"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."
Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.
Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
PROLOG: HARGA SEBUAH KEHORMATAN
Udara malam di Jakarta terasa menusuk tulang, namun tidak sedingin jemari Kalea yang kini gemetar hebat di depan pintu kamar presidential suite lantai teratas Hotel Grand Diamond. Di tangannya, selembar kartu akses emas terasa seberat beban hidup yang kini menghimpit pundaknya.
"Satu malam," bisik Kalea pada dirinya sendiri, suaranya nyaris hilang ditelan sunyi lorong hotel yang mewah. "Hanya satu malam, dan ibu bisa dioperasi."
Kalea memejamkan mata. Bayangan wajah pucat ibunya di bangsal rumah sakit menyapu bersih sisa-sisa harga diri yang masih ia genggam. Ia membenci pria. Ia membenci cinta yang telah mengkhianati ibunya. Dan malam ini, ia akan menyerahkan segalanya kepada pria yang bahkan tidak ia kenali namanya, hanya demi tumpukan kertas bernama uang.
Klik.
Pintu terbuka. Kamar itu remang-remang, hanya diterangi cahaya lampu kota dari balik jendela kaca raksasa. Aroma maskulin yang tajam bercampur wangi whisky langsung menyeruak. Di sudut ruangan, seorang pria duduk di balik meja kerja mahogani, membelakanginya. Bahunya lebar, terbungkus kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka.
"Kau sudah datang?" suara itu rendah, berat, dan tanpa nada. Dingin seperti es.
Kalea menelan ludah. "Ya."
Pria itu berbalik. Liam Jionel. Wajahnya begitu sempurna, seperti pahatan malaikat dari marmer paling mahal, namun matanya yang gelap menatap Kalea dengan intensitas yang mengerikan. Ada gairah yang tertahan, namun juga ada kehampaan yang mematikan di sana.
Liam berdiri, melangkah mendekat dengan gestur predator yang mengunci mangsanya. Setiap langkah sepatunya yang mengkilap di atas lantai marmer seolah menghitung sisa kebebasan Kalea.
"Kau tahu apa yang aku beli darimu malam ini, Gadis Kecil?" tanya Liam sambil berdiri tepat di depan Kalea. Jarak mereka begitu dekat hingga Kalea bisa merasakan panas tubuh Liam yang kontras dengan tatapan matanya yang membeku.
Kalea mendongak, berusaha tetap tegar meski kakinya terasa lemas. "Kehormatanku. Itulah yang kau beli."
Liam menyeringai tipis, sebuah seringai yang tidak mencapai matanya. Tangannya yang besar dan kuat terangkat, jemarinya yang dingin menyentuh dagu Kalea, memaksanya untuk terus menatap mata itu.
"Salah," bisik Liam tepat di telinga Kalea, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Aku tidak hanya membeli malammu. Aku membeli seluruh sisa hidupmu. Dan begitu aku memiliki sesuatu, aku tidak akan pernah melepaskannya."
Detik itu, Kalea menyadari kesalahannya. Ia tidak hanya menjual satu malam. Ia baru saja menyerahkan dirinya ke tangan seorang iblis yang bersembunyi di balik wajah malaikat yang paling menawan di dunia.
...----------------...
BAB 1: TRANSAKSI DI BALIK PINTU EMAS
Kalea meremas ujung gaun hitam tipis yang ia kenakan. Gaun itu bukan miliknya; itu dikirimkan ke apartemen kumuhnya sore tadi bersama seikat uang muka yang langsung ia setorkan ke bagian administrasi rumah sakit. Tanpa gaun ini, tanpa uang ini, ibunya mungkin tidak akan melewati malam ini di ruang ICU.
"Kemari," suara berat itu kembali terdengar, memutus lamunan Kalea.
Liam Jionel masih berdiri di sana, di depan jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta yang tak pernah tidur. Dia tidak bergerak, namun kehadirannya terasa memenuhi seluruh ruangan. Aura dominannya membuat oksigen di sekitar Kalea seolah menipis.
