Bagaimana rasanya jika di hari pernikahan, ternyata pria yang kamu nikahi bukanlah pria yang kamu cintai. Hal ini terjadi pada Rania, gadis malang yang ternyata menikahi Arman, adik dari Adam pria yang dia cintai. Dan kemalangan tak berhenti disana, bahkan setelah pernikahan ternyata Arman memilih pergi meninggalkannya untuk pergi bersama wanita yang dia cintai. Namun na'as, pesawat yang ditumpangi mereka berdua mengalami kecelakaan dan seluruh penumpang dikabarkan meninggal dunia.
Rasa kecewa Rania seketika berubah menjadi duka. Status seorang istri berubah menjadi janda hanya dalam waktu sehari. Namun, setelah semua kejadian itu tidak mudah bagi Rania untuk meninggalkan rumah keluarga Pratama. Karena ibu mertuanya ingin Rania melahirkan keturunan untuk keluarga mereka.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Dan bagaimana kehidupan Rania di rumah keluarga Pratama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Kebahagiaan atas kehamilan kembar itu memang luar biasa, tetapi trimester pertama Rania segera berubah menjadi arena drama dan proteksi berlebihan. Kehamilan kembar memang membawa tantangan fisik yang lebih berat, dan Rania mulai merasakan dampaknya. Mual parah, muntah hebat, dan kelelahan ekstrem menjadi rutinitas harian.
Di tengah kesulitan fisik itu, drama ngidam Rania yang mulai muncul. Awalnya biasa saja, seperti ingin buah mangga muda di tengah malam. Adam, yang kini menjelma menjadi suami siaga total, akan langsung memerintahkan supir untuk mencari mangga tersebut, tak peduli jam berapa.
Namun, hari demi hari ngidam Rania semakin aneh dan mengada-ada.
"Mas Adam, aku ingin... aku ingin makan sate kelinci!" pinta Rania suatu siang, saat Adam sedang menemaninya istirahat di kamar kerja barunya.
Adam, yang sedang membaca laporan keuangan, langsung menutup laptopnya. " Sate Kelinci? Di mana kita bisa menemukan itu di tengah kota, Rania?"
"Aku tidak tahu! Tapi aku ingin makan itu sekarang! Kalau tidak, nanti anak kita ileran!" rengek Rania, air mata mulai menggenang, dan alasan ileran selalu menjadi senjata Rania untuk menggertak suaminya. Karena pesan dari ibu mertuanya, siapapun harus menuruti keinginan Rania, karena tidak ingin cucu-cucunya ileran.
Adam menghela napas, meskipun kesal karena pekerjaannya terpotong, ia tidak bisa menolak. "Baik. Aku akan menyuruh chef mencari kelinci dan memanggangnya untukmu. Tapi setelah itu, kamu harus istirahat total."
"Iya, nanti kelincinya dilepas dan mas Adam yang nangkap ya, setelah itu baru di bikin sate. Aku cuma pengen lihat mas Adam nangkap kelinci. " Kata Rania dengan semangat.
Adam menganga mendengar permintaan aneh istrinya yang di luar nalar. Menyuruhnya menangkap kelinci? Bukankah hewan itu melompat dengan sangat cepat? Adam jadi was-was mendapatkan tantangan dari istrinya itu. Tidak menyangka kalau kedua anaknya akan mengerjainya sejak ada di dalam kandungan.
Tuntutan aneh Rania yang harus dipenuhi segera itu membuat seluruh rumah Pratama bergerak. Tak hanya Adam, Bu Sofia juga ikut ambil bagian dalam drama mengidam ini.
"Cepat, kalian! Temukan kelinci itu, beli di pasar atau dimanapun! Jangan sampai cucu-cucuku tidak mendapatkan apa yang mereka mau!" perintah Bu Sofia kepada para pelayan.
Sayangnya, di balik semua pemenuhan keinginan itu, datanglah sikap protektif Adam dan Bu Sofia yang berlebihan, yang membuat Rania merasa hidup dalam "sangkar emas."
Sejak divonis hamil kembar dan kondisi fisiknya yang rentan, Rania benar-benar tidak diizinkan melakukan apa pun.
Bu Sofia, "Rania, jangan turun dari tempat tidur! Ibu sudah bilang, kamu tidak boleh kelelahan. Biar pelayan yang mengurusmu. Kamu hanya perlu fokus makan dan tidur!"
Adam, "Aku sudah melarang supir membawamu keluar rumah, Rania. Jika ada acara penting, aku akan mengatakan kepada meraka kalau kamu sedang hamil dan menjaga kehamilan. Dokter bilang kamu harus istirahat total. Aku tidak mau mengambil risiko sedikit pun!"
