Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.
Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.
Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.
Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.
____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?
kuyyy ikuti kisahnya ya~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 09 Hari Pernikahan
Hari-hari berlalu, terasa seperti putaran waktu yang bergulir cepat bagi Tamara.
Demi memenuhi permintaan papanya, ia benar-benar menjadi anak penurut yang menyerahkan semua urusan persiapan pernikahan kepada sang Papa.
Sementara ia lebih sering menghabiskan waktu untuk bekerja, sesekali berkabar dengan Arvin. Itu pun hanya untuk urusan pernikahan, bukan memberi waktu untuk membangun hubungan lebih dekat.
Hingga hari pernikahan itu tiba. Hari yang sebenarnya tidak pernah dinantikannya, tapi sekarang benar-benar terjadi dalam hidupnya.
Pagi itu, langit membentang bersih dengan sedikit awan. Cahaya matahari jatuh lembut pada sela dedaunan.
Udara sejuk bercampur aroma wewangian bunga segar, dari dekorasi pelaminan yang dibangun di ruang terbuka.
Para tamu undangan yang sebagian besar dari keluarga dan kerabat dekat, tampak sudah duduk mengisi deretan kursi-kursi menghadap pelaminan.
Di antara keindahan dekorasi yang berkelas, tawa ringan dan riuh rendah obrolan—pandangan mereka tertuju pada meja akad di tengah panggung.
Tamara sudah duduk disana—gaun putih berhias payet kristal membalut tubuhnya dengan anggun. Rambutnya disanggul sederhana, dengan tiara berkilau yang melingkar indah di atas kepala.
Penampilannya, secara menyeluruh memancarkan aura pengantin wanita dengan pesona tenang, anggun dan berkelas.
Jauh berbeda dengan isi kepalanya yang justru sedang gaduh, karena tidak pernah membayangkan hari ini akan terjadi dalam hidupnya.
Sementara Arvin duduk tenang di sampingnya, mengenakan busana serasi yang membuatnya terlihat lebih berwibawa.
Di depan mereka, para saksi dan penghulu terlihat sedang mempersiapkan momen menuju ijab kabul.
Di antara jeda singkat itu, Arvin sempat memperhatikan Tamara—wajah tegang, dengan kedua tangan yang tak bisa diam di atas pangkuan.
Arvin sedikit mendekat. "Masih ada waktu, kalau kamu mau kabur," bisiknya, sudut bibirnya terangkat samar.
Tamara menoleh cepat, matanya sempat membeku sejenak. "Kamu pikir... keadaan memberiku kesempatan untuk kabur sekarang?" balasnya berbisik.
Sorot matanya bergerak ke arah barisan kursi-kursi tamu. Keluarga, kerabat, berkumpul dengan raut wajah bahagia dan antusias.
Di antara orang-orang itu, ada Meliza, dan Tyas yang datang bersama putrinya—duduk di barisan utama seperti pendukung garis depan.
Arvin tersenyum tipis. "Kalau gitu, duduk saja dengan tenang di sampingku."
Tamara tak menggubris, tapi hatinya menggerutu, Dari tadi aku udah duduk di samping kamu, cuman sedikit gugup aja.
Ia pun tak mengerti, nyali yang biasanya selalu menyala, tiap kali menghadapi rapat penting dengan direksi ataupun investor—kali ini justru mendadak luruh.
Tamara menarik napas panjang, lalu menegakkan punggung, tetap berusaha menjaga sikap. Satu hal yang ia tahu: cepat atau lambat, momen ini pasti akan berlalu.
Suasana langsung berubah lebih tenang, ketika akad nikah dimulai. Rudi yang duduk di hadapan mempelai, menjabat erat tangan calon menantunya untuk menikahkan langsung putrinya.
Arvin duduk tegak, dengan sorot mata penuh kesungguhan. Suaranya tegas dan stabil saat mengucapkan kalimat ijab kabul.
Acara berlangsung khidmat. Semua orang menatap dan tak berani bersuara, seolah turut berdoa dalam diam menyaksikan janji suci yang diucapkan.
Hingga terdengar seruan kata "Sah" dari para saksi, yang menandai selesainya proses sakral itu, disusul pembacaan doa dan rangkaian acara lainnya.
