Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.
Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.
Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang interogasi
Angin sepoi mengguncang dedaunan, sementara awan putih berarak tenang menghias langit. Namun, ketenangan alam itu tak selaras dengan suasana hati Rafan. Berkat laporan singkat melalui telepon dari anak buahnya, ia segera memacu kendaraan menuju kantor polisi untuk menjalankan tugas.
Rafan melangkah begitu tergesa hingga tak menyadari sisa salep putih masih menghias luka di pipinya.
"Selamat pagi, Pak!" sapa seorang petugas yang berpapasan dengannya.
Pria itu sempat tertegun menatap noda di wajah sang Komisaris, namun ia buru-buru menunduk, tak berani berkomentar. Ia mengira garis putih itu mungkin bagian dari penyamaran atau luka tugas yang sengaja dibiarkan.
"Pagi. Di mana Andre?" tanya Rafan tanpa menghentikan langkah.
"Inspektur Andre sedang mengambil beberapa berkas, Pak."
Rafan menarik kursi kerjanya, lalu mendaratkan tubuh dengan helaan napas berat. "Beni, apa saja yang tim kalian temukan di kediaman korban?"
"Kami menemukan empat anak panah berukuran lima sentimeter, Pak. Benda itu tersembunyi di balik semak samping pos satpam," lapor Beni sembari merogoh map cokelat yang dibawanya.
Jari-jari Beni dengan sigap menyusun secarik laporan dan beberapa lembar foto barang bukti di atas meja Rafan. Ia menatanya dengan rapi, memastikan semua berada dalam jangkauan pandangan atasannya.
Rafan meraih salah satu foto, menatap lekat gambar senjata tajam yang tampak berkilat tanpa noda darah. "Ini terlihat seperti senjata baru," gumamnya sembari mengernyitkan alis.
"Sepertinya pelaku sengaja menghapus jejak darah yang menempel," Beni menimpali, seolah bisa membaca keraguan yang terlukis di wajah Rafan.
"Di mana senjatanya sekarang?"
"Barang bukti sudah diserahkan ke divisi laboratorium forensik untuk diperiksa lebih lanjut. Kami berharap ada residu sidik jari yang tertinggal di sana."
"Hm, baiklah. Lalu bagaimana dengan para pelayan? Apa ada pergerakan mencurigakan?"
"Sejauh ini belum ada yang mengaku, Pak. Namun, ada satu pelayan pria yang mulai menyudutkan pelayan wanita sebagai dalangnya."
Rafan mengetuk-ngetuk meja. "Teruskan. Interogasi mereka sampai kita menemukan celah. Kapan hasil otopsi keluar?"
"Paling lambat besok sore, Pak."
"Hah... kalau begitu, kamu boleh pergi." Rafan mengibaskan dua jarinya, memberi isyarat agar Beni meninggalkan ruangan.
Tak lama setelah kepergian Beni, suara langkah kaki kembali mendekat.
Tok. Tok. Tok.
Seorang pria berseragam berdiri di ambang pintu dengan map tebal di tangan kanannya.
"Masuk," lugas Rafan tanpa mengalihkan pandangan dari foto-foto di atas meja.
Pria itu melangkah maju dan meletakkan map tersebut tepat di hadapan Rafan. "Selamat pagi, Pak. Ini data yang Anda minta kemarin."
Andre berdiri tegak, wajahnya tampak serius. "Di dalamnya tertulis daftar semua orang yang pernah bersinggungan dengan korban. Mulai dari kalangan kelas bawah hingga pejabat tinggi, dari relasi bisnis hingga musuh bebuyutan, semuanya terlampir di sana."
Pandangan Rafan beralih pada map cokelat tebal itu. "Kerja bagus," ucapnya datar. Ia menarik tali merah yang menyegel map tersebut, lalu mulai memeriksa tumpukan kertas dan foto kecil yang tersemat di sudut lembaran.
Rafan terdiam sejenak, tenggelam dalam pikirannya. "Pelakunya pasti salah satu dari mereka."
"Maksud Anda, salah satu dari pelayan Pak Willy, Pak?" Andre bertanya dengan suara rendah.
"Iya. Andre, aku punya satu tugas khusus untukmu."
Ruang Interogasi
Dinding lembap dengan penerangan redup menyambut siapa pun yang masuk ke ruangan kecil itu. Di sisi kiri, terdapat kaca besar dua arah yang memungkinkan petugas lain memantau tanpa terlihat. Di tengah ruangan, sebuah meja tinggi menjadi pemisah antara Andre dan pelayan yang akan diinterogasi secara bergiliran.
