"Ibu mau kemana? " suara Rara kecil nyaris tak terdengar.
Ibu menoleh sekilas. Mata mereka bertemu sejenak, lalu ibu buru-buru membuang pandangan. Ia mendekat, memeluk Rara sekilas. cepat sekali, seperti orang yang terburu-buru ingin pergi dari mimpi buruk.
"Kamu di sini dulu ya sama ayah. Kalau ada rezeki, kamu dan Alisya ibu jemput," bisiknya pelan, sebelum berbalik.
Rara tak mengerti. Tapi hatinya nyeri, seperti ada yang hilang sebelum sempat digenggam. Ketika mobil itu perlahan menjauh, ia masih berdiri mematung. Air matanya jatuh, tapi tak ia sadari.
"Rara Alina Putri" Namanya terpanggil di podium.
Ia berhasil wisuda dengan peringkat cumlaude, matanya berkaca. kepada siapakah ini pantas di hadiahkan?
Jika hari ini ia berdiri sendiri di sini. Air bening mengalir tanpa terasa, Langkah Kecil Rara sudah sejauh ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Uang Dua Ribu
Rara menyodorkan rapornya ke ayah. Laki-laki itu tidak membukanya, ia hanya mengambil lalu menaruhnya kembali. Rara menahan nafas sejenak, memperhatikan ekpresi ayahnya. Ia menyulut api rokok, menghisap, lalu menghembuskan dengan kasar.
"Nanti malam kita pindah!" laki-laki itu membuka keheningan.
"Pindah kemana, Ayah?" ujar Rara memberanikan diri.
"Rumah sebelah dam embung," jawabnya kemudian.
"Selesai masak, kamu bereskan barang-barang. Jadi nanti malam tinggal angkut." Lelaki paruh baya itu beranjak dari duduknya. Lalu berdiri di depan pintu merenung.
"Kenapa kita pindah lagi, Ayah," Alisya menyambung pembicaraan.
Ayahnya menoleh Alisya, ia berjalan mendekati.
"Yang punya rumah mau pindah kesini." jawab Ayah datar.
Rara merunduk. Ini kedua kalinya mereka pindah. Memang sejak di rumah ini, ayah tidak lagi pernah berjudi.
Awal mereka pindah, rumah ini di penuhi semak belukar. Setelah Ayah membersihkan pekarangan dan menanam singkong, pemilik rumah kembali mengambilnya. Rara menggeleng kecil.
Ia masih mematung di tempatnya berdiri, sementara Alisya sedang berbincang kecil dengan ayahnya.
"Yah, Alisya boleh minta jajan?" ia menatap lelaki itu dengan raut murung.
Ayahnya mengangguk, lalu merogoh kantong bajunya, ia mengeluarkan lembaran dua ribuan.
"Untuk kamu satu," ujar Ayahnya menyodorkan uang dua ribuan ke Rara.
"Terima kasih, Ayah.!" ucap mereka berbarengan.
"Ayah mau ke kebun, Rara jangan lupa pesan Ayah tadi, ya."
Rara mengangguk, senyum mengembang di bibirnya. Sementara Alisya melonjak kegirangan.
Setelah laki-laki paruh baya itu menghilang dari pantauan mata. Rara dan adiknya bergegas mengunci rumah, berniat belanja ke warung, bermodalkan uang dua ribuan yang di beri ayahnya.
"Kak nanti habis belanja, kita main sama kak Arini ya?" Alisya menggandeng tangan kakanya.
Rara melewati jalan setapak ke warung yang berada di pinggir jalan beraspal.
Sebelum sampai di warung mereka berpasasan dengan anak-anak seusianya sedang bermain petak umpet. Rara berusaha menjauhi kerumunan mereka.
"Orang kismin lewat!! Nggak punya ibu ya?" ejek salah seorang di antara mereka, lalu diikuti tawa yang lain.
Rara menatap tajam, anak perempuan yang sama, yang membuat Alisya dimarahi ayah. Rara menarik tangan adiknya menjauh. Hatinya sakit selalu di ejek miskin dan tak punya ibu. Matanya berkaca, tapi ia tahan.
"Kak, kenapa mereka selalu jahat sama kita?" tatap Alisya mengiba.
"Nggak usah didengar dek, nanti kita main lagi yuk?" Rara berusaha menghibur adiknya. Ia tersenyum getir.
Sesampai di warung, mereka membeli jajanan seharga uang dua ribuan yang mereka bawa.
"Coba ya kak, setiap hari kita jajannya?" Alisya bergumam, suaranya getir.
"Kita doakan ya, Ayah banyak rezeki," Rara menenangkan.
Mereka berjalan pulang, dengan arah yang berbeda, Rara sengaja memilih jalan setapak di sebelah persawahan, belakang rumah. Menghindari anak-anak yang tadi mengejeknya.
Alisya berlari kecil, kesenangan, di tangannya membawa tentengan jajanan.
"Pelan-pelan Alisya.." belum selesai bicara, Rara melihat adiknya duduk menangis. Alisya terpeleset, ia tercebur ke pinggir sawah, bajunya berlumpur.
Ia meringis memegangi lututnya. Rara bergegas menghampiri.
"Sudah kakak bilang jangan lari-lari!" Ia membantu adiknya berdiri. Membawanya ke irigasi kecil yang mengaliri sawah, airnya begitu bening. Rara mencuci baju adiknya yang kotor berlumpur. Bau lumpur yang menyengat sudah akrab dengan hidung mereka. Lututnya berdarah, dicuci Rara pelan-pelan
"Sakit kak!" pekik Alisya setengah menjerit. Rara terhenti sejenak, adiknya menangis. Ia memeluk adiknya, lalu menuntunnya berjalan ke rumah. Alisya terseok-seok menahan nyut-nyut di kaki.
"Rara! Alisya!"
Suara Arini mengagetkan mereka. Arini sudah menunggu di halaman depan, mereka memang janjian untuk main masak-masak lagi hari ini.
"Alisya kenapa, Ra?" tanya Arini yang penasaran.
"Jatuh di pematang sawah tadi, Rin." jawab Rara masih memapah adiknya memasuki rumah.
"Eh iya Ra, apa kata ayahmu kemarin?"
"Maksudnya Arini?"
"Ya, cabe yang kamu bawa pulang?" Arini tertawa jenaka. Rara menarik nafas.
"Ayah malah nggak lihat. Sepertinya Ayah juga tak peduli dengan nilaiku." Tatapan Rara sedih. Mengedarkan pandangan ke Arini, mengangkat bahunya pelan. Arini terdiam merasa bersalah.