NovelToon NovelToon
Berondong Ku Ternyata Seorang Billionaire

Berondong Ku Ternyata Seorang Billionaire

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: KGDan

Sepuluh tahun mengejar cinta suaminya, Lara Margaret Buchanan, tidak kunjung dapat meluluhkan hati lelaki yang sejak masa kuliah itu ia sukai.

Hingga usianya menginjak tiga puluh dua tahun, akhirnya ia pun menyerah untuk mengejar cinta David Lorenzo.

Hingga tanpa sengaja, ia bertemu dengan seorang pemuda, yang memiliki usia sepuluh tahun dibawah usianya.

Siapa sangka, pesona Lara Margaret Buchanan sebagai wanita dewasa, membuat pria muda itu tidak ingin melepaskan Lara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9.

Walau Lara terlihat tidak seperti biasa lagi menghadapi sikap keluarga Ayahnya, ia sebenarnya masih rapuh seperti biasanya.

Dalam taksi yang membawanya kembali ke apartemennya, ia menatap jalanan dengan wajah datar, tapi sudut matanya tampak menetes air matanya.

Ia menangis dalam diam merenungi dirinya, yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang Ayahnya lagi semenjak Ibunya meninggal.

Bayangan saat dulu Ibunya masih hidup, Ayahnya sangat perhatian padanya.

Ayahnya selalu membawa oleh-oleh padanya setelah pulang dari kantor.

Keharmonisan mereka bertiga, membuat rumah terasa nyaman dan damai sekali.

Air mata Lara semakin deras mengalir dalam diam, mengingat betapa bahagianya dulu ia bersama Ayah dan Ibunya.

Ia merindukan kembali momen itu seandainya bisa terulang lagi, dan orang ketiga tidak ada yang mengacaukan keluarga mereka.

Mengenai kemesraan David dengan adik tirinya, dan sikap dingin David padanya, ia sudah sering menangis diam-diam dalam sepuluh tahun pernikahannya dengan David.

Setelah bercerai dengan David, ia sama sekali tidak merasakan sedih melepaskan David.

"Nona, sudah sampai!"

Terdengar suara sopir taksi bicara pada Lara dari depan kemudi mobil.

Lara menyeka air matanya, lalu mengedipkan matanya memandang sekitar taksi berhenti.

Ternyata memang benar, ia sudah sampai di depan gedung apartemennya.

"Terimakasih, Pak!" ucap Lara setelah membayar ongkos taksi kepada sopir taksi.

Sopir taksi tersenyum membalas ucapan terimakasih Lara.

Lara mengerutkan keningnya, saat ia berdiri di depan pintu apartemennya.

Ia melihat sebuah kantong plastik tergantung pada gagang pintu apartemennya.

"Siapa yang menaruh ini di sini?" gumamnya meraih kantong plastik tersebut.

Ia melihat kotak makanan dalam kantong plastik, yang membuat ia semakin mengerutkan keningnya.

Ia pun menoleh ke kiri dan kanan, untuk melihat siapa yang telah menaruh kantong plastik itu pada gagang pintu apartemennya.

Ia melihat sebuah cctv di atas pintu apartemen tetangga barunya.

Ternyata penghuni baru di sebelah apartemennya memasang cctv.

Mungkin ingin menjaga keamanan apartemennya lebih aman dengan memasang cctv.

Karena merasa penasaran, siapa yang telah menaruh kantong plastik tersebut di depan pintu apartemennya, ia sepertinya harus memeriksa rekaman cctv ke ruang kontrol cctv.

Lara pun bergegas menuju kantor cctv, pusat ruang kontrol cctv gedung apartemen.

Tok! tok!

Lara mengetuk pintu ruang kontrol cctv, sebelum ia masuk ke dalam ruangan tersebut.

"Sore Paman, aku mau memeriksa cctv, yang ada di sebelah apartemen ku, seseorang menaruh kantong plastik di depan pintu apartemen ku, aku ingin tahu siapa yang menaruhnya di sana!" kata Lara sembari tersenyum ramah.