Andre duduk berhadapan dengan saksi dalam suasana yang mencekam. Ia memasang raut wajah dingin, mencoba mengintimidasi pelayan di depannya.
"Menurut pengakuan kolektif, kalian semua mengatakan bahwa setelah jam delapan malam, kalian tidak mengingat apa pun yang terjadi," ujar Andre, suaranya terdengar berat meski sebenarnya ia merasa sedikit gugup. Ini pertama kalinya ia melakukan interogasi intensif dengan logat non-formal sesuai instruksi Rafan.
"Lalu sebelum jam itu, di mana kalian? Bersama siapa dan apa yang kalian lakukan?"
Pertanyaan itu terlontar berulang kali kepada setiap pelayan, dan jawabannya hampir selalu seragam.
"Saya sedang makan nasi goreng bersama yang lain," sahut Parjo lirih.
"Kami makan malam bersama," tambah Heru, sang tukang kebun.
"Pak Satpam mengadakan syukuran untuk rumah barunya. Dia membelikan kami semua nasi goreng," ujar Surti, satu-satunya pelayan wanita di sana.
Yoga, sang satpam, membenarkan hal itu. "Saya hanya ingin mentraktir teman-teman sebungkus nasi goreng."
"Nasi goreng?" Andre mencondongkan tubuhnya, tatapannya menajam. "Dan kamu sengaja menambahkan sesuatu ke dalam makanan itu agar teman-temanmu tertidur?"
"Tidak! Saya tidak menambahkan apa pun!" sanggah Yoga panik. "Setelah membelinya, saya langsung memberikannya pada Surti untuk dipanaskan, lalu kami makan bersama!"
"Kamu terlihat sangat cemas, Yoga. Jujur saja sekarang untuk meringankan hukumanmu."
"Saya... saya tidak berbohong, Pak!" Yoga mulai berkeringat dingin.
"Hm, baiklah. Biar kucari tahu sendiri apakah kamu jujur atau tidak." Andre mencatat setiap detail jawaban di buku catatannya. "Di antara kalian berlima, siapa yang paling dekat atau sering berada di sisi korban?"
"Kalau bukan Parjo, ya Surti. Mereka yang bertugas di dalam rumah," sahut Genta, sang sopir.
Interogasi berlanjut hingga ke detail pribadi. Heru, sang tukang kebun, memberikan informasi menarik. "Saya tidak yakin, Pak. Tapi dulu saya pernah mendengar cerita bahwa Bi Surti memiliki seorang putri yang meninggal secara misterius."
"Polisi tidak menemukan bukti apa pun saat itu. Sudah jelas ada persekongkolan!" Andre menggebrak meja pelan, memancing reaksi. "Bisa jadi kalian semua terlibat membunuh majikan kalian sendiri!"
"Tidak! Mana mungkin kami membunuh Tuan Willy!" seru Parjo. "Mencari kerja sangat sulit, Pak. Beliau adalah sumber penghasilan kami."
Ceklek.
Pintu ruang interogasi terbuka. Andre keluar sembari menghela napas lega setelah dua jam terjebak dalam ketegangan. Mulutnya terasa kelu. Ia melangkah gontai menuju petugas lain dan menyodorkan selembar catatan.
"Kembali ke rumah Pak Willy sekarang. Cari bungkus nasi goreng di tempat sampah, baik di luar maupun di dalam rumah. Ambil sampel sisa makanannya untuk diperiksa laboratorium. Cek apakah ada zat bius di sana."
Andre berhenti sejenak, teringat sesuatu. "Dan satu lagi, cari informasi mengenai kematian anak pelayan yang terjadi empat tahun lalu di rumah itu. Cari berkas kasusnya sampai ketemu!"
Tiga Jam Sebelumnya
"Apa? Tapi... saya tidak pandai menyudutkan orang, Pak. Saya juga tidak bisa membaca gerak-gerik mereka," keluh Andre saat Rafan memberikan tugas tersebut. "Bagaimana jika saya mengacaukan segalanya?"
Rafan menatap Andre dengan tajam. "Dengarkan aku baik-baik. Catat pertanyaan yang kuberikan, ulangi di hadapan mereka, dan rekam setiap reaksi mereka. Lakukan saja. Kamu harus menemukan siapa pengkhianat di rumah itu."