NovelToon NovelToon
Buku Harian Keyla

Buku Harian Keyla

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi Wanita
Popularitas:773
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Kelas yang Sama

​"Duduk di ruang yang sama, menghirup udara yang sama, tapi kita berjarak ribuan tahun cahaya. Punggungku bisa merasakan dinginnya tatapanmu, tapi hatiku tak pernah bisa menyentuh kehangatanmu." (Buku Harian Keyla, Halaman 8)

​Senin pagi selalu membawa aura kemalasan yang pekat bagi sebagian besar siswa, namun bagiku hari ini terasa seperti medan pertempuran yang menegangkan. Sejak kejadian di perpustakaan minggu lalu, aku seperti kehilangan pijakan. Bayangan mata kosong Rendi dan caranya melewatiku seolah aku adalah udara hampa, terus menghantuiku hingga ke alam mimpi.

​Aku melangkah gontai memasuki kelas XII-IPA 1. Lidya dan Bella sedang berdebat seru tentang drama Korea terbaru, sementara Siska duduk manis membaca bukunya. Aku meletakkan tas di kursiku dengan helaan napas panjang, bersiap menghadapi hari-hari di mana aku harus mencuri pandang ke arah pojok belakang kelas, berharap menemukan keajaiban yang tak mungkin terjadi.

​Namun, wali kelas kami, Bu Endang—guru Fisika killer yang terkenal dengan kacamata berbingkai tebal yang selalu bertengger di ujung hidungnya—masuk dengan langkah tegas, membawa sebuah pengumuman yang akan memutarbalikkan duniaku.

​"Selamat pagi. Sebelum kita mulai pelajaran, Ibu melihat formasi duduk kalian terlalu monoton. Yang di belakang sering mengobrol, yang di depan itu-itu saja. Hari ini, kita akan me-rolling tempat duduk berdasarkan undian," suara Bu Endang yang lantang tanpa basa-basi langsung disambut oleh erangan panjang dari seluruh penjuru kelas.

​"Yah, Bu! Masa diacak sih? Udah PW nih sama Lidya!" protes Bella dengan bibir mengerucut.

​Lidya memutar bola matanya. "Lebay lo, Bel. Bagus deh diacak, kuping gue istirahat dengerin lo ngoceh soal cowok."

​Siska menutup bukunya dengan tenang. "Ikuti saja aturan, Bel. Bu Endang pasti punya alasan yang baik."

​Jantungku berdegup kencang. Tanganku terasa dingin. Jika tempat duduk diacak, di mana aku akan berakhir? Bagaimana jika aku dijauhkan dari Lidya, Bella, dan Siska? Bagaimana jika aku duduk di sebelah anak laki-laki yang berisik? Dan yang paling membuatku takut sekaligus... berharap: Bagaimana jika aku duduk di dekat Rendi?

​Tidak, Keyla. Jangan konyol. Probabilitasnya sangat kecil dari 36 siswa di kelas ini.

​Bu Endang mulai memanggil nama kami satu per satu, menginstruksikan kami untuk mengambil gulungan kertas dari dalam toples kaca di meja guru. Suasana kelas menjadi sangat kacau. Suara decit kursi dan meja yang diseret beradu dengan keluhan anak-anak yang harus berpisah dari sahabat mereka.

​Bella dan Lidya mendapatkan nomor meja yang sama di barisan paling kiri, baris kedua dari depan. Mereka bersorak kegirangan karena masih bisa bersama. Siska mendapat tempat di barisan tengah, paling depan, tempat yang memang sangat cocok untuk sosok sepertinya.

​Tiba giliranku. Dengan tangan bergetar, aku mengambil gulungan kertas terakhir. Kubuka perlahan.

Barisan ketiga dari kanan, meja keempat. Aku berjalan menuju kursiku yang baru. Berada agak di belakang, namun masih cukup strategis untuk melihat papan tulis. Aku meletakkan tasku, menarik napas lega karena setidaknya aku tidak duduk dengan Doni atau Reza yang terkenal jahil. Meja di sebelahku ditempati oleh seorang siswi pendiam bernama Maya.

