NovelToon NovelToon
Admiral Of Bismarck: The Second War Rises In Another World

Admiral Of Bismarck: The Second War Rises In Another World

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan / Summon / Barat
Popularitas:531
Nilai: 5
Nama Author: Akihisa Arishima

Bismarck telah tenggelam. Pertempuran di Laut Atlantik berakhir dengan kehancuran. Kapal perang kebanggaan Kriegsmarine itu karam, membawa seluruh kru dan sang laksamana ke dasar lautan. Di tengah kegelapan, suara misterius menggema. "Bangunlah… Tebuslah dosamu yang telah merenggut ribuan nyawa. Ini adalah hukumanmu." Ketika kesadarannya kembali, sang laksamana terbangun di tempat asing. Pintu kamar terbuka, dan seorang gadis kecil berdiri terpaku. Barang yang dibawanya terjatuh, lalu ia berlari dan memeluknya erat. "Ana! Ibu kira kau tidak akan bangun lagi!" Saat melihat bayangan di cermin, napasnya tertahan. Yang ia lihat bukan lagi seorang pria gagah yang pernah memimpin armada, melainkan seorang gadis kecil. Saat itulah ia menyadari bahwa dirinya telah bereinkarnasi. Namun kali ini, bukan sebagai seorang laksamana, melainkan sebagai seorang anak kecil di dunia yang sepenuhnya asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akihisa Arishima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kisah Cinta Ayah dan Ibu (bag.2)

Setelah selesai makan malam, Anastasia dan August diam-diam berjalan menuju kamar Louisiana, mengingat janji yang dibuat sore tadi. Mereka mengetuk pintu dengan hati-hati.

"Masuklah," ujar Louisiana dengan suara tenang.

Mereka berdua membuka pintu, lalu menutupnya kembali dengan pelan sebelum duduk di hadapan Louisiana.

"Hmm..." Louisiana menatap mereka sejenak dengan senyum misterius. "Karena tadi sore aku hanya menceritakan tentang kisah cinta segitiga orang tua kalian, bagaimana kalau kali ini kita mulai dari awal? Dari saat mereka pertama kali bertemu di akademi?" katanya, suaranya penuh nada nostalgia.

Anastasia dan August saling berpandangan, lalu mengangguk penuh antusias.

Louisiana tersenyum, menyesap secangkir teh di mejanya sebelum mulai bercerita. "Duduk yang nyaman... Kisah ini akan menjadi perjalanan panjang," katanya, lalu mulai menuturkan cerita dari awal, saat Heinrich, Seraphina, dan Liliana pertama kali dipertemukan di akademi.

Heinrich von Siegfried berasal dari garis keturunan Siegfried, keluarga para kesatria terhormat. Sejak kecil, ia dididik dengan keras untuk menjadi seorang kesatria sejati dan dikirim ke Akademi Eisenwacht, tempat para calon penyihir dan kesatria terbaik dilatih.

Di akademi, Heinrich menunjukkan bakat luar biasa. Ia meraih nilai tinggi dalam ujian teori maupun praktik, sehingga ditempatkan di kelas A, kelas khusus bagi murid-murid dengan nilai akademik tertinggi.

Ketampanannya serta status bangsawannya membuatnya populer di kalangan para gadis. Banyak orang tua berharap putri mereka bisa menjadi pendampingnya. Namun, Heinrich yang bersikap acuh tak acuh tidak tertarik pada pergaulan dan lebih memilih fokus pada studinya.

Suatu hari, saat ujian semester, seluruh kelas—dari kelas S hingga kelas E—digabung untuk menjalani ujian kelompok. Setiap kelompok terdiri dari empat orang, dan mereka harus bertarung untuk merebut bendera yang memiliki nilai tertentu. Nilai ini akan mempengaruhi rapor akhir mereka.

Karena Heinrich tidak memiliki teman dekat, ia akhirnya ditempatkan dalam kelompok secara acak. Kelompoknya terdiri dari dirinya sendiri dan Liliana dari kelas A, serta dua murid dari kelas E, Tiara dan Seraphina.

Saat mereka berkumpul, Seraphina langsung menyapa dengan ceria, "Halo~!" katanya dengan suara riang.

"H-ha-halo..." Liliana menjawab gugup.

Heinrich hanya menatap Seraphina dengan diam. Matanya mengamati gadis berambut perak dengan telinga kucing yang kecil dan mungil itu. Tanpa sadar, ia bergumam, "Pendek... kecil..."

"Unyaaaaaa!!! A-APA MAKSUDMU PENDEK DAN KECIL?!" Seraphina berteriak kesal. Ia mencoba memukul Heinrich dengan gaya khas kucingnya, tetapi Tiara dengan sigap menahannya.

"Lepaskan aku, Tiara! Biarkan aku menghajarnya!" Seraphina meronta-ronta.

Tiara hanya terkekeh. "Sudah-sudah, kita harus fokus pada ujian."

Liliana menunduk malu dan berkata pelan, "Ma-maaf..."

Seorang guru kemudian berdeham keras untuk menarik perhatian semua murid.

