Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Sayembara Darah dan Demam di Ujung Kewarasan
BAB 20: Labirin Putih dan Memori yang Tertinggal
Hujan turun di Jakarta malam itu bukan sebagai pembasuh, melainkan sebagai tirai yang menyembunyikan iblis.
Aku duduk di lantai unit 1401, bersandar pada pintu balkon yang dingin. Di luar, butiran air menghantam kaca dengan ritme yang kacau, persis seperti detak jantungku. Di depanku, bunga kamboja putih yang tadi kucuri dari meja nakas Ayah tergeletak di atas lantai parket. Kelopaknya mulai layu, pinggirannya mencokelat, namun aromanya masih menusuk—sebuah aroma kematian yang manis dan memuakkan.
"Anya, kau sudah duduk di sana selama dua jam. Makanlah sedikit."
Suara Devan memecah keheningan. Ia berdiri di ambang pintu balkon unitnya, terpisahkan oleh sekat kaca yang buram. Ia membawa sebuah mangkuk berisi mi instan yang uapnya mengepul, namun aku bahkan tidak menoleh.
"Dia sengaja meninggalkan bunga ini, Devan," bisikku. Suaraku parau, nyaris hilang ditelan suara hujan. "Bukan untuk Ayah. Tapi untukku. Ini adalah undangan."
Devan melompati sekat pembatas balkon dengan kelincahan yang biasa ia tunjukkan. Ia mendarat di balkonkku, membuka pintu kaca geser, dan duduk di sampingku. Ia meletakkan mangkuk itu di lantai, lalu meraih tanganku yang gemetar. Jemarinya yang kasar dan hangat terasa sangat kontras dengan kulitku yang sedingin es.
"Undangan ke mana?" tanya Devan rendah.
"Ke labirinnya," jawabku, menatap bunga itu dengan kebencian murni. "Dia ingin aku tahu bahwa meskipun Ayah sudah di penjara, meskipun Satria punya pasukan, aku masih berada di bawah kendalinya. Dia ingin aku tahu bahwa memoriku adalah taman bermainnya."
Aku menoleh menatap Devan. Di bawah cahaya lampu apartemen yang temaram, wajahnya tampak sangat keras. Ada goresan luka baru di pipinya akibat keributan di rumah sakit tadi, namun ia seolah tidak merasakannya.
"Van, kau ingat apa yang kau temukan di papan investigasimu dulu? Tentang 'Regimen 4'?"
Devan mengangguk. "Itu adalah kode untuk dosis tertinggi yang pernah kau terima. Frans menggunakannya enam bulan sebelum kau pindah ke kampus kita."
"Tadi, saat aku melihat matanya di balik masker bedah itu... sebuah pintu di kepalaku terbuka," aku memejamkan mata, membiarkan rasa sakit di pelipisku menyerang. "Ada sebuah tempat. Bukan klinik Medika Utama. Bukan rumah Ayah. Sebuah tempat dengan dinding putih tanpa jendela. Ada suara mesin yang berdegung konstan... dan bau bunga kamboja yang sama."
Devan mencengkeram tanganku lebih erat. "Ingat di mana tempat itu, Anya? Fokus."
"Aku tidak tahu namanya, tapi aku ingat perjalanannya," gumamku. "Setiap kali aku dibawa ke sana, Ayah akan menutup mataku dengan kain hitam. Tapi aku bisa merasakan guncangan mobil... suara deburan ombak yang sangat dekat... dan aroma garam."
"Pesisir," desis Devan. Matanya berkilat. "Frans punya vila pribadi di pesisir utara. Tempat yang tidak terdaftar atas namanya, melainkan atas nama yayasan medis fiktif."
Tiba-tiba, pintu unitku diketuk dengan teratur. Tiga kali. Satria.
Devan bangkit dan membukakan pintu. Jaksa Satria melangkah masuk dengan wajah yang lebih kusut dari biasanya. Ia meletakkan sebuah map hitam di meja makan marmer.
"Laporan toksikologi Hendra Kusuma sudah keluar," Satria memulai tanpa basa-basi. "Zat yang digunakan bukan sianida biasa. Itu adalah senyawa neurotoksin yang baru, sesuatu yang belum ada di database kepolisian. Frans benar-benar jenius yang gila."
"Bagaimana kondisi Ayah?" tanyaku, berdiri dengan susah payah.
"Koma dalam. Dokter tidak bisa menjamin apakah dia akan bangun lagi," Satria menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tanpa kesaksian Hendra, pengacara Dirgantara Group mulai bergerak untuk membatalkan semua bukti audio kita dengan alasan itu adalah hasil manipulasi digital. Kita butuh bukti fisik yang lebih kuat. Kita butuh catatan medis asli yang disimpan Frans secara manual."
