NovelToon NovelToon
Istri Bodoh Tuan Mafia

Istri Bodoh Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Bullying dan Balas Dendam / Mafia / Roman-Angst Mafia / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:846
Nilai: 5
Nama Author: Nadinachomilk

Seyna Darma, gadis yang dianggap bodoh karena trauma kematian kedua orang tuanya, hidup dalam siksaan paman dan bibi yang kejam.
Namun di balik tatapannya yang kosong, tersimpan dendam yang membara.
Hingga suatu hari ia bertemu Kael Adikara, mafia kejam yang ditakuti banyak orang.
Seyna mendekatinya bukan karena cinta, tapi karena satu tujuan yaitu menghancurkan keluarga Darma dan membalas kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 PREPARE

"Apakah semuanya sudah dilakukan?"tanya Seyna sambil melirik ke arah Risa.

"Sudah nona, tapi apakah nona yakin?"tanya Risa.

Seyna tidak menjawab hanya menatap beberapa lukisan yang diminta Alisha dikamarnya, ia sudah menyimpan satu lukisan yang akan mempermalukan Alisha di depan banyak orang.

"Tenang saja, rencana ini aku sudah atur matang matang. Lagi pula ini yang bisa kulakukan untuk mulai menjatuhkan Alisha," ucap Seyna nada suaranya datar, bahkan ia tak menunjukan ekspresi wajahnya.

"Sendirikan lukisan ini, karena ini yang akan menjadi penentu untuk mempermalukan Alisha," Seyna menunjuk satu lukisan yang sudah ia tutupi kain merah.

Risa hanya mengangguk lalu, segera membawa lukisan itu keluar dari kamar Seyna. Sebelum membuka pintu, tiba tiba pintu itu terbuka oleh seorang gadis yang tak lain adalah Alisha.

"Apakah itu lukisan utama ku?"tanya Alisha segera mengambil lukisan dari tangan Risa dengan kasar.

Seyna hanya menatapnya datar sambil memakan permennya. Sedangkan Risa segera membuka penutup kain itu, terkihat sebuah gambar seorang gadis di taman bunga yang bermekaran.

"Bagus, bawa ini dan minta pelayan yang lain untuk membawa lukisan ini ke dalam mobil!" suruh Alisha dengan tegas.

"Baik nona Alisha," Risa segera menerima lukisan itu dan pergi ke luar dari kamar.

Setelah Risa pergi, Alisha segera menatap ke arah Seyna yang sedang menatapnya datar sambil memakan permen.

"Good joob Seyna, dengan lukisanmu kau membuatku bisa masuk ke keluarga Wicaksana," bisik Alisha mendekat ke arah Seyna.

Seyna yang mendengar itu hanya tersenyum sinis, lalu segera menatap ke arah Alisha dan mengangguk anggukan kepalanya seolah paham apa yang dikatakan.

"Tapi...mulai hari ini aku akan merebut lagi yang seharusnya milikku," ucap Seyna sambil menepuk nepuk pundak Alisha.

Alisha yang melihat tatapan tajam Seyna, seketika menegang.

"Kenapa kau berubah?"tanya Alisha sambil melangkah mundur.

Seyna malah berjalan mendekat terus mendekat lalu segera menarik tangan Alisha agar tidak menjauh dari hadapannya.

"Aku tidak pernah berubah, aku juga tidak bodoh. Ini sifat asliku setelah sekian lama diperlakukan semena mena dengan keluargamu," ucap Seyna sambil tertawa terbahak bahak.

Mendengar tawa itu Alisha bukan senang, tapi merasa takut ia melihat sosok lain dari Seyna yang semua anggap bodoh.

Alisha mundur perlahan, napasnya memburu. Ruangan itu kini terasa sempit, seolah udara menolak masuk. Sorot mata Seyna yang biasanya datar kini penuh kegilaan pupilnya melebar, senyumannya melengkung miring.

"Jangan lihat aku seperti itu, Alisha," ucap Seyna pelan, suaranya bergetar namun penuh tekanan.

"Kau yang memintaku melukis. Kau yang menjadikan aku alat. Dan sekarang kau pikir aku akan diam saja?tunjukan tatapanmu yang mengintimidasi."

Alisha menelan salivanya, suaranya tercekat. Entah kenapa perasaan takut masuk ke dalam tubuhnya.

"Kau... kau cuma salah paham, Seyna. Aku—"

"Diam!" teriak Seyna tiba-tiba, membuat Alisha terlonjak.

 Seyna menatapnya tajam, kemudian perlahan memasukkan tangannya ke saku rok. Ia mengeluarkan gunting kecil masih ada sisa cat merah di ujungnya, seperti baru saja digunakan.

