"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.
Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.
Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9 - Pengacara Terbaik
"Ratna, perceraian ini... kamu tidak bisa menolak."
Kalimat itu tidak perlu dikirim sebagai pesan.
Raka tidak ingin memperingatkan Ratna terlalu cepat. Orang yang tahu dirinya sedang diburu akan mulai membakar jejak. Orang yang masih merasa aman akan terus melakukan kesalahan dengan wajah tenang.
Ia meletakkan map hitam di atas meja, lalu membuka daftar pengacara keluarga di Surabaya.
Nama-nama muncul dengan foto formal, gelar panjang, dan janji yang hampir sama: berpengalaman, profesional, terpercaya. Dulu, Raka mungkin akan memilih yang termurah. Ia akan menghitung biaya konsultasi seperti menghitung harga beras.
Sekarang, ia mencari orang yang bisa memenangkan perang tanpa berisik.
Mata Pemimpin aktif ketika ia menelusuri profil video beberapa pengacara. Sebagian besar panel muncul biasa saja.
[Potensi litigasi: 63]
[Risiko: terlalu kompromis.]
Yang lain lebih buruk.
[Potensi negosiasi: 71]
[Risiko: mengejar biaya tambahan; lambat menutup perkara.]
Raka menutup tab itu satu per satu.
Lalu ia berhenti pada sebuah nama.
Hendra.
Foto pria itu sederhana. Jas gelap, kacamata tipis, ekspresi tenang tanpa senyum lebar. Tidak ada slogan bombastis. Hanya daftar perkara keluarga, harta gono-gini, dan sengketa hak asuh yang pernah ia tangani.
Raka membuka rekaman seminar hukum singkat miliknya.
Panel biru muncul.
[Hendra]
[Potensi litigasi keluarga: 88]
[Analisis bukti: sangat kuat]
[Kecenderungan: tenang, teliti, tidak suka klien emosional]
[Risiko: akan menolak perkara jika klien menyembunyikan fakta penting]
[Catatan: kepercayaan dibangun melalui keterbukaan dokumen dan konsistensi instruksi.]
Raka membaca catatan itu dua kali.
Bagus.
Pengacara yang bisa dibeli semua orang justru berbahaya. Ia membutuhkan orang yang cukup mahal untuk menjaga standar, tetapi cukup bersih untuk tidak menjual kliennya di tengah jalan.
Ia menghubungi kantor Hendra dan meminta jadwal konsultasi privat.
"Ada slot besok pukul sepuluh pagi, Pak," kata staf melalui telepon. "Biaya konsultasi awal Rp 3.500.000."
"Saya ambil. Saya juga ingin membawa dokumen digital dan fisik."
"Baik, Pak. Mohon datang lima belas menit lebih awal."
Keesokan paginya, Raka tiba di kantor hukum kecil di kawasan bisnis Surabaya. Ruang tunggunya tidak mewah, tetapi bersih. Rak dokumen tertutup rapi. Tidak ada poster norak tentang kemenangan besar. Hanya jam dinding, air mineral, dan meja resepsionis yang tertata presisi.
Raka suka tempat seperti ini.
Tempat yang tidak perlu berteriak untuk terlihat mahal.
Tepat pukul sepuluh, pintu kaca terbuka.
"Pak Raka Pratama?"
Pria berkacamata itu berdiri di ambang pintu. Usianya sekitar empat puluhan, rambut tersisir rapi, suaranya rendah.
"Saya Raka."
"Hendra. Silakan."
Ruang konsultasinya lebih sederhana lagi. Meja kayu, dua kursi tamu, satu komputer, dan lemari arsip. Hendra tidak langsung bertanya tentang drama rumah tangga. Ia menunggu Raka duduk, lalu membuka buku catatan.
"Saya diberi tahu Anda ingin konsultasi cerai talak."
"Benar."
"Sebelum kita mulai, saya perlu garis besar. Apakah Anda masih tinggal satu rumah dengan istri?"
"Secara alamat, iya. Secara hubungan, sudah selesai."
Hendra menulis tanpa ekspresi. "Ada anak?"
Raka meletakkan map hitam di meja.
"Ada anak yang selama ini saya anggap anak saya."
Gerakan pena Hendra berhenti setengah detik.
Raka membuka map itu, mengeluarkan salinan Hasil tes DNA, satu flash drive, daftar transaksi yang membuktikan aset besar berasal dari dana pribadi setelah tanggal tertentu, serta catatan kamera tanpa audio yang menunjukkan Ratna berkomunikasi dengan kontak bernama Mas Kevin.
Hendra tidak menyambar dokumen itu. Ia memakai sarung tangan tipis sekali pakai dari laci, lalu membaca halaman pertama DNA.
Sepuluh menit berlalu tanpa banyak suara.
Hanya kertas yang dibalik.
Akhirnya, Hendra melepas kacamata.
"Pak Raka, saya akan bicara langsung. Ini kuat, tetapi kita harus menggunakannya dengan tepat."
"Saya mendengar."
"Pertama, untuk cerai talak, permohonan diajukan ke Pengadilan Agama Surabaya. Setelah terdaftar, akan ada panggilan, lalu mediasi. Mediasi tidak bisa dilewati."
