𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33| Baper
Dahi Sebastian mengerut sementara Kai yang berada di kelas melotot, ekspresi teman sekelas mereka pun tak kalah terkejutnya mendapati Gavian bertelanjang dada. Sementara di pelukannya ada beberapa buah-buahan pemberian Aluna, Jayden sibuk dengan buku di tangannya tanpa memperhatikan sekitar.
"Lo sehat Gav?" Kai lebih dahulu menyapa Gavian dengan kepala menggeleng-geleng tak percaya.
Gavian tak mengindahkan pertanyaan Kai, memilih melangkah mendekati mejanya. Wajah para gadis memerah, mencuri pandang ke arah tubuh atas Gavian yang terbuka. Jeritan tertahan di kerongkongan, ada pula yang menutupi wajah mereka dengan telapak tangan karena dilanda rasa malu. Gavian meletakan setumpuk buah-buahan ke atas meja, Sebastian mengangkat sebelah alis matanya.
"Sejak kapan lo jadi aneh kek gini? Dari mana pula lo mungut itu buah-buahan?" Kai meraih buah rambutan mengupas kulitnya tanpa izin.
Gavian berdecak dengan tindakan kurang ajar Kai, "Ini buah hasil dari nolongin Aluna nyolong di kebun belakang."
Daging buah yang manis baru saja memasuki mulut Kai terasa masam mendadak, pergerakan tangan Jayden membalik lembaran buku ikut mendadak berhenti. Sebastian menyipitkan kedua matanya, melirik Gavian dengan tatapan mata rumit.
"Lo bareng Aluna nyolong buah?" Jayden menoleh ke belakang. "Dengan kondisi lo yang bertelanjang dada kek gini?"
Gavian mengangguk santai, menyeringai begitu saja. Atensinya berbenturan dengan tatapan mata tak senang dari Jayden, mendadak kelas hening. Bukan hanya Jayden saja yang menatap Gavian, seluruh mata di dalam ruangan kelas tertuju ke arah Gavian.
"Kenapa? Lo cemburu?" Gavian menyeringai kembali.
Buku bacaan di tangan Jayden diletakkan dengan kasar di atas meja, orang-orang menahan napas ketika Jayden berdiri. Kai melepeh biji rambutan asal di lantai, ikut merasa tegang. Sebastian mendesah berat, Kai maju berdiri di tengah antara Gavian dan Jayden.
"Chill bro! Oke, santuy. Ini nggak bakalan enak diliatin orang-orang," ujar Kai menengahi, "Aluna dan Gavino seperti kita semua. Teman aja, dan lo Jayden. Lo belum resmi jadi pacar maupun tunangan Aluna, semua orang punya kesempatan yang sama. So, jangan pada ribut, santai!"
Meskipun Kai terkesan tengil, suka sekali bercanda serta menggoda. Kai juga cukup berpikiran dewasa di saat-saat genting, seperti saat ini ia akan mencoba menengahi keduanya. Walaupun ekspresi wajah Gavian tampak santai, berbanding terbalik dengan guratan wajah Jayden yang tampak tak senang.
Kai tak ingin ada keributan di persahabatan mereka berdua. Di saat Zea menggodanya, Kai sama sekali tak ingin menanggapinya. Hanya karena ia tahu betul jika Gavino—mencintai Zea. Akan tetapi kasus Aluna jelas berbeda, gadis yang dikejar secara ugal-ugalan tanpa tahu malu itu tak menggoda siapa pun. Hanya mereka yang begerak mendekati Aluna, termasuk Gavino saat ini.
Tepukan pelan di pundak lebar Gavian, Sebastian melirik ke arah Gavian.
"Lo pakek seragam sana gih, bentar lagi Guru bakalan masuk kelas. Nggak nyaman juga diliatin sama anak kelas yang cewek," ujar Sebastian, ia menarik tangan Gavian menuju pintu keluar.
Kai dan teman satu kelas serentak mendesah lega, Kai melangkah mendekati Jayden.
"Jangan baperan gitulah Jay, lagian Gavino cuma main-main aja. Dia nggak mungkin benar-benar suka Aluna," celetuk Kai menenangkan Jayden.
Jayden mendengus. "Nggak beneran suka? Lo liat aja gelagatnya. Gue ngerasa nggak sesederhana itu Kai."
Kai ingin mengangguk setuju tapi dipermukaan ia hanya menggeleng menolak prasangka Jayden.
"Dia keknya balas dendam aja sama apa yang dilakuin sama Zea. Apalagi lo juga 'kan pernah dipepet Zea so, tahan aja. Sampek dia nggak lagi marah," tutur Kai sok tahu. 'Sialan itu si psikopat Gavino, kenapa juga dia bisa ambil kesempatan mepet Aluna-nya gue. Gue aja udah jungkir balik buat dekatin Aluna, malah ada pula dia yang ikut-ikutan ngejar. Hadeh! Ini semua salah si Zea.'
Kai hanya bisa mengeluh dalam diam, suara derap langkah kaki di lorong kelas membuat Kai mendesah berat. Guru yang mengajar di jam ketiga memasuki ruangan kelas, Kai mau tak mau kembali duduk di kursinya.
...***...