"Aku tahu di mana tempatnya," ujarku, melangkah mendekati Satria.
Devan dan Satria menatapku bersamaan.
"Di 'Labirin Putih'. Sebuah fasilitas di pesisir utara," lanjutku. "Frans tidak akan menghapus data itu. Baginya, data itu adalah mahakaryanya. Dia akan menyimpannya sebagai trofi."
Satria mengerutkan kening. "Kami sudah menyisir semua properti Frans. Tidak ada fasilitas di pesisir."
"Karena itu bukan properti, Pak Jaksa," Devan menyela, ia seolah baru saja menyadari sesuatu. "Itu adalah mercusuar tua yang direnovasi. Aku pernah melihat truk logistik medis Medika Utama menuju ke arah sana saat aku mengintai Frans setahun lalu. Aku pikir itu hanya pembuangan limbah."
"Sektor Zero," bisik Satria. "Kawasan industri terbengkalai yang sudah tidak memiliki akses listrik resmi. Sempurna untuk menyembunyikan sesuatu yang ilegal."
Malam itu juga, rencana disusun. Satria tidak bisa membawa pasukan besar karena area Sektor Zero sangat terbuka; kehadiran polisi akan langsung memicu Frans untuk menghancurkan semua bukti atau, lebih buruk lagi, melarikan diri.
"Aku akan pergi sendiri," ujar Devan saat kami berada di dalam lift menuju rubanah.
"Tidak. Aku harus ikut," bantahku tegas.
"Anya, ini bukan ruang sidang. Ini adalah sarang monster. Jika kau terkena 'permen ajaib'-nya lagi, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri."
Aku menahan pintu lift agar tidak tertutup. Aku menatap Devan lurus ke dalam matanya. "Dia memegang kunci kepalaku, Devan. Hanya aku yang bisa mengenali di mana dia menyimpan dokumen itu karena dia sering memaksaku membacanya saat aku dalam pengaruh obat. Dia ingin aku 'belajar' betapa hebatnya dia. Aku bukan lagi korbanmu yang harus dilindungi. Aku adalah saksi yang akan menghancurkannya."
Devan terdiam lama. Ia menatap telapak tanganku yang masih memiliki parut tipis bekas pecahan kaca mobil. Perlahan, ia menghela napas panjang dan menarikku ke dalam pelukannya.
"Baik. Tapi kau tidak boleh lepas dari jangkauan pandanganku. Sedetik pun," bisiknya.
Kami berangkat menggunakan mobil operasional Satria yang tidak mencolok. Perjalanan menuju utara memakan waktu dua jam, melewati jalanan yang semakin gelap dan rusak. Bangunan-bangunan pabrik yang rubuh berdiri seperti nisan-nisan raksasa di kiri dan kanan jalan. Kabut laut mulai turun, membawa hawa dingin yang lembap.
Sektor Zero tampak seperti ujung dunia. Mercusuar tua itu berdiri angkuh di atas tebing karang yang curam. Lampunya tidak lagi berputar, namun ada pendaran cahaya biru pucat yang merembes dari jendela-jendela kecil di bagian bawah yang telah ditutup beton.
"Satria dan timnya akan mengepung dari jalur belakang pantai," bisik Devan saat kami turun dari mobil sekitar lima ratus meter dari lokasi. "Kita masuk lewat jalur suplai air. Ikut aku."
Kami merangkak di antara bebatuan karang yang tajam. Suara deburan ombak yang menghantam tebing terdengar seperti raungan kemarahan. Devan menemukan sebuah lubang palka yang tersembunyi di balik tumpukan kontainer karat. Dengan kekuatan ototnya, ia menggeser tutup besi itu.
Udara dingin yang berbau antiseptik dan freon langsung menyerbu wajahku. Aku gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena memori tubuhku mengenali bau ini.
Labirin Putih.
Kami turun ke dalam koridor yang sangat steril. Dindingnya dilapisi plastik putih medis yang mengkilap di bawah lampu neon yang berkedip-kedip. Lantainya sangat bersih, menciptakan gema langkah kaki yang menyeramkan.
"Jangan bernapas terlalu dalam," Devan memperingatkan, menutupi hidung dan mulutnya dengan masker hitam. "Dia mungkin menggunakan gas penenang di sistem ventilasi."
Kami berjalan menyusuri koridor yang bercabang-cabang. Di sepanjang dinding, terdapat jendela-jendela kaca tebal. Di balik salah satunya, aku melihat deretan tangki berisi cairan bening dengan spesimen yang tidak ingin kulihat lebih jelas.
"Anya, sebelah sini," Devan menunjuk sebuah pintu baja dengan kode digital.
