NovelToon NovelToon
DI ANTARA DUA KHUTBAH

DI ANTARA DUA KHUTBAH

Status: tamat
Genre:Cintapertama / CEO / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jesa Cristian

Hujan di Jakarta Selatan tidak pernah sekadar air; ia adalah tirai yang menyamarkan dosa-dosa kota ini. Bagi Ustadz Aris, hujan sore itu adalah ujian kesabaran ketiga kalinya hari ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: BADAI DARI NEGERI PAMAN SAM

Langit Jakarta yang biasanya hanya dihujani awan mendung, tiba-tiba disibukkan oleh kedatangan burung besi raksasa berwarna putih dengan ekor merah-biru. Itu adalah jet pribadi milik Vanderbilt Corp, salah satu konglomerat terbesar di Amerika Serikat.

Dari dalam pesawat itu turunlah seorang wanita yang memancarkan aura berbeda dari wanita-wanita Indonesia yang pernah ditemui Aris. Namanya Victoria "Vicky" Sterling. Usianya sekitar 28 tahun, rambut pirang platinumnya tergerai bebas, mengenakan kacamata hitam besar meski hari sudah sore, dan pakaian desainer mahal yang memperlihatkan lekuk tubuhnya secara agresif. Ia tidak datang sendirian; dua pengawal bule bertubuh raksasa dan seorang asisten pribadi membawa koper-koper kulit mengikuti langkah kakinya yang tinggi.

Tujuannya bukan Monas atau Bali. Tujuannya langsung ke Gang Tebet.

Vicky mendengar kabar tentang "The Golden Ustadz", seorang miliarder Indonesia yang memilih hidup sederhana dan baru saja menikahi seorang gadis kampung bekas korban. Bagi Vicky yang terobsesi pada hal-hal unik dan "eksklusif", Aris bukan sekadar pria kaya. Aris adalah tantangan. Pria yang tidak bisa dibeli dengan uang, pikirnya, justru harus ditaklukkan dengan obsesi.

Mobil limusin hitam panjang itu kesulitan masuk ke gang sempit Tebet, akhirnya berhenti di depan masjid baru yang megah. Warga yang sedang bersiap untuk Maghrib terkejut melihat pemandangan asing ini. Mobil seharga ratusan miliar rupiah parkir di antara motor-motor bebek dan gerobak bakso.

Vicky turun, menolak bantuan pengawalnya. Ia melangkah pasti menuju rumah Aris, mengabaikan tatapan takjub dan sinis warga.

"Eh, itu siapa? Bule apa artis?" bisik Bu Lik Minah pada Bu RT.

"Waduh, mobilnya aja lebih panjang dari rumah kita. Jangan-jangan investor baru?" sahut Pak RT sambil merapikan pecinya.

Vicky sampai di depan pagar rumah Aris. Tanpa mengetuk, ia mendorong pagar besi itu (yang ternyata tidak dikunci) dan berjalan masuk ke halaman.

"Aris! Where are you, my love!" teriak Vicky dengan aksen Amerika yang kental, suaranya lantang dan sedikit serak karena emosi.

Aris, yang sedang menyiram tanaman di halaman bersama Rina, menoleh kaget. Rina yang sedang hamil muda refleks memegang perutnya, wajahnya pucat melihat sosok wanita asing yang terlihat begitu... liar.

"Siapa Anda?" tanya Aris tenang, meletakkan selang air. Ia tetap sopan, tapi matanya waspada.

Vicky melepas kacamata hitamnya, menyingkap mata birunya yang tajam dan penuh intensitas. Ia tersenyum miring, senyum predator yang melihat mangsa.

"You don't remember me? I'm Victoria. Victoria Sterling. We met in New York three years ago at the charity gala. You ignored me then. But I never forget a man who plays hard to get."

Vicky melangkah maju, mengabaikan Rina sepenuhnya. Ia berdiri terlalu dekat dengan Aris, hingga aroma parfumnya yang menyengat menusuk hidung.

"I heard you got married. To her?" Vicky menunjuk Rina dengan dagunya, nada suaranya penuh penghinaan. "A broken girl from a slum? Come on, Aris. You are a king. Why settle for trash when you can have a queen like me? I bring billions, connections, power. She brings nothing but baggage and trauma."

