Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.
Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.
#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 : Ego Sang CEO yang Runtuh
Malam semakin larut, namun di dalam ruang kerja pribadi Arka Pratama di lantai atas rumah besar itu, kegelapan mendominasi setiap jengkal ruangan. Lampu utama tidak dinyalakan, dibiarkan mati seolah-olah cahaya terang adalah musuh yang akan mengungkap kehancurannya. Hanya ada pendar cahaya kebiruan yang redup dari layar komputer jinjing yang dibiarkan menyala di atas meja kerja mahoni berukuran raksasa, memantulkan bayangan muram pada wajah sang CEO muda yang tampak sangat kuyu, tak terawat, dan berantakan. Penampilan yang kontras dengan persona perfeksionis yang selama ini ia tunjukkan di depan media dan kolega.
Arka duduk bersandar di kursi kerja kulitnya dengan kedua mata terpejam erat, seolah mencoba menutup dunia dari penglihatannya. Di hadapannya, berserakan dokumen-dokumen korporat penting, laporan keuangan triwulanan yang mencatatkan pertumbuhan dua digit, serta draf kontrak kerja sama internasional bernilai miliaran rupiah yang biasanya menjadi pusat seluruh hidup dan ambisinya. Namun malam ini, angka-angka itu tidak lagi memiliki makna apa pun. Lembaran-lembaran kertas itu tampak seperti tumpukan sampah tak berguna yang justru mengejek kebodohannya. Baginya, setiap deret angka itu kini terasa seperti nisan yang menandai matinya kebahagiaan pribadinya.
Pikiran Arka tidak berada di ruang kerja ini. Pikirannya melayang jauh ke masa lalu, menembus dinding-dinding kokoh rumah mewah ini yang kini terasa seperti penjara, berputar kembali menelusuri rekaman-rekaman memori yang selama ini ia abaikan, ia injak-injak, dan ia buang begitu saja demi mengejar kesuksesan semu.
Dulu, di tahun-tahun pertama pernikahan mereka, Kirana adalah sosok wanita yang selalu menghidupkan rumah besar ini. Rumah ini dulu memiliki jiwa, dan jiwanya adalah Kirana.
Arka mengingat kembali dengan rasa sakit yang begitu nyata menusuk dadanya, seolah jantungnya sedang dicabik oleh tangan tak terlihat bagaimana istrinya dulu sering kali duduk berjam-jam di sofa ruang keluarga, menunggunya pulang lembur hingga larut malam. Kirana tidak pernah mengeluh meski jam dinding menunjukkan angka dua dini hari. Ia akan menyambutnya dengan senyuman lebar, membawakan secangkir teh hangat atau cokelat panas, dan mulai menceritakan hal-hal sepele yang terjadi sepanjang hari dengan nada bicara yang manja.
“Mas Arka, tadi kucing tetangga masuk ke halaman dan membuatku terkejut setengah mati! Lucu sekali... Oh ya, malam ini aku masak sayur asem kesukaanmu, jangan lupa dihabiskan ya...”
Ingatan itu begitu hidup. Ia masih bisa mencium aroma sayur asem yang lembut, mendengar denting cangkir teh yang diletakkan di meja, dan merasakan kehangatan jemari Kirana saat membelai punggung tangannya. Dulu, di tengah kepenatan pikirannya mengurus tekanan dewan direksi dan proyek perusahaan yang pelik, Arka sering kali merespons rengekan-rengekan kecil itu dengan helaan napas berat, wajah lelah, atau bahkan kalimat-kalimat dingin yang menyuruh Kirana agar tidak mengganggunya.
“Kirana, aku lelah. Jangan bicara soal hal-hal tidak penting saat aku baru pulang kerja. Aku butuh ketenangan, bukan kebisingan.”
Betapa sombongnya ia saat itu. Betapa bodohnya ia karena menganggap rengekan itu sebagai gangguan, mengira bahwa perhatian tulus tersebut adalah hak istimewa murahan yang akan selalu ada di sana tanpa batas waktu, tanpa pernah meminta imbalan apa pun selain sedikit waktu dan kehangatan dari seorang suami. Ia merasa dunianya terlalu besar untuk dibebani dengan cerita tentang kucing tetangga atau rasa sayur asem. Ia adalah Arka Pratama, penakluk pasar, sang visioner. Namun di dalam rumahnya sendiri, ia adalah seorang penindas emosional.
Arka membuka matanya perlahan. Air mata panas kembali menetes, membasahi rahangnya yang dipenuhi bayangan janggut tipis. Ia menatap pantulan dirinya di layar komputer yang gelap. Seorang pria yang tampak sepuluh tahun lebih tua dari usianya yang sebenarnya.
Baru sekarang setelah semuanya hancur berkeping-keping, setelah istrinya berubah menjadi patung es yang menolak disentuh dan memilih berjuang seorang diri di dapur belakang, setelah Kirana berhenti menunggunya, berhenti memasak untuknya, dan berhenti berharap Arka menyadari satu kebenaran mutlak yang terlambat ia pahami:
Rengekan manja Kirana di masa lalu bukanlah sebuah bentuk kekanak-kanakan atau gangguan. Itu adalah manifestasi paling murni dari cinta yang tulus. Itu adalah cara seorang wanita menaruh seluruh kepercayaannya, kelemahannya, dan kebahagiaannya di telapak tangan suaminya, berharap sang suami menyambutnya dengan dekapan hangat, bukan penolakan.