Bahkan, hal-hal kecil pun menjadi masalah besar. Rania dilarang mengangkat ponselnya sendiri, dilarang menyentuh buku tebal, dan yang paling parah, ia dilarang pergi ke taman belakang rumah tanpa didampingi Adam atau Bu Sofia.
"Tapi, Mas! Aku hanya ingin duduk di bangku taman. Aku butuh udara segar!" protes Rania suatu pagi.
"Tidak bisa, Rania. Udara pagi mungkin terlalu dingin. Kamu bisa masuk angin. Aku akan memanggil pelayan untuk membawakan kursi roda ke kamar, dan kamu duduk di balkon saja, itu lebih aman," jawab Adam datar, meskipun ia terlihat khawatir.
Sikap Adam memang berubah drastis sejak kehamilan ini. Ia tidak lagi dingin dan acuh, dia menjadi hangat, tetapi dominan. Dia menunjukkan kepeduliannya melalui pengawasan ketat, memastikan Rania berada dalam kondisi paling aman dan steril. Perhatian yang dia berikan terasa sangat nyata, tetapi juga mencekik.
Rania merasa bingung dan tertekan. Di satu sisi, ia merasa sangat dicintai oleh semua orang. Semua kebutuhan dan keinginannya diprioritaskan di atas segalanya. Dia tahu Adam melakukan semua ini karena peduli dan takut kehilangan, terutama setelah tragedi Arman. Adam takut mengulangi kesalahan dan kegagalan.
Di sisi lain, Rania merasa kehilangan kemerdekaannya. Ia merasa seperti inkubator mewah yang hanya berfungsi untuk menampung dua janin Pratama.
Puncaknya terjadi saat Rania ingin meminta izin untuk mengunjungi makam orang tuanya. Sudah lama ia tidak berziarah, dan ia merasa membutuhkan ketenangan.
"Mas Adam, akhir pekan ini aku ingin pergi ke makam Ayah dan Ibu," pinta Rania saat mereka sedang makan malam berdua.
Adam langsung menaruh sendoknya. Wajahnya mengeras. "Tidak, Rania. Itu tidak mungkin."
"Kenapa? Cuma sebentar, Mas. Aku baik-baik saja," Rania memohon.
"Tidak, Rania!" suara Adam sedikit meninggi. "Perjalanan ke sana terlalu jauh. Makam itu pasti kotor dan banyak debu. Dokter melarangmu melakukan perjalanan jauh atau berada di tempat ramai dan kotor. Aku tidak akan membiarkanmu mempertaruhkan dua nyawa cucu Ibu hanya untuk ziarah."
"Tapi, Mas! Itu orang tuaku! Aku hanya ingin mendoakan mereka!" Rania mulai menangis, frustrasinya memuncak. "Aku tahu kamu peduli, tapi kamu terlalu berlebihan! Aku merasa seperti tahanan di rumah ini!"
Adam menatap Rania, sorot matanya yang gelap menunjukkan kekecewaannya. "Kamu bilang aku berlebihan? Aku melakukan ini demi kamu, Rania! Aku sudah kehilangan adikku, aku tidak akan kehilangan istri dan anakku juga! Jika kamu ingin berziarah, aku akan mengirim utusan untuk mendoakan mereka di sana. Kamu tetap di rumah, titik!"
Rania merasa hancur. Ia tahu niat Adam baik, tetapi sikapnya yang tidak memberi toleransi sedikit pun membuatnya merasa tidak dihargai sedikitpun. Di tengah kehamilannya yang sulit, ia sangat merindukan kebebasan dan kasih sayang yang tidak disertai rantai pengikat.
Bu Sofia, yang mendengar pertengkaran itu, langsung masuk. "Adam benar, Rania. Kamu harus mengerti. Menurut orang tua dulu, wanita hamil dilarang pergi ke makam, jangankan pergi ke makam, pergi takziah aja nggak boleh. Pamali, banyak makhluk halus disana. Nanti setelah melahirkan dan masa nifasmu selsai, kamu boleh pergi berdua dengan Adam." Bu Sofia menasehati Rania dengan cara yang berbeda.
"Sekarang, habiskan supmu. Itu mengandung banyak gizi untukmu dan bayi kembarmu. " ujarnya menyendokkan sup ke mangkuk Rania, mencoba mencairkan suasana.
Rania hanya bisa menunduk, air mata jatuh membasahi piring. Ia merasa dicintai dengan sangat dalam, tetapi juga dikendalikan dengan sangat ketat. Di satu sisi, ia merasa aman dalam pelukan protektif suaminya. Di sisi lain, ia merindukan Adam yang ia temui di malam pertama mereka, seorang pria yang berjanji untuk menghormati dan membebaskannya dari bayang-bayang masa lalu, bukan mengurungnya dalam sangkar emas.