Rina tersentak. Kata-kata "sampah" dan "bagasi" itu seperti pisau yang mengiris luka lamanya. Air matanya langsung menggenang, tapi ia menahan diri, tangannya melindungi perutnya erat-erat.

Aris mengeraskan rahangnya. Suaranya berubah menjadi rendah, dingin, dan tegas. Bahasa Inggrisnya lancar namun penuh penekanan.

"Watch your mouth, Ms. Sterling. Di hadapan saya, Anda tidak boleh menghina istri saya. Dia bukan sampah. Dia adalah permata paling berharga yang pernah Allah titipkan pada saya. Dan dia membawa sesuatu yang tidak akan pernah Anda miliki seumur hidup: Hati yang suci dan ketulusan."

Vicky tertawa renyah, tawa yang meremehkan. "Heart? Purity? Oh, please, Aris. Don't be naive. Love is a transaction. Power is the only truth. Look at you, living in this... kampung. Smelling of dust and poor people. I can take you back to New York. Penthouse in Manhattan, private island in Caribbean. Forget this village life. It's beneath you."

Vicky mencoba menyentuh dada Aris, tapi Aris menepis tangan itu kasar.

"Jangan sentuh saya," geram Aris. "Dan dengarkan baik-baik. Kekayaan Anda mungkin bisa membeli dunia, tapi tidak bisa membeli harga diri saya. Saya tinggal di sini bukan karena saya terpaksa, tapi karena saya memilih. Akar saya ada di tanah ini. Istri saya ada di sini. Dan Tuhan saya ada di sini. Jadi, silakan kembali ke Amerika Anda. Obsesi Anda sia-sia."

Wajah Vicky berubah merah padam. Ego nya terluka parah. Ia tidak terbiasa ditolak, apalagi oleh pria "kelas tiga" dari negara berkembang menurut pandangannya.

"You think you can say no to me?" desis Vicky, matanya berapi-api. "I don't take 'no' for an answer, Aris. I will burn this whole village down if I have to. I will make sure everyone knows your wife is a whore, that your charity is a money laundering scheme. I have lawyers, I have media. I can destroy you in 24 hours."

Kata-kata kasar dan ancaman itu membuat suasana tegang. Warga yang mulai berkumpul di luar pagar terdengar bergumam marah.

"Hei, jangan sok kuasa di sini!" teriak seseorang.

"Usir dia! Jangan biarkan dia hina Ibu Rina!"

Tiba-tiba, dari kerumunan warga, muncul seorang pemuda. Bukan Dimas kali ini, melainkan Bagus.

Bagus adalah pemuda kampung yang dulu juga pernah menyukai Rina, tapi ia mundur saat tahu Rina memilih Aris. Berbeda dengan Dimas yang emosional, Bagus adalah tipe pendiam yang pekerja keras. Kini, ia sudah sukses. Bermodal bantuan pelatihan dari yayasan Aris, Bagus mengembangkan usaha ekspor kerajinan tangan khas Tebet ke Eropa. Ia kini memakai kemeja rapi, jam tangan bagus, dan membawa aura percaya diri seorang pengusaha muda sukses.

Bagus melangkah maju, membelah kerumunan, berdiri di samping Aris dan Rina. Ia menghadap Vicky dengan tatapan tajam namun tenang.

"Nona," sapa Bagus dalam bahasa Inggris yang cukup fasih (hasil belajar otodidak demi bisnisnya). "Anda sepertinya salah paham tentang tempat ini."

Vicky menoleh, memandang Bagus dari atas ke bawah dengan sebelah mata. "Who are you? Another servant?"

"Saya Bagus," jawabnya tegas. "Saya pengusaha dari kampung ini. Dan saya ingin memberitahu Anda satu hal: Di Indonesia, kami punya pepatah, 'Air beriak tanda tak dalam'. Orang yang banyak bicara soal uang dan kekuasaan, biasanya hatinya kosong."

Bagus melangkah selangkah mendekati Vicky, membuat pengawal Vicky siaga, tapi Bagus tidak gentar.

"Anda mengancam akan membakar kampung ini? Silakan coba. Tapi ingat, api tidak hanya membakar rumah. Api juga membakar dosa orang yang menyalakannya. Kami di sini mungkin miskin harta dibanding Anda, tapi kami kaya solidaritas. Jika Anda menyentuh satu jari saja dari Ibu Rina atau Tuan Aris, seluruh Indonesia akan bangkit melawan Anda. Media sosial kami akan menghancurkan reputasi perusahaan Anda lebih cepat daripada lawyer Anda bisa bekerja."

