"Di saat napas terakhir Pak Tua Arman dianggap sebagai akhir dari kejayaan keluarga Chandra, seorang asing berpakaian putih muncul tanpa suara. Tak ada obat, tak ada mantra rumit. Ia hanya membungkuk, membisikkan satu kalimat di telinga kakek yang sekarat itu, lalu berbalik pergi. Detik berikutnya, jantung kembali berdetak kuat, membuat para anak tercengang. Siapakah dia? Dan apa yang diucapkannya untuk menantang kematian?"
"Sebuah kalimat yang mengubah takdir. Saat dunia medis menyatakan Kakek sekarat, seorang asing bernama Yun Miao muncul dan menyembuhkannya hanya dengan satu kalimat perintah. Siapakah Yun Miao, dan bagaimana kalimat sederhana bisa melawan maut?"
Mohon maaf ya teman-teman kalau novel pertamaku belum bisa membuat kalian puas bacanya. InsyaAllah aku akan terus berusaha agar novelku selanjutnya bisa memenuhi keinginan dan kriteria kalian semua.... Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auzora Maleeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07
"Masih terlalu cepat untuk mengatakan itu." Kata Nadira sambil memegang handphonenya.
Sedangkan Adrian menjadi salah tingkah setelah mendengar apa yang diucapkan olah Nadira.
"Ok."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedangkan di sisi lain Pak Eko menghampiri Tuan Rendi dan Tuan Rayhan yang sedang duduk di ruang tamu beserta keluarga lainnya.
"Tuan Rendi, Tuan Rayhan."Kata Pak Eko
"Katakan." Kata Tuan Rendi setelah selesai meminum teh.
"Nona Nadira, dia sangat pemilih soal rasa makanan, jadi pagi ini dia nggak makan banyak. Dia bilang, rasanya hambar." Kata Pak Eko sambil melihat ke Tuan Rendi dan lainnya.
"Apa ?" Nyonya Saskia kaget mendengar penuturan dari Pak Eko.
"Keluarga kita memakai koki dalam negeri yang terkenal, bahkan ibu saja yang begitu pemilih juga merasa puas. Apa dia sengaja pilih-pilih ?" Jawab Nyonya Sonia dengan kesal.
"Aku kira nggak seperti itu. Oh ya. Dia sangat nggak suka teh setelah makan. Aku sudah mengganti tehnya berkali kali, tapi dia tetap nggak puas. Akhirnya, ketika aku mengeluarkan teh Loji yang disimpan oleh Almarhum Tuan Arman, barulah dia mengangguk setuju." Kata Pak Eko.
"Bagus sekali. Dia beneran anggap dirinya Nona besar ? Ayah saja nggak rela minum teh Loji ini. Dia malah berani." Tuan Rayhan berkata dengan marah.
"Pak Eko, nyalimu juga besar sekali." Sambung Tuan Rayhan.
Sedangkan Pak Eko yang dimarahi oleh Tuan Rayhan nyalinya mendadak ciut, sehingga dia menoleh ke arah Tuan Rendi.
"Eeehhhh." Kata Tuan Rendi sambil merentangkan tangan kanannya ke arah Tuan Rayhan.
"Aku juga mengikuti perintah Tuan Rendi. Ada lagi, menghadapi Nona Nadira, entah kenapa, asal nggak bisa membuatnya puas, aku merasa nggak enak badan, rasanya ingin mencabut kepala sendiri." Jawab Pak Eko sambil menunjuk ke arah Tuan Rendi.
Sedangkan yang lain, yang mendengar penuturan dari Pak Eko itu merasa heran dengan apa yang disampaikan oleh Pak Eko seakan-akan itu mustahil terjadi.
"Sudahlah, Pak Eko. Kau jaga Nona Nadira dulu." Kata Nyonya Sonia.
"Baik." Kata Pak Eko sambil menunduk ke arah majikannya itu setelahnya ia pun pergi dari hadapan majikannya.