​"Sisa satu orang yang belum duduk. Rendi, kamu dapat nomor berapa?" tegur Bu Endang sambil menatap tajam ke arah sosok jangkung yang sedari tadi hanya berdiri diam di dekat dinding belakang.

​Rendi tidak menjawab. Ia hanya membuka gulungan kertasnya yang sudah lusuh, meliriknya sekilas, lalu berjalan dalam diam.

​Setiap langkahnya seolah diiringi dentang jam yang melambat. Mataku melebar saat menyadari arah langkah kakinya. Ia tidak menuju ke barisan kiri. Ia tidak menuju ke depan. Langkahnya semakin dekat ke arahku. Jantungku berdebar sangat keras hingga aku takut Maya di sebelahku bisa mendengarnya.

​Dan kemudian, ia berhenti. Tepat di meja di belakangku.

​Suara kursi yang ditarik terdengar ngilu di telingaku. Ia meletakkan tas ransel bututnya di atas meja, lalu menjatuhkan tubuhnya di kursi itu.

​Barisan ketiga dari kanan, meja kelima.

​Napas tercekat di kerongkongan. Tulang punggungku mendadak kaku. Tuhan, ini tidak mungkin. Dari sekian banyak meja di ruangan ini, mengapa takdir memilih untuk menempatkan pria ini tepat di belakang punggungku? Jarak kami hanya terpisahkan oleh sandaran kursi kayuku.

​Aroma sabun cuci batangan yang khas dan murah, bercampur dengan sedikit aroma keringat pagi yang entah mengapa tidak berbau busuk melainkan menenangkan, perlahan menguar dan menyapa indra penciumanku. Itu aromanya. Aroma Rendi.

​"Gila..." bisikku tanpa sadar. Tanganku meremas ujung rok dengan kuat.

​"Kenapa, Key?" tanya Maya pelan.

​"N-nggak apa-apa," jawabku cepat, membuang muka ke arah papan tulis.

​Sepanjang dua jam pelajaran Fisika, aku merasa seperti sedang duduk di atas bara api. Aku tidak bisa berkonsentrasi pada rumus Hukum Newton yang ditulis Bu Endang. Seluruh sel sarafku terpusat pada punggungku, pada jarak beberapa sentimeter di belakangku.

​Aku bisa mendengar setiap helaan napasnya. Aku bisa mendengar suara gesekan pulpennya di atas kertas, pelan dan jarang. Terkadang, ujung sepatunya tak sengaja menyentuh kaki kursiku, dan setiap kali hal itu terjadi, seolah ada sengatan listrik bervoltase rendah yang menjalar ke seluruh tubuhku.

​Aku ingin menoleh. Ya Tuhan, aku sangat ingin menoleh hanya untuk memastikan bahwa ia benar-benar ada di sana. Bahwa ini bukan sekadar halusinasi dari keputusasaanku. Tapi aku terlalu pengecut. Aku takut jika aku menoleh, aku akan kembali disuguhi tatapan kosong yang membunuh harga diriku di perpustakaan tempo hari.

​"Duduk tepat di depanmu adalah sebuah siksaan yang manis. Aku bisa merasakan eksistensimu dengan begitu kuat, tapi aku dipaksa sadar bahwa aku hanyalah pembatas jalan yang bahkan tak sudi kau lirik." (Buku Harian Keyla, Halaman 10)

​Jam pelajaran ketiga adalah Matematika. Pak Joko memberi kami latihan soal yang harus dikumpulkan saat itu juga. Kelasku mendadak hening, semua sibuk menghitung. Aku membuka tempat pensilku, meraih pulpen kesayanganku, dan mulai mencorat-coret rumus di buku latihan.

​Namun, di soal nomor empat, petaka kecil itu terjadi. Tinta pulpenku tiba-tiba macet. Aku mencoret-coret pinggiran buku dengan panik, tapi tak ada setetes tinta pun yang keluar. Aku membuka resleting tempat pensilku lebar-lebar. Kosong. Aku lupa membeli pulpen cadangan kemarin.

​Aku menoleh ke arah Maya. "May, bawa pulpen dua nggak?" bisikku melas.

​Maya menggeleng menyesal, menunjukkan satu-satunya pulpen yang sedang ia pakai.

