Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Warisan di Balik Abu
Panas dari api yang melalap gudang tua itu masih terasa menyengat di kulit pipiku, namun di dalam dadaku, ada sebuah kedinginan yang tak bisa dijelaskan. Aku duduk di bagian belakang ambulans Kejaksaan, dibungkus selimut termal perak yang berkerisik setiap kali aku bernapas. Di hadapanku, petugas pemadam kebakaran masih berjibaku dengan sisa-sisa bara, sementara asap hitam membumbung tinggi ke langit malam Kusuma Garden yang biasanya tenang.
Gudang itu kini tinggal kerangka. Semua barang peninggalan Ibu, buku harian merah itu, dan mungkin Bima Dirgantara—semuanya telah menjadi abu.
"Anya."
Suara itu rendah dan penuh getaran emosi. Devan berdiri di hadapanku, wajahnya kotor oleh jelaga, rambutnya berantakan, dan jaket kulitnya robek di beberapa tempat. Ia tidak peduli pada paramedis yang mencoba mengobati luka sayat di lengannya. Matanya hanya tertuju padaku, menatapku dengan intensitas yang seolah-olah ingin memastikan bahwa aku bukan sekadar fatamorgana yang akan menguap tertiup angin.
"Kenapa kau melakukannya?" bisiknya. Ia berlutut di depanku, menggenggam kedua tanganku yang masih gemetar. "Kenapa kau pergi sendirian? Kau tahu betapa hancurnya aku jika kau tidak keluar dari sana tepat waktu?"
Aku menatap mata Devan. Seribu kata maaf tertahan di tenggorokanku. Bagaimana aku bisa menjelaskan bahwa mencintainya berarti aku harus siap kehilangan diriku sendiri demi keselamatannya? Bahwa rasa takutku kehilangan dia jauh lebih besar daripada rasa takutku menghadapi Bima?
"Aku harus melakukannya, Devan," suaraku serak, nyaris tak terdengar di tengah kebisingan sirene. "Bima tahu titik lemahku adalah kau. Jika aku tidak pergi, dia akan menghancurkanmu sebelum persidangan besok. Aku tidak punya pilihan."
Devan memejamkan matanya, menyandarkan keningnya di atas tanganku yang terbalut selimut perak. Aku bisa merasakan napasnya yang tidak teratur. "Pilihanmu hampir membunuh kita berdua, Anya. Jangan pernah... jangan pernah beranggapan bahwa nyawaku lebih berharga daripada nyawamu. Kita adalah satu kaset yang sama. Jika satu pita putus, lagunya berakhir."
Aku mengusap rambutnya yang kasar dengan jemariku yang kotor. "Kebenarannya sudah terungkap, Van. Ibu... Ibu tidak meninggal karena sakit. Dia dibungkam karena dia mencoba menghentikan Ayah dan Dirgantara."
Devan mendongak, matanya berkilat penuh amarah yang baru. "Aku mendengar apa yang Bima katakan di dalam tadi. Tentang darahmu. Tentang eksperimen itu. Mereka benar-benar menganggap manusia sebagai barang, ya?"
"Bima sudah tidak ada, Devan," ujarku, mencoba meyakinkan diriku sendiri sambil menatap kobaran api.
"Orang seperti Bima tidak akan mati semudah itu oleh api yang dia buat sendiri," Devan berdiri, matanya memicing menatap reruntuhan gudang. "Tapi itu bukan urusan kita sekarang. Kita punya '0712'. Kau ingat apa artinya?"
Aku mengangguk pelan. Memori terakhir dari Ibu sebelum gudang meledak masih terukir jelas. "Bukan sekadar tanggal. Itu adalah sandi. Ibu menyimpan sesuatu di luar jangkauan Ayah. Sesuatu yang bahkan tidak bisa disentuh oleh Dirgantara Group."
Jaksa Satria mendekati kami, wajahnya tampak sangat suram. Ia memegang sebuah kantong plastik berisi sisa-sisa kunci kuno yang sudah menghitam karena api. "Tim taktis tidak menemukan jenazah di dalam gudang. Bima menghilang sebelum atapnya runtuh. Sepertinya dia punya jalur pelarian bawah tanah yang sudah dia siapkan."
Devan mengumpat pelan. "Sudah kuduga."
"Tapi kita punya kemenangan lain," Satria menatapku dengan serius. "Kesaksianmu pagi tadi di media sudah memicu kepanikan massal di bursa saham. Dirgantara Group sedang melakukan pembersihan internal besar-besaran, tapi mereka tidak bisa menghentikan penyelidikan pusat. Dan Anya... kita menemukan akses ke deposit box yang kau maksud."
