"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Tamu yang Tak Diundang
[POV: Vaya]
Aku memarkirkan mobilku di depan butik dengan perasaan yang sangat asing. Bebas. Tidak ada sopir yang membukakan pintu, tidak ada pengawal bertampang sangar yang berdiri dua meter di belakangku. Hanya aku, tas tanganku, dan udara pagi yang terasa begitu segar.
Aku segera mengambil ponsel dan menepati janjiku pada Narev.
"Halo, Narev? Aku sudah sampai di butik," kataku tepat setelah nada sambung pertama berakhir. Dia pasti sedang menggenggam ponselnya sedari tadi.
"Syukurlah," suara Narev terdengar sangat lega di seberang sana, meski masih ada sedikit nada tegang. "Semua aman? Tidak ada yang membuntutimu?"
"Aman, Raksasa. Tidak ada apa-apa. Sekarang, bernapaslah yang tenang. Aku akan masuk kerja sekarang, oke?"
"Vaya... terima kasih karena sudah menelepon. Aku... aku mencoba untuk tenang," bisiknya parau. "Hati-hati, ya. Aku mencintaimu."
"Aku juga, Narev."
Aku mematikan telepon dengan senyum tipis. Aku melangkah masuk ke butik, disambut oleh Celine yang tampak sangat terkejut melihatku datang sendirian.
"Nyonya? Mana tim pengamanannya?" tanya Celine sambil celingukan ke arah pintu.
"Aku memulangkan mereka, Celine. Hari ini aku ingin bekerja seperti orang normal," jawabku sambil meletakkan tas di meja kerja. "Ayo, mana sketsa untuk koleksi Autumn? Kita harus menyelesaikannya hari ini."
Tiga jam berlalu dengan sangat produktif. Aku hampir lupa dengan segala drama hidupku sampai pintu butik berdenting. Aku mengira itu adalah pelanggan, namun aroma parfum yang sangat kukenali—aroma yang dulu sempat membuatku merasa tenang, namun kini terasa memuakkan—masuk ke indra penciumanku.
Rian berdiri di sana. Dia mengenakan setelan jas abu-abu, tampak rapi dan berwibawa, namun di mataku, dia hanya terlihat seperti pembohong ulung.
"Vaya," sapanya lembut. "Kau terlihat... berbeda hari ini. Lebih bercahaya."
Aku meletakkan pensil gambarku dengan perlahan. "Celine, tolong buatkan kopi di dapur dan jangan keluar sampai aku panggil," perintahku tanpa melepaskan pandangan dari Rian.
Setelah Celine pergi, aku berdiri dan melipat tangan di dada. "Mau apa lagi, Rian? Aku sudah bilang jangan pernah temui aku."
Rian tertawa kecil, melangkah mendekat ke arah meja pajangan manekin. "Kau pikir aku akan menyerah setelah telepon singkat itu? Aku tahu Narev ada di sampingmu saat itu. Aku tahu kau sedang di bawah tekanan."
"Nggak ada yang menekan aku, Rian. Justru kamu yang menekan aku dengan segala kebohonganmu," balasku tajam.
"Kebohongan?" Rian menatapku dengan tatapan memelas yang sangat dibuat-buat. "Vaya, ingat malam itu. Malam kelulusan. Dia menculikmu! Dia mengunci kamu di vila! Apa itu tindakan pria yang mencintaimu dengan benar?"
"Narev sudah menceritakan semuanya padaku," kataku tenang, membuat wajah Rian sedikit berubah. "Dia mengaku dia salah. Dia mengaku dia monster malam itu. Tapi setidaknya dia mengakui dosanya, Rian. Sedangkan kamu? Kamu mendekatiku lagi sekarang hanya karena ingin menghancurkan bisnisnya, kan? Bukan karena kamu peduli padaku."
Rian terdiam sejenak, lalu dia melangkah sangat dekat hingga aku bisa melihat kilat kemarahan di matanya. "Kau sudah dicuci otak, Vaya! Dia menggunakan anak itu untuk mengikatmu! Dia tahu kau lemah pada Mici, jadi dia berakting menjadi ayah yang malang!"
Tiba-tiba, kepalaku berdenyut hebat. Sebuah suara melengking masuk ke benakku, lebih keras dari biasanya.
“Mama... Mama awas! Om Jahat pegang sesuatu di saku... Dia mau sakiti Mama! Papa... tolong Mama!”
Aku tersentak dan mundur beberapa langkah. Tanganku secara otomatis meraih vas bunga di meja. "Pergi dari sini, Rian. Sekarang juga!"
"Vaya, dengarkan aku sekali saja—" Rian mencoba meraih tanganku.
"JANGAN SENTUH AKU!" teriakku. "Aku sudah tahu siapa yang lebih berbahaya di sini. Narev mungkin posesif, tapi dia tidak pernah membohongiku tentang perasaannya. Kamu? Kamu hanya parasit!"
Rian tertawa dingin, wajah ramahnya menghilang total. "Baiklah. Kalau kau memilih untuk tetap bersama monster itu, jangan salahkan aku jika nanti kau bangun dan menyadari bahwa 'kecelakaan' yang menimpa ayahmu sepuluh tahun lalu juga adalah bagian dari rencana suamimu yang tercinta."
Deg. Jantungku seolah berhenti berdetak. "Apa kamu bilang? Kecelakaan ayahku?"
"Tanyakan padanya, Vaya," bisik Rian dengan nada berbisa. "Tanyakan bagaimana perusahaan ayahmu tiba-tiba bangkrut tepat saat Narev datang membawa proposal pernikahan. Apakah itu benar-benar kebetulan?"
Rian berbalik dan keluar dari butik dengan santai, meninggalkan aku yang berdiri gemetar hebat.
Tepat saat itu, ponselku bergetar. Telepon dari Narev.
"Vaya? Kau baik-baik saja? Hatiku merasa sangat tidak enak. Jawab aku, Vaya!" suara Narev terdengar sangat panik di seberang sana.
Aku menatap pintu butik yang masih berayun. Suara hati Mici kembali terdengar, kali ini sangat pelan dan menyayat hati.
“Mama... hatinya Mama pecah ya? Jangan percaya Om Jahat... Papa sayang Mama beneran...”
"Narev..." suaraku tercekat. "Pulang... aku ingin pulang sekarang."
...****************...
G konsisten sma omongannya si vaya
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa