Di tengah gemerlap Jakarta yang kontras, Nara Indira (25) menjalani kehidupan ganda yang berbahaya. Di bawah cahaya aula megah, ia adalah penari tradisional yang agung, namun di kegelapan Club Black Rose, ia bertransformasi menjadi penari erotis demi membiayai pengobatan kanker darah ibunya. Nara adalah wanita yang dingin, efisien, dan sangat menjaga harga dirinya di tengah profesi yang dianggap nista oleh dunia.
Takdir mempertemukannya dengan Bagaskara, CEO muda dari Prawijaya Group yang baru saja melangsungkan pertunangan bisnis dengan Sinta Mahadewi. Pertemuan tak sengaja di klub malam memicu obsesi gelap dalam diri Bagaskara. Terpesona oleh misteri dan ketegasan Nara, Bagaskara menawarkan harta demi satu malam bersama, sebuah tawaran yang ditolak mentah-mentah oleh Nara meski ia sedang terhimpit kebutuhan medis yang mendesak.
Konflik memuncak saat rahasia Nara mulai terancam dan Sinta menyadari perhatian tunangannya terbagi. Di antara perbedaan status sosial yang jurang dan tekanan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lemari Kertas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Hutang Yang Berujung Salah Paham
Matahari pagi belum sepenuhnya gagah menampakkan diri, namun ketegangan di kediaman Romi sudah memuncak. Di ruang makan yang biasanya tenang, denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti dentuman lonceng kematian. Sarah, dengan daster batik yang rapi dan rambut yang digulung asal, menatap suaminya dengan dahi berkerut.
Sarah bukanlah orang asli daerah sini. Ia adalah perantau dari kota seberang yang terjebak dalam pernikahan dini karena sebuah "kecelakaan". Dulu, ia mengira Romi adalah penyelamatnya saat ia hamil di luar nikah, namun bertahun-tahun hidup bersama, ia sadar bahwa ia hanyalah tawanan dari sebuah tanggung jawab tanpa cinta.
Romi duduk di hadapannya, menyesap kopi dengan wajah yang tak karuan. Ada lebam keunguan di rahangnya dan sudut bibirnya pecah. Sejak pulang dini hari tadi, Romi hanya bungkam, beralasan bahwa ia baru saja dicegat begal. Namun, saat Romi bangkit untuk mandi, ponselnya yang tergeletak di atas meja bergetar. Sarah menyambarnya.
Jari Sarah gemetar saat membuka galeri foto. Di sana, terdapat folder berisi belasan foto seorang gadis yang sangat ia kenali wajahnya, Nara. Gadis sekampung suaminya yang terkenal karena kecantikannya sebagai penari tradisional. Meski Sarah tidak kenal betul secara pribadi, ia tahu siapa Nara, gadis yatim yang hidupnya tampak lurus namun selalu jadi buah bibir karena parasnya.
"Apa yang kamu lakukan, Mas?" bisik Sarah, suaranya tercekat.
Tepat saat itu, Romi keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggang. Langkahnya terhenti saat melihat Sarah menggenggam ponselnya.
"Sarah! Siapa yang menyuruhmu menyentuh barang pribadiku?!" bentak Romi, mencoba merebut ponsel itu.
Sarah menghindar, matanya membelalak lebar.
"Siapa perempuan ini bagimu, Mas? Jawab aku! Kenapa ada foto si penari tradisional ini di ponselmu? Kamu menguntitnya?"
Romi terdiam sejenak, wajahnya mengeras. Ia mendengus, lalu duduk di pinggir ranjang dengan sikap acuh tak acuh.
"Namanya Nara. Kamu sudah tahu sendiri, kan? Dia gadis sekampungku. Cantik, anggun, dan masih muda. Jauh berbeda denganmu yang setiap hari hanya bau bawang."
Air mata Sarah luruh seketika.