"Ehem... Baiklah, cukup perkenalannya! Saya akan menjelaskan aturan ujian kelompok kali ini," ucapnya dengan suara tegas, membuat seluruh murid segera terdiam dan fokus mendengarkan.

Ia melangkah ke depan papan besar yang telah disiapkan di lapangan akademi dan mulai menjelaskan, "Ujian kali ini adalah ujian kelompok yang menguji kerja sama tim, strategi, dan kemampuan tempur kalian. Setiap kelompok akan beranggotakan minimal empat orang dan akan ditempatkan di area ujian yang telah ditentukan."

Sang guru lalu menunjuk sebuah peta besar yang memperlihatkan medan ujian. "Tujuan utama kalian adalah mengumpulkan bendera sebanyak mungkin dalam waktu 6 jam. Setiap bendera memiliki nilai berbeda tergantung pada lokasinya. Semakin sulit dijangkau, semakin tinggi nilainya."

Beberapa murid mulai berbisik di antara mereka, tetapi guru itu segera melanjutkan dengan nada lebih tegas, "Namun, jangan kira kalian bisa mengambil bendera begitu saja! Setiap bendera dijaga oleh monster penjaga dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Selain itu, kalian juga bisa mencuri bendera dari kelompok lain. Oleh karena itu, strategi dan kerja sama tim sangatlah penting dalam ujian ini!"

Ia menyapu pandangannya ke seluruh murid sebelum melanjutkan, "Kelompok dengan nilai tertinggi akan mendapatkan penghargaan, sementara yang gagal mencapai batas minimal poin akan menerima hukuman akademik. Saya harap kalian semua sudah siap!"

Beberapa murid tampak menegang mendengar kata "hukuman akademik," sementara yang lain justru bersemangat.

Guru itu lalu menutup penjelasannya dengan berkata, "Baiklah, jika tidak ada pertanyaan, bersiaplah! Ujian akan dimulai dalam lima belas menit. Gunakan waktu ini untuk menyusun strategi dengan kelompok kalian!"

Setelah itu, setiap kelompok mulai fokus menyusun strategi mereka untuk menyelesaikan ujian.

Saat mereka memasuki hutan yang menjadi medan ujian, deru napas terdengar lebih berat, dan ketegangan terasa di udara. Dari balik pepohonan, suara gemuruh terdengar—monster penjaga bendera mulai mendekat.

"Bersiap!" Heinrich menggenggam pedangnya erat, tatapannya tajam meneliti pergerakan di antara rimbunan pohon.

Tiba-tiba, seekor Iron Fang Wolf—serigala raksasa dengan taring berkilau seperti baja—melesat ke arah mereka dengan kecepatan luar biasa. Heinrich refleks mengangkat pedangnya, menangkis cakarnya yang terayun ganas. Benturan itu menghasilkan percikan api, disertai suara dentingan tajam saat baja bertemu dengan cakar sekeras besi.

"Stone Bind!" Liliana mengucapkan mantranya dengan lantang. Seketika, gundukan tanah mencuat dari dalam bumi, melilit kaki serigala dan menghambat gerakannya.

"Bagus, sekarang giliranku!" Tiara menarik busurnya, anak panah berkilauan dengan energi sihir. "Piercing Shot!" Ia melepaskan anak panah dengan akurasi sempurna, menembus mata serigala tersebut. Monster itu melolong kesakitan, tubuhnya melemah.

Namun, sebelum sempat runtuh, tiba-tiba seekor Armored Ogre—monster raksasa berbaju zirah—muncul dari semak-semak. Dengan gada besar di tangannya, ia mengayunkan senjatanya ke arah Heinrich. Kelompok mereka terkepung oleh dua monster sekaligus.

"Tch! Makhluk besar yang merepotkan!" Heinrich melompat ke belakang, menghindari serangan itu dengan gesit.

"Aku akan menghadapinya!" Seraphina berlari ke depan, tubuhnya melesat cepat seperti bayangan. Dengan dua pedang di genggamannya, ia melompat ke pundak sang ogre, menancapkan senjatanya dengan kuat.

"Tahan dia di posisi itu, Seraphina!" Liliana segera merapal mantra. "Flame Lance!" Dari telapak tangannya, tombak api melesat cepat, menghantam dada sang ogre dan meledakkan sebagian zirahnya.

Monster itu mengaum marah, tetapi Seraphina hanya menyeringai. "Terlambat!" Dengan kekuatan penuh, ia menebas leher ogre menggunakan kedua pedangnya, lalu menghantamkan tubuh raksasa itu ke tanah dengan keras.

BRAK!!!

Tanah bergetar saat tubuh besar itu roboh. Debu mengepul, menandakan kemenangan mereka.

Heinrich menyarungkan pedangnya dan meraih bendera yang kini tak lagi dijaga. "Bagus. Satu lagi untuk kita."

Liliana menghapus keringat di dahinya dan tersenyum lega. "Kerja bagus, semuanya."

Tiara menghela napas dan mengangguk. "Kita tidak boleh lengah, masih banyak bendera yang harus kita rebut."

