Syra Aliyah Farhana, seorang gadis kota yang hidup bebas dengan deru mesin motor, mendapati dunianya jungkir balik saat dipaksa "mondok" dan dijodohkan dengan putra mahkota Pesantren Al-Fathan. Ia datang dengan jaket denim robek dan knalpot bising, siap untuk memberontak.
Namun, ia harus berhadapan dengan Arkanza Farras Zavian, Gus muda yang berwibawa, dingin, dan tak mudah goyah oleh gertakan. Di tengah aroma kopi dan lantunan kitab kuning, Syra terjebak dalam perjanjian yang merampas fasilitas mewahnya. Di balik tembok pesantren, ia tidak hanya harus berhadapan dengan aturan yang mencekik, tapi juga rahasia hati, kecemburuan, dan masa lalu yang mengejarnya dari Jakarta.
Ini bukan sekadar tentang perjodohan, tapi tentang perjalanan mencari arah pulang di tempat yang Syra sebut sebagai "Neraka Suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karisma gus dan cemburu yang barbar
Berita tentang insiden di gerbang utama menyebar lebih cepat daripada aroma sate lalat di pasar malam. Dalam waktu kurang dari dua belas jam, cerita tentang Gus Arkan yang menaklukkan belasan "preman aspal" hanya dengan satu tangan telah menjadi legenda baru di Pesantren Al-Fathan.
Pagi harinya, suasana di sekitar masjid terasa berbeda. Setiap kali Arkanza melintas, bisik-bisik kagum dari para santriwati terdengar seperti dengungan lebah. Mereka menatap Arkan dengan mata berbinar, seolah pria itu adalah pahlawan yang baru turun dari medan perang.
Syra Aliyah Farhana yang sedang duduk di teras samping asrama sambil mencoba (lagi) memakai kerudung dengan benar, mendengus kesal. Di dekatnya, sekelompok santriwati junior sedang asyik bergosip.
"Gila ya, Gus Arkan gagah banget katanya semalam. Cuma pake tasbih doang bisa bikin ketua geng motor itu sujud-sujud," ucap salah satu santriwati dengan wajah merona.
"Iya, tapi katanya itu gara-gara mau selamatin Mbak Syra ya? Ih, beruntung banget ya jadi Mbak Syra, biarpun belum berjilbab tapi dilindungin segitunya sama Gus," timpal yang lain dengan nada sedikit iri.
Syra menghentakkan sisirnya ke lantai kayu. "Woi! Gosip terus! Itu jemuran kalian udah kering tuh, mending diangkut daripada kena debu!"
Para santriwati itu bubar dengan wajah takut sekaligus sebal. Syra menggerutu dalam hati. Dilindungi? Gue juga hampir hantem mereka pake kunci inggris kalau Arkan nggak sok jagoan!
Di kantor pengurus, Syra menemukan Arkan sedang sibuk memeriksa laporan keuangan pesantren bersama Omar Rizky Hafiz. Arkan tampak seperti tidak terjadi apa-apa semalam. Ia tetap rapi, wangi kayu cendana, dan sangat fokus pada kertas-kertas di depannya.
"Gus, ini ada kiriman dari Ning Sabrina," ucap Omar sambil meletakkan sebuah kotak makan tingkat berbahan porselen mahal di meja. "Katanya ini masakan khusus buat Gus Arkan supaya staminanya balik setelah kejadian semalam. Ada udang saus padang dan sambal goreng ati."
Arkan hanya mengangguk tanpa menoleh. "Terima kasih, Mar. Taruh saja di sana."
Syra yang berdiri di ambang pintu langsung merasakan panas di dadanya. Udang saus padang? Pasti hambar, palingan kebanyakan gula, batin Syra sinis. Ia masuk ke dalam ruangan dengan langkah sengaja dibuat berisik.
"Eh, Gus Arkanza yang terhormat. Gara-gara lo, gue jadi bahan gibah satu pesantren tahu nggak?" Syra duduk di depan Arkan tanpa permisi.
Arkan mengangkat pandangannya, menatap Syra dari balik kacamata bacanya yang tipis. "Selamat pagi, Syra. Dan omong-omong, turbanmu pagi ini... sedikit lebih rapi, meski bagian belakangnya masih terlihat seperti sarang burung."
"Arkan!" Syra memukul meja pelan. "Lo nggak denger apa kata orang? Mereka bilang gue beban! Mereka bilang lo harusnya dapet yang lebih 'selevel' kayak Ning Sabrina itu!"
Omar yang merasa suasana mulai panas, segera menyelinap keluar. "Saya... saya mau cek stok beras dulu ya. Permisi!"
Setelah Omar pergi, Arkan meletakkan kacamatanya. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Syra dengan tenang. "Sejak kapan seorang Syra Aliyah Farhana peduli dengan omongan orang lain? Bukannya prinsipmu adalah 'Gue ya gue, yang nggak suka minggir'?"
Syra terdiam. Benar juga. Sejak kapan dia jadi baperan begini? "Ya... ya tapi kan ini beda. Ini masalah reputasi lo juga."
"Reputasi saya adalah urusan saya dengan Allah dan Abi," jawab Arkan santai. Ia kemudian melirik kotak makan dari Sabrina. "Kamu lapar? Ini, makan saja. Saya tidak terlalu suka udang."
Syra menaikkan alisnya. "Lo nggak suka? Tapi Sabrina bilang itu favorit lo."
"Dia hanya berasumsi," Arkan mendorong kotak itu ke arah Syra. "Makanlah. Setelah ini, temui Umi di dapur dhalem. Ada acara Haul (peringatan kematian) kakek saya minggu depan. Umi minta kamu ikut membantu menyiapkan konsumsi untuk tiga ribu jamaah."
Syra hampir tersedak ludahnya sendiri. "Tiga ribu?! Arkan, lo mau gue bikin mereka diare masal lagi kayak kemarin?!"
"Itulah gunanya belajar, Syra. Umi ingin memberimu kesempatan untuk 'membersihkan' namamu di depan para pengurus. Kalau kamu gagal kali ini, saya tidak bisa menjamin Abi akan terus membelamu dari desakan para Kyai lain yang ingin saya segera menikah dengan... pilihan mereka."
Syra menelan ludah. Ini adalah tantangan serius. Ia menatap kotak makan porselen itu, lalu menatap Arkan. "Kalau gue berhasil bikin masakan yang enak tanpa bikin orang masuk rumah sakit, apa imbalannya?"
Arkan tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat Syra merasa tertantang sekaligus berdebar. "Saya akan ajak kamu balapan. Di lintasan aslinya. Menggunakan motor BMW saya."
Mata Syra berbinar. "Deal! Awas lo ya kalau bohong!"
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...