NovelToon NovelToon
The Don & The Disaster

The Don & The Disaster

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Action
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Aiden "The Ghost" Volkov adalah definisi dari kesempurnaan yang mematikan. Sebagai raja mafia penguasa jalur perdagangan gelap Eropa, ia dikenal dingin, tak tersentuh, dan sangat mencintai keteraturan. Hidupnya adalah tentang strategi, senjata, dan keheningan.
Namun, tatanan hidup Aiden hancur berantakan saat ia bertemu dengan Ziva, seorang gadis Indonesia yang tinggal di luar negeri dan bekerja sebagai kurir makanan paruh waktu. Pertemuan mereka dimulai dengan bencana: Ziva secara tidak sengaja menabrak konvoi mobil baja Aiden dengan skuter bututnya, lalu malah memarahi Aiden karena "merusak spion estetiknya".
Ziva bukan cewek tangguh yang jago bela diri; dia hanyalah gadis dengan tingkat keberuntungan negatif dan mulut yang tidak punya rem. Di saat musuh-musuh Aiden menggunakan peluru, Ziva menggunakan ketidaksengajaan—seperti menjatuhkan vas kuno seharga jutaan dollar tepat di kepala pembunuh bayaran yang sedang mengincar Aiden.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ganti Rugi Berujung Penculikan

Mansion Volkov yang biasanya sedingin kulkas industri kini mendadak memiliki atmosfer yang sangat berbeda. Jika biasanya aroma yang tercium adalah lilin aroma terapi mahal atau bau minyak senjata, pagi ini udara di koridor utama berbau seperti... bawang goreng dan deterjen curah.

Aiden Volkov duduk di meja makan panjangnya yang terbuat dari kayu jati hitam berusia ratusan tahun. Di depannya, tersedia sarapan mewah khas benua Eropa: croissant mentega, keju Brie, dan daging asap kualitas premium. Namun, fokus Aiden tidak pada makanannya. Matanya tertuju pada sosok di ujung meja yang sedang berusaha memotong roti dengan tenaga yang seolah-olah dia sedang membelah kayu bakar.

Ziva, dengan satu sepatu kets yang tersisa dan satu kaki lagi hanya beralaskan kaus kaki gambar kucing, tampak sangat tidak nyaman.

"Bang, ini roti apa batu bata? Keras banget, gigi gue mau copot," keluh Ziva sambil mengangkat sepotong sourdough yang memang sengaja dipanggang renyah.

"Itu roti organik, Ziva. Makan saja atau diam," jawab Aiden tanpa emosi, meski dalam hatinya ia merasa aneh melihat ada orang yang berani mengeluh soal makanan yang disiapkan oleh koki bintang tiga miliknya.

"Gue mau ganti rugi gue sekarang, Bang Don. Mana spion emas gue? Mana motor gue? Dan kenapa gue harus di sini?" Ziva meletakkan pisau peraknya dengan denting keras. "Lu bilang gue jadi asisten, tapi kerjaan gue dari tadi cuma disuruh duduk doang. Gue ini tipe pekerja keras, nggak bisa diem kayak pajangan guci gini."

Aiden meletakkan cangkir kopinya. "Marco sedang mengurus motormu. Dan soal keberadaanmu di sini... kau adalah saksi kunci serangan semalam. Kelompok Sisilia melihat wajahmu. Jika aku membiarkanmu berkeliaran di jalanan dengan skuter bututmu itu, kau akan menjadi mayat dalam waktu kurang dari satu jam."

Ziva terdiam. "Oh... jadi gue diculik demi keselamatan?"

"Istilahnya adalah perlindungan saksi. Tapi karena aku tidak suka memberi sesuatu secara gratis, kau harus bekerja padaku untuk membayar 'biaya perlindungan' tersebut."

