Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PKI di bubarkan
Mbah Sidik terdiam sejenak, mengenang malam jahanam ketika para jenderal diculik dan dibunuh secara keji. "Penculikan di Lubang Buaya itu adalah puncak kegilaan mereka. Rakyat Indonesia yang sudah muak, yang sudah lelah melihat saudara saling benci, akhirnya bergerak. Tidak bisa dibendung lagi."
"Setelah peristiwa itu, gelombang besar perlawanan rakyat tidak bisa lagi ditahan. PKI akhirnya dibubarkan. Bukan hanya karena perintah penguasa, tapi karena rakyat sendiri sudah tidak sudi mereka ada di bumi ini. Mereka yang selama ini menebar ketakutan, akhirnya harus menanggung akibat dari apa yang mereka tanam. Bapak melihat bagaimana bendera-bendera mereka dibakar, kantor-kantor mereka ditutup, dan pengikutnya yang sudah terlanjur dicuci otaknya harus tercerai-berai."
Bermula dari bisik di balik kelambu,
Membawa janji surga yang sebenarnya semu.
Mereka membagi dunia dalam kawan dan lawan,
Membakar persaudaraan demi tahta dan kekuasaan.
Dari Madiun hingga Jakarta, jejak darah terpatri,
Mengoyak tenun bangsa, menusuk relung hati.
Namun sepandai-pandai musang menyembunyikan bangkai,
Kebenaran akhirnya bangkit, meski harus terurai.
Ahmad, itulah akhir dari sebuah mimpi yang durjana,
Dibuang dari tanah air, dihapus dari sejarah negara.
Sebab Indonesia tidak dibangun di atas kebencian,
Melainkan di atas doa, kasih, dan ketuhanan yang tak tergantikan.
Mbah Sidik mematikan puntung rokoknya, "Ahmad, ingat baik-baik: ideologi boleh mati, tapi dendam bisa tetap hidup jika kita tidak hati-hati. Kita tidak boleh menjadi seperti mereka yang memupuk kebencian. Kita harus menjaga Indonesia tetap menjadi rumah bagi semua, dengan memegang teguh Pancasila. Jangan pernah biarkan tanah ini kembali terbelah oleh warna yang sama."
Ahmad terdiam, hatinya terasa sesak membayangkan betapa kelamnya masa lalu itu. Ia menatap sawah di depan rumah, berjanji dalam hati untuk menjaga perdamaian yang telah diraih dengan harga yang begitu mahal.
Mbah Sidik mengusap permukaan meja kayu yang kasar, jemarinya seolah sedang meraba luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh. "Ahmad," suaranya merendah, hampir menyatu dengan desis angin malam, "PKI itu bukan sekadar partai politik. Bagi Bapak, mereka adalah hantu yang berjalan di siang bolong, menghasut petani untuk membenci tuan tanahnya sendiri, menghasut buruh untuk memusuhi majikannya, hingga anak pun berani melawan ayahnya."
"Sebelum meletus peristiwa di Jakarta, desa-desa sudah lebih dulu mendidih," kenang Mbah Sidik. Matanya menerawang, seolah melihat bayangan orang-orang berbaju lusuh yang membawa poster-poster merah di pematang sawah. "Mereka melakukan apa yang mereka sebut Aksi Sepihak. Mereka menyerobot tanah-tanah wakaf, tanah masjid, dan kebun-kebun milik warga yang mereka cap sebagai setan desa. Tak ada lagi hukum, yang ada hanya suara teriakan massa yang sudah dicuci otaknya."
Sidik teringat bagaimana suasana pasar yang tadinya penuh tawa berubah menjadi penuh curiga. "Tetangga tak lagi saling sapa. Setiap orang saling mengintip dari balik tirai jendela, takut jika esok nama mereka masuk dalam daftar hitam yang akan dieksekusi. Mereka menciptakan suasana di mana agama dianggap racun dan kiai dianggap penghalang kemajuan."
"Malam 30 September 1965. Saat itu, Bapak sedang bertugas menjaga pos komunikasi. Kabar burung terbang simpang siur, namun pagi harinya, dunia seolah runtuh. Enam jenderal dan satu perwira muda diculik. Mereka adalah putra-putra terbaik bangsa, Ahmad, yang disiksa secara biadab di sebuah tempat bernama Lubang Buaya."
