Selama tiga tahun, Ye Chen hidup sebagai menantu benalu di keluarga Su. Dia mencuci pakaian, memasak, dan menerima setiap hinaan tanpa melawan demi melindungi istrinya yang dingin namun cantik jelita, Su Yuhan. Semua orang memanggilnya anjing pecundang, tanpa tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah keluarga paling berkuasa di ibu kota.
Ketika sebuah konspirasi mengancam nyawa istrinya dan mertuanya memaksanya untuk bercerai demi menikahkan Yuhan dengan tuan muda kaya, sebuah liontin giok peninggalan ibunya menyerap darah Ye Chen dan membangkitkan Warisan Tabib Naga Sakti. Di saat yang sama, iring-iringan Rolls-Royce hitam dari ibu kota tiba di depan rumahnya.
Mulai hari ini, sang naga telah membuka matanya. Mereka yang pernah menghinanya harus berlutut!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Menyentuh Sisik Terbalik Sang Naga
Malam telah larut menyelimuti Kota Jiangcheng. Di dalam kamarnya yang sederhana, Ye Chen duduk bersila di atas ranjang.
Di tangannya, Ginseng Darah Merah berusia tiga ratus tahun perlahan-lahan mengering, kehilangan warna merah pekatnya hingga menjadi sekusam kayu mati. Di saat yang sama, kabut tipis berwarna keemasan menyelimuti tubuh Ye Chen, berputar mengikuti ritme napasnya.
Krek... Krek...
Suara tulang yang bergesekan terdengar dari dalam tubuhnya. Energi spiritual murni dari ginseng itu mengalir deras ke seluruh meridiannya layaknya sungai yang menjebol bendungan.
Tiba-tiba, Ye Chen membuka matanya. Sepasang pupilnya memancarkan kilatan cahaya keemasan yang menembus kegelapan kamar. Ia menghembuskan napas panjang, mengeluarkan udara keruh berwarna keabu-abuan dari mulutnya.
"Tahap Pembentukan Fondasi... akhirnya tercapai," gumam Ye Chen, mengepalkan tinjunya. Ia bisa merasakan kekuatan ledakan di dalam ototnya. Saat ini, kulitnya sekeras tembaga dan tulang-tulangnya sekuat baja. Peluru biasa sekalipun tidak akan mampu menembus pertahanannya.
Ia melirik jam dinding. Pukul 23:30.
Kening Ye Chen berkerut. Yuhan belum pulang?
Meskipun istrinya sering lembur demi perusahaan, malam ini perasaannya entah mengapa merasa tidak enak. Tepat ketika Ye Chen mengambil ponselnya untuk menelepon, layar ponselnya menyala lebih dulu. Panggilan masuk dari Yuhan.
Ye Chen tersenyum tipis dan mengangkatnya. "Yuhan, kau di mana? Biar aku jemput—"
"Hahahaha! Apa ini suami sampah yang sering dibicarakan orang-orang itu?"
Senyum di wajah Ye Chen seketika membeku. Suara di seberang sana bukanlah suara merdu istrinya, melainkan suara parau seorang pria, diiringi suara tawa beringas beberapa orang di latar belakang.
"Siapa kau?" Suara Ye Chen berubah drastis, suhunya anjlok hingga ke titik beku.
"Namaku Serigala Hitam. Bos area Distrik Barat," tawa pria itu terdengar makin keras. "Istrimu yang cantik jelita ini kebetulan mobilnya 'mogok' di area konstruksi Jalan Lingkar Barat. Oh, man, dia benar-benar mulus. Bos Wang membayarku mahal untuk membuat video dokumenter dengannya malam ini."
Di latar belakang telepon, terdengar jeritan panik Su Yuhan. "Ye Chen! Jangan kemari! Berbahaya! Mereka punya senja—Mmph!"
Suara Yuhan terputus oleh bunyi tamparan keras.
Seketika, aura membunuh yang sangat pekat meledak dari tubuh Ye Chen. Suhu di dalam kamar itu turun drastis, cermin di meja rias retak karena tekanan tak kasat mata. Dalam mitologi, setiap naga memiliki satu sisik terbalik di lehernya. Siapa pun yang berani menyentuhnya, naga itu akan membantai seluruh generasinya.
Bagi Ye Chen, Su Yuhan adalah sisik terbaliknya!
"Serigala Hitam," suara Ye Chen sekarang begitu tenang, ketenangan yang mendahului badai terbesar. "Jika sehelai saja rambut istriku rontok, aku akan mencabut nyawamu dan seluruh garis keturunanmu."