​Aku memindai penjuru kelas. Bella dan Lidya duduk terlalu jauh di seberang sana. Siska duduk di baris paling depan, sedang sangat fokus hingga mustahil untuk kupanggil tanpa menarik perhatian Pak Joko. Waktunya tinggal lima belas menit lagi sebelum kertas dikumpulkan. Aku benar-benar panik. Telapak tanganku mulai berkeringat.

​Lalu, sebuah pemikiran gila melintas di kepalaku.

​Rendi. Ia ada tepat di belakangku.

​Jantungku memukul tulang rusuk dengan ritme yang brutal. Meminjam barang pada Rendi? Pria es yang menatapku seolah aku hama? Ini adalah tindakan bunuh diri sosial. Tapi ketakutanku akan nilai nol di pelajaran Matematika sedikit lebih besar daripada ketakutanku pada Rengekan harga diri.

​Aku menarik napas panjang, menahan gemetar di jari-jariku, dan perlahan memutar kepalaku ke belakang.

​Rendi sedang menunduk, menulis deretan angka di atas buku tulisnya yang sampulnya sudah sobek di bagian ujung. Rambut hitamnya yang mulai memanjang jatuh menutupi sebagian keningnya. Jarak pandang kami begitu dekat. Aku bisa melihat bayangan bulu matanya.

​"R-Rendi..." panggilku. Suaraku nyaris seperti bisikan angin, sangat pelan, bergetar hebat.

​Ia tidak merespons. Tangannya terus menulis tanpa henti.

​Aku menelan ludah yang terasa seperti menelan kerikil tajam. Kucoba sekali lagi, dengan volume sedikit lebih besar. "Rendi..."

​Gerakan tangannya berhenti. Sangat perlahan, kepalanya terangkat. Mata gelap itu mengunciku. Dan untuk pertama kalinya hari ini, aku berhadapan langsung dengan jurang hitam tak berdasar di matanya. Tidak ada emosi. Kosong. Menyakitkan.

​"Maaf ganggu," ucapku dengan bibir bergetar, memaksakan diri menatap matanya meski rasanya aku ingin tenggelam ke dalam inti bumi saat ini juga. "Pulpenku habis tintanya... A-aku boleh pinjam pulpen? Kalau kamu punya lebih... sebentar aja, buat nulis dua soal lagi."

​Hening.

​Satu detik. Dua detik. Tiga detik berlalu.

​Rendi hanya menatapku. Matanya turun sejenak menatap wajahku yang pasti sudah semerah kepiting rebus, lalu kembali menatap mataku dengan raut datar yang mematikan. Ia tidak mengatakan apa-apa. Tidak mengangguk, tidak menggeleng.

​Aku merasa mataku mulai memanas. Air mata penolakan sudah bersiap memberontak. Aku merutuki kebodohanku. Tentu saja ia tidak akan meminjamkannya. Ia membenciku. Aku mengganggu ketenangannya.

​"E-eh, nggak apa-apa. Maaf ya," cicitku buru-buru, berniat memutar tubuhku kembali ke depan untuk menutupi rasa maluku.

​Namun, sebelum tubuhku sepenuhnya berbalik, kudengar suara benda plastik yang digeser di atas meja kayu.

​Srek.

​Aku menahan napas, kembali melirik ke arah mejanya.

​Di atas mejanya yang kusam, tepat di batas antara mejanya dan sandaran kursiku, tergeletak sebuah pulpen. Bukan pulpen bermerek yang mengkilap. Itu adalah pulpen plastik murahan, yang bagian tutupnya sudah hilang, dan ujung bawahnya terlihat banyak bekas gigitan. Tintanya pun tinggal sepertiga. Tapi... itu adalah pulpen.

​Aku menatap pulpen itu, lalu menatap wajah Rendi dengan mata terbelalak tak percaya.

​Ia sudah kembali menunduk, melanjutkan pekerjaannya dengan pensil kayu pendek yang ujungnya tumpul, mengabaikanku seutuhnya seolah insiden barusan tak pernah terjadi.