Rudi tersenyum penuh haru, melihat Tamara bersanding dengan Arvin—laki-laki yang ia percayakan untuk memiliki dan menjaga putrinya.
Meski ada rasa kehilangan yang diam-diam menghantam, karena artinya ia harus melepaskan peran yang paling ia cintai sepanjang hidupnya, yaitu menjadi dunia bagi putrinya.
Rudi menunduk, menyembunyikan matanya yang mulai basah. Bukan karena kesedihan, tapi karena rasa syukur mendalam karena telah mengantarkan putrinya menuju gerbang kehidupan baru.
Sedangkan Tamara baru mengalihkan pandangan ke arah papanya. Rasa sesak seketika menekan dadanya, melihat pria itu tertunduk sambil mengusap air mata haru.
Ada campuran perasaan yang sulit ia jelaskan. Ia senang melihat senyum di wajah papanya hari ini—tampak sangat lepas dari biasanya.
Tapi di saat bersamaan, Tamara juga merasa sedih saat menyadari satu kenyataan.
Setelah ini ia akan lebih berjarak dengan pria yang selama ini menjadi pilar di hidupnya, walau sebenarnya ikatan mereka benar-benar tidak berubah.
Tiba-tiba saja terlintas begitu banyak potongan memori kebersamaan dengan sang Papa, yang memantik perasaan terdalamnya—bahwa ia pernah mendapat cinta yang begitu besar dan tulus lebih dari apapun.
Air matanya jatuh tanpa sempat ia menyadarinya, sampai tangan Arvin menyentuh pipinya.
Tamara sedikit tersentak, saat jari Arvin mengusap bulir bening itu dengan lembut, penuh kehati-hatian.
Ia menoleh ke samping, mendapati wajah suaminya itu sudah sedikit lebih dekat.
"Kalau kamu nangis begini, nanti orang-orang mengira kamu beneran dipaksa nikah," kata Arvin. Sedikit bercanda, dengan suara yang hanya mereka berdua bisa mendengarnya.
Tamara menahan napas sebentar, ia tahu kalimat itu hanya bentuk penghibur. Namun wajahnya sedikit menunduk, karena menyadari laki-laki itu telah melihat sisi rapuhnya.
"Memang aku dipaksa." Ia menanggapi sekenanya.
Arvin menahan tawa, tapi matanya menatap lembut.
"Tapi kamu tetap datang dengan sukarela, padahal kamu punya banyak kesempatan buat kabur," bisiknya lagi.
Tamara menoleh ke arah suaminya lagi. Ia tetap menjaga sikap, karena mereka masih menjadi pusat perhatian.
Senyumnya sedikit lebar, terkesan dipaksakan. Tapi, justru menyimpan maksud lain.
"Ingat ya... aku nikah karena permintaan Papa, bukan beneran mau jadi istri kamu, nggak usah geer." Nada bicaranya pelan. Namun, terdengar ketus.
Arvin sedikit lebih mendekat. Wajahnya tetap tenang, sambil mengusap lembut sisa air mata di pipi Tamara.
"Nggak masalah... " katanya.
Sorot matanya tak sedikit pun melepaskan, jarinya berpindah sedikit merapikan rambut di sisi wajah Tamara.
" ...Yang penting, kamu tahu kemana arah jalan pulang kamu sekarang," suaranya lembut, tenang, dan tidak ada celah candaan.
Tamara membeku, mulutnya terkatup rapat seperti tak berniat mengeluarkan suara apapun. Namun, semakin lama ia memandang sepasang mata teduh Arvin, degup jantungnya justru lebih berisik di telinganya sendiri.
Arvin memang selalu tahu cara membuatnya terdiam, dan itu yang membuatnya selalu gelisah tiap berada di dekat laki-laki itu.
Sementara itu, di barisan kursi tamu yang sudah kembali dipenuhi canda tawa dan obrolan samar, Meliza baru menurunkan kamera ponsel.
Ia senyum-senyum sendiri, saat kembali melihat hasil bidikan lensa super zoom ponselnya barusan.
Tyas yang duduk di sebelah memperhatikannya, langsung bertanya, "Kenapa sih, Mel?"