"Di mana?" tanyaku.
"Bukan di Jakarta," Satria menghela napas panjang. "Ibumu menggunakan koneksi lamanya di Singapura. Alpine Private Bank. Brankas itu terdaftar atas namamu, namun hanya bisa dibuka dengan biometrik dan sandi yang kau miliki. Ibumu memindahkan aset intelektual 'Proyek Elegia' ke sana sebelum Ayahmu bisa menyempurnakannya."
Malam itu, kami tidak kembali ke apartemen perlindungan saksi. Satria membawa kami ke sebuah safe house yang lebih tersembunyi, sebuah rumah di pinggiran Bogor yang disamarkan sebagai tempat peristirahatan keluarga. Udara di sini lebih dingin, dan suara jangkrik memberikan kedamaian yang terasa sangat asing setelah neraka di Kusuma Garden.
Aku duduk di teras belakang, menatap bulan yang menggantung rendah. Devan datang membawa dua gelas cokelat hangat, ia duduk di sampingku, memberikan kehangatan yang selama tiga tahun ini hanya bisa kurasakan lewat dinding kaca.
"Apa kau takut?" tanya Devan pelan.
"Takut tentang apa?"
"Tentang apa yang ada di dalam brankas itu. Jika isinya benar-benar rahasia yang bisa menghancurkan Dirgantara secara global, hidupmu tidak akan pernah sama lagi. Kau akan selamanya menjadi target."
Aku menyesap cokelat hangat itu, membiarkan manisnya meredakan kekosongan di perutku. "Duniaku sudah tidak pernah sama sejak aku bangun di rumah sakit tiga tahun lalu, Van. Selama ini aku adalah korban yang tidak berdaya. Aku adalah pion yang digerakkan oleh tangan-tangan tak terlihat. Tapi sekarang..."
Aku menoleh menatap Devan, bibirku melengkung membentuk senyuman tipis yang penuh tekad. "Sekarang aku yang memegang kendalinya. Aku bukan lagi porselen yang bisa mereka pecahkan. Aku adalah pemilik kunci gudang senjata mereka sendiri."
Devan menatapku dengan tatapan kagum. Ia mengulurkan tangannya, mengusap pipiku dengan lembut. "Aku tidak pernah menyangka gadis yang dulu menangis karena kucingnya mati, kini bersiap meruntuhkan sebuah kekaisaran."
"Gadis itu tidak pernah pergi, Devan. Dia hanya belajar bahwa menangis saja tidak cukup."
Hening sejenak. Devan kemudian merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil. Sebuah gantungan kunci berbentuk kucing oranye yang sudah kusam, namun tampak dirawat dengan baik.
"Ini..." mataku membelalak. "Gantungan kunci yang kau perbaiki di balkon sekolah?"
"Aku menyimpannya selama tiga tahun," Devan menyerahkannya padaku. "Di penjara, di jalanan, saat aku berdarah di arena tarung... benda ini adalah pengingatku bahwa ada seseorang yang menungguku di sisi lain kegelapan. Biarpun orang itu lupa padaku, aku tidak berhak untuk menyerah."
Aku memegang gantungan kunci itu erat-erat, air mata kembali menggenang. Betapa besarnya beban yang dipikul Devan sendirian. Sementara aku hidup dalam kepura-puraan yang nyaman, dia bertarung dengan kenyataan yang kejam demi diriku.
"Maafkan aku, Van," isakku, menyandarkan kepalaku di bahunya.
"Berhenti minta maaf, Anya. Masa depan kita tidak dibangun di atas permintaan maaf, tapi di atas apa yang akan kita lakukan mulai besok."
Di dalam rumah aman itu, Satria mulai menyiapkan logistik untuk keberangkatan kami ke Singapura. Semuanya dilakukan di bawah radar. Tanpa paspor resmi atas nama Anya Kusuma, melainkan identitas baru yang disiapkan oleh intelijen pusat.
Aku membuka laptop perak milik Devan sekali lagi. Aku mengetik sandi '0712' di sebuah dokumen kosong, hanya untuk melihat angkanya. 7 Juli. Tanggal kelahiranku menurut versi Ibu, bukan versi administrasi Ayah. Angka itu adalah sebuah pengingat bahwa jati diriku yang sebenarnya selalu ada, tertanam di bawah lapisan amnesia kimiawi yang dipaksakan.
Saat aku mencoba memejamkan mata untuk beristirahat, sebuah kilas balik kembali muncul. Bukan memori yang menakutkan, melainkan sebuah percakapan rahasia antara Ibu dan aku di taman belakang, saat aku masih berusia tujuh tahun. Sebuah memori yang memberitahuku bahwa Ibu sudah tahu bahwa hidupnya akan berakhir tragis.
