NovelToon NovelToon
Nyaris Jadi Kita

Nyaris Jadi Kita

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

​"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Keluarga

Pagi di Paris selalu memiliki cara untuk membuat seseorang merasa kecil sekaligus berharga di saat yang bersamaan. Cahaya matahari musim gugur yang pucat menembus celah gorden apartemenku, menyinari butiran debu yang menari di udara yang dingin. Aku berdiri di depan jendela besar, menggenggam cangkir porselen berisi kopi hitam yang uapnya perlahan menghilang.

​Pandanganku lurus ke arah gedung di seberang kantorku. Gedung Haussmann yang megah dengan balkon besi tempa yang artistik. Di salah satu lantai atas, aku tahu Elena ada di sana. Sejak Bastian memberitahuku semalam bahwa Elena membeli unit tepat di seberang wilayah kekuasaanku, aku merasa seolah-olah ada sepasang mata elang yang tidak pernah berhenti mengawasiku. Ia tidak lagi menyerang melalui tinta koran, melainkan melalui kehadiran yang sunyi namun mencekam.

​Aku menyesap kopi pahit itu, membiarkan cairannya yang hangat membakar tenggorokanku. Selama tujuh tahun di Jakarta, aku terbiasa menjadi orang yang "selalu ada". Di Paris, aku belajar menjadi orang yang "selalu waspada".

​Ponselku bergetar di atas meja marmer. Bukan pesan dari Bastian, melainkan sebuah notifikasi email dari sekretariat pusat Adhitama Group di Jakarta.

​Subject: Kunjungan Ketua Dewan Komisaris.

​Jantungku seolah berhenti berdetak sesaat. Ketua Dewan Komisaris. Prasetyo Adhitama. Ayah kandung Bastian. Pria yang membangun kekaisaran ini dari nol dengan tangan besi. Email itu menyatakan bahwa beliau akan mendarat di Bandara Le Bourget dua jam lagi untuk melakukan "audit situasional" atas ekspansi Eropa.

​Aku tahu ini bukan sekadar audit. Ini adalah penghakiman.

​Kantor Adhitama di Paris tampak lebih tegang dari biasanya. Staf lokal yang biasanya santai sambil menikmati croissant pagi, kini bergerak dengan ritme yang cepat dan kaku. Bastian berada di ruangannya, pintu tertutup rapat. Aku bisa membayangkan ia sedang menyiapkan mental untuk menghadapi pria yang lebih ia takuti daripada kompetitor mana pun di dunia.

​Aku masuk ke ruang kerjaku, mencoba fokus pada data riset berkelanjutan yang akan dipresentasikan. Namun, bayangan Elena kembali muncul. Aku menoleh ke arah jendela. Di gedung seberang, aku melihat seorang wanita berdiri di balkon. Ia mengenakan jubah sutra berwarna merah darah, memegang gelas kristal di tangannya. Meski jarak kami cukup jauh, aku bisa merasakan senyum sinisnya.

​Elena tahu ayah Bastian datang. Dan aku yakin, dialah yang membisikkan sesuatu ke telinga sang singa tua itu sehingga ia merasa perlu terbang belasan jam dari Jakarta ke Paris.

​Tepat pukul sebelas siang, lift utama berdenting.

​Pintu terbuka, dan seorang pria tua dengan setelan jas custom-made berwarna abu-abu gelap melangkah keluar. Rambutnya putih sempurna, namun langkah kakinya masih sekuat prajurit. Aura yang ia pancarkan begitu dominan hingga udara di lantai itu seolah menjadi lebih tipis. Di belakangnya, lima orang asisten dengan koper hitam mengikuti seperti bayangan.

​Prasetyo Adhitama tidak berhenti untuk menyapa siapa pun. Ia langsung menuju ruangan Bastian.

​Sepuluh menit kemudian, interkom di mejaku berbunyi. Suara sekretaris Bastian terdengar sedikit gemetar.

​"Nona Arelia, Bapak Ketua ingin Anda bergabung di ruang rapat utama sekarang juga."

​Aku merapikan blazer hitamku, menarik napas panjang, dan berjalan menuju ruangan tersebut. Saat aku masuk, suasana terasa sangat dingin. Bastian duduk di sisi meja, wajahnya kaku seperti patung marmer. Di kepala meja, Prasetyo duduk dengan tangan terlipat di atas meja kayu ek yang mahal.

​"Jadi, ini wanita yang membuat media Prancis berisik dalam semalam?" Prasetyo memulai tanpa basa-basi. Suaranya rendah, serak, namun penuh dengan otoritas yang tidak bisa didebat.

​Aku membungkuk sopan. "Selamat siang, Pak Prasetyo. Nama saya Arelia."