"Hah! Datanglah kemari, anjing! Bawa nyawamu!" klik, telepon dimatikan.
Ye Chen tidak membuang waktu satu detik pun. Ia melompat dari jendela lantai dua, tubuhnya seringan kapas, mendarat di halaman tanpa suara. Di bawah pekatnya malam, sosok Ye Chen melesat layaknya bayangan hantu, menggunakan teknik meringankan tubuh (Qinggong) untuk berlari membelah kota dengan kecepatan menyamai mobil sport.
Di area konstruksi Jalan Lingkar Barat yang terbengkalai.
Sebuah BMW putih milik Su Yuhan terparkir paksa di tengah jalan berdebu, dikepung oleh tiga mobil van hitam. Lampu sorot dari van-van itu menyilaukan mata, menyorot langsung ke arah Su Yuhan yang ditarik paksa keluar dari mobilnya.
Wanita cantik yang biasanya tampil anggun dan sedingin es itu kini tampak berantakan. Wajahnya pucat pasi dipenuhi ketakutan.
Di depannya, berdiri seorang pria botak dengan tato serigala menutupi separuh wajah dan lehernya. Pria itu, Serigala Hitam, menatap tubuh Yuhan dengan pandangan rakus, sementara selusin anak buahnya berdiri mengelilingi mereka sambil membawa tongkat besi dan parang.
"Nona Su, jangan salahkan aku. Salahkan suamimu yang bodoh karena menyinggung Keluarga Wang," Serigala Hitam menyeringai, mengeluarkan sebuah kamera genggam. "Tapi tenang, setelah kami selesai bermain-main, kami hanya akan membuang videonya ke internet. Kau akan jadi bintang terkenal besok pagi!"
Anak-anak buahnya tertawa menjijikkan.
"Lepaskan aku! Kalian semua binatang!" Su Yuhan meronta-ronta, air mata keputusasaan mengalir di pipinya. Ia menyesal menyuruh Ye Chen untuk tidak datang. Dalam hati terdalamnya, di saat paling menakutkan ini, satu-satunya sosok yang ia harapkan muncul adalah pria yang selama tiga tahun ini memasak untuknya.
Serigala Hitam mencengkeram kerah kemeja Yuhan, bersiap merobeknya. "Ayo kita mulai, jagoanmu yang sampah itu pasti sedang bersembunyi di bawah selimut sekarang—"
BOOOOOM!!!
Sebuah ledakan memekakkan telinga menghentikan gerakan Serigala Hitam.
Semua orang menoleh ke arah kegelapan. Salah satu mobil van seberat dua ton yang memblokir jalan tiba-tiba terpental ke udara sejauh lima meter, sebelum menghantam tanah dengan suara besi ringsek yang mengerikan.
Debu berterbangan menutupi cahaya lampu sorot. Dari balik kepulan debu itu, terdengar langkah kaki lambat.
Tap... Tap... Tap...
Sesosok siluet berjalan keluar dari debu. Matanya memancarkan cahaya sedingin gletser. Angin malam bertiup kencang, membuat jaket kasualnya berkibar.
"Ye Chen!" Su Yuhan menjerit, campuran antara lega dan horor. Ia datang! Tapi... ia hanya sendirian melawan belasan preman bersenjata!
Serigala Hitam melepaskan Yuhan, matanya memicing menatap mobil van-nya yang hancur, lalu menatap Ye Chen. "Sialan! Kau menabrak mobilku pakai apa? Truk?!"
Ia tidak bisa melihat truk di mana pun. Ia sama sekali tidak berpikir bahwa mobil itu terpental karena tendangan manusia.
"Kau berani datang sendirian? Bagus! Habisi dia! Patahkan kedua kaki dan tangannya!" teriak Serigala Hitam.
Selusin preman berwajah beringas langsung berteriak, mengayunkan pipa besi dan parang, menerjang ke arah Ye Chen layaknya sekawanan anjing gila.
Ye Chen berdiri diam. Matanya menatap para preman itu seolah melihat tumpukan sampah mati.
Saat preman pertama mengayunkan parang ke kepala Ye Chen, pemuda itu bergerak.
Brak!
Satu pukulan tinju dari Ye Chen menghantam dada preman itu. Terdengar suara tulang dada hancur berantakan. Tubuh preman berotot itu terpelanting ke belakang layaknya karung pasir yang ditabrak kereta api berkecepatan tinggi, merobohkan tiga temannya di belakang.
Krek! Buk! Bam!
