Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.
Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.
Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 005: Vila, Grosir, dan Orang Setia
Uang besar tidak akan menyelamatkan siapa pun kalau hanya tidur di rekening.
Hendra tahu itu lebih jelas daripada siapa pun.
Tiga bulan lagi, angka di aplikasi bank tidak bisa direbus menjadi bubur. Kartu debit tidak bisa menyalakan genset. Saldo puluhan miliar tidak bisa menahan pintu ketika angin beku mulai merayap masuk dari celah paling kecil.
Uang harus berubah.
Menjadi beras.
Menjadi air.
Menjadi obat.
Menjadi solar, baja, kabel, mesin, dan tangan manusia yang bisa dipercaya.
Karena itu, tiga hari setelah keluar dari bank, Hendra duduk di kantor kecil sebuah agen properti di Jakarta dengan laptop terbuka di depannya.
Di layar, beberapa aset keluarga yang masih atas namanya muncul satu per satu. Dua vila kecil di pinggiran Surabaya. Sebuah ruko lama. Tanah kosong yang tidak strategis. Lalu tiga vila mahal di lokasi terbaik yang masih ia biarkan tidak disentuh.
Taman Surga.
Vila Kencana.
Panorama Selatan.
Tiga nama itu membuat matanya berhenti sesaat.
Aset besar seperti itu tidak boleh dibuang terlalu cepat. Umpan yang bagus harus disimpan sampai ikan yang tepat membuka mulut.
Hendra memindahkan kursor ke dua vila kecil.
"Yang ini dijual cepat," katanya.
Agen properti perempuan di depannya, berkemeja putih dan berwajah profesional, menatap angka di layar. "Kalau mau cepat, harga harus dibuat menarik, Pak."
"Buat menarik."
"Bapak tidak ingin menunggu pembeli yang lebih tinggi?"
"Saya ingin uang bergerak, bukan tidur di foto properti."
Agen itu terdiam sejenak, lalu mengangguk. Ia mulai mencatat. "Baik, Pak. Dua vila pinggiran Surabaya. Skema cash keras atau transfer penuh setelah notaris. Kami bisa hubungi investor yang biasa beli cepat."
"Jangan sebut nama keluarga Wijaya lebih dari yang perlu."
"Tentu."
"Dan tiga vila premium ini," Hendra menunjuk layar, "jangan dipasarkan dulu."
"Baik. Disimpan."
Hendra menutup laptop.
Di kehidupan lalu, ia menahan aset-aset itu karena merasa setiap rumah adalah sisa terakhir orang tuanya. Ia merawat kenangan sambil orang lain memakan haknya sedikit demi sedikit.
Hasilnya, kenangan ikut terkubur di bawah salju.
Kali ini, ia tidak akan memeluk batu sambil menunggu mati.
Yang tidak berguna harus dijual.
Yang berguna harus dibeli.
Siang itu juga, uang tanda jadi dari pembeli pertama masuk. Tidak sebesar dana saham dari Handoko, tetapi cukup untuk membuat arus kas bergerak tanpa menyentuh seluruh saldo besar sekaligus.
Hendra meninggalkan kantor agen properti dan pergi ke sebuah toko grosir-distributor di kawasan pergudangan Jakarta Timur.
Dari luar, toko itu tidak terlihat istimewa.
Papan namanya tua. Cat dindingnya kusam. Truk kecil keluar masuk membawa karung beras, dus mi instan, minyak goreng, gula, garam, air mineral, dan barang kebutuhan warung.
Namun Hendra tidak mencari tempat mewah.
Ia mencari mulut.
Mulut yang bisa menelan barang dari banyak pemasok tanpa membuat orang bertanya terlalu banyak.
Pemilik lama, Pak Tono, menyambutnya di ruang kantor sempit di lantai dua. Pria itu berkumis tipis, perutnya sedikit maju, matanya lelah, tetapi cara bicaranya masih rapi.
"Terus terang, Pak Hendra," katanya sambil menyodorkan laporan stok, "usaha ini masih jalan. Tapi saya sudah tua. Anak saya tidak mau lanjut. Kalau Bapak memang mau ambil alih, saya lebih senang toko ini jatuh ke orang yang serius, bukan spekulan yang cuma mau jual tanahnya."
Hendra membuka laporan itu.
Angka penjualan tidak besar untuk ukuran konglomerat, tetapi stabil. Jaringan pemasoknya luas. Ada beras dari Jawa Tengah, minyak dari pabrik besar, mi instan, tepung, gula, air mineral, obat warung, hingga peralatan dapur murah.
Lebih penting lagi, ada gudang belakang seluas hampir seribu meter persegi, akses truk, dan daftar pelanggan warung kecil yang panjang.
Sempurna sebagai kedok.
"Saya ambil," kata Hendra.
Pak Tono tertegun. "Bapak belum tawar?"
"Saya tidak membeli untuk menawar recehan. Saya membeli waktu."
Pak Tono menatapnya, lalu tertawa kecil. "Jarang ada anak muda bicara begitu."
"Syarat saya sederhana. Karyawan lama tetap dipertahankan jika mereka mau bekerja. Stok berjalan jangan putus. Pembelian dari pemasok bisa diperbesar bertahap mulai minggu ini."
"Diperbesar seberapa?"
"Besar."
Pak Tono ingin bertanya lagi, tetapi pintu kantor tiba-tiba diketuk.
Seorang pemuda masuk dengan napas agak berat. Kemejanya basah keringat, lengannya memegang map stok, dan di bahunya masih ada bekas tepung dari karung yang baru dipindahkan.
