Seorang wanita cantik memiliki jabatan CEO di Perusahaan Berlian milik Papahnya. Rania Queenzhi yang ceria memiliki ketertarikan dengan asisten juga merangkap sekaligus sekretarisnya, seorang pria tampan.
Boris William, Sekretaris sekaligus Asisten yang mengabdi di Perusahaan, karena membalas budi akan hidupnya. Diam-diam juga memiliki ketertarikan dengan Atasannya di Perusahaan. Tapi, dirinya masih mempertimbangkan segala hal yang membuatnya tidak percaya diri.
"Aku menjodohkan putriku denganmu, Boris. Tapi, aku tidak memaksa dan membuatmu terburu-buru. Santai dan belajarlah semua hal mengenai Perusahaan. Cari tahu sedikit demi sedikit dari Rania. Dia tahu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anjarthvk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Sekamar
...Selamat membaca semuanya.....
...------------...
...------------...
Setelah puas menikmati makanan di Itaewon, mereka menuju ke Hotel yang sudah dipesan oleh Frederick. Boris terlihat kebingungan membicarakan sesuatu pada pegawai hotel sambil melirik ke arah Rania.
Rania menghembuskan napasnya panjang dan mendekat ke arah mereka. Raut wajahnya terlihat kesal, karena sudah 15 menit dia menunggu di bangku tidak jauh dari sana.
"Kenapa sih? Aku sudah lelah. Ada masalah?" pertanyaan Rania yang terdengar kesal.
Boris enggan mengatakan yang sebenarnya, tapi dia berusaha membuka handphone dan mencari hotel-hotel lain.
"Why?" (kenapa?) Dengan nada kesalnya bersuara ke petugas tersebut.
"So, Miss, the reservation under Frederick's name for Mr. Boris and Rania only gets one room with one king-sized bed." Pegawai tersebut dengan sopannya menjelaskan, Rania menghembuskan napas malas. (Jadi, Nona, reservasi atas nama Frederick untuk Tuan Boris dan Rania hanya mendapat satu kamar dengan satu tempat tidur berukuran king.)
Boris mendekati Rania dan berujar, "Nona tidur saja di Hotel ini. Saya akan mencari Hotel lain yang dekat dari sini," bola mata Rania berputar dan menahan lengan Boris.
"We will stay in that room. Give us the room card!" dengan nada yang tegas dan mutlak Rania memilih tetap akan menginap di kamar tersebut dengan Boris. (Kami akan menginap di kamar itu. Berikan kami kartu kamar!)
Dengan rasa canggung Boris masuk perlahan membawa dua koper mengikuti Rania yang sudah berada di depannya. Wanita itu merebahkan diri di atas ranjang.
"Ris.." Panggilan Rania membuyarkan lamunan Boris.
"Saya akan tidur di sofa, Nona bisa tidur di atas." Rania mendengus mendengar perkataan Boris.
"Kamu sebenarnya menyukaiku atau tidak sih, Ris? Aku butuh kepastian," pertanyaan yang membuat tenggorokkan Boris tercekat.
Boris duduk di sofa dan menatapnya lekat, jujur saja setiap dia bersama wanita itu jantungnya tidak beraturan.
"Tuan mengatakan-"
Belum selesai berbicara Rania memotong, "aku tahu Papah menjodohkan kita, kan?" Mata Boris membulat, "walaupun aku sangat menyukaimu, tapi aku juga harus tahu dan memilih. Pernikahan itu bukanlah hal yang main-main." Rania memposisikan dirinya duduk dan menatap Boris lekat.
"Pernikahan itu tidak sebentar tapi seumur hidup. Aku tidak bisa semudah itu menerima perjodohan ini hanya karena aku menyukaimu. Aku juga ingin tahu bagaimana dengan perasaanmu, agar aku tidak salah mengambil keputusan."
Kalah telak, Rania bukanlah wanita yang mudah ditebak dan biasa saja. Dia yang biasanya terlihat manja seperti anak kecil, bisa bersikap dewasa pada hal seperti itu. Sebenarnya Boris sudah melihatnya saat mereka bertemu dengan kolega Perusahaan, tapi dia tidak memikirkan Rania dari aspek kehidupan yang lain.
"Saya.." Keraguan terdengar dan terlihat, Rania menghempaskan kembali tubuhnya berbaring di ranjang.
"Aku tahu kamu tidak menyukaiku, Boris. Itu hal yang wajar. Besok aku akan meminta Papah untuk membatalkan perjodohan kekanakan itu."
"Saya bersedia," jawaban Boris yang pelan namun tegas, Rania menoleh ke arahnya dengan posisi masih berbaring.
"Kau menerimaku karena kasihan?"
"Dalam hidup aku membalas budi pada keluarga, Nona. Tapi, aku juga sudah menaruh perasaan dari pandangan pertama pada seorang wanita cantik. Tapi, aku tidak bisa melangkah lebih jauh karena menyadari kasta diantara kami yang sangat berbeda jauh. Bertahun-tahun aku menyimpannya sendirian, dan saat wanita itu tiba-tiba datang menangis karena disakiti oleh pria lain. Aku ikut hancur dan merasakan kesedihannya." Rania kembali duduk dan mendengarkan semua perkataan Boris.
"Setelah kejadian itu, dia selalu menempel padaku. Aku senang, tapi aku merasa belum pantas bersama dengannya. Setiap hari aku berusaha menahan diri agar tidak merengkuh tubuhnya. Hingga ada waktu, saat aku benar-benar ingin meruntuhkan harapanku untuk bisa bersamanya. Ternyata.. justru Tuhan menempatkan aku di posisi yang sangat aku inginkan. Aku masih harus banyak belajar, karena kedepannya bisa saja datang beribu masalah untuk menyakitinya." Boris memandang lekat Rania yang ternyata sudah meneteskan air mata.
Boris berjalan mendekat dan duduk di samping Rania, perlahan menghapus air mata yang menetes di pipi chubby itu. Dengan senyuman Boris berkata, "saya menyukaimu, Nona. Sebelum nona menyukai saya, saya lebih dulu memiliki perasaan yang sangat besar ini."
Rania tidak kuat untuk tidak menghambur ke pelukan Boris. Kali ini pelukan tersebut di balas oleh Boris dengan lembut dan hangat, elusan dan tepukan pelan yang menenangkan Rania.
"Ris, ayo tidur bersamaku," Boris membulatkan matanya mendengar ucapan Rania yang terdengar ambigu diotaknya.
......Bersambung.........
Terima kasih sudah mampir, jangan lupa like komen dan subscribe ya guys.
Abis diurut gara² hampir jatuh dari motor bulan oktober kemarin, baru diurut semalem. Yang jari kaki mendingan, eh malah pindah nyerinya.. tapi harus tetap semangat untuk Boris dan Rania😚🤭