"Bentar-bentar," Ziva menghitung dengan jarinya. "Lu yang tabrak gue, lu yang bikin gue hampir mati kena ledakan, terus sekarang gue yang harus bayar biaya perlindungan ke lu? Bang, lu sekolah di mana sih? Logikanya miring banget kayak menara Pisa!"

Aiden baru saja akan membalas saat Marco masuk ke ruangan dengan wajah tegang. "Tuan, ada masalah di dermaga utara. Kiriman 'perhiasan' kita tertahan oleh otoritas setempat, dan sepertinya ada campur tangan dari keluarga Moretti."

Aiden berdiri seketika. Auranya berubah menjadi dingin dan berbahaya dalam sekejap. "Siapkan mobil. Kita berangkat sekarang."

"Gue ikut!" teriak Ziva sambil meloncat dari kursi.

"Tidak. Kau tetap di sini," perintah Aiden tegas.

"Eh, Bang Don! Lu bilang gue asisten! Asisten itu harus nemenin bosnya. Lagian kalau gue di sini sendirian, gue bosen. Nanti kalau gue bosen, gue bisa bongkar-bongkar guci lu yang katanya mahal itu buat cari harta karun."

Aiden menatap gucinya, lalu menatap Ziva. Ia tahu gadis ini tidak main-main dengan ancamannya. Dengan helaan napas panjang yang penuh kepasrahan, ia menunjuk ke arah pintu. "Ikut. Tapi jangan buka mulutmu satu kata pun. Paham?"

"Siap, komandan! Mulut gue dikunci, kuncinya gue telen!" Ziva melakukan gerakan mengunci bibir yang sangat berlebihan.

Perjalanan menuju dermaga seharusnya menjadi perjalanan yang sunyi dan penuh strategi. Namun, di dalam mobil, Ziva tidak bisa berhenti bergerak. Ia mencoba semua tombol di pintu mobil, mulai dari pemanas kursi hingga tirai otomatis.

"Wah, Bang! Kursinya bisa mijet! Enak banget, kayak kursi pijat di mall, tapi ini versi premium!" seru Ziva, mengabaikan janjinya untuk diam.

Aiden memijat pelipisnya. "Ziva, diam."

"Satu lagi, Bang. Ini kulkas kecil isinya apa? Kok cuma ada air mineral botol kaca? Enggak ada teh kotak atau es lilin gitu?"

"Ziva."

"Oke, oke, diem."

Sesampainya di dermaga, suasana sangat tegang. Puluhan kontainer tersusun rapi seperti labirin raksasa. Aiden turun dari mobil, diikuti oleh Marco dan belasan pengawal bersenjata lengkap. Ziva mengekor di belakang, mencoba terlihat tangguh dengan cara berjalan yang dibuat-buat seperti jagoan di film aksi, namun gagal total karena kaus kakinya yang licin di atas aspal dermaga.

Di sana, sudah menunggu sekelompok pria berjas abu-abu dengan tampang licik. Itu adalah keluarga Moretti, rival bisnis Aiden.

"Volkov," sapa pemimpin mereka, seorang pria tua dengan kumis tipis bernama Enzo Moretti. "Kau datang lebih cepat dari perkiraanku."

"Lepaskan kirimanku, Enzo. Jangan bermain api dengan otoritas jika kau tidak ingin terbakar sendiri," suara Aiden terdengar seperti geraman serigala.

"Aku hanya membantu pemerintah menjalankan tugasnya. Lagipula, kudengar kau membawa... 'aset' baru?" Mata Enzo beralih ke arah Ziva yang sedang sibuk memperhatikan seekor kepiting yang merayap di pinggir dermaga.

Aiden bergeser, menutupi pandangan Enzo terhadap Ziva. "Dia bukan urusanmu."

"Oh, tentu saja. Tapi kau tahu hukum mafia, Aiden. Siapa pun yang berada di lingkaranmu adalah target yang sah."

Suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Para pengawal dari kedua belah pihak sudah meletakkan tangan mereka di gagang senjata. Ketegangan mencapai puncaknya, setipis sehelai rambut.

