Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.
Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.
Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
Di ruangan HRD, suasana terasa mencekam. Tidak ada suara selain tawa rendah yang terdengar begitu jelas, seolah sengaja dipamerkan. Pandu berdiri dengan santai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, wajahnya dipenuhi kepuasan yang tidak disembunyikan sedikit pun.
“Ternyata semudah ini menghancurkan dia,” ucap Pandu dengan nada mengejek. “Besok, aku yakin dia akan datang sendiri. Bersujud, memohon ampun. Menjadi apa pun yang aku inginkan.”
Tidak ada yang menjawab.
Para staf HRD hanya berdiri atau duduk di tempat masing-masing. Kepala mereka tertunduk, mata menghindar. Tidak ada yang berani menatap Pandu secara langsung. Mereka semua tahu apa yang terjadi itu salah. Sangat salah. Namun rasa takut jauh lebih besar daripada keberanian untuk melawan.
Salah satu staf wanita menggenggam tangannya sendiri erat-erat di bawah meja. Bibirnya bergetar, namun tidak satu kata pun keluar. Rasa bersalah memenuhi ruangan, tetapi tidak cukup kuat untuk membuat siapa pun bergerak.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka.
Semua kepala menoleh bersamaan.
Bima masuk dengan langkah tenang, namun aura yang dibawanya terasa berbeda. Tidak seperti biasanya. Wajahnya datar, tanpa ekspresi, tetapi justru itulah yang membuat suasana semakin berat.
Pandu yang melihatnya langsung tersenyum lebar.
“Bima!” serunya santai. “Kamu datang tepat waktu. Aku baru saja bilang ke mereka semua kalau aku sudah berhasil menghancurkan Aira.”
Bima tidak menjawab. Ia hanya berdiri, menatap Pandu tanpa berkedip.
Pandu melanjutkan, seolah tidak menyadari perubahan sikap sahabatnya.
“Besok dia pasti datang. Aku jamin. Dia akan jadi milikku sepenuhnya. Tidak akan ada lagi yang berani menolak aku.”
Hening.
Dalam hitungan detik, sesuatu terjadi begitu cepat.
Bugh!
Sebuah pukulan keras mendarat tepat di wajah Pandu. Tubuhnya langsung terhempas ke lantai. Suara benturan terdengar jelas, diikuti dengan desahan kesakitan.
Semua orang di ruangan itu membeku.
Pandu terbaring beberapa detik sebelum akhirnya bergerak. Ia menyentuh bibirnya yang terasa panas, lalu melihat darah yang menempel di jarinya.
Ia menatap Bima dengan bingung.
“Apa… maksudmu?” tanyanya pelan, masih mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
Bima berdiri di tempatnya. Tangannya masih mengepal, namun wajahnya tetap datar.
“Aku juga tidak tahu,” jawabnya singkat.
Semua orang semakin terdiam.
Bima menghela napas pendek, lalu melanjutkan dengan suara rendah.
“Aku tidak tahu kenapa aku memukulmu. Bahkan aku tidak mengerti kenapa aku semarah ini.”
Pandu perlahan bangkit. Wajahnya berubah, dari bingung menjadi marah.
“Kamu sudah gila?” bentaknya. “Atau… jangan-jangan kamu membela Aira?”
Bima terdiam beberapa detik.
Kemudian, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Ia tertawa.
Tawa yang terdengar pelan, tetapi cukup untuk membuat bulu kuduk merinding.
“Mungkin kamu benar,” katanya sambil melangkah mendekat. “Sepertinya aku memang sudah gila.”
Ia berhenti tepat di depan Pandu, menatapnya tajam.
“Karena untuk pertama kalinya, aku merasa… tidak bisa diam saja.”
Pandu mengerutkan kening, namun sebelum sempat berkata apa pun, Bima sudah berbalik.
Ia berjalan keluar dari ruangan tanpa menoleh lagi.
Para staf HRD masih terpaku. Tidak ada yang berani bergerak, bahkan setelah pintu tertutup.
Langkah kaki Bima terdengar cepat di lorong kantor. Ia tidak berhenti sampai akhirnya tiba di bagian finance.
Di sana, beberapa pegawai langsung menoleh saat melihatnya datang.
“Ayunda,” panggilnya singkat.
Ayunda yang sedang berdiri di dekat mejanya menoleh. Tatapannya langsung berubah dingin begitu melihat Bima.
“Aira di mana?” tanya Bima tanpa basa-basi.
Ayunda tidak langsung menjawab. Ia menatap Bima beberapa detik, lalu menghela napas panjang.
“Sudah pergi,” jawabnya singkat.
Jawaban itu membuat rahang Bima mengeras.
“Kamu tahu dia ke mana?” tanyanya lagi.
Ayunda menggeleng pelan.
Namun kemudian ia melangkah mendekat, tatapannya tajam.
“Pak Bima,” ucapnya dengan nada penuh penekanan, “Anda tahu tidak… betapa mengecewakannya Anda hari ini?”
Ruangan itu langsung sunyi.
Beberapa pegawai saling bertukar pandang, tetapi tidak ada yang berani menyela.
Bima tidak menjawab.
Ayunda melanjutkan, suaranya sedikit bergetar, namun penuh emosi.