​"Duduklah, Nona Arelia. Saya tidak punya waktu untuk formalitas yang tidak perlu," ia menunjuk kursi di depan Bastian. "Bastian bilang kamu adalah analis terbaik yang pernah ia temui. Tapi berita di Jakarta bilang kamu adalah sumber masalah yang hampir menghancurkan reputasi keluarga saya. Mana yang benar?"

​"Ayah, Arelia sudah menjelaskan segalanya melalui wawancara TV—" Bastian mencoba memotong.

​"Diam, Bastian," Prasetyo mengangkat satu tangan, membungkam putranya seketika. "Aku sedang bertanya padanya. Seorang analis sejati bicara dengan fakta, bukan dibela oleh emosi orang lain."

​Aku menatap mata Prasetyo. Matanya sangat mirip dengan Bastian, namun tanpa kelembutan yang biasanya kulihat pada Bastian. Ini adalah mata seorang predator.

​"Faktanya adalah, Pak Prasetyo," kataku, suaraku stabil meski tanganku di bawah meja mengepal kuat. "Tanpa riset yang saya pimpin, Adhitama Group akan kehilangan peluang penghematan pajak karbon sebesar tiga puluh juta Euro tahun depan. Mengenai berita di media, itu adalah manipulasi yang dilakukan oleh pihak yang merasa terancam oleh kompetensi saya. Jika Bapak ingin menghakimi saya, hakimi saya berdasarkan angka-angka yang saya hasilkan, bukan berdasarkan opini yang dibeli oleh kompetitor."

​Prasetyo terdiam. Ia menatapku selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Ia kemudian mengambil selembar kertas dari sakunya—sebuah potongan koran Le Monde yang sudah kumal.

​"Elena meneleponku pagi ini," ucapnya pelan. "Dia bilang kamu adalah asisten dari seorang pria yang sekarang mendekam di penjara karena mencuri data kita. Dia bilang kamu memiliki akses yang sama dengan pria itu. Dia khawatir Bastian sedang dibutakan oleh sesuatu yang... bersifat personal."

​Ia menekankan kata 'personal' dengan nada menghina.

​"Elena adalah masa lalu yang gagal menjaga integritasnya, Pak," jawabku berani. "Dia menggunakan informasi setengah benar untuk menutupi ketidakmampuannya bersaing secara sehat. Jika Bapak lebih percaya pada kata-kata mantan menantu yang sudah mengkhianati perusahaan daripada pada data yang saya sajikan, maka saya mempertanyakan visi jangka panjang dewan komisaris."

​Bastian membelalakkan mata. Ia terkejut dengan keberanianku—atau mungkin kegilaanku—menantang ayahnya secara langsung.

​Prasetyo tiba-tiba tertawa. Sebuah tawa yang kering dan singkat. "Lidah yang tajam. Sangat mirip dengan Elena saat dia pertama kali masuk ke keluarga ini. Tapi Elena punya modal nama besar Aristhoteles di belakangnya. Kamu punya apa, Nona Arelia?"

​"Saya punya kebenaran, Pak. Dan di era transparansi global ini, kebenaran jauh lebih berharga daripada nama keluarga."

​"Kita lihat saja nanti malam," Prasetyo berdiri, merapikan jasnya. "Bastian, aku ingin makan malam di apartemenmu pukul delapan. Arelia, kamu juga harus datang. Aku ingin melihat apakah masakanmu sebanding dengan tajamnya lidahmu. Di keluarga kami, seorang pendamping tidak hanya harus pintar di kantor, tapi harus tahu caranya menjaga 'rumah'."

​Begitu Prasetyo keluar, aku hampir jatuh kembali ke kursiku. Keringat dingin mengucur di punggungku. Bastian segera menghampiriku, ia berlutut di depanku dan memegang tanganku.

​"Rel, kamu gila? Kamu baru saja menantang harimau di kandangnya," bisik Bastian, ada nada antara cemas dan kagum di suaranya.

​"Aku lelah menjadi bayangan, Bastian. Jika aku tidak bicara sekarang, ayahmu akan terus memandangku sebagai pelayanmu," aku menatapnya lekat. "Dan soal makan malam nanti... apa maksudnya 'pendamping'?"

​Bastian mendesah berat. "Ayahku tipe orang yang kuno. Baginya, setiap wanita di sekitarku adalah ancaman bagi warisan keluarga kecuali wanita itu bisa membuktikan nilainya dalam segala hal. Elena dulu berhasil memikatnya dengan koneksi bisnis. Sekarang, dia ingin melihat apa yang aku lihat darimu."

​"Bastian, aku tidak bisa masak masakan mewah Prancis atau semacamnya—"

​"Masaklah sesuatu yang jujur, Arelia. Sama seperti datamu. Aku akan membantumu."

​Sore itu, Paris diguyur hujan gerimis. Aku dan Bastian pergi ke sebuah pasar tradisional di Rue Mouffetard. Kami membeli bahan-bahan segar: jamur chanterelle, daging sapi pilihan, dan sayuran organik. Di tengah dinginnya hujan, kami berbelanja seperti pasangan biasa, sejenak melupakan bahwa malam ini adalah malam penghakiman bagi hidupku.

​Sesampainya di apartemen Bastian yang megah di dekat Arc de Triomphe, aku mulai sibuk di dapur. Bastian membantuku memotong sayuran, sesekali ia mencium puncak kepalaku untuk memberikan ketenangan.

​"Jangan biarkan dia mengintimidasi kamu lagi, Rel," ucap Bastian sambil menata meja makan. "Ingat, ini hidupku, bukan hidupnya."

​Pukul delapan tepat, bel pintu berbunyi.

​Prasetyo Adhitama masuk dengan keanggunan yang sama. Namun, ia tidak datang sendirian.

​Duniaku seolah runtuh saat melihat siapa yang berjalan di belakangnya.

​Elena.

​Ia mengenakan gaun hitam yang sangat elegan, rambutnya tertata rapi, dan ia tersenyum dengan sangat manis ke arah Prasetyo.

​"Bastian, maaf ayah membawa Elena," ucap Prasetyo tanpa rasa bersalah. "Bagaimanapun, Elena masih memiliki saham di beberapa anak perusahaan kita, dan dia kebetulan sedang berada di gedung seberang. Saya pikir ini waktu yang tepat untuk melakukan 'rekonsiliasi' keluarga."

​Aku berdiri di ambang pintu dapur, memegang pisau pemotong yang masih basah. Mataku bertemu dengan mata Elena. Ia memberikan sebuah kedipan kecil yang penuh kemenangan.

​"Halo, Arelia," sapa Elena dengan suara yang lembut namun penuh bisa. "Maaf mengganggu momen 'domestik' kalian. Bau masakannya... lumayan. Sangat mengingatkanku pada aroma dapur staf di rumah lama kami."

​Rahangku mengeras. Bastian melangkah maju, menghalangi pandangan Elena padaku. "Ayah, ini makan malam pribadi. Elena tidak seharusnya ada di sini."

​"Jangan tidak sopan, Bastian," bentak Prasetyo. "Duduklah semuanya."

​Makan malam itu berubah menjadi siksaan yang lambat. Prasetyo dan Elena terus-menerus bicara tentang masa lalu—tentang merger besar, tentang pesta-pesta di Singapura, dan tentang bagaimana Elena membantu Adhitama Group melewati krisis finansial lima tahun lalu. Aku duduk di sana seperti orang asing, menyajikan makanan yang mereka santap dengan komentar-komentar pedas dari Elena.

​"Dagingnya sedikit terlalu matang, Arelia. Tapi ya, untuk seseorang yang terbiasa makan di kantin kantor Jakarta, ini sudah cukup baik," ucap Elena sambil menyesap wine merahnya.

​Aku meletakkan garpuku. Keheningan yang sangat tajam menyelimuti meja makan. Bastian baru saja akan meledak, namun aku menahan tangannya di bawah meja.

​"Nona Elena," kataku, suaraku sangat tenang namun berisi kekuatan yang membuat Prasetyo berhenti bicara. "Daging ini mungkin terlalu matang bagi selera Anda yang sudah terbiasa dengan segala sesuatu yang 'setengah matang'—termasuk loyalitas Anda pada perusahaan ini dulu. Tapi di meja ini, kita bicara tentang kenyataan. Dan kenyataannya adalah, meskipun Anda duduk di sini malam ini, Anda adalah tamu yang tidak diundang dalam masa depan Bastian."

​Elena terbelalak. Prasetyo meletakkan gelasnya dengan dentuman yang cukup keras.

​"Arelia!" tegur Prasetyo.

​"Maaf, Pak Prasetyo," aku berdiri, menatap sang singa tua itu dengan pandangan yang tidak lagi memiliki rasa takut. "Bapak ingin tahu apa yang saya miliki yang tidak dimiliki Elena? Saya memiliki keberanian untuk mengatakan kebenaran di depan wajah Bapak, bukan membisikkan fitnah di belakang punggung Bapak seperti yang dia lakukan sepanjang sore ini."

​Aku menoleh ke arah Elena. "Nikmatilah makan malammu, Elena. Karena setelah ini, aku akan memastikan Bapak Prasetyo melihat data yang sebenarnya tentang bagaimana perusahaan ayahmu mencoba menyabotase tender kita di Marseille. Data itu sudah ada di tablet Bastian, dan saya yakin Bapak Ketua akan jauh lebih tertarik membaca pengkhianatan bisnis daripada mendengar gosip asisten."

​Wajah Elena seketika berubah menjadi pucat pasi. Ia menatap Bastian, lalu menatap Prasetyo yang kini mulai mengerutkan kening dengan penuh rasa ingin tahu.