Aku melangkah maju. Tanganku gemetar saat mendekati panel kode itu. Pening di kepalaku meledak. Sebuah suara rekaman di memoriku berputar.
“Angka yang kau benci adalah angka yang akan membebaskanmu, Anya.” — Suara Frans di masa lalu.
Aku mengetik angka: 1-4-0-7-2-1. Tanggal kecelakaan itu.
Klik.
Pintu terbuka, memperlihatkan sebuah ruangan yang sangat luas. Di tengahnya, terdapat sebuah kursi medis yang dikelilingi oleh puluhan layar monitor. Di dinding belakang, ribuan botol obat tersusun rapi menurut tanggal dan nama pasien.
Dan di kursi itu, duduklah sosok yang kami cari.
Dokter Frans tidak memakai jas putihnya. Ia mengenakan sweater hitam sederhana, sedang menyesap teh dari cangkir porselen sambil menatap salah satu monitor yang menampilkan rekaman CCTV... posisi kami saat ini.
"Kau terlambat tiga menit, Devan Mahendra," ujar Frans tanpa menoleh. Suaranya terdengar sangat tenang, seolah ia sedang menyambut tamu di ruang tamunya. "Aku sudah memanaskan teh untukmu. Tapi sepertinya kau lebih suka membawa senjata daripada sopan santun."
Devan segera menodongkan pistolnya. "Jangan bergerak, Frans. Tempat ini sudah dikepung."
Frans tertawa kecil. Ia berbalik perlahan, menatap kami dengan tatapan yang sangat puas. "Dikepung? Oleh Satria? Jaksa itu terlalu lamban. Saat dia sampai di sini, mercusuar ini akan menjadi abu bersama semua rahasia di dalamnya."
Ia menatapku, matanya berkilat di balik kacamatanya. "Halo, Anya. Bagaimana rasanya bangun sepenuhnya? Apakah dunia tanpa lavender terasa terlalu kasar untukmu?"
"Di mana catatan medis Ayah?" tanyaku, suaraku bergetar karena kemarahan yang meluap.
"Catatan medis?" Frans bangkit berdiri, ia berjalan menuju sebuah rak dan mengambil sebuah folder tebal berwarna merah darah. "Kau pikir aku menyimpannya untuk menghancurkan ayahmu? Tidak, Anya. Aku menyimpannya untuk melindungimu. Karena jika dunia tahu apa yang sebenarnya ada di dalam darahmu... kau tidak akan pernah bisa hidup tenang."
"Apa maksudmu?" Devan melangkah maju, jarinya sudah berada di pelatuk.
"Hendra Kusuma bukan hanya meracunimu dengan obat amnesia, Devan," Frans tersenyum licik. "Dia memintaku melakukan eksperimen untuk 'memperbaiki' genetik Anya agar dia tidak mewarisi depresi ibunya. Anya adalah proyek biokimia yang berjalan. Dan obat yang kuberikan padanya selama ini bukan hanya untuk menghapus memori, tapi untuk menjaga organ tubuhnya agar tidak gagal fungsi akibat eksperimen itu."
Duniaku runtuh sekali lagi. Aku bukan hanya korban manipulasi mental. Aku adalah spesimen laboratorium Ayahku sendiri.
"Kau bohong!" teriakku.
"Bohong?" Frans menekan sebuah tombol di mejanya. Layar monitor besar di belakangnya menampilkan struktur DNA-ku yang dipenuhi titik-titik merah. "Tanyakan pada dirimu sendiri, Anya. Mengapa setiap kali kau mencoba berhenti minum obat itu, kau merasa seperti mati? Bukan cuma sakit kepala, tapi jantungmu berdegup tidak karuan, parumu terasa mengecil... itu adalah gejala withdrawal dari zat penstabil yang kuberikan."
Devan tampak goyah sejenak. Pistolnya sedikit turun. Kebenaran ini terlalu mengerikan bahkan untuknya.
"Berikan dokumen itu, Frans!" bentak Devan.
"Ambillah," Frans melemparkan folder merah itu ke lantai, tepat di antara kami. "Tapi ingat ini... jika kau membawa Anya pergi dari sini tanpa persediaan obat dariku, dia akan mati dalam waktu empat puluh delapan jam. Tubuhnya tidak akan sanggup menanggung beban kesadarannya sendiri."
Tiba-tiba, suara ledakan terdengar dari bagian bawah mercusuar. Getarannya membuat botol-botol di rak berjatuhan dan pecah. Sirene darurat mulai melolong.
"Satria sudah masuk," ujar Devan, ia segera menyambar folder itu. "Ayo, Anya!"
