensasi Nora; itu adalah perisai bagi Adrian agar ia tidak perlu melihat wajah Nora, agar ia tidak perlu merasa bersalah karena sedang mengkhianati wanita yang sedang memberikan segalanya untuknya.

​Nora, dalam kebutaannya, mendongakkan kepala, mencari bibir Adrian. "Adrian... aku mencintaimu..."

​Adrian tidak menjawab dengan kata-kata cinta. Ia hanya memperdalam gerakannya, matanya semakin tajam menatap foto Stella di layar ponsel. Ia merasa seperti sedang melakukan ritual pengorbanan—menjaga tamengnya tetap berfungsi agar permata aslinya tetap aman.

​Begitu semuanya berakhir, Adrian merasakan napasnya yang memburu. Sebelum detak jantungnya kembali normal dan sebelum ia menyentuh simpul kain di kepala Nora, ia dengan cepat menggeser layar ponselnya, mematikan lampunya hingga benar-benar gelap, dan menyembunyikannya di bawah bantal.

​Ia menarik napas panjang, menenangkan gejolak emosinya, lalu perlahan membuka ikatan kain sutra hitam itu.

​Saat penglihatan Nora kembali, ia melihat Adrian yang sedang menatapnya dengan wajah yang tampak lelah namun tenang. Nora tersenyum bahagia, menyandarkan kepalanya di dada Adrian, mendengarkan detak jantung pria itu yang ia kira berdetak untuknya.

​"Terima kasih, Adrian," bisik Nora penuh syukur.

​Adrian hanya mengusap rambut cokelat Nora, matanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Di bawah bantal, ponselnya masih menyimpan wajah Stella dalam kegelapan, sama seperti rahasia yang kini terkubur semakin dalam di bawah lapisan kemewahan dan gairah palsu malam itu.

​Nora Leone tertidur dalam dekapan pria yang baru saja mengkhianatinya dengan cara yang paling hina, merasa aman dalam kebohongan yang dibungkus sutra hitam.

1
Arieee
tetep goblok di Adrian 🤣
Arieee
wow👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!