"Kamu tega, Mas? Setelah anak-anak kita? Kamu mengkhianatiku demi dia?"
"Pengkhianatan?" Romi tertawa sinis. "Sarah, asal kamu tahu, aku sudah naksir Nara sejak lama, bahkan sebelum kita bertemu. Kalau saja dulu kamu tidak hamil duluan, aku tidak akan pernah sudi menikahimu. Aku terpaksa, Sarah! Aku menikahimu karena tanggung jawab, bukan karena cinta!"
Dunia seolah runtuh di bawah kaki Sarah. Pengakuan itu lebih menyakitkan daripada tamparan fisik. Ia terisak hebat.
"Jadi selama ini... kamu hanya berpura-pura?"
"Begitulah kenyataannya. Jadi berhentilah merengek," sahut Romi sambil mulai mengenakan pakaiannya.
Sarah mengusap air matanya dengan kasar.
"Kamu pikir perempuan seperti Nara mau denganmu? Hah? Dia itu penari terhormat di kampungmu. Aku yakin dia tidak akan pernah mau menikah dengan pria beristri kecuali kalau dia memang perempuan murahan!"
Romi berhenti mengancingkan kemejanya. Ia menoleh dengan seringai licik yang mengerikan.
"Perempuan murahan? Mungkin saja. Tapi yang jelas, dia tidak akan punya pilihan lain. Aku jamin, Sarah, dalam waktu dekat aku akan menikahinya. Dan dia tidak akan pernah bisa menolakku."
"Apa maksudmu? Dia selingkuhanmu, kan? Kalian sudah berhubungan di belakangku?" tuduh Sarah, suaranya gemetar karena cemburu.
Romi tertawa kecil, sengaja membiarkan Sarah salah paham. Ia tidak menceritakan soal utang seratus juta itu. Biarlah Sarah mengira Nara adalah pelakor agar Sarah bisa menjadi tameng untuk menekan gadis itu.
"Anggap saja begitu. Dia adalah masa depanku. Jadi, bersiaplah berbagi tempat, atau silakan pergi," ucap Romi sambil menyambar kunci mobilnya.
Siang itu, dengan hati yang terbakar api cemburu, Sarah mengendarai motornya menuju rumah kayu di pinggiran kota. Ia tahu di mana rumah Nara karena Romi pernah sekali melewatinya saat mereka pulang kampung dulu. Sarah berhenti di depan rumah yang pintunya tampak rusak dan diperbaiki secara kasar.
Ia menggedor pintu itu dengan keras. "Keluar kamu! Nara! Keluar perempuan tidak tahu malu!"
Pintu terbuka. Nara muncul dengan wajah pucat dan mata yang lelah. Saat melihat wanita di depannya, Nara terdiam. Ingatannya berputar ke masa lalu, wanita ini adalah Sarah, istri Romi. Ia pernah melihatnya beberapa kali dari kejauhan saat ada acara hajatan di tempat mereka, meski mereka tidak pernah bertegur sapa.
Namun, berbeda dari dugaan Sarah, Nara tidak menunjukkan ekspresi ketakutan. Meski tubuhnya lelah setelah kejadian semalam, matanya menatap Sarah dengan tenang dan jernih.
"Mbak Sarah?" ujar Nara.
"Oh, jadi kamu masih ingat siapa aku? Baguslah!" semprot Sarah, suaranya melengking. "Aku sudah lihat foto-fotomu di ponsel Romi! Dia bilang dia akan menceraikanku demi kamu! Apa yang kamu berikan padanya sampai dia tergila-gila seperti itu?"
Nara menarik napas panjang. Ia tidak membalas teriakan itu dengan emosi. Ia justru melangkah sedikit ke depan, menatap Sarah dengan sorot iba yang tidak dibuat-buat.