"Oh, masuklah!" jawab seorang petugas keamanan di dalam ruang kontrol itu.

"Terimakasih, Paman!"

"Unit berapa?" tanya Petugas keamanan itu.

"Unit 85!" jawab Lara.

Mata Lara nanar melihat layar monitor, begitu petugas memeriksa rekaman cctv, yang ada di depan apartemen penghuni baru di samping apartemennya.

Akhirnya ia pun mengetahui, siapa yang menaruh kantong plastik itu di gagang pintu apartemennya.

Ternyata tetangga baru di sebelah apartemennya, yang sengaja meletakkan kantong plastik itu di depan pintu apartemennya.

"Nona, sepertinya tetangga anda memberikan ucapan salam kenal pada anda!"

"Oh iya, terimakasih Paman!" jawab Lara.

"Sama-sama!"

Lara kembali ke apartemennya, lalu mengambil beberapa buah miliknya untuk ia berikan kepada tetangga barunya.

Lara menekan bel pintu, dan pintu terbuka begitu ia selesai menekan bel.

"Hai!" sapa Lara tersenyum ramah melihat wajah tetangga barunya tersebut, begitu pintu apartemen itu terbuka.

Ternyata seorang pria yang masih muda, dan mungkin seorang mahasiswa yang masih duduk di bangku kuliah.

Pria muda itu menatapnya dengan tatapan terpana memandangnya, atau mungkin hanya firasatnya saja melihat tatapan anak muda itu padanya.

"Sepertinya kamu yang menaruh kantong plastik di depan pintu apartemen ku, ya? terimakasih, ya? aku juga ingin berbagi sebagai tetangga baru denganmu!" kata Lara dengan nada yang ramah sembari tersenyum ramah juga mengulurkan wadah berisi buah kepada anak muda tersebut.

Beberapa detik pria muda itu tidak merespon apa yang dikatakan Lara, dan bahkan tidak melihat wadah yang di ulurkan Lara ke hadapannya.

"Halo!" sapa Lara lagi, sembari menyodorkan wadah buah lebih maju lagi ke depan pria muda itu.

"Oh.. eh, iya! tidak apa-apa kak, aku juga berbagi dengan tetangga lainnya!" jawab anak muda itu mengedipkan matanya, lalu tersenyum menerima wadah buah yang disodorkan Lara.

Senyum Lara semakin merekah mendengar jawaban pemuda itu, "Selamat datang di tempat baru, kenalkan namaku Lara Margaret Buchanan!"

Lara mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan anak muda itu, dan ia nyaris terhuyung ke depan, karena tangan pria muda itu dengan cepat menyambut uluran tangannya.

Tangannya digenggam dengan erat, dan senyuman pemuda itu terlihat semakin lebar saat memperkenalkan namanya.

"Oh, iya kak! namaku Stefan, lengkapnya Stefan Alden!!" ucapnya dengan nada yang terdengar bersemangat.

Ternyata kak Lara tidak mengenaliku, padahal malam kemarin kami sudah bertemu! apakah dia buta mengenali wajah seseorang? bisik hati Stefan menatap manik mata Lara.

Ia semakin mengeratkan genggaman tangannya menyalami tangan Lara.

Tangan Lara terasa begitu lembut dalam genggaman tangannya, dan ia merasa enggan untuk melepaskan tangannya menggenggam tangan Lara.

Lara jadi merasa canggung, karena begitu eratnya genggaman tangan Stefan menyalaminya.

"Hai Stefan, salam kenal!" balas Lara dengan nada ramah.

Dan ia seketika menjadi kikuk melihat tatapan mata Stefan, yang semakin nanar memandang wajahnya.

Ia pun menarik tangannya dari genggaman tangan Stefan, tapi tangannya tidak dapat ia tarik, karena Stefan semakin erat menggenggam tangannya.

"Maaf!" kata Lara menyadarkan Stefan dari menatap wajahnya dengan lekat.

