Aarav Elias Kayler terbangun di sebuah dunia yang tak dikenal, tanpa ingatan apapun tentang dirinya. Semua yang dia tahu adalah bahwa dunia ini dipenuhi dengan sihir, dan dia merasa seolah-olah ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Ketika mencoba menggunakan sihir, tak ada hasil yang muncul, membuatnya merasa terjebak dalam kebingungannya.
Namun, tak lama setelahnya, Aarav menemukan sebuah rumah tua yang misterius, yang mengarah pada sebuah kejadian tak terduga yang mengubah segalanya. Di dunia yang penuh dengan rahasia dan kekuatan yang belum ia pahami, Aarav harus menghadapi takdir yang tersembunyi di balik masa lalunya yang terlupakan.
Dengan tekad untuk menguasai dunia sihir dan meraih kekuatan yang selama ini hilang, Aarav harus menavigasi sebuah dunia yang penuh dengan bahaya, misteri, dan konflik. Apakah dia akan menemukan jalan menuju kekuasaannya, atau justru terjerumus dalam kekuatan yang tak dapat ia kendalikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Mimpi Aarav Semakin Detail
Dari wajah Aarav, terlihat dia sedikit kaget dan juga sangat amat bingung dengan apa yang dia lakukan itu.
Nuril memandang ke wajah Aarav, "Kejam yah!!!" ucapnya sedikit sinis.
Aarav menelan ludahnya, "Bukan aku, sumpah bukan aku!!" serunya ke Nuril.
"Tuan!!! Terima kasih atas bantuan mu, aku sangat berterimakasih. Seperti yang aku janjikan, aku akan memberikan imbalan untuk tuan!!" sela paman pemilik ladang.
Aarav dan Nuril langsung melirik ke paman itu, "Tidak usah, paman. Aku membantu mu dengan sukarela!!" ucap Aarav yang menolak halus.
Paman itu tersenyum, "Kalau kamu tidak ingin, tidak apa-apa. Akan aku berikan ke temanmu yang pintar ini!!" ucap paman itu sambil melirik ke Nuril.
"Hah? Aku?!" ucap Nuril yang bingung sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya," ucap paman itu. Tangan kanannya lalu meraih sesuatu di kantongnya, dan saat tangan kanannya dikeluarkan dari dalam kantong celananya.
Sebuah batu mirip permata, berwarna hijau kebiruan langsung menarik perhatian Nuril dan Aarav.
Aarav memiringkan kepalanya, "Apa itu, paman?!" tanyanya yang bingung.
Wajah Nuril terlihat terkesima, "Ini... Troun!!" ucap Nuril.
Paman itu tersenyum, "Ulurkan tanganmu," perintah paman itu.
Nuril menurutinya, dia mengulurkan tangan kanannya untuk paman itu. Dan paman itu tiba-tiba meletakkan batu itu di telapak tangan Nuril.
Saat batu itu diletakkan, batu itu tiba-tiba bercahaya hijau yang sangat terang, dan tiba-tiba lenyap begitu saja. Saat batu lenyap, tiba-tiba Nuril tak sadarkan diri dan hampir saja jatuh ke tanah, beruntung Aarav dengan cepat langsung menangkapnya.
Aarav memegangi Nuril dengan sedikit erat, lalu memandang ke paman itu, "Apa yang terjadi, paman?!" tanya Aarav yang tidak memahami apapun.
Paman itu hanya tersenyum, lalu tubuhnya menghilang dengan cepat, diikuti oleh kelima mayat The Pog itu.
Wajah Aarav sangat kebingungan, dia sangat kaget saat paman dan kelima mayat itu menghilang, "PAMAN!!" teriak Aarav.
Aarav lalu menggendong Nuril ke sebuah gubuk yang ada di dalam ladang itu, dia membaringkan tubuh Nuril di gubuk itu.
Aarav lalu duduk di samping tubuh Nuril, dia sedikit berpikir tentang apa yang terjadi, pikirannya terbang sangat tinggi saat mencoba memahami semuanya.
"Dia siapa? Batu apa itu tadi? Troun.. Apa itu?!" pikir Aarav.
Aarav lalu memandang ke tempat kelima mayat itu tergeletak, dia masih sangat bingung kenapa paman dan kelima mayat itu bisa menghilang.
Di lain tempat, di dalam hutan, terlihat hutan itu tidak memiliki daun sama sekali. Di sana, terlihat paman yang tadi berdiri dan bersandar ke pohon yang cukup besar, di satu sisi lainnya. Terlihat seseorang memakai pakaian serba hitam, dengan setitik aura yang ada di sampingnya.