"Kau tidak akan bisa membawanya keluar, Devan!" Frans berteriak di tengah kebisingan sirene. Ia mengeluarkan sebuah alat pemicu dari sakunya. "Jika aku tidak bisa memilikinya sebagai mahakaryaku, maka tidak ada orang lain yang boleh memilikinya!"
Frans menekan tombol itu.
Sebuah ledakan kedua terjadi tepat di bawah ruangan kami. Lantai beton retak. Devan menyambar pinggangku dan melompat ke arah meja besar untuk berlindung saat atap ruangan mulai runtuh.
Di tengah debu dan reruntuhan, aku melihat Frans berdiri di tepi tebing yang terbuka akibat ledakan. Ia menatapku untuk terakhir kalinya, memberikan hormat yang mengerikan, lalu ia menjatuhkan dirinya ke kegelapan laut di bawah tebing.
"FRANS!" raung Devan.
Semuanya menjadi kacau. Api mulai berkobar di antara cairan kimia yang tumpah. Devan menarikku keluar dari ruangan yang mulai runtuh itu. Kami berlari menembus koridor yang dipenuhi asap tebal.
Saat kami berhasil keluar ke udara terbuka di tepi pantai, Satria dan pasukannya sudah ada di sana. Mereka menahan kami, sementara petugas pemadam kebakaran mencoba memadamkan api yang melahap mercusuar itu.
Aku jatuh berlutut di atas pasir pantai yang basah. Napasku tersengal. Rasa sakit di dadaku bukan lagi sekadar psikologis. Rasanya seperti ada tangan yang meremas jantungku dengan sangat kuat.
"Devan... sesak..." gumamku.
Devan segera memelukku, wajahnya penuh kepanikan. "Anya! Tahan! Satria, panggil medis! SEKARANG!"
Di bawah cahaya api mercusuar yang membara, kaset rusak di kepalaku memutar sebuah memori terakhir. Memori yang paling awal. Memori yang menjelaskan mengapa ibuku benar-benar pergi.
[KILAS BALIK SINEMATIK]
FADE IN:
INT. KAMAR MANDI RUMAH MEWAH - MALAM HARI (11 TAHUN LALU)
Filter visual sangat buram, berwarna biru tua yang menyedihkan. Suasana sangat sunyi, hanya terdengar suara tetesan air dari keran. ANYA kecil (8 tahun) berdiri di depan pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.
Ia melihat IBU-nya sedang menangis tersedu-sedu sambil membuang puluhan botol obat ke dalam lubang toilet.
IBU ANYA
(Berbisik histeris pada dirinya sendiri)
"Aku tidak akan membiarkan dia melakukan hal yang sama padamu, Anya. Aku tidak akan membiarkanmu menjadi boneka percobaannya."
Tiba-tiba, HENDRA (Ayah Anya) masuk ke dalam kamar mandi. Wajahnya sangat tenang, ketenangan yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahan.
HENDRA
"Kau membuang investasiku, Melati. Itu adalah obat yang sangat mahal untuk masa depan putri kita."
IBU ANYA
"Dia anakmu, Hendra! Bukan kelinci percobaan!"
Hendra mengambil sebuah jarum suntik dari sakunya—jarum suntik yang sama dengan milik Frans.
HENDRA
"Kau butuh istirahat, Melati. Selamanya."
Hendra menyuntikkan cairan itu ke leher istrinya. Anya kecil menjerit tanpa suara, menutup mulutnya dengan kedua tangan saat melihat ibunya perlahan terkulai lemas di lantai marmer yang dingin.
Hendra menoleh ke arah pintu, menatap Anya kecil dengan tatapan yang sangat mencintai namun posesif.
HENDRA (CONT'D)
"Jangan takut, Sayang. Mama hanya sedang tidur. Besok pagi, kau akan lupa bahwa Mama pernah menangis."
Kamera fokus pada wajah Hendra yang berjalan mendekati Anya kecil, sementara tangan Dokter Frans muda terlihat berdiri di belakang Hendra, memegang buku catatan medis pertama berlabel: ANYA - PROYEK ELEGIA.
FADE OUT.
Aku tersadar kembali di pelukan Devan. Pandanganku mengabur. Dunia terasa semakin menjauh.
"Devan..." bisikku lemah. "Aku... aku bukan manusia... aku proyeknya..."
"Diam, Anya! Kau adalah Anya-ku! Kau manusia paling nyata yang pernah kukenal!" Devan berteriak, air mata jatuh membasahi pipiku.
Di kejauhan, mercusuar itu meledak untuk terakhir kalinya, meruntuhkan seluruh labirin putih itu ke dalam laut, membawa pergi semua rahasia, namun meninggalkan aku dalam perjuangan hidup dan mati yang sesungguhnya.
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??