Tiba-tiba, suara cempreng memecah kesunyian itu.

"WOI! BANG KUMIS!" Ziva berteriak sambil menunjuk Enzo Moretti.

Aiden membeku. Marco menepuk jidatnya. Enzo Moretti tampak bingung.

"Kau bicara padaku, Gadis Kecil?" tanya Enzo dengan nada meremehkan.

"Iya, lu! Itu kumis lu miring sebelah, Bang! Sini gue benerin pakai gunting kuku gue. Geli banget gue lihatnya dari tadi, nggak simetris! Estetika lu rendah banget buat ukuran bos mafia!" Ziva melangkah maju, benar-benar merogoh kantong jaketnya dan mengeluarkan gunting kuku kecil bergambar Hello Kitty.

Enzo Moretti terdiam. Seluruh anak buahnya terdiam. Aiden Volkov merasa jiwanya baru saja meninggalkan raga saking malunya.

"Berani sekali kau..." Enzo mulai naik pitam. "Tangkap gadis itu!"

"Jangan berani menyentuhnya!" gertak Aiden sambil menarik pistolnya.

Dalam sekejap, baku tembak pun pecah. Aiden menarik Ziva ke balik sebuah kontainer baja. Peluru berdesing di atas kepala mereka, menghantam logam dengan suara teng-teng-teng yang memekakkan telinga.

"Tuh kan! Gue bilang juga apa! Lu semua hobinya main tembak-tembakan! Kayak anak kecil main petasan!" teriak Ziva di tengah kekacauan.

"Ziva, tetap di bawah!" Aiden menembak dua orang musuh dengan tenang, seolah sedang melakukan latihan rutin.

"Bang! Itu di belakang lu!" Ziva melihat seorang musuh merayap di atas kontainer di belakang Aiden.

Aiden berbalik, namun musuh itu lebih cepat. Sebelum pria itu sempat menarik pelatuk, Ziva melakukan sesuatu yang sangat "semprul". Ia mengambil kaleng sarden bekas yang ia temukan di tumpukan sampah dermaga dan melemparkannya dengan akurasi yang menakutkan—berkat pengalaman masa kecilnya sering melempar mangga tetangga.

PLAK!

Kaleng sarden itu menghantam wajah si penembak jitu, membuatnya jatuh terjengkang ke bawah kontainer.

"Mampus lu! Rasakan kekuatan sarden kedaluwarsa!" sorak Ziva.

Aiden menatap Ziva dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kekaguman, ada rasa frustrasi, dan ada sedikit rasa takut—takut bahwa ia mungkin mulai menyukai kegilaan gadis ini.

Namun, di tengah kemelut itu, sebuah mobil van hitam meluncur cepat dari arah samping. Pintu van terbuka, dan sebelum Aiden sempat bereaksi, sebuah bom asap dilemparkan ke arah mereka.

BOOM!

Asap putih pekat menutupi pandangan. Aiden terbatuk, mencoba meraih tangan Ziva. "Ziva! Pegang tanganku!"

Aiden merasakan sebuah tangan, namun itu bukan tangan Ziva yang mungil dan kasar. Itu adalah tangan pria dewasa yang kuat. Seseorang memukul tengkuk Aiden dengan gagang senjata. Aiden terhuyung, pandangannya mengabur.

"Tuan!" suara Marco terdengar samar di kejauhan.

Saat asap mulai menipis, Aiden melihat van hitam itu melaju pergi dengan kecepatan tinggi. Di kaca belakang, ia melihat wajah Ziva yang ditekan ke kaca. Gadis itu tidak menangis, ia justru menempelkan lidahnya ke kaca, mengejek para penculiknya sambil memberikan tanda peace ke arah Aiden sebelum menghilang di tikungan.