"Dulu, aku selalu takut. Takut pada tatapanmu, takut pada kata-katamu. Tapi sekarang aku sadar… rasa takut itu menyenangkan, dan yang terpenting aku akan membalas rasa takut itu," ucap Seyna sambil memutar-mutar gunting di tangannya, ujung logamnya berkilau karena terkena cahaya lampu.

Langkahnya mendekat, pelan tapi pasti. Seolah ia akan menghunuskan gunting itu ke siapa saja yang ada di depannya.

"Jangan dekati aku!" seru Alisha panik, tubuhnya gemetar.

Seyna hanya terkekeh, tawa itu pelan tapi mengerikan bagi siapa saya yang mendengarnya.

"Lucu ya… dulu aku memandangmu seperti keluarga. Sekarang aku lebih suka melihatmu hancur berkeping keping."

Gunting itu kini diayunkan ringan, seolah hanya sebuah mainan. Tetapi Alisha yang melihat itu sangat ketakutan.

"Kalau saja aku potong sedikit rambut indahmu ini… apa kau masih akan tersenyum manis seperti di depan keluarga Wicaksana?" bisik Seyna seraya mendekat, ujung gunting hampir menyentuh pipi Alisha.

Alisha menjerit kecil dan mendorong Seyna sekuat tenaga, lalu berlari keluar ruangan. Nafasnya tersengal, tumit sepatunya beradu dengan lantai marmer menghasilkan sebuah gema yang menambah kesan panik dari Alisha.

Di belakangnya, terdengar tawa Seyna yang menggema di koridor. Tawa itu bukan tawa manusia biasa.

"Lari saja, Alisha…" teriak Seyna dengan nada menertawakan.

"Tapi ingat… aku akan ambil lagi semuanya. Semuanya yang seharusnya milikku!"

Alisha terus berlari tanpa menoleh, tapi di telinganya, suara tawa Seyna seperti terus mengejarnya.

"Dia dia sudah gila..." ucap Alisha saat melihat keluarga yang sedang berada di ruang tengah.

"Siapa yang gila?kenapa kamu panik sekali?"tanya Reni yang tampak khawatir melihat anaknya ketakutan.

"Seyna..seyna dia gila," ucapnya sambil mengatur nafasnya.

Raihan yang mendengar ucapan adiknya tertawa kencang, ia merasa hari ini adiknya itu aneh.

"Mana mungkin gadis bodoh itu?kau pasti bercanda," ucap Raihan masih mencoba menahan tawanya.

"Aku beneran dia...dia sudah gila bahkan dia tadi membunuhku," ucap Alisha wajahnya sudah pucat pasi.

Mendengar itu Reni dan Dirga hanya saling pandang, sedangkan Raihan masih tertawa melihat wajah adiknya yang ketakutan.

"Sudah lah, pasti itu cuman halusinasi," ucap Reni menenangkan putrinya.

Dirga dan Reni masih berusaha menenangkan Alisha yang gemetaran di pelukan ibunya. Reni mengusap punggung putrinya lembut, berusaha membuat napas Alisha teratur.

"Sayang, tenang dulu ya mungkin kamu kelelahan karena persiapan pameran," ucap Reni lembut, meski dalam hatinya ada rasa was-was yang sulit dijelaskan.

Dirga yang duduk di sebelahnya ikut menimpali, "Iya, Alisha. Seyna nggak mungkin berbuat hal seperti itu. Dia kan selama ini bodoh."

Reni menatap suaminya singkat, seolah meminta kepastian dari tatapan matanya sendiri apakah benar mereka masih bisa yakin dengan Seyna setelah semua yang baru Alisha katakan? Tapi Dirga hanya menggeleng pelan, mencoba menyangkal perasaan aneh yang mulai tumbuh di benaknya.

"Tidak mungkin Seyna seperti itu, dia kan sudah lama bersama kita," bisik Dirga di kuping sang istri.

Sementara itu Raihan, yang sejak tadi hanya bersandar di sofa, malah tertawa semakin keras.

"Hahaha… Alisha ini kebanyakan stres! Seyna yang bodoh itu gila? Yang bener aja, Lis," cibirnya sambil menepuk nepuk pahanya.

Namun tawa itu seketika berhenti saat suara langkah cepat terdengar dari arah tangga. Semua kepala menoleh hampir bersamaan.

Seyna turun dengan gaun putih sederhana dan rambut dikuncir setengah, berlari kecil seperti anak kecil yang baru menemukan mainan. Di tangannya ada permen berwarna merah muda, dan wajahnya terlihat sangat polos seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

"Paman! Bibi!" serunya sambil tersenyum lebar.

"Seyna diajak juga kan?"

.....

MOHON DUKUNGANNYA JANGAN LUPA VOTE,LIKE,KOMEN SEBANYAK BANYAKNYA TERIMAKASIHH

Jangan lupa follow buat tau kalau ada cerita baru dari othorrr!!

1
Bu Dewi
seru, lnjut lagi kak.. hehehhehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!