Karya ini merupakan karya jalur kreatif.
Nanji Laoren sedang diambang kematian oleh penyakit kronis ketika bertemu dengan sistem misterius yang dapat memperpanjang umurnya.
Sistem misterius yang menamakan diri sebagai sistem panjang umur membawa Nanji Laoren ke dunia baru–yang penuh dengan konspirasi, pertempuran kekuasaan, dan rahasia kelam masa lalu.
Seiring waktu, Nanji Laoren terjebak dalam pusaran waktu kompleks, dimana harus memilih antara kesetiaan terhadap wanita dan keinginan untuk hidup abadi selamanya.
Apakah hidup tanpa akhir bisa memberikan makna sejati bagi Nanji Laoren? Atau kebahagiaan sejati Nanji Laoren justru ada dalam momen-momen terbatas bersama wanita yang dicintainya?
Simak perjalanan Nanji Laoren dalam Sistem Panjang Umur. Hanya terbit di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiket Keberuntungan
Di dalam mobil, Nanji menimbang lagi keputusannya untuk pergi ke pusat penjualan lotre. Baru terpikir olehnya kalau Nyonya Wang pasti bisa memberikan pekerjaan untuk Wu Nuan.
Entah mengapa Nanji malah lupa kalau ia memiliki saudara sepupu jauh yang perlu bantuan. Untuk datang ke acara ulang tahun Wang Long setelah pulang dari pusat penjualan lotre rasanya tidak mungkin.
Nanji memukul stir mobilnya, menggerutu pada dirinya sendiri. “Kenapa aku tadi tidak menyimpan nomor telepon Nyonya Wang? Jika begini, hanya bisa menunggu dia yang menghubungiku!”
“Shou, apa aku bisa menambah usia lagi? Sepertinya poinku cukup karena baru saja menjual waktu pada Nyonya Wang!”
[Host ingin bertransaksi sekarang?]
“Ya! Memiliki sisa umur lebih panjang membuat hidupku lebih tenang.”
Nanji menekan icon penukaran poin pada layar hologram biru yang muncul di hadapannya. “Done!”
[Transaksi sedang diproses!]
“Oke, apa sudah selesai? Seluruh tubuhku rasanya kesemutan.”
[Transaksi selesai diproses. Selamat, usia host bertambah satu tahun!]
[Sistem Panjang Umur]
[Nama master : Nanji Laoren]
[Sistem pemandu : Shou]
[Usia master : 25 Tahun]
[Level master : Gold]
[Sisa usia : 2 tahun, 85 hari]
[Poin sistem : 0]
[Stok umur : 1 tahun.]
Nanji menghembuskan nafas lega setelah melihat data statusnya. “Kapan level gold naik ke platinum, Shou?”
[Jika usia host sudah bertambah lima tahun, secara otomatis level master waktu berubah menjadi platinum, Tuan!]
“Oh baiklah! Nanti kita ngobrol lagi, pusat penjualan lotre sudah kelihatan dari sini.”
Nanji mengurangi laju mobilnya, lalu menepi di tempat parkir yang disediakan. Time to work!
Nanji berjalan ke pusat penjualan lotre, berdesakan di antara hiruk pikuk pembeli undian keberuntungan yang biasa disebut lotre. Beberapa orang sedang menyombongkan diri atas keberuntungannya. Beberapa lainnya sedang asik menggosok lotre yang baru dibeli. Sebagian lain sibuk bicara serius sambil bertaruh tentang besaran nilai lotre masing-masing.
Demam lotre mendadak melanda masyarakat, tepatnya sejak satu bulan lalu, ketika pria bernama Lan Feng berhasil memenangkan 220 juta yuan. Jumlah yang sangat besar dengan modal membeli kertas keberuntungan seharga 50 yuan.
Pepatah mengatakan, lotre ibarat pisau bermata dua. Lotre bisa menjadi secercah harapan, sekaligus malapetaka bagi seseorang. Lan Feng mungkin pria paling beruntung saat itu. Tapi tak jarang pembeli lotre gagal mendapatkan keberuntungan. Mereka mendapatkan malapetaka, usaha sampai bangkrut karena hobi membeli lotre.
