Seluruh Jakarta percaya Narendra Adiwangsa impoten.
Tiga puluh lima tahun hidupnya, pewaris Grup Adiwangsa itu tak pernah menginginkan perempuan. Bahkan dua tahun menikah, ia tak pernah menyentuh istrinya. Setelah perceraian, semua orang yakin satu hal—Narendra memang “tidak bisa”.
Narendra tak pernah repot membantah.
Sampai Sekar Melati Wardani muncul di hadapannya.
Perancang kebaya dari Bekasi itu bukan siapa-siapa. Tak punya nama besar, tak punya harta, bahkan keluarganya sendiri menganggapnya barang tukar demi mahar. Namun saat Narendra melihat Sekar mengenakan kebaya yang membungkus lekuk tubuhnya, sesuatu yang mati selama tiga puluh lima tahun tiba-tiba bangkit.
Untuk pertama kalinya, Narendra menginginkan seorang perempuan.
Bukan sekadar ingin menyentuhnya.
Ia ingin Sekar di rumahnya, di ranjangnya, dan memakai namanya.
Sekar mengira lelaki tampan di seberang apartemennya hanyalah pekerja kantoran biasa. Ia tak tahu Narendra sengaja menyewa tempat itu demi mendekatinya—dan semakin Sekar mencoba menjaga jarak, semakin pria itu kehilangan kendali.
“Katanya kamu tidak bisa?”
Narendra menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel.
“Coba sendiri. Masih percaya rumor itu?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30
Desa Giriwangi
Hujan menyambut Sekar saat pesawat mendarat di Yogyakarta.
Pengemudi yang diatur Fikri sudah menunggu dengan papan kecil bertuliskan namanya. Setelah mencocokkan nomor kendaraan, Sekar mengirim foto pelat mobil kepada Narendra sebelum masuk.
Balasan datang cepat.
Kabari kalau sudah sampai penginapan.
Sekar tersenyum dan mengetik siap, Pak Agenda.
Perjalanan ke kota memakan waktu lebih lama karena jalan basah. Penginapan yang dipilih berada sepuluh menit dari sentra tenun, bersih dan ramai oleh pelaku usaha tekstil. Sekar memeriksa kamar, mengirim lokasi kepada Bu Laksmi, Narendra, dan Bu Sari, lalu beristirahat sebentar.
Sore itu ia langsung pergi ke tempat Bu Sari.
Bangunan dua lantai tersebut dipenuhi bunyi alat tenun. Di lantai dasar, para pekerja mengatur benang lurik pada rangka kayu. Aroma malam batik dan kain lembap bercampur di udara.
Bu Sari menemuinya di kantor lantai dua. Perempuan berusia sekitar lima puluh tahun itu memeluk Sekar singkat setelah mendengar nama Bu Laksmi.
"Saya sudah bicara dengan gurumu," katanya. "Sayangnya kabar saya nggak bagus."
Ia membuka dua gulung tenun di atas meja. Pinggir kain terlihat bergelombang, dan ketika Sekar mendekatkan hidung, bau lembap segera terasa.
"Benangnya menyerap air sebelum sempat masuk ruang pengering," jelas Bu Sari. "Kalau dipaksa dipakai, beberapa bulan lagi bisa muncul jamur."
Sekar memeriksa serat dengan kaca pembesar. "Stok lain?"
"Warna yang kamu butuhkan habis. Produksi baru paling cepat satu bulan. Batik tulisnya juga belum selesai pelorodan."
"Pesanan kami mulai dipotong minggu depan."
Bu Sari mengeluarkan satu pilihan lain dari lemari. "Ada stok baru dari pengrajin sebelah. Warnanya mirip. Kalau hanya dilihat di foto, klien mungkin nggak sadar."
Sekar membentangkan sampel warna dari Sanggar di samping kain tersebut. Di bawah lampu, keduanya tampak hampir sama. Ia kemudian membawanya ke dekat jendela.
"Yang ini lebih ungu," katanya. "Pesanan kami butuh indigo dingin."
Ia menghitung kepadatan benang per ruas dan menggosok sudut kain dengan kapas lembap. Warna tipis tertinggal pada serat putih.
"Pewarnanya belum stabil. Kalau dipasang dengan batik lama, setelah pencucian pertama warnanya akan pecah."
Bu Sari mengangguk puas, bukan tersinggung. "Laksmi ngajarin kamu dengan benar. Banyak pembeli cuma lihat motif."