Kepalanya mengangguk-angguk dengan kedua mata menyipit bahagia, Karina terkekeh melirik Aluna. Keduanya bolos di jam terakhir, pulang lebih dahulu atas ajakan sesat Aluna. Keduanya berakhir di rumah Karina, menikmati rujak buah dengan kuah spesial buatan Aluna.
"Gimana? Enak nggak?" tanya Aluna pada Karina setelah buah mangga muda dicocol kuah rujak.
Karina mengacungkan jempolnya ke arah Aluna, senyum di bibir Aluna langsung merekah. Bukan hanya Aluna yang menikmati rujak di siang hari, beberapa pembantu yang bekerja di rumah Karina pun ikut mencicipinya.
"Btw, lo kok bisa dapatin ini buah-buahan?" tanya Karina yang mulai penasaran.
Aluna yang tiba-tiba memberikan pesan singkat, meminta Karina membawa tasnya ke gudang gedung olahraga. Menyampaikan niat bolosnya, siapa yang menyangka jika ide sesat Aluna disambut antusias oleh Karina. Keduanya bolos keluar melalui lubang anjing tak jauh dari dari gudang gedung olahraga.
"Gue lagi lucky aja sebenernya," jawab Aluna berdusta, "gue habis dari toilet dan ngerasa bosan. Jalan-jalan nggak jelas, kebetulan gue berhenti di belakang gudang sekolah. Nah, di sanalah gue ketemu surganya buah-buahan. Beeeh! Lo harus ke sana nanti bareng gue."
Karina mengunyah dan mengangguk menyetujui, Aluna menghela napas lega saat ia membuang muka. Untung saja saat Karina sampai di sana, Aluna telah menyembunyikan seragam serta t-shirt milik Gavino. Aluna tak ingin gadis di sampingnya ini menjadi kesal karena Gavino yang paling dicintai malah mengejar dirinya sendiri, angin di gazebo menerbangkan helai anak rambut Aluna yang terlepas.
TUK!
"Akh! Bang Bara! Jangan lempar-lempar sialan." Karina terpekik dan memaki dalam waktu bersamaan.
Tawa keras menyembur, Aluna sontak terperanjat. Kepalanya mendongak, atensi terfokus pada sosok pria lebih tua dua tahun di atas mereka. Pria dengan lesung di salah satu pipinya itu bertengger nyaman di atas pohon rambutan di samping rumah Karina, Karina menunjuk-nunjuk Bara dari gazebo. Tak tanggung-tanggung jari tengahnya diacungkan untuk pria nakal yang baru saja melemparkan kepala Karina dengan biji rambutan, Aluna mengerutkan dahinya.
"Orang pelit pantas banget ditimpuk biji rambutan," ujarnya mencemooh Karina, matanya beralih ke arah Aluna. "Oh, hai Aluna! Lama nggak kelihatan lagi. Biasanya kalian berdua lengket kayak perangko, udah kek anak kembar siam yang tak terpisahkan meskipun dunia kiamat."
Karina memutar malas kedua bola matanya, sebelum melotot pada anak tetangganya suka sekali mengganggunya dari kecil sampai ia remaja.
"Idih, yang nggak punya besti kek gue. Sirik kali ya, sana cari sahabat. Biar nggak ngusilin gue terus," sahut Karina menggebu-gebu.
Bara mengulum senyum, Aluna tertegun untuk beberapa detik. Matanya memerhatikan Karina lalu beralih ke arah pria di atas pohon, Aluna menjentikkan jarinya saat pupil matanya melebar.
'Oh iya, ya. Dia 'kan cowok yang cinta mati sama Karina. Diam-diam punya rasa sama Karina, sayangnya Karina nggak peka. Dia juga yang selalu ke makam Karina.' Aluna menyipitkan kedua matanya, menatap Bara dengan saksama.
Pria berkulit tan berlesung itu tampak lebih manly, Bara cukup dewasa. Hanya saja untuk menarik perhatian Karina, selalu saja meledek Karina dan mengganggunya. Karina dan Bara masih saling sahut-sahutan, Aluna menggeleng tak berdaya. Tangannya kembali bergerak mencolek kuah rujak memasukan kembali ke mulutnya, menonton keributan antara Karina dan Bara yang masih berlanjut.
Getaran ponsel di saku seragam sekolahnya mengalihkan fokus Aluna, ia merogoh sakunya mengeluarkan smartphone. Jarinya mengetuk dua kali pada layar, matanya melebar mendapati satu pesan dari Gavian.
(Jangan lupa rujak buah punya gue, lo udah janji. Kalo lo ingkar janji jangan salahin gue ngehukum lo.)
"Alamak gue lupa sama dia," gumaman Aluna nyaris berbisik.
Ponsel kembali bergetar satu pesan lagi masuk, Aluna hampir saja tersedak air liurnya sendiri.
^^^(Gue kokop lo sampek mampus!)^^^
"Serius gue diginiin sama si nggak waras ini?" Aluna menggigit bibirnya, matanya terbelalak saat foto yang dikirimkan oleh Gavian.
Foto tubuh atasan yang polos, dengan peluh menetes deras, seringai mesum ke arah kamera. Dengan keterangan yang membuat wajah Aluna memerah, Aluna mengumpat dalam diam. Beruntung Karina masih adu mulut dengan Bara, hingga tidak tahu apa yang terjadi dengan Aluna.