"Seorang keturunan, kita membiarkannya tinggal sudah sangat memandangnya. Dia masih berani...." Kata Tuan Rayhan sambil marah-marah.
"Ehhhh... Rayhan, apa kau merasa dia orang biasa ? Kita sudah bertahun-tahun berjuang di dunia bisnis. Apa wibawa kita kalah dari seorang gadis ? Apa kemarin kau berani menatap matanya ?" Tanya Tuan Rendi kepada Tuan Rayhan.
Sedangkan, Tuan Rayhan yang diajukan pertanyaan seperti itu terdiam karena dia pun tidak tahu akan menjawab seperti apa.
"Ini .... Menurut ucapan Pak Eko, dia nggak kasar, juga nggak manja, tapi permintaannya sangat tinggi. Aku merasa dia berasal dari keluarga terhormat. Bahkan, lebih terhormat dari keluarga kita." Kata Nyonya Sonia.
"Humph.... Omong kosong. Sudah berapa tahun usia Keluarga Chandra kita ? Berapa banyak keluarga yang bisa menandinginya ?"Bantah Tuan Rayhan.
"Benar." Kata Nyonya Saskia.
"Kalau, dia beneran Nona besar, dia bisa datang sendiri ?" Tanya Tuan Rayhan.
"Bagaimana penyelidikan hal yang ku suruh untuk kau selidiki ?" Tanya Tuan Rendi kepada Tuan Rayhan.
"Belum ada kabar apa pun." Tuan Rayhan berkata sambil menggelengkan kepalanya.
"Teruskan selidiki. Selain itu, Adrian," Ujar Tuan Rendi kepada Tuan Rayhan dan diapun langsung melihat ke arah Adrian.
"Ya." Jawab Adrian.
"Kau beri tahu Pak Eko. Apapun permintaan Nona Nadira, harus dipenuhi." Kata Tuan Rendi kepada Adrian.
"Ya." jawab Adrian.
"Kak Rendi...... Ini.." Kata Tuan Rayhan.
"Sudahlah. Nggak usah dibahas lagi. Jenazah Ayah sudah disemayamkan selama tiga hari. Besok kita akan mengadakan pemakaman untuk Ayah. Beri tahu semua orang di Keluarga Chandra, malam ini kita semua akan berjaga di sisi Ayah." Kata Tuan Rendi.
"Rayhan, mari kita beri penghormatan terakhir yang layak untuk Ayah." Kata Nyonya Sonia.
"Baik." Jawab Tuan Rayhan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah itu, mereka berkumpul di aula Leluhur dimana tempat Tuan Arman berada, untuk melakukan penghormatan terakhir kepada beliau dengan mereka semua menggunakan baju warna hitam.
Setelah Tuan Rendi dan Tuan Rayhan selesai bersujud, barulah setelah itu giliran Nyonya Saskia dan Nyonya Sonia yang juga melakukan hal serupa.
Tiba-tiba, ntah ada apa angin kencang datang sehingga menakutkan mereka yang masih ada di aula Leluhur itu. Mereka semua ketakutan bahkan tak ada satupun orang yang berani beranjak dari tempat itu.
Nyonya Sonia, melihat kebelakang dan pintu aula tersebut terbuka dengan sendirinya.
"Ahhh... Ini..." Kata Nyonya Sonia yang ketakutan.
Sedangkan ditempat Nadira, Nadira yang pada saat itu sedang tertidur terbangun karena merasakan aura yang tidak biasa.
"Obsesi yang nggak hilang, kebencian timbul dari dendam." Kata Nadira sambil melihat ke arah pintu yang sedang terbuka dan angin yang seakan melambai-lambai ingin diperhatikan.
Nadira melihat ke arah tangannya dan muncul sinar keemasan ditangannya dan menaruhnya di matanya untuk melihat apa yang terjadi.
Setelah membuka mata, mata Nadira dihiasi dengan warna keemasan sehingga ia bisa melihat apa yang terjadi di depannya itu. Kemudian sepasang sepatu muncul dihadapan Nadira dengan tali berwarna merah muncul dihadapannya.