"Aku bisa pakai ini untuk pesanan biasa setelah diuji lagi. Tapi bukan untuk klien sekarang. Satu keluarga akan berdiri bersebelahan. Perbedaan kecil langsung kelihatan."
Keputusan menolak stok yang sudah tersedia membuat jalan ke Giriwangi bukan lagi pilihan menarik, melainkan satu-satunya langkah yang bertanggung jawab.
"Saya tahu. Makanya saya cari kemungkinan lain."
Bu Sari mengambil secarik kertas dan menulis nama serta alamat dengan pena biru.
Mbah Ginem, Desa Giriwangi.
"Beliau menyimpan kain lama?"
"Katanya begitu. Mbah Ginem sudah menenun sejak sebelum saya lahir. Ada tenun lurik lama dan batik tulis yang tidak pernah dilepas ke pasar. Tapi desanya lebih masuk gunung."
Sekar memandangi alamat itu. "Apa beliau mau menjual?"
"Kalau tahu kamu murid Laksmi, mungkin."
Nada Bu Sari menyimpan sesuatu, tetapi ketika Sekar bertanya apakah mereka saling mengenal, perempuan itu hanya tersenyum.
"Tanya sendiri nanti."
Sekar menelepon Bu Laksmi. Setelah mendengar penjelasan kondisi kain, gurunya mengizinkan ia mencari Mbah Ginem.
"Jangan memaksa kalau jalannya buruk," pesan Bu Laksmi.
"Aku berangkat pagi. Kalau nggak aman, aku kembali."
Malamnya, Sekar melakukan panggilan video dengan Narendra. Pria itu berada di ruang kerja, kemejanya masih lengkap meski jam sudah lewat sembilan.
"Kamu baru pulang?" tanya Sekar.
"Aku menunggu teleponmu."
Sekar menunjukkan kertas alamat. "Besok aku masuk Desa Giriwangi. Dua jam lebih dari sini."
Kerutan muncul di dahi Narendra. "Sendiri?"
"Pakai mobil sewaan. Bu Sari yang carikan pengemudi."
"Kirim nama dan nomor mobil."
"Iya."
"Cuacanya?"
Sekar mengarahkan kamera ke jendela. Hujan tinggal gerimis. "Aman kok. Tenang."
Ia tidak menceritakan peringatan pengemudi sore tadi bahwa hujan diperkirakan turun lagi. Narendra sudah cukup khawatir.
***
Keesokan pagi, mobil sewaan meninggalkan kota setelah matahari terbit. Jalan lebar berubah menjadi jalur sempit di antara sawah. Semakin jauh mereka masuk, rumah semakin jarang, sementara gunung tertutup awan menggantung di depan.
Sekar beberapa kali merekam pemandangan untuk Narendra. Petak sawah memantulkan langit kelabu. Pohon pisang bergerak ditiup angin, dan rumah-rumah tua muncul di balik kabut.
Narendra menelepon saat mobil mulai menanjak.
"Aku lihat videonya. Jalannya sempit."
"Mobil lain juga lewat."
"Pakai sabuk pengaman."
"Sudah."
"Jangan turun kalau bukan di tempat ramai."
"Mas Nara, aku sedang kerja, bukan diculik."
"Aku tahu. Tetap hati-hati."
Nada serius itu membuat Sekar berhenti menggoda. "Aku akan hati-hati. Nanti sampai aku video call."
Setelah lebih dari dua jam, papan kayu bertuliskan Desa Giriwangi terlihat di tikungan. Di belakangnya, atap-atap genteng tua bertumpuk mengikuti lereng.
Mobil melewati bagian jalan yang baru dibersihkan. Tanah merah masih menempel pada aspal, beberapa karung pasir disusun di sisi jurang.
"Bekas longsor?" tanya Sekar.
Pengemudi mengangguk. "Dua hari lalu. Kecil, sudah dibersihkan. Musim begini sini sering longsor, Mbak. Jangan lama-lama."
Sekar menoleh ke luar. Kabut membuka sebentar, memperlihatkan desa tua dengan sungai berkilau di bawahnya.
Pemandangan itu terlalu indah untuk terasa berbahaya.
Ia melipat kertas alamat Mbah Ginem dan memasukkannya kembali ke tas, tanpa memikirkan peringatan tadi lebih jauh.
semoga konsisten bagus sampe tamat 🥰