Ya! Nanji sedang mencari orang-orang seperti ini. Orang yang gagal dan mendapatkan malapetaka dan kebangkrutan, tapi tetap kecanduan untuk membeli keberuntungan–hingga mau menggadaikan apa saja. Tak terkecuali menjual umurnya.
“Paman, berapa harga lotrenya?” Nanji bertanya setelah mendapatkan giliran dilayani si penjual.
Penjual lotre berkepala botak menatap malas pada Nanji. Ia menjawab tanpa semangat karena Nanji terlihat tidak akan menghabiskan uangnya untuk membeli sebuah keberuntungan.
“Lima puluh yuan untuk satu tiketnya! Mau beli berapa?”
Nanji mengangguk setuju. “Aku beli satu, Paman!”
“Aku pikir kau akan membeli sepuluh tiket! Ternyata hanya satu. Dasar pemuda miskin. Kau pasti pemalas hingga mengandalkan 50 yuan untuk mendapatkan jutaan yuan!” Penjual lotre melempar satu tiket yang dipilih Nanji setelah menerima lembaran uang. “Semoga beruntung!”
“Terima kasih, Paman!”
“Ya-ya, semoga dewa kekayaan bersamamu!”
Nanji memutar tubuh, tak peduli dengan hinaan penjual lotre. Ia tersenyum penuh arti, dan mengambil tempat duduk kosong di depan kedai lotre.
Tidak seperti pembeli lain, Nanji tidak segera segera menggosok tiket lotrenya. Ia diam dan duduk tenang untuk memantau situasi.
Pemuda yang duduk di depan Nanji bersorak riang saat menemukan angka 100 yuan pada tiketnya. Di sisi lain, seorang kakek sedang terkekeh-kekeh mendapati nilai 50 yuan ada dalam satu tiket, sementara dua tiket lain hanya bernilai 10 yuan.
Nanji tersenyum melihat hal itu. Ia bergumam, “Sepertinya banyak yang mendapatkan keberuntungan.”
Melihat ke arah lain, Nanji menemukan seorang pemuda yang tengah menunduk murung, sambil menatap layar ponselnya. Sesekali tampak menyeka air mata.
“Sepertinya dia membutuhkanku …,” ujar Nanji lirih. “Atau sebenarnya aku yang membutuhkannya? Atau kami saling membutuhkan?”
Nanji mendekati si pemuda, tiket lotre yang masih utuh dimasukkan ke dalam saku baju terlebih dahulu.
“Boleh aku bergabung?”
Pemuda murung itu mendongak dengan mata berkaca-kaca. “Tentu saja! Ini area publik, siapapun boleh duduk disini.”
Nanji mengulum senyum, pemuda ini tetap bersikap tegar meski sedang mendapat masalah. “Namaku Nanji!”
“Aku Fang An!”
“Bagaimana hasilnya?” Nanji mengedikkan kepala pada tumpukan tiket lotre yang sudah digosok di samping Fang An.
“Sangat buruk! Kau tahu, aku bahkan memakai uang deposit kuliah untuk membeli ini semua. Bukankah aku bodoh?”
Nanji berkata bijak. “Yang aku tahu kau sedang mengadu keberuntunganmu!”
“Aku pikir lotre adalah jalan cepat untuk mendapatkan tambahan uang kuliah. Aku berharap menang karena ibuku sudah berhutang banyak pada rentenir. Aku mengira aku tidak akan menyusahkannya sepulang dari sini … tapi lihatlah! Apa yang kudapat?”
“Kau kurang beruntung!” pungkas Nanji.
Fang An mengibaskan tangan. “Ah, sudahlah! Aku tidak tahu kenapa bercerita masalah ini padamu! Maaf.”
“Jadi kau masih kuliah?”
“Ya, dan aku harus segera melunasi kredit kuliahku jika ingin tetap terdaftar sebagai mahasiswa. Aku sudah mengecewakan ibuku dengan menjadi pemuda tak berguna. Lotre sialan!”
“Aku bisa membantumu! Aku adalah master waktu! Kau bisa menjual satu tahun usiamu padaku.”
KLIK!!!