Mbah Sidik mengepalkan tinjunya hingga gemetar. "Bapak melihat kesedihan yang luar biasa di wajah para prajurit. Kita semua merasa dikhianati. Mereka ingin melakukan kudeta, ingin mengganti bendera Merah Putih kita dengan ideologi yang tak kenal Tuhan. Itu adalah pengkhianatan paling besar dalam sejarah Republik ini."
"Setelah itu, segalanya meledak. Rakyat yang selama ini tertekan dan ketakutan akhirnya bangkit. Namun, Ahmad... di sinilah sisi kelamnya sejarah kita. Terjadi pembersihan besar-besaran. Banyak yang benar-benar bersalah, tapi tak sedikit pula yang hanya ikut-ikutan karena tidak tahu apa-apa, lalu ikut tersapu gelombang amarah."
Mbah Sidik menunduk,
"PKI akhirnya dilarang selamanya. Melalui Tap MPRS Nomor 25 Tahun 1966, paham itu diharamkan di tanah ini. Itu adalah titik balik di mana bangsa kita harus memilih: tetap berdasar pada Ketuhanan Yang Maha Esa, atau hancur dalam pertikaian saudara yang tak berujung."
Awalnya mereka datang membawa janji,
Tentang perut kenyang dan tanah yang asri.
Namun di balik janji, terselip belati,
Siap menikam punggung saudara sendiri.
Lubang Buaya menjadi saksi yang bisu,
Tentang dendam yang dibalut nafsu.
Jenderal-jenderal gugur dalam kehormatan,
Dibantai oleh mereka yang kehilangan nurani dan iman.
Ahmad, jangan kau biarkan paham itu kembali,
Meski mereka memakai topeng yang paling sani.
Sebab Indonesia adalah rumah bagi doa dan cinta,
Bukan tempat bagi mereka yang meniadakan Sang Pencipta.
**
Mbah Sidik menatap Ahmad dengan pandangan yang sangat dalam,
"Kekuatan PKI saat itu adalah adu domba. Mereka membuat kita merasa paling benar dan orang lain paling salah. Maka, cara terbaik untuk mencegah mereka kembali bukan dengan kekerasan, tapi dengan menjaga persatuan dan tetap sujud pada Tuhan."
Ahmad mengangguk pelan, ia merasa seperti baru saja melewati lorong waktu yang penuh duri. "Jadi, PKI itu benar-benar dilarang selamanya ya, Pak?"
"Selamanya, Ahmad. Selama kita masih memegang teguh Pancasila, tak akan ada tempat bagi mereka untuk berakar kembali di bumi pertiwi ini."
Mbah Sidik menyalakan rokok klobot keduanya, membiarkan cahaya api kecil di ujung rokok menerangi wajahnya yang guratan kerutnya tampak lebih dalam saat ia menatap malam.
Ia terdiam cukup lama, membiarkan bunyi jangkrik di sawah mengambil alih percakapan sejenak, sebelum akhirnya ia berujar dengan nada yang lebih berat namun tenang.
"Setelah badai itu reda, Ahmad... keadaan Indonesia tidak langsung berubah menjadi taman surga. Justru sebaliknya, negara kita sedang menatap wajahnya sendiri di cermin yang retak."
"Bayangkan sebuah rumah besar yang baru saja mengalami perkelahian hebat di dalamnya. Perabotannya hancur, dindingnya penuh coretan darah, dan penghuninya saling curiga satu sama lain. Itulah Indonesia tahun 1966. Begitu PKI dibubarkan, kita tidak langsung hidup tenang. Keadaan ekonomi saat itu porak-poranda. Harga beras melambung tinggi, rupiah tak ada harganya, dan rakyat kecil yang paling menderita."
Mbah Sidik menjelaskan bahwa masa itu adalah masa transisi yang sangat tidak stabil.Transisi dari masa Orde Lama ke Orde Baru tidak semudah membalik telapak tangan.
Ada ketegangan di mana-mana. Orang-orang yang dicurigai terlibat PKI ditangkap, namun terkadang, suasana balas dendam itu kebablasan. Tetangga menuduh tetangga, keluarga saling curiga. Itu adalah masa di mana rasa takut hanya berganti wajah, dari takut pada PKI menjadi takut pada bayangan sendiri."
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
q berasa kaya lagi ngaji thor
siapa kah sebenarnya kang sidik ?