"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Janji di Atas Keraguan
Suasana di dalam mobil SUV Baskara terasa jauh lebih hangat malam ini, meski di luar sana sisa-sisa ketegangan dari parkiran rumah sakit masih membekas. Baskara menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tidak sedetik pun melepas jemari Arini.
"Arini," suara Baskara memecah keheningan, terdengar sangat serius dan tidak bisa dibantah. "Besok pagi, kita akan ke Kantor Urusan Agama. Secara hukum dan agama, aku ingin kita sah menjadi suami istri dulu."
Arini tersentak, menoleh dengan mata membulat. "Besok? Tapi, Bas, bukankah persiapannya—"
"Tidak perlu pesta besar dulu," potong Baskara cepat. Ia mengeratkan genggamannya. "Tinggal bersama di rumahku tanpa ikatan itu zina. Aku tidak ingin itu. Dan orang tuamu di Surabaya sudah meneleponku berkali-kali. Mereka sangat khawatir setelah tahu kecelakaanmu itu disengaja. Mereka hanya ingin kamu aman, dan menurut mereka, satu-satunya cara adalah menyerahkan tanggung jawab itu padaku secara penuh."
Arini terdiam. Ia ingat suara ibunya yang terisak di telepon, memohon agar Arini segera menikah agar ada laki-laki yang menjaganya 24 jam. Baskara benar. Di dunia yang sekarang penuh konspirasi dan hantu dendam, ia butuh perlindungan nyata.
"Baiklah, Bas. Jika itu maumu... dan orang tuaku," bisik Arini.
Baskara menarik tangan Arini dan mencium punggung tangannya lama. "Terima kasih. Aku janji, tidak akan ada satu orang pun—atau makhluk pun—yang bisa menyentuhmu setelah kamu menjadi istriku."
Mika yang biasanya berisik di kursi belakang, kali ini hanya tersenyum haru. Ia menghilang perlahan, memberikan ruang privat bagi pasangan yang sebentar lagi akan sah itu.
Malam itu, Arini ditempatkan di kamar tamu lantai dua rumah mewah keluarga Baskara. Rumah bergaya kolonial itu terasa megah namun sunyi. Baskara sendiri tidur di kamar sebelah, menjaga pintu kamar Arini seolah ia adalah pengawal pribadi.
Namun, saat Arini mulai terlelap, suhu di kamar tamu itu turun drastis. Kabut tipis yang dingin mulai merayap di lantai.
Dalam tidurnya, Arini merasa jiwanya ditarik masuk ke dalam sebuah mimpi yang terasa sangat nyata. Ia melihat kamar tamu yang ia tempati berubah menjadi suasana beberapa tahun lalu. Di sudut tempat tidur, duduk seorang gadis muda yang tampak seumuran dengan Baskara. Wajahnya manis, namun matanya sembab karena tangisan yang tak kunjung usai.
"Aku bukan pencuri... aku juga bukan perusak rumah tangga..." gadis itu terisak, memegang sebuah foto kecil Baskara saat masih kuliah.
Arini mendekat dalam mimpinya. "Siapa kamu?"
Gadis itu mendongak. "Namaku Sari. Aku anak asisten rumah tangga di sini. Orang-orang bilang aku meninggal karena bunuh diri karena malu ketahuan mencoba menggoda Pak Adhitama... tapi itu bohong! Aku tidak pernah ingin merebut ayah tuan Baskara!"
Sari menangis tersedu-sedu, menunjukkan bekas luka di pergelangan tangannya yang tampak tidak wajar. "Aku hanya menyukai Tuan Baskara dari jauh... sejak kami kecil. Aku tahu dia sudah memilikimu, aku tahu kalian sudah dijodohkan demi bisnis. Aku hanya ingin dia bahagia, tapi seseorang membunuhku dan memfitnahku agar namaku busuk di rumah ini!"
Tiba-tiba, Arini terbangun dengan napas terengah-engah. Keringat dingin membasahi dahinya. Ia melihat ke sekeliling kamar yang gelap.
Di sudut ruangan, sosok Sari yang tadi ada di mimpi kini berdiri nyata. Wajahnya tidak menyeramkan seperti hantu korban pembunuhan biasanya, ia hanya tampak sangat sedih.
"Tolong aku, Dokter Arini... sebelum kalian menikah, aku ingin namaku bersih. Aku tidak ingin Baskara membenciku karena fitnah itu," bisik arwah Sari sebelum akhirnya menghilang ditelan kegelapan malam.
Arini terduduk diam di tempat tidur. Jantungnya berdegup kencang. Ia menyadari satu hal: Menikah dengan Baskara berarti ia juga masuk ke dalam labirin rahasia keluarga besar Adhitama.
Esok adalah hari pernikahannya, namun bayang-bayang Sari seolah memberi peringatan bahwa ada duri di dalam rumah yang tampak sempurna ini.
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