​"Apa maksudmu, Arelia?" tanya Prasetyo, suaranya kini tidak lagi meremehkan.

​"Bastian, tolong tunjukkan lampiran C yang saya buat tadi sore," kataku mantap.

​Bastian dengan cepat mengambil tabletnya dan menyerahkannya pada ayahnya. Sepanjang sepuluh menit berikutnya, hanya terdengar suara geseran layar dan hembusan napas berat dari Prasetyo. Elena mencoba bicara, namun Prasetyo memberikan tatapan yang begitu dingin hingga ia terdiam seribu bahasa.

​"Elena," ucap Prasetyo akhirnya, suaranya sangat rendah. "Apakah benar Aristhoteles Group memberikan dana hibah kepada serikat pekerja di Marseille untuk melakukan aksi mogok tepat saat kita masuk ke sana?"

​"Ayah, itu... itu strategi bisnis biasa—"

​"Strategi bisnis?" Prasetyo berdiri. "Itu adalah sabotase terhadap keluarga yang kamu sebut 'masih kamu sayangi'. Keluar sekarang juga, Elena. Sebelum aku menelepon ayahmu dan membatalkan semua kerja sama kita di Asia."

​Elena berdiri dengan gemetar. Ia menatapku dengan kebencian yang murni, seolah-olah ia ingin membunuhku di tempat itu juga. Ia menyambar tasnya dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

​Setelah pintu apartemen tertutup, Prasetyo duduk kembali. Ia menatap piring dagingnya yang tinggal setengah. Ia kemudian menatapku.

​"Dagingnya memang sedikit terlalu matang," ucapnya pelan. "Tapi analisismu tentang Marseille... itu sangat tajam. Tidak ada orang di Jakarta yang menyadari kaitan itu."

​Ia menghela napas panjang, lalu menatap Bastian.

​"Bastian, pilihanmu... mungkin memang tidak lazim. Tapi aku mulai mengerti kenapa kamu begitu gigih melindunginya. Wanita ini tidak hanya bisa menjaga rumah, tapi dia bisa menjaga benteng kita."

​Prasetyo berdiri, ia tidak meminta maaf, namun ia menepuk bahu Bastian dengan cara yang belum pernah kuliahat sebelumnya—sebuah tanda restu. Sebelum ia pergi, ia berhenti di depanku.

​"Nona Arelia, jangan biarkan panggung Paris ini membuatmu lupa pada kerendahan hati. Tapi jangan pernah biarkan siapa pun membungkammu lagi. Selamat malam."

​Pintu tertutup. Ruangan itu kembali sunyi.

​Bastian langsung menarikku ke dalam pelukannya. Aku bisa merasakan jantungnya yang berdebar kencang, sama seperti jantungku. Kami berdiri di tengah apartemen mewah di Paris itu, memeluk kemenangan yang paling sulit yang pernah kami alami.

​"Kamu melakukannya, Rel," bisik Bastian, mencium puncak kepalaku. "Kamu baru saja menaklukkan singa yang paling ditakuti di dunia."

​"Aku tidak menaklukkannya, Bastian," jawabku sambil menyandarkan kepalaku di dadanya. "Aku hanya menunjukkan bahwa kebenaran selalu punya jalannya sendiri, meski di tengah kemewahan Paris yang menyesakkan ini."

​Aku menatap ke arah jendela. Di gedung seberang, lampu di balkon Elena baru saja dimatikan. Kegelapan telah menelan posisinya malam ini.

​Nyaris jadi kita?

​Tidak. Kalimat itu benar-benar telah mati. Sekarang adalah tentang "Kita" yang sedang diuji oleh api, dan malam ini, api itu justru membuat kami semakin mengkilap.

​Perjalanan di Paris baru saja dimulai, dan aku tahu, masih banyak badai yang akan datang. Tapi selama aku punya suaraku sendiri dan pria ini di sampingku, aku tidak lagi takut pada hantu mana pun dari masa lalu.

​Malam itu, aku tidur dengan perasaan merdeka yang sesungguhnya. Tanpa bayang-bayang Kaivan, tanpa intimidasi Elena. Hanya ada aku, Arelia, sang penjaga benteng.

1
sukensri hardiati
ini kaivan sama nadine kok ngrusuh terus sih...
Misterios_Man: lah gatau... kok tanya saya😄
total 1 replies
Kinanda Husnancandra
hufhhhhjhhhh...
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain
Misterios_Man: sampai kapan kak nafasnya ditarik?? saya udah ga kuat!!/Puke/
total 1 replies
Lili Inggrid
bagus
Indah
Tarus bangkit menjadi wanita kuat
Indah
Masih memantau
Quinza Azalea
bener benar puas baca ceritamu thor
Quinza Azalea
lanjut thor💪💪💪
Quinza Azalea
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!