“Selama ini kami semua menganggap Anda atasan yang baik. Peduli. Berbeda dari yang lain.”
Ia berhenti sejenak, menahan napas.
“Tapi hari ini saya melihat sesuatu yang berbeda. Anda… sama saja. Anda tidak bisa melindungi dia. Anda membiarkan semua itu terjadi.”
Bima menatapnya, tanpa mencoba menyangkal.
“Aira diperlakukan seperti itu,” lanjut Ayunda, “dan Anda hanya diam.”
Hening.
Beberapa detik terasa sangat lama.
Bima akhirnya berbicara, suaranya rendah.
“Di mana dia tinggal?”
Ayunda langsung menggeleng.
“Saya tidak akan memberitahu Anda.”
Bima menghela napas.
“Tolong,” ucapnya.
Ayunda tertawa kecil, sinis.
“Tolong?” katanya. “Sekarang Anda bilang tolong?”
Ia menatap Bima dengan penuh kemarahan.
“Menurut Anda, Anda berbeda dari Pandu? Kalian sama saja. Menganggap wanita seperti benda. Seperti mainan.”
Bima terdiam.
Ia tidak langsung membantah.
“Selama ini,” lanjut Ayunda, “Anda hanya bersandiwara. Berpura-pura menjadi atasan yang baik.”
Bima tersenyum tipis.
“Saya tidak pernah bilang saya baik,” jawabnya tenang. “Kalian yang menilai seperti itu.”
Ayunda terdiam sejenak.
“Saya juga tidak pernah punya niat jahat,” lanjut Bima. “Saya hanya… ingin membalas sesuatu.”
Ia berhenti.
Tatapannya kosong.
“Tapi sepertinya,” katanya pelan, “yang saya lakukan justru menyakiti diri saya sendiri.”
Tidak ada yang berbicara.
Lalu, tanpa peringatan—
Bima berlutut.
Suara napas tertahan terdengar di seluruh ruangan.
Semua orang menatapnya dengan tidak percaya.
“Apa yang Anda lakukan?” bisik salah satu pegawai.
Namun Bima tidak peduli.
Ia menatap Ayunda dari bawah.
“Tolong beri tahu saya,” ucapnya.
Ayunda mundur selangkah, jelas terkejut.
“Berhenti bersandiwara,” katanya dengan suara keras.
Namun Bima tetap di posisinya.
“Apakah saya harus bersujud?” tanyanya.
Ayunda memalingkan wajah.
“Saya tidak peduli.”
Detik berikutnya, sesuatu yang bahkan lebih mengejutkan terjadi.
Bima benar-benar bersujud.
Keningnya menyentuh lantai.
Ruangan itu benar-benar sunyi. Tidak ada satu pun yang berani bergerak.
Ayunda membeku di tempatnya.
“Kenapa…” suaranya melemah, “kenapa harus sampai seperti ini?”
Bima tidak menjawab.
Ia tetap dalam posisi itu.
Beberapa detik… terasa seperti menit.
Akhirnya, Ayunda menutup matanya sejenak.
“Aira tinggal di kost saya,” katanya pelan.
Bima langsung mengangkat kepalanya.
Ia menatap Ayunda.
Ayunda kemudian menyebutkan alamatnya.
Tanpa membuang waktu, Bima berdiri dan segera pergi.
Perjalanan terasa lebih lama dari biasanya.
Bima mengemudi tanpa banyak berpikir. Pikirannya penuh, namun kosong di saat yang sama.
Begitu sampai di lokasi, ia langsung turun dari mobil.
Deretan kost terlihat sederhana. Tidak terlalu besar, tetapi cukup rapi.
Ia berjalan cepat, mencari nomor kamar yang disebutkan Ayunda.
Satu per satu ia periksa.
Sampai akhirnya—
Ia berhenti.
Ini dia.
Bima menarik napas, lalu mengetuk pintu.
Tok. Tok. Tok.
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras.
Tetap tidak ada respons.
“Aira,” panggilnya.
Hening.
Perasaan tidak enak mulai muncul.
Bima mencoba membuka pintu, tetapi terkunci.
Ia mengelilingi sisi bangunan, mencari celah.
Sebuah jendela kecil menarik perhatiannya.
Ia mendekat, lalu mencoba mengintip dari sela-sela tirai yang sedikit terbuka.
Dan saat itulah—
Tubuhnya membeku.
Di dalam kamar, Aira terbaring di lantai.
Tangannya terkulai.
Darah terlihat jelas mengalir dari pergelangan tangannya, membasahi lantai di sekitarnya.
Wajahnya pucat.
Tidak bergerak.
“Aira!”
Suara Bima terdengar panik untuk pertama kalinya.
Ia langsung mundur, lalu menghantam pintu dengan bahunya.
Sekali.
Tidak terbuka.
Dua kali.
Masih terkunci.
Dengan tenaga penuh, ia menghantamnya lagi.
Brak!
Pintu akhirnya terbuka.
Bima berlari masuk tanpa berpikir.
“Aira!”
Ia berlutut di samping tubuh Aira, tangannya gemetar saat mencoba mengangkatnya.
“Aira, bangun… dengar saya…”
Tidak ada respons.
Darah masih mengalir.
Waktu terasa berhenti.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya—
Bima benar-benar merasa takut kehilangan seseorang.