​Tanganku gemetar saat meraih pulpen itu dari mejanya. Kulitku tak bersentuhan dengan kulitnya, tapi pulpen itu masih menyisakan kehangatan suhu tubuhnya dari genggamannya. "T-terima kasih, Rendi," bisikku tulus, suaraku sedikit serak karena menahan tangis kelegaan.

​Ia tetap diam.

​Aku kembali menghadap ke depan. Sisa dua belas menit kulalui dengan perasaan yang bercampur aduk antara haru, sedih, dan sakit yang tak masuk akal. Tulisanku menjadi tidak karuan. Pulpen murahan ini tintanya kadang putus-putus, menuntutku untuk menekannya lebih keras, tapi bagiku ini adalah benda paling berharga di dunia. Benda pertama darinya yang menyentuh tanganku.

​"Sebatang pulpen lusuh dengan bekas gigitan di ujungnya. Bagi orang lain ini adalah sampah, tapi bagiku, ini adalah harta karun penawar luka yang baru saja kau serahkan." (Buku Harian Keyla, Halaman 11)

​Bel tanda istirahat akhirnya berbunyi melengking. Pak Joko mengumpulkan kertas jawaban kami, lalu keluar kelas. Dalam hitungan detik, Rendi berdiri. Ia tidak membereskan bukunya, hanya langsung melangkah keluar kelas melalui pintu belakang, menghilang seperti hantu di siang bolong.

​Aku memutar tubuhku, menatap meja kosongnya, lalu menatap pulpen lusuh yang masih kugenggam erat di tangan kananku.

​"Keylaaaaa!!"

​Suara Bella yang cempreng memecahkan lamunanku. Bella dan Lidya sudah berlari kecil menghampiri mejaku, menyeret kursi kosong dan duduk mengelilingiku. Tak lama kemudian, Siska menyusul dengan langkah anggunnya yang tenang, berdiri di samping mejaku sambil membetulkan kacamatanya.

​"Cieee, yang sekarang seatmate-nya ayang beb! Gimana rasanya punggung lo diangetin sama tatapan si kulkas?" goda Bella sambil menyikut lenganku, menaik-naikkan alisnya dengan jahil.

​Aku menunduk malu, wajahku terasa panas. "Apaan sih, Bel. Nggak diangetin apa-apa, malah rasanya kayak duduk di depan AC sentral tau nggak. Dingin banget."

​Lidya mendengus pelan. Matanya yang tajam menatapku dengan tatapan memindai. "Dia ada macem-macemin lo nggak? Ngomong kasar? Atau nyenggol kursi lo sengaja?"

​"Enggak, Lid. Boro-boro ngomong kasar, ngomong aja enggak. Dia diem aja dari tadi," jawabku jujur.

​Siska menatap tanganku yang sedari tadi menyembunyikan sesuatu di balik meja. "Kamu pegang apa itu, Key?" tanyanya lembut, matanya menyipit di balik lensa tebal.

​Aku tersentak pelan. Perlahan, aku menaikkan tanganku dan membuka kepalan tanganku, memperlihatkan pulpen lusuh milik Rendi. "Ini... tadi pulpenku habis tinta. A-aku pinjam ke dia."

​Bella melotot. Mulut Lidya sedikit terbuka.

​"Serius lo?!" jerit Bella heboh, untung saja kelas sudah sepi. "Si Rendi mau minjemin barangnya ke orang lain?! Wah, ini sih rekor MURI, Key! Jangan-jangan pelet lo mulai bekerja?"

​"Pelet apaan sih, Bel, sembarangan!" sungutku.

​Namun Siska menatap pulpen di tanganku dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya meneliti pulpen murahan itu dengan pandangan yang... entahlah, terlihat seperti jijik?

​"Keyla," panggil Siska, suaranya sangat lembut, mengalun penuh empati palsu yang tak kusadari saat itu. "Kamu yakin mau pakai barang seperti itu? Lihat deh, ujungnya bekas digigit. Kita nggak tau kan dia jorok atau nggak. Gimana kalau ada bakterinya? Terus tintanya juga udah mau habis gitu, malah bikin buku kamu kotor."

