Hujan di Jakarta Selatan tidak pernah sekadar air; ia adalah tirai yang menyamarkan dosa-dosa kota ini. Bagi Ustadz Aris, hujan sore itu adalah ujian kesabaran ketiga kalinya hari ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: KEMEWAHAN YANG MENUSUK HATI
Pagi itu, matahari Jakarta bersinar terik, seolah ingin membakar setiap sudut gang Tebet. Namun, panasnya udara kalah dengan panasnya hati warga yang menyaksikan pemandangan langka di depan musholla Al-Ikhlas.
Biasanya, musholla ini hanya diisi oleh bapak-bapak berkeringat dengan kaos oblong lusuh, sarung batik yang sudah pudar warnanya, dan peci miring yang tipis. Tapi pagi ini, suasana berubah total. Empat pengawal bertubuh kekar, berkulit hitam legam, dan berpakaian seragam hitam rapi, berdiri gagah di empat penjuru pintu masuk musholla. Mereka memakai kacamata hitam meski berada di dalam ruangan, tangan mereka dilipat di depan dada, memancarkan aura intimidasi yang membuat warga sekitar segan untuk lewat sembarangan.
Dan di saf paling depan, duduk dua sosok yang membuat seluruh mata di kampung itu membelalak.
Aris.
Ia tidak lagi memakai gamus katun murah yang sering ia pakai saat mengaji dulu. Hari ini, Aris mengenakan thobe (jubah panjang) berbahan linen Mesir premium berwarna putih gading yang jatuh dengan sempurna. Jahitannya halus tanpa cela, dibuat khusus oleh penjahit ternama di Tanah Abang yang biasa melayani keluarga kerajaan Timur Tengah. Di lehernya, tersampir ghutra (sorban) putih bersih yang ditahan dengan igal (tali kepala) hitam bermotif benang emas asli. Wajahnya teduh, tapi penampilannya memancarkan wibawa seorang Emir dari negeri minyak. Sepatu kulit Italia yang ia kenakan mengkilap, kontras dengan lantai musholla yang masih agak berdebu.
Di sampingnya, duduk bersimpuh dengan anggun, adalah Rina.
Istri muda itu mengenakan mukena dan gamis syar'i dari bahan sutra double crepe impor yang lembut dan jatuh. Warnanya dusty pink elegan, dengan bordiran tangan motif bunga arab menggunakan benang perak di bagian dada dan lengan. Kerudungnya lebar, menutupi dada dengan rapi, terbuat dari kain voal tinggi yang transparan namun tidak menerawang, dihiasi kristal Swarovski kecil yang berkilau tertimpa cahaya matahari. Tas tangan clutch berukuran kecil merek ternama diletakkan rapi di sampingnya, seharga motor baru warga kampung.
Mereka sedang sholat Dhuha. Gerakan mereka tenang, khusyuk, dan lambat. Tidak ada suara decitan sandal jepit, hanya desiran kain mahal yang bergesekan pelan.
Di luar musholla, melalui celah jendela yang pecah dan pintu yang terbuka, puluhan pasang mata mengintip dengan pandangan yang sulit diartikan. Ini adalah pandangan khas masyarakat Indonesia: campuran antara kekaguman pada kesuksesan orang lain dan rasa sakit hati yang mendalam karena merasa tertinggal.
"Waduh... lihat tuh," bisik Pak RT yang sedang ngopi di warung sebelah, matanya hampir keluar dari kelopak. "Itu baju apa kain kafan hantu? Kok bisa seputih itu? Noda sedikit pun nggak ada. Itu pasti harganya ratusan juta!"
"Ih, gila sih si Rina," gerutu Bu Lik Minah yang tadi pagi masih sibuk menyebar gosip. Ia menatap gamis Rina dengan tatapan tajam, seolah ingin merobek kain itu dengan matanya. "Dulu dia cuma pakai daster belel sekarang jadi putri raja Arab! Lihat tuh kerudungnya, kilau-kilau gitu. Pasti berat banget dipake sholat, tapi demi gaya rela aja. Sok suci padahal pamer harta!"
"Gue iri banget," keluh Siska, si gadis desa yang merasa paling cantik, sambil menggigit kuku cat kukunya yang mulai mengelupas. Dia hari ini hanya memakai kebaya murah dan rok span biasa. "Liat deh postur tubuh Rina. Jadi semakin langsing, semakin putih. Itu pasti efek makan makanan mahal tiap hari. Kita mah makan tahu tempe, ya begini adanya. Kenapa Tuhan nggak adil sih? Masa mantan korban perkosaan malah hidup kayak bidadari?"
Yuni, teman Siska, mendengus kesal. "Dan liat tuh pengawalnya! Empat orang! Buat apa sholat di musholla butuh pengawal? Takut dicuri apa? Atau takut dosa nempel? Sok penting banget sih. Padahal dulu dia juga sholat di sini pakai sarung bolong."
"Dasar orang kaya baru," tambah Bu Darmi dengan nada sinis. "Mau deket sama Allah tapi harus pamer dulu. Baju mahal-mahal, pengawal banyak-banyak. Padahal di mata Allah, yang mahal itu taqwa, bukan harga kain! Eh, tapi ya gimana lagi, kita mah cuma bisa ngeliatin doang. Nasib emang beda. Mereka terbang di awan, kita nginjak lumpur
Percakapan itu berbisik-bisik, tapi cukup keras untuk menciptakan atmosfer negatif yang tebal. Bagi mereka, kemewahan Aris dan Rina bukan sekadar pakaian, melainkan sebuah penghinaan terhadap kemiskinan mereka. Setiap jahitan emas di baju Aris terasa seperti cambuk yang menyayat harga diri warga kampung.