"Mbak Sarah, tolong dengarkan saya dengan kepala dingin," ucap Nara tenang. "Saya tahu Mbak marah, dan saya mengerti posisi Mbak. Tapi Mbak tidak perlu khawatir. Demi Tuhan saya tidak pernah menginginkan pernikahan dengan Mas Romi. Bahkan dalam mimpi buruk sekalipun, saya tidak pernah terpikir untuk merebut posisi Mbak."
Sarah tertegun sejenak melihat ketenangan Nara.
"Bohong! Dia sendiri yang bilang kalau kamu tidak akan bisa menolaknya!"
Nara mengepalkan tangannya di balik lipatan jaketnya. Ia ingin sekali berteriak bahwa suaminya adalah lintah darat yang menjebaknya dengan utang seratus juta, namun lidahnya kelu. Ia belum bisa membongkar aib itu sekarang karena posisinya masih terhimpit.
"Mas Romi mungkin bicara banyak hal, tapi itu bukan dari mulut saya," lanjut Nara mantap. "Saya menghormati Mbak sebagai sesama wanita, dan saya tahu apa artinya dikhianati. Percayalah, Mbak, tidak akan ada pernikahan itu. Saya tidak sudi membangun kebahagiaan di atas air mata orang lain, apalagi dengan pria seperti dia."
Sarah menatap Nara lama, mencari kebohongan di mata gadis itu. Namun, kejujuran Nara sejenak menggoyahkan keyakinannya. Jambakan yang tadi ingin ia layangkan tertahan di udara. Kebenciannya sedikit mereda, meski rasa curiga itu belum sepenuhnya padam.l
"Kalau memang begitu, kenapa dia punya banyak fotomu? Kenapa dia begitu yakin?" tanya Sarah lagi, suaranya sedikit menurun namun tetap tajam.
"Tanyakan pada suami Mbak kenapa dia bersikap seperti penguntit. Saya hanya orang biasa yang mencoba bertahan hidup. Tolong jangan berpikir yang tidak-tidak tentang saya lagi," jawab Nara sambil mulai menutup pintu.
Sarah terdiam. Ia merasa ada yang disembunyikan Nara, sesuatu yang tidak sinkron antara ucapan suaminya dan sikap tenang gadis penari ini. Tanpa sepatah kata lagi, Sarah berbalik dan menuju motornya.
"Aku akan pergi sekarang," gumam Sarah pelan. "Tapi jangan pikir ini selesai. Aku akan mencari tahu sendiri apa sebenarnya hubunganmu dengan suamiku. Kalau aku tahu kamu bohong, aku tidak akan segan-segan menghancurkanmu."
Sarah pergi dengan debu yang beterbangan, meninggalkan Nara yang kini bersandar lemas di balik pintu. Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam mewah berhenti. Bagaskara keluar dengan langkah tegap, menatap sisa-sisa debu dari motor Sarah.
"Siapa wanita tadi?" tanya Bagaskara saat Nara membuka pintu lagi.
Nara menatap Bagas, lalu menghela napas. Banyak sekali orang-orang yang harus dia hadapi akhir-akhir ini, tapi entah mengapa melihat Bagas saat ini dia justru merasa lebih tenang.
"Hanya sebuah kesalahpahaman yang berakar dari kegilaan suaminya."
Bagaskara mendekat, menyentuh dagu Nara agar menatapnya.
"Sudah kubilang, mulai sekarang, biar aku yang mengurus kegilaan itu. Kamu hanya perlu tetap berada di sisiku."
Nara hanya bisa terdiam, menyadari bahwa meski ia berhasil meredam badai dari Sarah, ia kini sedang berdiri tepat di jantung pusaran air milik Bagaskara.
Cerita nya gak terlalu ngawang, khas Dan gak mudah ditebak next chapter nya. meskipun genre sama tapi aku selalu menemukan yg berbeda Dan itu bikin aku selalu nunggu Update nya.
semangattt, aku selalu nunggu...
Jatuh hati sama Nara, stay strong and be yourself♥️😊