[KILAS BALIK SINEMATIK]
FADE IN:
EXT. TAMAN BELAKANG RUMAH KUSUMA - SORE HARI (12 TAHUN LALU)
Warna visual sangat cerah, namun ada nuansa melankolis yang kental. ANYA kecil (7 tahun) sedang asyik menggambar di atas rumput. IBU ANYA (Melati) duduk di sampingnya, membelai rambut putrinya dengan tatapan yang sangat sedih.
IBU ANYA
"Anya, jika suatu hari nanti Ibu harus pergi ke tempat yang sangat jauh, dan Ayah memberikanmu banyak hadiah untuk membuatmu senang... jangan pernah lupakan warna langit sore ini, ya?"
ANYA KECIL
"Kenapa Ibu mau pergi? Apa Anya nakal?"
IBU ANYA
(Tersenyum getir, mencium kening Anya)
"Bukan, sayang. Terkadang orang dewasa melakukan kesalahan yang harus diperbaiki oleh orang lain. Ibu hanya ingin memastikan kau tetap menjadi pemilik pikiranmu sendiri. Ingat ini, Anya... angka 0712. Itu adalah tanggal paling berharga di dunia."
ANYA KECIL
"Itu kan hari ulang tahun Anya!"
IBU ANYA
"Ya. Hari di mana kau menjadi manusia yang utuh. Jika suatu saat kau merasa seperti kaset yang rusak, carilah angka itu di tempat yang paling tinggi. Ibu sudah menyimpannya di sana."
Melati kemudian mengeluarkan sebuah buku harian merah (buku yang terbakar di gudang) dan memperlihatkan sebuah kode QR kecil yang disamarkan dalam sebuah gambar bunga kamboja di halaman belakang.
IBU ANYA (V.O)
(Suaranya bergetar penuh tekad)
"Hendra boleh memiliki ragaku, tapi dia tidak akan pernah memiliki rahasia yang akan menyelamatkan putriku. Anya... kau adalah elegiku yang paling indah, dan aku akan memastikan lagumu tidak pernah berhenti berputar."
Kamera fokus pada wajah Anya kecil yang mengangguk polos, tanpa tahu bahwa ia baru saja menerima warisan yang akan menentukan hidup dan mati puluhan orang di masa depan.
FADE OUT.
Aku tersentak bangun dari tidur singkatku. Napasku teratur, namun pikiranku berkilat. Kode QR itu. Gambar bunga kamboja itu.
Aku segera mencari di dalam tasku, mencari gantungan kunci kucing oranye yang diberikan Devan tadi. Aku membaliknya. Di bagian bawah kaki kucing plastik itu, ada sebuah ukiran kecil yang menyerupai pola aneh.
"Devan!" panggilku setengah berteriak.
Devan yang sedang berjaga di depan pintu segera masuk. "Ada apa? Kau sakit?"
"Lihat ini!" aku menunjukkan bagian bawah gantungan kunci itu. "Ini bukan goresan biasa. Ini adalah bagian dari kode yang Ibu maksud. Bunga kamboja di buku harian itu hanya separuh, separuhnya lagi ada di sini!"
Devan mengambil gantungan kunci itu, menatapnya dengan saksama. "Ibumu memberikanku benda ini seminggu sebelum dia meninggal. Dia bilang: 'Jaga ini baik-baik, Devan. Suatu hari nanti, Anya akan mencarinya.' Aku pikir itu hanya pesan emosional seorang ibu."
"Tidak, Devan. Ini adalah kunci fisik terakhir," aku menempelkan gantungan kunci itu pada layar laptop, mencoba menyatukannya dengan pindaian gambar bunga kamboja yang sempat kukirim ke cloud sebelum gudang terbakar.
Klik.
Sebuah jendela baru terbuka di layar laptop. Sebuah koordinat GPS di Singapura dan sebuah nomor akun bank rahasia.
"Kita punya semuanya sekarang," bisikku. "Dirgantara Group tidak akan tahu apa yang menghantam mereka."
Devan menggenggam bahuku, matanya berkilat penuh semangat perlawanan. "Ke Singapura besok pagi?"
"Ke Singapura besok pagi," jawabku mantap.
Elegi ini telah berganti irama. Dari sebuah ratapan kesedihan menjadi sebuah simfoni pembalasan. Dan kali ini, kami yang akan memainkan konduktornya.
[BERSAMBUNG KE BAB 27]
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??