Kalea melangkah maju dengan kaki gemetar. Setiap langkah terasa seperti pengkhianatan terhadap dirinya sendiri. Ia, gadis yang selalu bersumpah tidak akan pernah tunduk pada pria mana pun, kini berjalan menyerahkan diri layaknya domba ke kandang serigala.
"Siapa namamu?" tanya Liam tanpa menoleh.
"Kalea," jawabnya singkat, berusaha menyembunyikan getaran dalam suaranya.
Liam akhirnya berbalik. Cahaya lampu kota dari belakang menyinari siluet tubuhnya yang tegap dan atletis di balik kemeja mahal itu. Ia mendekat, perlahan tapi pasti. Saat jarak mereka hanya tersisa satu jengkal, Liam mengulurkan tangan, menyentuh helai rambut Kalea yang jatuh di bahu.
Sentuhan itu dingin, namun entah kenapa membuat aliran listrik aneh menjalar di tubuh Kalea. "Kalea. Nama yang cantik untuk seseorang yang begitu nekat."
Kalea memberanikan diri menatap mata elang itu. "Aku tidak nekat. Aku tidak punya pilihan."
Liam menyeringai, sebuah senyum sinis yang terlihat mengerikan sekaligus tampan secara bersamaan. "Semua orang punya pilihan, Kalea. Dan kau memilih untuk berada di sini, di kamarku. Kau tahu apa artinya itu?"
Liam tiba-tiba menarik pinggang Kalea, merapatkan tubuh gadis itu ke tubuhnya yang keras seperti batu. Kalea terkesiap, tangannya secara refleks bertumpu pada dada bidang Liam. Ia bisa mencium aroma sandalwood dan alkohol yang kuat dari napas pria itu.
Mata Liam yang biasanya jernih dan tajam kini tampak berkabut, sedikit kemerahan. Ada sesuatu yang salah. Napasnya terasa lebih panas dari orang normal.
"Kau... kau baik-baik saja?" tanya Kalea ragu.
Liam tidak menjawab. Ia justru membenamkan wajahnya di ceruk leher Kalea, menghirup aroma tubuh gadis itu dengan rakus. Gerakannya kasar dan penuh tuntutan. "Diamlah. Aku sudah membayarmu mahal, jangan banyak bicara."
Kalea memejamkan mata rapat-rapat saat bibir Liam mulai menyentuh kulitnya. Inilah saatnya. Saat di mana ia akan kehilangan segalanya demi sebuah harapan. Namun, di balik rasa takutnya, ada satu hal yang ia sadari: Liam Jionel tidak sedang dalam kesadaran penuh. Pria ini sedang bertarung dengan sesuatu di dalam tubuhnya—sesuatu yang membuatnya kehilangan kendali.
Malam panjang itu baru saja dimulai, dan Kalea tahu, setelah ini hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Napas Liam yang menderu panas di ceruk lehernya membuat Kalea gemetar hebat. Ia bisa merasakan cengkeraman tangan Liam di pinggangnya semakin menguat, seolah pria itu takut Kalea akan melenyap jika ia melonggarkannya sedikit saja.
"Kau tidak akan bisa lari, Kalea," bisik Liam dengan suara serak yang berbahaya, tepat di depan bibirnya. "Karena mulai detik ini, kau adalah milikku. Mutlak."
Kalea hanya bisa memejamkan mata saat Liam menariknya semakin dalam ke dalam kegelapan yang memabukkan. Di balik rasa takutnya, satu hal yang ia sadari: ia baru saja menandatangani kontrak dengan iblis yang paling menawan, dan nyawa ibunya adalah harga yang harus ia bayar dengan seluruh kebebasannya.
Malam itu, di lantai teratas gedung yang menjulang angkuh, Kalea resmi kehilangan dirinya sendiri.
Setiap sentuhan Liam bukan hanya merobek kehormatannya, tapi juga menghancurkan dinding pertahanan yang selama ini ia bangun dengan susah payah. Di tengah deru napas Liam yang memburu dan kabut gairah yang menyesakkan, Kalea menyadari satu hal. dia telah kehilangan segalanya, kehilangan apa yang telah di jaga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
semoga terhibur ya best.. Tyyy.. Terima kasih telah telah mampir.. jangan lupa tinggalkan jejak😘