Nadira bangun dari tempat tidurnya hanya untuk mengetahuinya dan meletakkan tangannya di hadapan sepasang sepatu itu, untuk menyerap energi merah tersebut, sehingga ia bisa tahu apa yang terjadi. Setelah itu muncullah sebuah tali berwarna merah di tangannya.
"Tali pengikat jiwa ? Selamanya menderita siksaan, nggak bisa reinkarnasi. Siapa yang begitu kejam."Kata Nadira sambil memegang dan melihat tali tersebut. Kemudian dia mengingat salah satu Nyonya yang ada di kediaman ini yang mana selalu ia tatap pada saat itu ketika pertemuan pertama.
Dia mengingat, bahwa pada saat ia akan masuk ke dalam kamar Tuan Arman, dia melihat ke arah Nyonya Sonia dengan seksama karena ia merasakan aura Hitam yang mengelilingi tubuh Nyonya Sonia.
"Dia ? Kalau terus begini, bukan hanya dia yang akan mati, tapi semua orang yang ada di rumah ini nggak bisa menghindari malapetaka. Siapa yang melakukannya ?." Kata Nadira sambil terus melihat ke arah tali tersebut.
"Ternyata begitu ? Kau tenang saja. Aku akan bantu kau selesaikan." Kata Nadira kepada sepasang sepatu tersebut, dan kemudian dia membaca mantra agar tali dan sepatu itu bisa pergi.
"Pemakaman besok pasti akan menimbulkan masalah." Kata Nadira.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, mereka berkumpul di dalam aula Leluhur keluarga Chandra. Sambil berbaris rapi karena banyak tamu yang akan menghormati Tuan Arman di aula itu.
"Kak Sonia, kenapa hari ini banyak yang datang pejabat dan orang-orang terpandang ?" Tanya Nyonya Saskia sambil melihat ke arah luar.
"Ya. Banyak orang penting yang nggak pernah aku lihat sebelumnya." Jawab Nyonya Sonia.
"Kak Rendi, apa Ayah..... ?"Tanya Tuan Rayhan kepada Tuan Rendi.
"Hey... Kalau sudah tahu ya sudah. Nggak usah dikatakan." Potong Tuan Rendi.
"Aku nggak tahu Ayah ada hubungan dengan orang-orang penting itu." Kata Tuan Rayhan sambil melihat ke aula leluhur.
"Kakek saat hidup selalu berbuat baik dan mengumpulkan kebajikan, jadi wajar saja kalau beliau mengenal beberapa tokoh besar."Kata Adrian kepada Pamannya.
"Benar."Jawab Tuan Rendi.
Setelah itu, mereka pun terdiam karena kedatangan Nadira memakai baju putih sambil memakai payungnya itu. Kemudian Nadira menutup payungnya dan berjalan ke arah kursi yang di sediakan disana.
"Astaga. Pemandangan yang mewah sekali. Bahkan lebih mewah dari orang-orang penting tadi." Kata Nyonya Saskia terus melihat ke arah Nadira yang sudah duduk dan akan meminum tehnya itu.
"Nenek yang begitu sulit dilayani, bahkan pelayan pun nggak sebaik Nona Nadira. Sungguh seperti Dewi yang turun dari langit. Nona Nadira benar-benar seorang Dewi." Kata Adrian sambil menatap ke arah Nadira yang sedang menyeruput tehnya.
Sedangkan yang lainnya terdiam seakan membenarkan ucapan Adrian, sehingga Tuan Rendi pun teringat kepada Ayahnya sebelum meninggal, ia begitu menghormati Nadira sampai rela berlutut dan bersujud kepada Nadira.
"Flashback on "
"Hamba, Arman Chandra, menemui Nona Nadira." Kata Tuan Arman sambil bersujud kepada Nadira.
"Flashback off."
"Apa mungkin orang-orang ini datang karena memandangnya ?" Bisik Tuan Rendi dalam hati.