"Dia pasti bisa sihir!!" ucap paman itu.
"Bagus, 30 koin emas akan ku kirim nanti. Pastikan tidak ada efek samping dari Troun ke tubuh anak itu!!" ucap pria yang bersandar di sisi pohon satunya.
"Pasti aman!!" ucap paman itu, lalu dia menghilang. Dan pria yang ber-aura itu, dia berjalan santai meninggalkan hutan.
Kembali ke ladang, Aarav masih mencoba menelaah apa yang tadi terjadi. Sementara Nuril sudah mulai menunjukkan tanda-tanda sadar.
"Aarav?!" ucap Nuril lirih.
Mata Aarav langsung melirik ke Nuril, lalu mencoba membantunya untuk duduk, "Nuril, kamu nggak papa kan?!" tanya Aarav.
Nuril duduk, memegangi kepalanya yang pusing, "Aarav, tadi Troun masuk ke dalam tubuh aku kah?!" tanya Nuril yang pusing.
Aarav tersenyum, "Aku nggak tau, tapi kayaknya iya!!" jawab Aarav.
"Udah, kita pulang. Biar kamu bisa istirahat!!" tambah Aarav.
Nuril mengangguk, Aarav dan Nuril lalu berjalan pulang bersama-sama. Saat berjalan, Aarav menyadari ada yang aneh dengan tangan kanan Nuril, dia melihat ada simbol segitiga di punggung tangan Nuril.
"Simbol? Pasti gara-gara Troun!!" batin Aarav yang langsung menyimpulkan.
Setibanya di rumah, Nuril langsung beristirahat di dalam kamarnya. Sementara Aarav, dia duduk di depan rumah dengan masih mengenakan jubah sihirnya.
"Troun... Kalau batu itu emang bisa nyalin kekuatan, pasti bakalan membantu Nuril!!" pikir Aarav.
Saat dia tengah melamun, lagi dan lagi kesadarannya menghilang. Aarav langsung seperti tertidur di kursi depan rumah.
Di dalam alam bawah sadar Aarav.
Aarav berdiri lagi di dalam arena yang sama seperti mimpinya waktu itu, pakaiannya yaitu jubah yang mewah dan sangat elegan. Dia berdiri di tengah-tengah arena, di depannya terlihat seorang pria yang menatap tajam ke arah Aarav.
Aarav tersenyum tipis, mata Aarav ditutup dengan sebuah kain putih dengan tulisan berwarna merah dengan tulisan "Seorang raja tidak akan pernah mati!!"
"SELAMAT DATANG WAHAI PENANTANG KU YANG ANGKUH!!!" suara Aarav menggema, suaranya keras, berat, dan penuh dengan intimidasi.
Aarav sedikit membungkukkan badannya, seolah sedang memberikan salam, "APA KAMU YAKIN UNTUK MENANTANG SEORANG RAJA SEPERTIKU?!" tanya Aarav.
Penonton langsung bersorak-sorai dengan sangat keras saat pertanyaan itu dilontarkan dari mulut Aarav.
Pria yang ada di depan Aarav itu, dia juga memakai jubah sihir, dengan tangan kanannya yang membawa sebilah pedang yang dilapisi oleh api berwarna biru.
"APA KAU YAKIN AKAN MENANG KALI INI?!" ucap pria yang ada di depan Aarav itu, "MUNGKIN YANG LAINNYA BISA KAU KALAHKAN, TAPI UNTUKKU. KAU TIDAK AKAN BISA MEMBUNUH KU!!" tambahnya.
Aarav tersenyum...
"BANGUN!!!" teriak seseorang.
Aarav langsung bangun, dia langsung membuat mimpi alam bawah sadarnya buyar. Saat mata Aarav dibuka, dia melihat Nuril berdiri di depannya. Dan sekelilingnya sudah menjadi gelap gulita.
"Kalau tidur di dalam, jangan di luar!!" ujar Nuril yang seperti memarahi Aarav.
"Iya," jawab singkat Aarav. Dia lalu langsung masuk ke dalam, mencoba untuk melanjutkan mimpinya yang tertunda gegara Nuril.
Sekarang giliran Nuril yang duduk di teras, matanya memandang sekeliling yang sudah menjadi gelap gulita, dan hawa dingin yang mulai menyelimuti.
"Tadi... Troun... Itu artinya... Aku bakalan bisa nyalin sihir orang lain buat aku gunain sendiri!!" renungnya sendirian di luar rumah.
Bersambung...