Vicky tertawa lagi, tapi kali ini agak dipaksakan. "Cute. A local hero. Do you think your little social media can stop Vanderbilt Corp? I own governments, boy."

"Anda mungkin punya uang," potong Aris, suaranya kembali mengambil alih, berwibawa dan misterius. "Tapi Anda lupa satu hal, Nona Sterling. Di negeri ini, kami percaya pada karma dan doa ibu-ibu. Doa ribuan ibu di kampung ini, doa para jamaah masjid ini, lebih kuat dari segala hukum dan uang Anda. Jika Anda memaksa, Anda tidak hanya berhadapan dengan saya. Anda berhadapan dengan langit."

Aris melangkah maju, postur tubuhnya tampak semakin tinggi di bawah sinar lampu taman. Matanya menatap Vicky dengan kedalaman yang membuat wanita itu mundur selangkah tanpa sadar.

"Pulanglah, Victoria. Sebelum Anda melakukan kesalahan yang tidak bisa diperbaiki oleh uang Anda. Ini peringatan terakhir. Jangan uji kesabaran kami. Karena singa yang tidur pun, jika dibangunkan dengan cara yang salah, akan menerkam."

Suasana hening mencekam. Ancaman halus Aris terasa lebih menakutkan daripada teriakan Vicky tadi. Ada misteri dalam diri Aris yang membuat Vicky merasa kecil. Ia menyadari, ia tidak berhadapan dengan pria biasa, tapi dengan seseorang yang memiliki kekuatan spiritual dan dukungan massa yang tidak ia pahami.

Vicky menggigit bibirnya, dadanya naik turun karena marah dan frustrasi. Ia menatap Aris, lalu Rina yang dilindungi oleh dua pria (suaminya dan Bagus), serta ratusan warga yang siap melayani jika ia berbuat macam-macam.

"Fine," desis Vicky akhirnya. Ia memakai kembali kacamata hitamnya, menyembunyikan matanya yang kalah. "This isn't over, Aris. I always get what I want. Consider this just the beginning of the game."

Vicky berbalik badan dengan dramatis, memanggil pengawalnya. "Let's go! This place smells of failure!"

Limusin itu perlahan mundur, meninggalkan debu dan keheningan yang berat. Warga bersorak lega, bertepuk tangan untuk Aris dan Bagus.

"Terima kasih, Mas Bagus," ucap Rina lembut, masih gemetar.

Bagus tersenyum ramah, lalu membungkuk hormat pada Aris. "Sama-sama, Bu Rina, Pak Aris. Kampung ini rumah kita semua. Tidak ada yang boleh merusak ketenangannya, apalagi orang asing yang sombong."

Aris menepuk bahu Bagus. "Terima kasih, Gus. Kamu sudah membuktikan bahwa kesuksesan bukan hanya soal uang, tapi soal keberanian membela kebenaran."

Malam itu, Gang Tebet kembali tenang. Namun, Aris tahu, ini belum selesai. Vicky Sterling bukan tipe wanita yang mudah menyerah. Badai sesungguhnya mungkin baru saja dimulai. Tapi ia tidak takut. Ia memiliki senjata paling ampuh: Cinta keluarganya, dukungan warganya, dan perlindungan Tuhan-nya.

Di dalam rumah, Rina memeluk Aris erat. "Kak, aku takut dia benar-benar melakukan ancamannya."

Aris mengusap kepala istrinya. "Tenang, Sayang. Biarkan dia berencana. Kita berdoa. Ingat, sekuat apapun rencana manusia, takdir Tuhan tetap yang tertinggi. Dan Tuhan tidak pernah tidur menjaga hamba-Nya yang saling mencintai."

Di kejauhan, lampu belakang mobil Vicky menghilang di tikungan gang, meninggalkan misteri: Apa langkah berikutnya yang akan diambil wanita obsesif itu? Apakah ia akan menggunakan jalur hukum, media, atau cara-cara kotor lainnya?

Satu hal yang pasti: Perang antara keserakahan Barat dan ketahanan hati Timur baru saja dinyatakan.

Bersambung...

1
Jesa Cristian
ayo komen temen temen ku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!