"Hi, Señorita!" Nero tersenyum miring seraya mengacungkan senjata api tepat di kening Elle.
"Kau ingin membunuhku?!" Elle terisak ketakutan saat pria itu hendak menarik pelatuk senjata apinya. Sebentar lagi dia akan mati.
DOR!
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Nero ingin melenyapkan wanita yang sangat dicintai.
Penasaran? Ikuti terus kisahnya. Dan jangan lupa, Follow IG Author @Thalindalena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan sampai meleset!
Ele menghembuskan nafas kasar. Pipinya menggembung seperti ikan buntal, tangannya bersedekap, seraya melirik sinis pada Nero.
Ya, pada akhirnya ia mengalah. Memilih mengikuti keinginan pria itu. Berlatih menembak.
Nero mengenalkan berbagai macam senjata api yang berjajar rapi di atas meja. "Ini adalah jenis senjata ringan. pistol, revolver, dan senapan laras ganda." Nero menunjuk satu persatu senjata tersebut.
Meski kesal dan jengkel, Ele tetap mendengar dan memperhatikan penjelasan Nero mengenai jenis-jenis senjata api.
"Pertanyaannya, kenapa aku harus belajar menembak? Sedangkan kehidupanku selalu terjamin keamaannya. Seperti dua bodyguard itu yang selalu menjagaku misalnya!" Ele menunjuk dua bodyguardnya yang berdiri di dekat pintu.
Nero menyeringai tipis mendengar pertanyaan gadis itu. "Ternyata kau masih sama seperti dulu, sangat polos dan bodoh!" Alih-Alih menjawab, Nero malah memaki gadis itu.
Kedua mata Ele melotot mendengar makian Nero. Ingin melayangkan protes tapi urung saat mendengar pria itu kembali bicara.
"Dunia ini kejam. Kau tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Jadi, untuk berjaga-jaga lebih baik kau berlatih menembak. Ini demi kebaikanmu, karena tak semua orang bisa melindungimu setiap saat!" Nero akhirnya menjelaskan pada Ele agar gadis itu paham dan tidak meremehkan lagi.
Ele terdiam, mendengar penjelasan Nero yang merasuk ke dalam otaknya. Ia tersentak kaget saat Nero tiba-tiba melemparkan pistol padanya. Untung saja tangannya cekatan menangkapnya.
"Untuk pemula, gunakan pistol saja," ucap Nero lalu meminta salah satu anak buahnya memasang papan target di depan sana dengan jarak 20 meter.
Sebelum memulai, Nero memberitahu teknik dasar menembak. Bahkan ia memberikan contoh pada gadis itu.
Nero berdiri dengan kaki selebar bahu, tubuh sedikit miring ke arah target. Tangan yang dominan memegang senjata, sementara tangan yang lain mendukung.
"Pegang yang Mantap. Pegang senjata dengan tangan dominan, dengan tangan pendukung menahan bagian bawah atau samping senjata untuk stabilitas tambahan. Untuk relaksasi otot jangan mengepalkan tangan terlalu kuat. Pegangan yang terlalu kencang dapat menyebabkan ketegangan dan mempengaruhi akurasi." Nero memberikan arahan lagi, dan Ele mengangguk paham.
"Tarik napas dalam-dalam dan buang napas perlahan. Tahan napas sejenak saat akan menembak untuk meminimalkan gerakan tubuh. Lepaskan tembakan pada saat jeda antara tarikan dan hembusan napas, ketika tubuhmu paling stabil. Tarik pelatuk dengan gerakan yang lembut dan konstan menggunakan bantalan ujung jari telunjuk. Hindari jerking, jangan menarik pelatuk dengan gerakan tiba-tiba, karena ini dapat menyebabkan senjata bergerak dan tembakan meleset." Nero melirik Ele yang memperhatikannya dengan serius. Ia tersenyum tipis, lalu kembali fokus ke papan target.
Setelah menjelaskan se-detail itu, Nero langsung melesatkan tembakan ke papan target di depan sana.
DOR!
Tepat sasaran. Tembannya tepat di titik tengah.
"Sekarang giliranmu!" Nero meminta Ele maju.
"Rasanya kurang menarik jika targetnya hanya titik merah," kata Nero, lalu meminta Botak maju ke depan.
"Tu-Tuan, saya belum mau mati!" pekiknya panik saat Nero memintanya memegang apel hijau di atas kepalanya yang pelontos. Kakinya gemetar, karena sangat ketakutan, ia belum siap mati.
"Kau gila! Kenapa menjadikan Paman Botak target? Kalau tembakanku meleset bagaimana?!" protes Ele, marah pada Nero.
"Maka dari itu jangan sampai meleset. Sekarang nyawa Botak ada di tanganmu. Ayo, mulai tembak!"
Tidak!!
Botak berteriak sambil memejamkan mata. Kedua kakinya gemetar, dan tak berselang lama ia ngompol.
Dor!!
Botak yang biasanya galak bisa gugup ketika Berta bersikap santai.
Berta berani menolak Botak yang ingin mengajak bicara di paviliun. Tidak ingin Cammora salah paham, Berta ingin bicara ya di dapur saat ini dia berdiri.
Mamfuuus kau Botak. Di skakmat Berta baru tahu rasa kau Botak. Dulu sangat menghina Berta. Kini Berta terlihat cantik seperti tak rela Cammora yang mendapatkan Berta.
Malu gak Botak - Cammora tahu kalau Botak berusaha mempengaruhi calon istrinya.
Bukannya malu - malah menuduh Cammora merubah Berta gadis polos menjadi berani dan membangkang.
Nah lo...benar apa kata Cammora.
Jadi diejek Cammora.
Cammora tak segan selalu memuji kecantikan Berta.
Cammora ingin segera menikah dengan Berta.
Berta setuju selama niat Cammora baik. Berta ingin Cammora menemui keluarganya lebih dulu.
Berkat Cammora, Berta menjadi percaya diri.
Berta mengatakan kalau Cammora sudah melamar - Elle syok mendengarnya.
Elle memperhatikan cincin berlian yang tersemat di jari manis Berta. Elle sangat kagum melihatnya. Dia tahu itu cincin berlian dari Balagcia edisi terbatas.
Elle ikut bahagia sampai memeluk Berta.
Botak yang suka marah dan menghina Berta, kini cuma bisa diam ketika tahu kalau Cammor telah melamar Elle.
Tahu Berta cantik dan sudah dilamar Cammora, kenapa Botak baru protes pada Elle.
Sikap dan perlakuan Botak terhadap Berta saja tidak pernah baik. Nikmati saja penyesalanmu Botak.
Dulu gak perduli sekarang kelimpungan kan...
dulu km hina berta terus, galak sekarang ada pria yg meragukan berta dan bikin percaya diri looo🤣🤣🤣