"Berapa lama?"
"Tiga bulan adalah perkiraan sehat jika tidak terlalu banyak hambatan. Bisa lebih lama jika pihak istri bermain di harta gono-gini."
"Dia pasti akan bermain di sana."
"Maka kita siapkan sumber dana. Aset yang Anda beli selama perkawinan bisa diperdebatkan, tetapi asal dana, waktu transaksi, perjanjian, serta bukti pemisahan faktual akan penting. Jangan memindahkan aset sembarangan. Itu bisa terlihat buruk."
Raka mengangguk.
Ini yang ia inginkan.
Bukan orang yang hanya berkata menang mudah.
Orang yang menunjukkan jebakan di lantai.
Hendra menunjuk laporan DNA. "Kedua, soal anak. Jika laporan ini valid, Anda bisa menggunakan hasilnya untuk menolak klaim nafkah anak biologis. Namun saya sarankan kita tidak menjadikan identitas anak sebagai tontonan."
Pandangan Raka mengeras sedikit.
"Saya tidak ingin mempermalukan Nila."
Untuk pertama kalinya, Hendra menatapnya lebih lama.
"Bagus. Banyak klien datang ke sini membawa luka, lalu ingin mengubah anak menjadi senjata. Itu merusak posisi hukum dan moral."
"Musuh saya Ratna."
"Kalimat itu perlu Anda pegang sampai akhir."
Raka menyandarkan punggung ke kursi. "Bagaimana dengan video?"
Hendra memeriksa catatan bukti.
"Karena kamera berada di area tempat tinggal Anda sendiri dan tidak merekam audio, posisinya lebih aman. Tapi kita tetap hati-hati. Video ini lebih berguna sebagai petunjuk awal dan pendukung pola perilaku, bukan satu-satunya bukti perselingkuhan."
"Cukup."
"Ada satu hal lagi." Hendra melipat tangan di meja. "Saya tidak mau klien menyimpan fakta penting dari saya. Jika ada aset besar, hutang, kekerasan, atau tindakan yang bisa dipakai pihak lawan menyerang Anda, saya harus tahu sebelum mereka tahu."
Mata Pemimpin seolah menegaskan panel lama di kepala Raka.
Risiko: akan menolak perkara jika klien menyembunyikan fakta penting.
Raka mengeluarkan ringkasan rekening yang sudah ia siapkan. Tidak ada rahasia sistem di sana. Hanya aliran dana masuk yang ia kemas sebagai hasil bisnis digital dan likuidasi aset pribadi, dengan bukti pajak awal yang sedang dikonsultasikan ke akuntan.
"Ini bagian yang bisa relevan. Sumber dana saya legal dan bisa diaudit. Detail bisnis tertentu rahasia, tetapi saya tidak akan menyembunyikan transaksi yang menyentuh perkara."
Hendra membaca ringkasan itu.
Alisnya naik sedikit.
"Jumlahnya tidak kecil."
"Karena itu saya tidak ingin ceroboh."
"Baik." Hendra menutup map. "Saya bisa tangani perkara ini."
Staf masuk membawa perjanjian jasa hukum. Retainer awal tertulis jelas: Rp 150.000.000, termasuk penyusunan permohonan, pendaftaran awal, pendampingan mediasi, dan strategi bukti tahap pertama. Biaya perkara dan kebutuhan tambahan akan dicatat terpisah.
Raka membaca tiap halaman.
Tidak ada keberatan.
Ia menandatangani.
Transfer dilakukan di tempat.
[Transaksi tervalidasi.]
[Pengeluaran sah kepada pihak ketiga: Rp 150.000.000.]
[Cashback 10x diproses: Rp 1.500.000.000.]
Saldo: Rp 18.119.433.900.
Hendra tidak melihat panel itu. Ia hanya melihat notifikasi transfer masuk dari stafnya dan sedikit mengangguk.
"Mulai hari ini, jangan berdebat panjang dengan istri Anda. Jangan mengancam. Jangan memukul. Jangan membuat konten. Semua komunikasi penting simpan tertulis."
"Saya sudah berhenti menjelaskan."
"Bagus. Orang yang terlalu banyak bicara sering memberi lawan senjata gratis."
Raka berdiri, menyimpan salinan perjanjian jasa hukum.
"Kapan permohonan bisa disiapkan?"
"Draf awal dua hari. Setelah Anda setujui, kita daftarkan. Saya akan meminta staf membuat daftar dokumen yang perlu Anda lengkapi hari ini."
"Kirim semuanya."
Hendra mengulurkan tangan.
"Pak Raka, perkara keluarga jarang bersih. Tapi dengan bukti Anda, posisi kita kuat."
Raka menjabat tangannya.
"Saya tidak butuh bersih. Saya butuh selesai."
Saat ia keluar dari kantor hukum, panas siang Surabaya menghantam wajahnya. Ponsel di sakunya bergetar.
Budi.
Raka menatap nama itu sampai layar hampir redup, lalu mengangkat.
Suara panik langsung meledak di telinganya.
"Mas Raka, lo harus kasih gue duit sekarang juga! Gue ada urusan penting!"
Raka tersenyum dingin, lalu memutus panggilan.
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....