"Oh, ma.. maaf kak!" jawab Stefan cengengesan melepaskan tangannya.

Lara kembali ke apartemennya, dan Stefan masih berdiri di depan pintu apartemennya, melihat pintu apartemen Lara yang sudah tertutup kembali.

"Kak, selamat bertemu kembali! kamu ternyata telah lupa padaku!" gumam Stefan menatap pintu apartemen Lara, "Tidak masalah, aku secara perlahan akan mengingatkan kamu, siapa aku sebenarnya!"

Stefan kemudian masuk ke dalam apartemennya, dan mengupas buah yang baru diberikan Lara padanya.

"Hmm, manis sekali, sama seperti yang memberinya!" gumam Stefan tersenyum senang memakan buah yang diberi Lara.

Sementara itu di dalam apartemen Lara.

Lara duduk disofa dengan wajah kebingungan, karena merasa tetangga barunya itu, sepertinya menyimpan rasa yang lain padanya.

Ia kemudian menatap tangannya yang tadi saling bersalaman dengan Stefan.

"Anak muda itu sepertinya memiliki mata rabun, ya? apa dia tidak bisa lihat dengan jelas, kalau aku ini sudah terlalu tua digoda pria muda seperti dia!"

Lara menelengkan kepalanya kesamping memikirkan cara Stefan tersenyum, menatap, dan bahkan menggenggam tangannya dengan erat.

Tampak sekali seperti cara seorang lelaki, yang ingin dekat dengan seorang gadis yang ia sukai.

"Tidak mungkin!!"

Lara menepis pikirannya, yang tiba-tiba merasa Stefan sepertinya menyukai dirinya.

Bersambung..........

1
Lia siti marlia
ya ampun tuh bocah berasa di per...os oleh padal dia yang meped terus
Endang Sulistiyowati
Ya ampun Lara, Stefan minta tanggung jawab tuh karna udah 2x bobo bareng. Modus banget Stefan,
nuraeinieni
dasar modus,,,bilang aja kamu keenakan di peluk lara
nuraeinieni
aduh cindy kamu salah orang,ingin mencelakai lara malah steven yg kena,untung lara dan steven cepat menghindar.
nuraeinieni
curiga nih lara,dgn orang2 nya steven
Cindy
lanjut
Dian Rahmawati
stefan 🤣
mars
iya tuh udh 2x ditiduri,tanggung jawab lo udh ga suci lagi🤣🤣🤣🤣🤣 koplak
Lia siti marlia
mulai mulai terkuak sedikit demi sedikit
Ariany Sudjana
kak penulis, tolong jangan sampai Lara dirusak Stefan, gara-gara minuman itu
Ariany Sudjana
aduh kenapa air itu diminum sama Stefan? jangan sampai Lara jadi pelampiasan karena minuman laknat itu. kenapa sih bukannya David saja yang minum? kan sudah ada pelampiasannya? ga rela kalau Lara dirusak duluan sama Stefan
Ariany Sudjana
hahaha benar kata Stefan, kalau David sudah dibutakan sama jalang peliharaannya dan juga Mak Lampir Anna itu
Maria Mariati
kejebak sama permainan sendiri 🤣🤣🤣💪💪💪😍😍
nuraeinieni
cindy dan mama anna,sandiwara kalian tdk mempan,lara sdh muak dgn kebusukan kalian.
nuraeinieni
aduh sepertinya minuman itu sdh di kasi masuk obat perangsang
nuraeinieni
enak ya david dapat hadiah bogemam dari berondong
Lia siti marlia
hadeh bisa bisa stefan nyoblos lara lagi gara gara minuman yang di berikan cindy
Ariany Sudjana: iya, ga rela kalau Lara dirusak duluan sama Stefan. gimana sih kak penulis?
total 1 replies
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Endang Sulistiyowati
Bener tuh kata Lara, 2 pria bodoh yang dengan mudah dikendalikan 2 wanita licik.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!