​Kata-kata Siska membuat perutku tiba-tiba mual. Bukan karena aku jijik pada pulpen itu, tapi karena cara Siska menilainya. Aku merasa sakit hati seolah aku yang dihina.

​"Ini cuma pulpen, Sis," bela Lidya tiba-tiba, suaranya sedikit meninggi membela Rendi secara tak langsung, atau mungkin membela perasaanku. "Yang penting Keyla bisa ngerjain tugas. Nggak usah lebay deh masalah bakteri."

​Siska tersenyum tipis yang tidak mencapai matanya. "Aku kan cuma khawatir sama kesehatan Keyla, Lid. Kita kan nggak tau gaya hidup orang yang... ya, kamu tau lah, kurang mampu seperti dia. Kadang kebersihan bukan prioritas mereka."

​Aku menarik tanganku dan memasukkan pulpen Rendi ke dalam saku rokku. "Nggak apa-apa kok, Sis. Pulpen ini bantu aku banget tadi. Aku malah merasa bersalah udah ngerepotin dia."

​"Nah, mumpung istirahat, mending lo beli pulpen baru gih di koperasi," usul Lidya. "Sekalian beliin satu buat dia, itung-itung ucapan terima kasih karena udah minjemin lo harta karunnya itu."

​Ide Lidya membuat mataku berbinar. "Iya bener! Lid, temenin ke koperasi sekarang yuk!"

​Aku menarik tangan Lidya dengan semangat. Sementara kami berlari kecil keluar kelas, aku sempat melihat wajah Siska yang tertinggal di belakang. Senyumnya lenyap tak berbekas, berganti dengan raut wajah dingin dan sorot mata yang menggelap tajam. Tangannya meremas buku novel yang ia pegang hingga buku-buku jarinya memutih. Tentu saja, aku mengabaikan pemandangan ganjil itu karena pikiranku terlalu dipenuhi oleh Rendi.

​Aku menghabiskan uang saku hari itu untuk membeli dua buah pulpen tinta gel berkualitas baik di koperasi sekolah. Satu untukku, dan satu lagi sengaja kupilihkan warna hitam yang elegan untuk kuberikan pada Rendi. Aku sangat bersemangat. Ini adalah kesempatanku untuk mencairkan sedikit saja es di hatinya.

​Saat bel masuk berbunyi, aku kembali ke mejaku dengan jantung yang kembali bertalu-talu. Tak lama kemudian, sosok jangkung Rendi muncul dari pintu belakang. Ia kembali menduduki kursinya dalam diam, seolah-olah ia adalah bayangan yang menolak untuk berinteraksi dengan dunia nyata.

​Aku menarik napas panjang. Mengumpulkan seluruh sisa keberanianku, aku kembali menoleh ke belakang.

​"Rendi..." panggilku pelan.

​Ia mendongak, menatapku dengan wajah datarnya.

​Aku buru-buru mengeluarkan pulpen lusuhnya dari saku rok, beserta pulpen gel baru yang mengkilap dari koperasi. Kutaruh keduanya di atas mejanya dengan hati-hati.

​"Ini pulpenmu. Makasih banyak ya, tadi sangat ngebantu," ucapku diiringi senyum paling tulus yang bisa kuberikan. Aku menunjuk pulpen baru di sebelahnya. "Dan... ini. Ini buat kamu. Sebagai ucapan terima kasih karena udah nolong aku."

​Rendi menatap kedua pulpen itu. Pandangannya turun ke pulpen gel yang baru dan mengkilap, lalu beralih menatap wajahku. Matanya yang tajam menyipit. Ada kilatan emosi yang akhirnya muncul di sana. Bukan kehangatan, bukan juga senyuman.

​Itu adalah kilatan ketersinggungan yang luar biasa. Rahangnya mengeras seketika.

​Dengan gerakan cepat dan kasar, ia mengambil pulpen lusuh miliknya sendiri. Lalu, ia mendorong pulpen gel baru itu ke arahku hingga pulpen itu menggelinding dan jatuh menabrak siku tanganku.

​"Ambil," suaranya serak, rendah, dan sangat dingin. Ini adalah kata pertama yang ia ucapkan padaku. Dan rasanya seperti ribuan belati es yang ditusukkan ke jantungku.