Dan dialah, Arka Pratama, sang CEO yang diagung-agungkan banyak orang, yang fotonya sering terpampang di majalah bisnis yang dengan tangan dinginnya sendiri telah membunuh ketulusan itu perlahan-lahan. Ia membunuh rengekan itu dengan kebisuannya, membunuh senyuman itu dengan pengabaiannya, dan mematikan jiwa istrinya dengan keangkuhan serta kekuasaan yang ia miliki. Ia memenangkan dunia, tetapi ia kehilangan satu-satunya orang yang sudi mencintainya saat ia belum menjadi siapa-siapa.
*Bugh!*
Arka mengepalkan tinjunya, memukul permukaan meja kerja kayu mahoni itu dengan keras hingga suara tumpulnya menggema di dalam ruangan yang sunyi. Pukulan itu bukan hanya untuk meja, tetapi bentuk kebencian pada diri sendiri.
"Bodoh... kamu benar-benar pria paling bodoh di dunia ini, Arka..." rintihnya pada diri sendiri, suaranya pecah di antara isak tangis yang tertahan di tenggorokan.
Ia membenamkan wajahnya di atas kedua telapak tangannya. Bayangan Kirana yang kini lebih sering terlihat di dapur belakang, mengangkat loyang kue berat seorang diri dengan wajah lelah tanpa sedikit pun ekspresi, menghantuinya. Ia teringat tatapan mata dingin tanpa emosi Kirana saat ia menawarkan fasilitas mobil mewah untuk memudahkan belanja, tawaran yang ditolak mentah-mentah dengan nada yang bahkan lebih dingin dari es. Penolakan mutlak setiap kali Arka mencoba mendekat atau sekadar menyentuh bahunya, semuanya berputar bagaikan kaset rusak yang menyiksa akal sehatnya.
Ego besar yang selama ini membentengi dirinya runtuh tak bersisa. Kekayaan korporat, jabatan tinggi, dan deretan aset bernilai tinggi kini terasa seperti belenggu besi neraka yang mengurungnya dalam kesepian abadi. Ia memiliki segalanya di atas kertas, namun ia kehilangan satu-satunya hal yang benar-benar berharga di dunia nyata: hati wanita yang sangat mencintainya.
Arka teringat malam pernikahan mereka lima tahun lalu. Kirana tampak begitu cantik dengan gaun putih sederhana, matanya berbinar menatap Arka dengan janji setia yang tulus. Kirana saat itu adalah wanita yang paling bahagia di dunia karena berpikir ia telah menemukan pelabuhan terakhirnya. Arka pun berjanji akan membahagiakannya. Namun, janji itu terkubur di bawah tumpukan dokumen pekerjaan dan ambisi yang tak kunjung terpuaskan. Arka menjadikan istrinya sebagai pelengkap kesuksesan, bukan tujuan dari kesuksesannya.
Ia teringat betapa seringnya ia membatalkan janji makan malam di hari ulang tahun pernikahan, hanya karena ada rapat mendadak di Singapura atau London. Ia selalu berkata, "Aku melakukan ini demi masa depan kita." Namun sekarang ia sadar, masa depan tanpa Kirana bukanlah masa depan yang ia inginkan.
Kirana yang dulu penuh tawa, yang dulu begitu antusias menunjukkan foto-foto di ponselnya, kini hanyalah bayang-bayang. Kirana yang dulu akan marah jika Arka lupa sarapan, kini bahkan tidak peduli apakah suaminya sudah makan atau belum. Kirana telah mematikan emosinya terhadap Arka. Ia telah menutup pintu hatinya rapat-rapat, menguncinya, dan membuang kuncinya. Dan Arka, dengan segala kekuasaan dan uang yang ia miliki, tidak punya cara untuk membukanya kembali.
Arka berdiri dari kursinya, berjalan terhuyung-huyung menuju jendela besar yang menghadap ke halaman belakang. Dari sini, ia bisa melihat samar-samar dapur belakang yang lampunya masih menyala. Kirana mungkin masih terjaga di sana, menyelesaikan sisa pekerjaannya, atau hanya duduk diam menatap dinding. Jarak fisik mereka hanya beberapa puluh meter, namun jarak batin mereka terasa seperti galaksi yang tak terjangkau.
Di luar jendela ruang kerjanya, angin malam berdesir kencang, membawa sisa-sisa hawa dingin yang menusuk tulang. Arka duduk terpaku di dalam gelap, menyadari bahwa penyesalan sebesar apa pun di dunia ini tidak akan pernah mampu menghidupkan kembali cinta yang telah ia bunuh dengan tangannya sendiri. Ia telah membangun sebuah kerajaan, tetapi ia telah menghancurkan rumahnya sendiri. Dan di reruntuhan itu, ia sendirian, memeluk penyesalan yang takkan pernah berakhir, terjebak dalam keheningan yang ia ciptakan sendiri.
.. mending pretty cure