Seraphina menepuk tangannya untuk membersihkan debu. "Unya~! Itu terlalu mudah! Ayo cari tantangan yang lebih besar!" ujarnya dengan nada ceria.

Heinrich hanya mendengus kecil sambil mengalihkan pandangannya. "Jangan terlalu percaya diri, pendek."

"UNYAAAA!! APA KAU BARU SAJA MENYEBUTKU PENDEK, HEINRICH!?" Seraphina langsung melompat, mencoba memukulnya dengan gaya kucing khasnya.

Tiara tertawa kecil, sementara Liliana hanya bisa menggelengkan kepala dengan senyum tipis. Mereka mungkin berasal dari kelas yang berbeda, tetapi tidak bisa disangkal—kelompok ini bekerja sama dengan sangat baik.

Dalam pertarugan, kelompok Heinrich terlihat sangat kompeten. Liliana berperan sebagai penyihir yang mendukung dari belakang, Tiara sebagai pemanah yang menyerang dari jarak jauh, sementara Heinrich dan Seraphina bertarung di garis depan.

Namun, karena mereka berasal dari kelas non-unggulan, kelompok mereka hanya berhasil meraih peringkat ketiga. Meski demikian, hasil ini sudah sangat luar biasa, mengingat mereka harus bersaing dengan para murid dari kelas S yang lebih berbakat.

Setelah ujian berakhir, Heinrich dan Liliana memutuskan untuk mendaftar sebagai petualang di guild untuk mencari uang tambahan. Tiara kembali ke rumahnya, sementara Seraphina menghilang entah ke mana.

Pada awalnya, mereka mengira Seraphina tidak akan ikut. Namun, begitu tiba di depan guild, mereka justru mendapati gadis itu sudah berdiri di sana dengan wajah cemberut, ekornya bergerak-gerak tidak sabar.

"Hmph! Kalian lama sekali!" katanya dengan nada kesal, mengetuk-ngetukkan kakinya ke tanah.

Heinrich mengangkat alis, menyilangkan tangan di dadanya. "Aku kira kau tidak akan ikut... Cebol."

Seraphina seketika membelalakkan mata, telinganya menegak. "U-Unyaa?! APA KAU BARU SAJA MEMANGGILKU CEBOL?!" Teriaknya, mengepalkan tinjunya.

Ia langsung melompat ke arah Heinrich, berusaha memukulnya dengan gaya khasnya yang mirip anak kucing yang marah. Namun, Heinrich dengan mudah menghindar, hanya tersenyum tipis melihat reaksinya, seolah menikmati bagaimana gadis itu berusaha menyerangnya dengan sia-sia.

Di sisi lain, Liliana menutup mulutnya, menahan tawa kecil. Heinrich yang biasanya dingin dan pendiam kini terlihat jauh lebih ekspresif sejak bertemu dengan Seraphina.

Seraphina mendengus kesal, lalu menyilangkan tangan di dadanya. "Hah! Tentu saja aku ikut! Aku ini sudah jadi petualang sejak umur dua belas tahun, tahu?! Jangan meremehkan aku!" katanya penuh kebanggaan, meskipun ekspresinya masih cemberut dengan pipi menggembung.

Liliana terbelalak kaget. "Serius? Sejak umur dua belas tahun? Bagaimana bisa?" tanyanya penuh rasa ingin tahu.

Seraphina menghela napas sambil menyilangkan tangan di dada. "Aku butuh uang untuk masuk dan membayar biaya akademi, jadi aku harus bekerja keras dan bertarung. Aku sudah melakukannya selama tiga tahun," katanya dengan nada santai, tetapi ada sedikit kelelahan dalam suaranya.

Ia menatap mereka sejenak sebelum melanjutkan, "Kau tahu, aku ini hanya rakyat biasa. Orang tuaku tidak bisa begitu saja membiayai sekolahku seperti keluarga bangsawan."

Kemudian, dengan senyum bangga, Seraphina mengeluarkan kartu guildnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Tada~! Lihat ini! Aku sudah rank B sekarang! Nyahahaha~!" Ia tertawa kecil, jelas menyombongkan diri.

Melihat itu, Heinrich akhirnya memahami alasan di balik kekuatan Seraphina saat ujian kelompok. Tidak heran—gadis itu sudah terbiasa bertarung di dunia nyata jauh sebelum mereka masuk akademi.

"Hmm... ternyata kau lumayan hebat juga ya, cebol," ucap Heinrich dengan nada santai, namun ada sedikit nada menggoda dalam suaranya.

Seraphina langsung berkedut, telinganya bergerak-gerak kesal. "UNYAA?! NGAJAK BERANTEM, HAH?!" serunya dengan mata menyipit tajam.

Tanpa pikir panjang, ia melompat ke arah Heinrich, melayangkan pukulan khasnya yang lebih mirip tebasan cakar kucing daripada serangan serius. Heinrich hanya menggeser tubuhnya sedikit ke samping, menghindarinya dengan mudah.

"Pelan sekali," godanya dengan senyum tipis.

Seraphina semakin geram. "Diam kau! Berhenti menghindar dan hadapi aku, dasar bangsawan menyebalkan!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!