​Aku terkesiap. "T-tapi ini buat kamu..."

​"Saya nggak butuh dikasihani."

​Lima kata. Hanya lima kata yang diucapkan tanpa nada tinggi, namun efeknya berhasil memporak-porandakan seluruh duniaku. Mata tajamnya menatapku penuh dengan kemarahan yang tertahan, sebuah harga diri yang terluka karena merasa direndahkan oleh belas kasihan.

​Ia menarik kembali pandangannya, membuka bukunya dengan kasar, dan kembali memutus ikatan apa pun yang sempat kuimajinasikan terjalin di antara kami.

​Aku mematung. Tubuhku gemetar hebat. Rasanya seperti ada tangan tak kasatmata yang menampar wajahku dengan keras di depan ratusan orang. Aku buru-buru mengambil pulpen baru itu, memutar tubuhku ke depan dengan kepala menunduk dalam-dalam.

​Air mataku menetes, jatuh di atas buku tulisku hingga tintanya luntur. Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat agar isakanku tidak terdengar. Ya Tuhan, sakit sekali. Aku hanya ingin berbuat baik, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Mengapa ia menganggap kebaikanku sebagai sebuah penghinaan?

​Di barisan depan, Siska menoleh sedikit ke belakang. Melalui sudut mataku yang berair, aku bisa melihatnya menatapku. Tidak ada raut iba di wajahnya. Siska menatap bahuku yang bergetar menahan tangis dengan tatapan puas yang segera ia sembunyikan di balik bingkai kacamatanya saat Lidya tak sengaja menoleh.

​"Kau membangun tembok yang terlalu tinggi, Rendi. Saat aku mencoba memanjatnya untuk memberimu sekuntum bunga, kau malah mendorongku jatuh ke dasar jurang, mengira aku datang membawa racun." (Buku Harian Keyla, Halaman 12)

​Hari itu, di kursi baris ketiga dari kanan, aku belajar satu kenyataan pahit: mendekati gunung es tidak hanya akan membuatmu kedinginan, tapi kau juga harus siap jika kulitmu terkelupas karena membeku oleh penolakannya. Dan meski hatiku hancur lebur berserakan di bawah mejanya, bodohnya, aku tahu bahwa aku belum bersedia menyerah.

1
Yuni Uni
bagus banget ceritanya kak ,,,,,,kayak zaman sma zamanku dulu
semangat ya kak
partini
benar an ini dah berakhir Thor
so happy next cerita mereka dah dewasa
partini
ko waktu buat indra ,buat kamu sendiri dong tata hatimu dulu kubur semua kenangan itu dalam" berjalan kedapan dengan nanggung urusan asmara nanti menyusul lah,, siapapun orangnya pasti terbaik buat kamu kalau jodoh sama Indra bagus sama Rendy nanti jug bagus,,cintai dirimu sendiri dulu
partini
sekarang kamu bisa bilang Kya gitu NDRA mencintai orng yg hatinya udah mati kusus untuk dia itu melelahkan sekali loh,,pikir dulu lah sebelum bertindak
partini: hati Kay udah ga bisa ke lain hati udah mentok ke satu orang jadi yg lain lewat
total 2 replies
partini
tapi kalau di pikir" Kayla sangat menggangu sih Thor
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik
partini
mereka bertemu lagi setelah beberapa tahun Thor ,i hope mereka bertemu udah pada kerja Rendi jug udah sukses biar saling bersaing ga Jomblang kaya sekarang
Pengamat Senja: iya kasian banget Keyla /Frown/
total 3 replies
partini
biarkan Rendi sendiri aja lah ,jangan di ganggu dulu mungkin lebih baik kamu pergi jauh dari pada Rendi makin stres
partini
orang sederhana yg apa ini mananya susah di Jabar kan si Rendi ini orangnya ,belagu iya, egois iya ,sok kuat iya padahall butuh seseorang untuk berbagi kesedihan
Nacill Chan
semangatt kakkk 😉
partini
kadang menurut kita baik belum tentu itu baik untuk mereka
partini
lanjut
Pengamat Senja: jangan lupa follow ya kak 🙏
total 1 replies
Pengamat Senja
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!