"Arina Andrews!" Panggil seorang guru saat Arin hendak berlalu.
Arin lalu berbalik dan mendapati jika orang yang memanggil dirinya adalah sang guru. Orang yang membuat dirinya merasa hidup. Namun Arin terkejut saat mengetahui gurunya hendak menikah. Baginya Ibu Sarah adalah ibu baginya.
"Ibu guru tidak akan melupakan sayakan ?" Tanya Arin...
Ibu Sarah hanya terdiam, dia lalu mengelus kepala anak muridnya itu..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jauhadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Bab 8
Di panti asuhan, dengan banyaknya permen, dan oleh-oleh khas taman hiburan yang di bawa pulang membuat bukan hanya Arina Andrews, dan Rania Putri saja yang bahagia, melainkan anak-anak panti yang lebih kecil juga. Mereka di bawakan camilan, tentu saja bahagia. Sementara anak-anak lain sibuk makan camilan yang Arina bawakan untuk mereka, Arina sendiri duduk di halaman panti asuhan.
Arina duduk di bangku depan halaman panti asuhan, dia mulai mengingat lagi kejadian tadi. Di mana dia di tawan oleh seorang penjahat, dan pada akhirnya yang menangkap penjahat itu adalah Alexa Lin, dan Tion Andrews. Dua orang yang seharusnya bekerja di set film itu, bagaimana bisa berurusan dengan borgol, dan penjahat.
Arina berpikir mungkin banyak hal yang tidak dia ketahui, apa lagi tentang kakaknya yang juga pekerjaannya belum di ketahui Arina. Setahu Arina, Tion Andrews tidak mengurus kantor milik ayah mereka. Tion Andrews hanya tampak di set film bersama Alexa Lin, dan mengajar bela diri juga. Arina berpikir, apa mungkin Alexa, dan Tion adalah polisi? Apa mereka semacam detektif yang menangkap penjahat? Arina hanyut oleh lamunannya. Dia kini tidak bisa berpikir yang lurus, pikirannya berpikir yang tidak-tidak, berkelok, dan terjal.
Sementara itu dia kini di tepuk oleh Rania putri. Tepukan itu menyadarkan Arina Andrews. Kini dia kembali lurus lagi, tidak berpikir yang tidak-tidak.
Ibu panti merasa bahagia ada Arina Andrews di sana. Dia merasa kini Arina tumbuh dewasa, seandainya Arina tidak bertemu orang tuanya pun Arina tetap akan harus meninggalkan panti asuhan, dan pergi bekerja di luar negeri seperti yang pernah Arina angan-angankan pada Ibu Kepala Panti. Sebenarnya galaknya Ibu Kepala Panti itu karena tanggung jawab, dia merasa anak-anak harus di beri ketegasan agar kelak tumbuh menjadi anak yang berbakti, dan anak-anak yang sukses. Arina Andrews kini menemukan orang tuanya. Dia akan meninggalkan panti asuhan tiga hari lagi, tepat saat Sarah, pengasuh yang sudah lama tinggal, dan mengasuh juga meninggalkan Panti asuhan. Mesmi Sarah masih akan mengasuh anak-anak panti asuhan, dan mengajar di SMA, tetapi tetap saja berbeda dengan dia tinggal atau tidaknya.
Biasanya Sarah akan menenangkan anak-anak yang merindukan kasih sayang orang tua. Anak-anak yang kehilangan ibunya, atau ayahnya. Ibu Kepala Panti merasa dia tidak senaik Sarah dalam hal memanjakan anak, atau menenangkan mereka yang menangis. Bagi Ibu Kepala Panti, Sarah adalah teman sekaligus saudara yang selalu bersamanya.
Kepala Panti melihat Arina Andrews, anak yang sudah dia besarkan itu sedang mengobrol dengan putrinya dengan riang. Arina Andrews selalu tampak dingin di sekitar orang lain, tapi di hadapan orang yang dia percaya Arina Andrews selalu tampil apa adanya.
"Arina, kau bisa mulai berkemas besok, tiga hari lagi kau akan meninggalkan panti asuhan, sesuai dengan perjanjian yang kau buat, setelah ayahmu menikahi Sarah, kau akan pergi bersamanya." Ujar Ibu Kepala Panti pada Arina.
Arina yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya. Setelah itu "Apa itu artinya aku tidak akan bisa sekamar denganmu saat aku sedang kesepian Rina?" Tanya Rania pada Arina.
Arina memeluk sahabatnya, dan menenangkannya. Dia tahu Rania sangat menyayangi dia, dia tahu benar Rania sudah menganggap Arina sebagai seorang saudara. Mereka bagaikan saudari kembar dari kecil hingga remaja ini, tapi Arina sendiri juga enggan berpisah dari Rania.
"Aku akan sering berkunjung, kau juga seringlah berkunjung menemuiku." Ujar Arina pada sahabatnya. Dia memeluk Rania, dan Rania pun membalas pelukan itu. Pemandangan hangat itu membuat semua orang yang ada di sana terharu.