"Pak Tono, maaf," katanya. "Ada selisih dua belas dus di laporan mi instan. Bukan hilang. Ternyata masuk ke nota Pak Wahid, tapi barangnya belum diambil. Saya sudah pisahkan di gudang supaya tidak dobel kirim."
Pak Tono menghela napas lega. "Bagus, Rud. Taruh laporannya di meja."
Rud.
Jari Hendra berhenti di halaman laporan.
Pemuda itu menaruh map, lalu baru sadar ada tamu. Ia cepat menunduk sopan.
"Maaf, Pak."
Hendra menatap wajahnya.
Rudi Halim.
Di kehidupan lalu, Hendra bertemu lagi dengannya di Kelab Mawar, ketika dunia sudah berubah menjadi kandang dingin. Saat semua orang menghitung makanan dengan mata curiga, Rudi pernah membagi setengah biskuit terakhir kepada anak kecil yang bukan keluarganya.
Orang seperti itu langka sebelum kiamat.
Setelah kiamat, langka berarti nyawa.
"Kau yang mengurus gudang?" tanya Hendra.
Rudi sedikit kaku. "Saya cuma karyawan stok, Pak."
"Siapa yang menemukan selisih dua belas dus tadi?"
"Saya."
"Kalau kau diam, barang itu bisa masuk laporan hilang?"
Rudi menggaruk tengkuk. "Bisa, Pak. Tapi nanti kasihan bagian pengiriman. Mereka yang kena marah."
Jawaban itu sederhana.
Justru karena sederhana, Hendra menyukainya.
Pak Tono tersenyum bangga. "Rudi ini memang begitu. Gajinya belum besar, tapi kalau ada barang salah kirim, dia yang paling ribut. Pernah pelanggan kelebihan transfer lima ratus ribu, dia sendiri yang telepon minta nomor rekening buat balikkan."
Rudi tampak malu. "Itu memang bukan uang toko, Pak."
Hendra menutup laporan stok.
"Mulai hari ini toko ini milik saya," katanya.
Rudi terkejut. "Oh. Baik, Pak. Selamat, Pak."
"Saya butuh orang yang mengurus gudang dan pembelian harian. Bukan hanya mengangkat karung. Saya butuh orang yang tahu barang masuk, barang keluar, pemasok mana yang bisa dipercaya, sopir mana yang suka main nota, dan kuli mana yang perlu diawasi."
Rudi tidak langsung menjawab.
Pak Tono menatapnya sambil memberi isyarat agar ia mendengarkan baik-baik.
"Gaji naik tiga kali lipat," lanjut Hendra. "Bonus per bulan jika stok bersih dan laporan rapi. Semua pembelian besar tetap atas persetujuan saya. Kau tidak perlu tahu alasan semua pesanan. Cukup pastikan barang datang, dicatat, dan tidak bocor ke orang luar."
Rudi menelan ludah.
"Pak, saya belum pernah jadi manajer."
"Kau pernah menjaga barang seolah itu milikmu?"
"Pernah."
"Itu lebih penting."
Ruangan kecil itu hening.
Di bawah, suara troli besi melewati lantai semen. Karung beras digeser. Seseorang berteriak meminta nota. Aroma plastik, debu tepung, gula, dan kopi sachet naik sampai ke lantai dua.
Bagi orang lain, itu hanya toko grosir tua.
Bagi Hendra, itu adalah awal mesin penyelamat hidup.
Rudi akhirnya mengangguk. "Kalau pekerjaannya halal, saya jalankan, Pak. Saya mungkin belum pintar semua, tapi saya bisa belajar cepat."
"Bagus."
"Saya harus panggil Bapak apa?"
Hendra sempat diam.
Di masa depan, Rudi memanggilnya Bang dengan suara serak, sambil berdiri di depan puluhan penyintas yang hampir mati kelaparan.
Hari itu belum tiba.
"Panggil saja Bang Hendra kalau tidak ada tamu formal," kata Hendra.
Mata Rudi sedikit melebar, lalu ia tersenyum canggung. "Baik, Bang Hendra."
Sore menjelang malam, akta jual beli toko dan pengalihan usaha disiapkan oleh notaris rekan Pak Tono. Proses formal berjalan sampai tanda tangan selesai. Pak Tono lega. Rudi masih tampak seperti orang yang tiba-tiba diberi tanggung jawab terlalu besar.
Setelah semua orang lain pulang, Hendra berdiri di pintu gudang belakang bersama Rudi.
Gudang itu setengah penuh. Karung beras disusun di satu sisi. Dus mi instan menumpuk di rak besi. Palet air mineral berbaris dekat pintu.
Untuk toko biasa, itu cukup.
Untuk akhir dunia, itu bahkan belum layak disebut permulaan.
Hendra menunjuk ruang kosong di tengah gudang.
"Mulai besok, isi tempat ini sampai tidak ada ruang untuk berjalan."
Rudi menoleh cepat. "Semua, Bang?"
"Semua."
"Barang apa saja?"
"Beras, mi, minyak, gula, garam, air mineral, makanan kaleng, obat bebas, baterai, kompor portable, gas kecil. Buat daftar pemasok yang sanggup kirim cepat."
Rudi menatap gudang itu, lalu menatap Hendra. Ia jelas ingin bertanya untuk apa.
Tapi ia menahan diri.
"Baik, Bang Hendra. Saya mulai malam ini."
Hendra melihat pemuda itu mengambil buku catatan dan langsung menulis.
Cepat.
Tidak banyak tanya.
Tidak malas.
Di luar gudang, langit Jakarta sudah gelap. Di dalam gudang, lampu putih menyala di atas tumpukan barang yang belum seberapa.
Rudi belum tahu, gudang di hadapannya hanya mulut kecil dari dunia yang akan Hendra telan.