Aiden berdiri dengan susah payah, darah mengalir dari luka di kepalanya. Matanya berkilat dengan amarah yang belum pernah dilihat oleh Marco sebelumnya.

"Tuan... mereka membawa Nona Ziva," ucap Marco dengan napas tersengal.

"Mereka tidak menculiknya, Marco," suara Aiden terdengar sangat dingin hingga udara di dermaga seolah membeku. "Mereka baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidup mereka. Mereka membawa bencana ke dalam rumah mereka sendiri."

Aiden berjalan menuju mobilnya. "Cari tahu ke mana van itu pergi. Siapkan seluruh pasukan. Aku ingin keluarga Moretti rata dengan tanah sebelum matahari terbenam."

Sementara itu, di dalam van hitam...

Ziva duduk di antara dua pria berbadan besar yang menodongkan senjata ke arahnya. Ia melihat ke sekeliling van dengan sangat santai.

"Bang, ini AC-nya nggak bisa dikecilin? Dingin banget nih, nanti gue masuk angin. Kalau gue masuk angin terus muntah di mobil lu, yang rugi siapa? Lu juga kan?"

Penculik di sebelahnya membentak, "Diam kau, Jalang! Kau adalah sandera kami untuk memeras Volkov!"

Ziva mendengus. "Sandera? Bang, lu salah pilih orang. Aiden itu pelitnya minta ampun. Spion gue aja belum diganti. Mending lu lepasin gue sekarang, terus kita mampir makan bakso. Gue yang bayar... eh maksud gue, lu yang bayar pakai uang hasil nyopet lu."

"DIAM!"

Ziva mengangkat bahu. "Ya udah kalau nggak mau dibilangin. Tapi jangan nyesel ya. Biasanya orang yang nyulik gue itu hidupnya nggak lama... bukan karena dibunuh orang, tapi karena kena serangan jantung dengerin gue ngomong."

Ziva mulai menyenandungkan lagu "Cikini ke Gondangdia" dengan suara sumbang yang sangat keras, mengisi ruang sempit van itu dengan kebisingan yang lebih menyiksa daripada interogasi fisik mana pun.

Para penculik itu saling pandang. Mereka baru menyadari bahwa Aiden Volkov mungkin tidak akan datang untuk menyelamatkan gadis ini, melainkan mereka yang akan memohon pada Aiden untuk mengambil kembali "bencana" ini dari tangan mereka.

Penculikan ini baru saja dimulai, dan bagi keluarga Moretti, ini akan menjadi hari terpanjang dan paling berisik dalam sejarah mafia Italia.

1
Dessy Lisberita
athoor mereka berdua so sweet banget suruh siva belajar menembak dan bela diri thoor
Farida 18: Ziva bisa bela diri ko ya walau absurd caranya😄dan masalah nembak dah suka suka Ziva aja deh dari pada abis vas aiden yang harga ratusan/milyaran dolar jadi sasaran peluru nyasar Ziva
total 1 replies
Dessy Lisberita
sandal jepit mana bisa bergerak cepat mending pake sepatu ziva
Dessy Lisberita
so sweet
Farida 18
sekali2 serius🤭 jangan comedi terus🤭
Vie Desta
jangan serius” tor sesekali comedi biar gak garing 🤭
Vie Desta
lanjut torrr… suka lah sama ceritanya gak monoton tp muncul dengan nuansa baru comedi jd asik baca sambil ketawa😍
Farida 18
salam sejahtera juga beb
Amiera Syaqilla
salam sejahtera author🤗
shabiru Al
haddeuh makin gak masuk akal 🤣
shabiru Al
nah kaaan beneran berasa d indo bukan d milan...😄
shabiru Al
agak gak masuk akal sih,, kan ceritanya d milan ya... kok berasa d jakarta gitu berantem sama preman tpi ya sudahlah,, seru juga...
Farida 18: maaf kan autor ya kak🥺, akan autor usahakan memperdalam suasana kota milannya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!