Fang An terbelalak, di depannya muncul layar transparan yang menginformasikan nama dan sisa usia yang dimilikinya. “Apa ini sisa umurku?”
“Tepat sekali! Kau memiliki sisa usia yang cukup banyak. Lima puluh tahun lebih. Apa kau berniat untuk menjualnya padaku? Satu tahun mungkin? Aku akan membelinya dengan harga mahal.”
“Menjual usiaku?”
“Ya!” Nanji tersenyum. “Bukankah kau membutuhkan uang untuk kuliah? Butuh membantu ibumu membayar hutang? Aku adalah pebisnis waktu, aku menerima penjualan usiamu. Tertarik?”
Fang An berpikir cukup lama. Menimbang sisa usianya yang ternyata cukup panjang. Lima puluh tahun lagi untuk menikmati dunia rasanya sangat cukup. Ayahnya bahkan meninggal di usia tak sampai lima puluh tahun.
“Berapa yang aku dapatkan jika aku menjual satu tahun waktuku?”
“Berapa yang kau butuhkan untuk membayar kuliah dan membayar hutang ibumu?”
Fang An menatap Nanji dengan ekspresi muram. “Sepuluh ribu yuan. Tapi aku minta lebih untuk … tabungan!”
“Aku akan menggandakan lima kali lipat dari kebutuhanmu! Kau akan mendapatkan lima puluh ribu yuan! Deal?”
Fang An tak membuang waktu. Tadinya ia berpikir akan mendapatkan dua kali lipat dari kebutuhannya. Ternyata Nanji malah membelinya lima kali lipat.
“Berikan seratus ribu yuan padaku dan ambilah dua tahun usiaku! Cukup bagiku memiliki sisa umur lima puluh tahun enam bulan!”
[Perjanjian waktu telah disepakati antara host dengan penjual. Usia Fang An telah berkurang dua tahun.]
[Nama : Fang An]
[Sisa umur : 50 tahun, 6 bulan, 3 hari, 10 menit, 10 detik … 9 detik, 8 detik 7 detik ….]
Nanji menyodorkan salah satu kartu miliknya. “Ini milikmu, isinya seratus ribu yuan.”
“Oh, ya!” Fang An menerima pembayaran dengan tatapan skeptis.
“Senang berbisnis denganmu!”
Fang An mengabaikan kalimat Nanji. Ia bahkan lupa mengucapkan terima kasih. Langsung pergi untuk melunasi hutang ibunya dan kredit kuliah.
Nanji bergumam, “Buru-buru sekali! Ya semoga saja uang itu berguna. Pemuda yang malang!”
Nanji mondar-mandir seperti orang yang sedang mencari tempat duduk. Padahal, ia sedang mencari target potensial lainnya. Penggila lotre yang sedang sial.
“Apa! Tidak beruntung lagi? Sial! Dasar penipu! Kau penjual lotre sialan! Kau sengaja tidak mengisi tiket lotre yang aku beli!” Suara lantang seorang pria gemuk terdengar dari depan loket penjualan tiket.
Dua orang yang bertugas sebagai keamanan menyeret pria gemuk tersebut. Menjauhkannya dari loket penjualan tiket lotre.
Pria gemuk memaki-maki sambil menendang beberapa kursi yang dilewatinya. Membuat kedai lotre ricuh. Ia dihujat habis-habisan karena tidak bisa menerima kekalahan.
“Pulanglah pecundang! Minta uang lebih banyak pada ibumu untuk membeli keberuntunganmu lagi!” teriak salah satu pembeli lotre yang kursinya kena tendang si pria gemuk.
Seseorang menimpali lebih keji. “Jual saja istrimu agar bisa kembali kemari untuk membeli lotre!”
“Hei babi gendut, mungkin kau perlu menjilat bokong paman penjual lotre agar diberi lotre gratis!” seru pria lainnya.
Nanji yang berdiri dekat pintu kedai, mengeluarkan tiket lotrenya dari saku. Tepat ketika si pria gemuk sampai di hadapannya, Nanji mengulurkan tiket lotrenya. “Butuh lebih banyak tiket keberuntungan?”
BERSAMBUNG….
~Karya ini merupakan karya jalur kreatif~