Di sudut paling gelap, di balik tiang listrik yang penuh poster iklan, berdiri Dimas.
Ia tidak ikut berbaur dengan gerombolan ibu-ibu atau gadis-gadis itu. Ia berdiri sendirian, tubuhnya bersandar lemas pada tiang. Matanya terpaku pada sosok Rina yang sedang sujud.
Dari posisi itu, Dimas bisa melihat detail gaun Rina. Kain yang begitu halus, begitu bersih, begitu... jauh dari dunianya. Bau oli di bajunya sendiri tiba-tiba terasa sangat menyengat dan menjijikkan dibandingkan aroma parfum mewah yang samar-samar tercium dari arah musholla.
"Indah banget..." gumam Dimas parau, suaranya tercekat.
Bagi Dimas, pemandangan ini adalah siksaan terberat. Ia melihat Rina, wanita yang dulu ia biarkan menangis sendirian di pos ronda, kini bersinar lebih terang dari matahari. Ia terlihat semakin cantik, semakin anggun, semakin... tak terjangkau.
Dulu, Dimas berpikir Rina akan menyesal memilih Aris. Ia berharap Rina akan lelah dengan dunia orang kaya dan kembali padanya, si montir sederhana yang "nyata".
Tapi kenyataannya menghancurkan.
Rina tidak menyesal. Rina justru berkembang. Bersama Aris, Rina menjadi versi terbaik dari dirinya. Kulitnya semakin cerah, caranya bicara semakin halus, auranya semakin mempesona. Sementara Dimas? Ia masih di tempat yang sama. Masih dengan baju kotor, masih dengan motor tua, masih dengan hati yang penuh dendam dan penyesalan.
"Lihat dia..." bisik Dimas pada diri sendiri, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Dia makin cantik. Makin kaya. Makin bahagia. Dan aku? Aku cuma penonton yang bodoh."
Ia teringat kata-katanya dulu: "Gue bakal jadi perisai lo."
Kini, perisai itu hanyalah besi berkarat. Sedangkan Aris... Aris adalah benteng emas yang kokoh.
Saat Rina bangkit dari sujud dan menoleh sekilas ke arah pintu, pandangannya tidak sengaja bertemu dengan mata Dimas yang sembunyi di kegelapan.
Rina tidak tersenyum sinis. Tidak juga meludah. Ia hanya menatap Dimas dengan pandangan datar, penuh belas kasihan, lalu segera memalingkan wajah kembali menghadap kiblat, melanjutkan doanya dengan khusyuk bersama suaminya.
Sikap acuh tak acuh itu lebih menyakitkan daripada hinaan apapun bagi Dimas. Itu artinya, Rina sudah benar-benar melepaskannya. Dimas sudah tidak ada di peta kehidupannya lagi. Ia sudah menjadi debu di bawah kaki kemewahan yang kini dimiliki Rina.
"Sial..." Dimas mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa iri, dengki, dan putus asa bercampur menjadi satu ledakan emosi di dadanya. Ia ingin menerobos masuk, ingin merobek baju mahal itu, ingin meneriakkan bahwa itu semua palsu. Tapi ia sadar, ia tidak punya hak. Ia bahkan tidak punya keberanian untuk melangkah satu inci pun mendekati empat pengawal gagah itu.
Aris, yang merasakan adanya gangguan dari arah belakang, menoleh sebentar. Matanya bertemu dengan Dimas. Tidak ada amarah di sana. Hanya ada senyum tipis, senyum kemenangan seseorang yang sudah mapan dan tidak perlu membuktikan apa-apa lagi pada masa lalu. Aris lalu kembali fokus pada imam, seolah Dimas hanyalah angin lalu yang tidak berarti.
Sholat selesai.
Aris dan Rina berdiri, mengucapkan salam dengan anggun. Keempat pengawal langsung bergerak sigap, membuka jalan, menyiapkan sandal kulit mahal di depan pintu, dan payung besar untuk melindungi mereka dari terik matahari saat keluar.
Warga yang tadi mengintip, buru-buru berpura-pura sibuk. Ada yang pura-pura memperbaiki motor, ada yang pura-pura menyapu halaman, meski mata mereka masih mencuri-curi pandang.
Saat Aris dan Rina melangkah keluar, gemerlap pakaian mereka seolah menerangi gang yang kumuh itu. Mereka berjalan berdampingan, tangan terangkum mesra, menuju mobil mewah yang sudah menunggu.
"Hati-hati, Sayang," ucap Aris lembut, membantu Rina masuk ke mobil.
"Makasih, Kak," balas Rina manis.
Pintu mobil tertutup rapat, memisahkan dua dunia yang berbeda. Mobil itu melaju perlahan, meninggalkan debu dan keheningan yang mencekam di gang Tebet
Begitu mobil hilang dari pandangan, barulah suara-suara sumbang itu meledak lagi.
"Gila! Sombong banget jalannya!"
"Liat tuh sandalnya, kinclong banget, pasti harganya bikin pusing!"
"Dasar orang kaya, nggak punya rasa malu pamer di musholla!"
"Siska, lo liat nggak? Muka Rina makin glowing! Gue yakin dia suntik putih!"
Dimas tidak ikut berteriak. Ia hanya terduduk lemas di trotoar, menatap kosong ke arah mobil yang telah pergi. Di telinganya, suara gosip tetangga terdengar seperti dengungan nyamuk yang menjauh. Yang ia rasakan hanya kehampaan yang luas.
Ia menyadari satu hal yang pahit: Semakin Rina cantik dan kaya, semakin kecil dirinya di mata dunia. Dan tidak ada obat yang bisa menyembuhkan luka akibat menyadari bahwa kita telah membuang berlian hanya untuk memegang batu kerikil.
Bersambung...