Meliza memperlihatkan layar ponsel ke depan Tyas. "Lihat deh pengantin baru kita, gemes banget tau."
Tyas sedikit mendekat, melihat video itu bersama Meliza.
Layar menampilkan sosok Arvin dan Tamara tampak mengobrol dekat. Tapi karena di ambil dari kejauhan pada sudut berbeda, yang terlihat justru interaksi manis yang menipu.
Dalam video, terlihat Arvin mengusap lembut air mata Tamara yang seolah sedang menangis haru. Keduanya saling tatap, sesekali senyum, hingga perlakuan manis Arvin saat merapikan rambut Tamara—tanpa ada yang tahu pasti isi pembicaraan keduanya.
Senyum Tyas melebar, seolah baru menemukan tontonan yang menggemaskan.
"Ini Tamara nggak mungkin sih nggak luluh sama cowok modelan begini," ujar Tyas berkomentar.
Meliza mengangkat bahu, lalu menyeletuk ringan. "Sumpah ya, kalau punya suami cakep, perlakuannya manis kayak gini... kebangetan kalau Tamara sampai nggak klepek-klepek."
"Iya juga sih. Yang ini jelas beda banget sama cowok-cowoknya Tamara sebelumnya," kata Tyas.
Meliza mengangguk sepakat, lalu menatap ke arah Tamara dan Arvin yang sudah naik ke pelaminan.
"Akhirnya ya... nggak nyangka deh sohib kita—si paling anti nikah, malah udah jadi istri orang sekarang," gumamnya.
Tyas mengikuti arah pandangannya, kedua perempuan itu kompak menatap sahabatnya dari kejauhan dengan senyum penuh haru.
Hingga suara Meliza tiba-tiba terdengar pelan. "Kalau orang sudah nikah, dia bakal lebih fokus sama suaminya nggak sih?" tanyanya.
"Iya sih kayaknya," jawab Tyas apa adanya.
Ia melirik ke arah gadis kecil yang duduk di sampingnya, lalu mengusap pelan puncak kepala anak itu, sambil menambahkan, "Prioritasnya bakal beda, Mel."
Meliza menghela napas, wajahnya sedikit lesu karena menyadari satu kenyataan yang menghantam.
"Hmm... padahal masih pengen sering ngabisin waktu bareng Tamara, kayak biasa. Waktu dia belum nikah aja, kita udah susah banget buat ngumpul, apalagi sekarang udah nikah," tuturnya, suaranya mendadak lebih kalem dari biasanya.
"Tapi nggak papa, deh. Aku turut bahagia kok," katanya lagi.
Tyas menepuk pundaknya pelan. "Duh, Mel.... Tamara tuh cuma nikah, bukan pindah ke luar negeri," celetuknya ringan.
Ia terkekeh pelan, kemudian mencoba sedikit menghibur. "Kita masih bisa kok ketemu kayak biasanya, mungkin waktunya aja yang sedikit terbatas."
Meliza tergelak ringan, menepuk-nepuk ringan jidatnya. "Iya juga ya... Kok aku jadi ngedrama gini sih, padahal lagi nggak syuting."
Tawa riang kembali mengisi obrolan kecil mereka, hingga Meliza menghentikan tawanya.
"Eh tapi, aku udah nyiapin hadiah khusus, loh. Tamara pasti suka, deh," ujarnya pelan, namun semangatnya kentara.
Tyas langsung menoleh, matanya menyipit. "Emang apaan?" tanyanya.
Meliza langsung membisikkan sesuatu ke daun telinga Tyas, membuat perempuan itu membelalakkan mata.
Ia menatap Meliza tak percaya, alisnya terangkat tinggi. "Yang bener aja kamu, Mel?"
Meliza mengangguk sembari menahan tawa. "Aku jamin, Tamara bakal suka," bisiknya.
Tyas hanya menggeleng pelan, sedangkan Meliza tersenyum penuh arti, sorot matanya berkilat nakal—seperti menemukan kesenangan baru.
BERSAMBUNG...
arvin godaanmu sampai ke hatiku🤣
. yg lagi mahal sekarang🥺