Arina melepaskan pelukannya, dia tahu benar Rania Putri akan tersenyum di tiap kali hal ini terjadi, bagaimanapun dia sudah mengalami banyak perpisahan dengan temannya di panti asuhan. Namun kali ini, entah kenapa yang muncul bukan senyuman melainkan tangisan, air mata Rania yang penuh segera meluncur baik sungai kecil. Rania menangis sejadi-jadinya, Arina yang melihat itu merasa heran, sebab tidak biasanya Rania menangis seperti itu, dalam pikiran Arina dia berpikir apa mungkin sebab Arina adalah satu-satunya anak panti asuhan yang seusia Rania makanya dia menangis?
Arina mengelus rambut coklat milik Rania, menenangkan sahabatnya itu agar tidak terlalu bersedih atas kepergian Arina.
"Jangan menangis, kitakan tetap bertemu saat sekolah." Ujar Arina pada Rania. Rania makin keras menangisinya, dia malah terpikir bagaimana jika dia, dan Arina Andrews nantinya lulus, dan Arina jika benar-benar pergi ke luar negeri.
"Bagaimana jika kita lulus, dan kau meninggalkan aku? Bagaimana jika nantinya kau pergi ke luar negeri seperti yang kau katakan padaku? Apa kau akan meninggalkan aku?" Ujar Rania Putri dengan air mata masih mengalir di pipinya.
"Ayolah aku tidak akan meninggalkan kamu Rania, kalau pun aku pergi keluar negeri seperti kataku padamu, aku tentunya akan mengajakmu." Ujar Arina. Kini setelah mendengarnya Arina, dan Rania mulai sedikit lega. Mereka akhirnya baik satu sama lain.
Arina masuk ke dalam kamarnya, dan merebahkan tubuhnya. Malam ini, dan tiga hari kedepannya Arina akan tidur bersama Rania. Dia akan berpisah dengan sahabatnya, jadi dia ingin membuat momen bagi mereka berdua.
Arina menata bantalnya, membersihkan tempat tidur, dan mematikan lampu, Arina, dan Rania tidak pernah suka jika saat tidur lampu menyala. Arina jadi ingat saat kecil mereka sering membuat anak-anak lain menangis saat akan tidur di kamar Arina, mereka akan menangis, karena Arina selalu mematikan lampu saat tidur, kebanyakan anak takut pada kegelapan, tapi saat tidur bagi Arina otak harus beristirahat, cahaya lampu hanya akan membuat otak terus bekerja. Pengetahuan itu dia dapatkan dari Sarah, akibat kebiasaan Arina tersebut, kebanyakan anak menolak tidur bersama Arina, kecuali Rania yang terkadang tidur di panti asuhan, tidur dengan sahabatnya.
Sampai sekarang Arina Andrews tidak bisa tidur jika lampu tidak mati, dia selalu mematikan lampu saat tidur. Tanpa menunggu waktu yang lama Rania Putri masuk ke dalam kamar Arina. Dia melihat Arina tersenyum pada Rania Putri. Itu mengingatkan mereka pada masa kecil mereka yang indah, sekaligus menyedihkan, Rania yang tumbuh tanpa ayah, dan Arina yang tumbuh tanpa kasih sayang orang tua. Keduanya sama-sama memiliki masa kecil tanpa kasih sayang seorang Ayah. Arina untungnya memiliki Sarah yang sudah seperti ibunya sendiri.
Di saat anak lain bermain di taman, dan di jemput oleh ibu mereka, Arina, dan teman panti asuhannya memiliki Sarah, dan Ibu Kepala Panti. Rania bersyukur masih memiliki seorang ibu, meski dulu ibunya sempat menikah lagi, tapi Rania tidak merasa di cintai sebagai seorang anak yang memiliki ayah, ayah tirinya cenderung hanya mencintai uang ibunya saja. Hingga saat usaha ibunya bangkrut, ayah tiri Rania menceraikan ibunya. Kini dia lebih ingin hidup dengan ibunya saja, meski tanpa ayah dia lebih bahagia, dari pada hidup dengan kasih sayang yang palsu, dia lebih ingin hidup dengan ibunya dengan kasih sayang yang penuh.
Arina Andrews menutup pintu, lalu pergi ke atas tempat tidur. Dia melihat Rania Putri yang sudah terlelap di ranjang atas. Dia melihat temannya lagi, memperhatikan dengan seluruh matanya. Di lihatnya sosok yang tumbuh besar bersamanya, sosok yang selalu ada di saat Arina sedih, senang, dan marah. Sosok yang tidak akan pernah membuatnya bosan meski berjam-jam duduk, dan mengobrol. Dan cerita yang tidak akan ada habisnya meski bertahun-tahun berteman.
Kini sosok itu tidur, dan menikmati malamnya dengan sedikit dengkuran halus. Arina lalu ikut memejamkan matanya, berharap bermimpi terbang di antara rerumputan. Bermimpi menjadi anak-anak lagi, anak-anak yang bahagia tanpa harus kha atir dengan ujian masuk universitas, atau khawatir dengan olimpiade tingkat nasional yang sebentar lagi akan dia, dan Rania putri hadapi.
Selamat malam Arina, semoga mimpi indah.