Ye Chen bergerak layaknya malaikat maut. Setiap pukulan dan tendangannya mematahkan tulang. Tidak ada gerakan indah, hanya efisiensi absolut untuk membunuh dan melumpuhkan. Dalam waktu kurang dari dua puluh detik, jeritan mengerikan memenuhi area konstruksi itu.
Selusin preman bayaran yang terkenal kejam di Distrik Barat, kini terkapar di tanah. Ada yang tangannya membengkok dengan sudut tidak wajar, ada yang kakinya hancur, darah menggenang di tanah berdebu.
Su Yuhan menutupi mulutnya, tak mampu mempercayai matanya. Suaminya... apakah dia dewa perang yang menyamar?!
Serigala Hitam terbelalak ngeri. Rokok yang menggantung di bibirnya jatuh ke tanah. Lututnya mulai bergetar. I-ini manusia atau monster?!
Melihat Ye Chen perlahan berjalan ke arahnya, Serigala Hitam melangkah mundur, mencabut sebilah belati dari pinggangnya dengan tangan gemetar.
"B-berhenti di situ! Jangan mendekat!" teriak Serigala Hitam panik. "Bocah, k-kau mungkin jago berkelahi, tapi dengar baik-baik! Aku ini anggota Asosiasi Harimau Putih! Master Tang Zhenhai adalah bos besarku! Jika kau berani menyentuhku, kau dan istrimu tidak akan bisa hidup di Jiangcheng!"
Langkah Ye Chen terhenti.
Melihat Ye Chen berhenti, Serigala Hitam mengira ancamannya berhasil. Ia kembali mendapatkan keangkuhannya dan menyeringai.
"Hahaha! Takut sekarang? Keluarga Wang menyewaku karena mereka tahu latar belakangku! Sekarang, berlututlah dan cium sepatuku, lalu serahkan istrimu secara sukarela, mungkin aku akan memohon pada Master Tang untuk mengampuni nyawa anjingmu!"
Bukannya takut, senyum sinis nan kejam malah mengembang di bibir Ye Chen.
"Kau menggunakan nama Tang Zhenhai untuk mengancamku?" Ye Chen terkekeh, menggelengkan kepalanya pelan. "Bahkan jika Tang Zhenhai sendiri berdiri di depanku detik ini, dia harus berlutut memanggilku Tuan."
"Lancang! Beraninya kau menghina Master Tang!"
Ye Chen tidak membalas. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah benda kecil, dan melemparnya tepat ke wajah Serigala Hitam.
Tuk!
Benda itu menghantam dahi Serigala Hitam sebelum jatuh ke telapak tangannya. "Sialan! Apa yang kau lemp—"
Ucapan Serigala Hitam terputus di tenggorokan. Matanya melotot hingga urat-urat merahnya menonjol, menatap benda di telapak tangannya.
Itu adalah sebuah plakat giok putih pualam. Di permukaannya, terdapat ukiran kepala harimau yang mengaum, memancarkan aura tirani. Di baliknya, terukir satu karakter huruf kuno: TANG.
Darah di tubuh Serigala Hitam seketika membeku. Ia merasa seolah jiwanya baru saja dicabut dari ubun-ubunnya.
Sebagai bos tingkat menengah, ia pernah melihat plakat ini satu kali dari kejauhan saat pertemuan tahunan. Itu adalah Plakat Macan Putih! Token tertinggi kepemimpinan dunia bawah Jiangcheng. Melihat plakat ini sama dengan melihat Master Tang sendiri!
Dan Master Tang telah memberikan benda suci ini kepada... pemuda di depannya?!
Bruk!
Kedua lutut Serigala Hitam menghantam tanah dengan keras. Belati di tangannya terjatuh. Ia mulai bersujud, membenturkan kepalanya ke tanah berbatu hingga dahinya berdarah parah.
"T-Tuan... Tuan Besar! Ampuni saya! Saya buta! Saya pantas mati! Saya tidak tahu Anda adalah pemegang Plakat Macan Putih!" ratapan Serigala Hitam memecah keheningan malam, diselingi bunyi daging yang membentur batu berulang kali.
Su Yuhan kembali mematung. Pikirannya benar-benar kosong. Pagi ini, suaminya membuat Presiden Bank berlutut. Malam ini, bos preman paling ditakuti menangis darah sambil bersujud di kakinya! Ye Chen... berapa banyak rahasia yang kau sembunyikan dariku?
Ye Chen melangkah maju, kakinya menginjak kepala Serigala Hitam yang sedang bersujud, menekan wajah bos preman itu ke tanah.
"Kau dibayar oleh Wang Tianhai?" tanya Ye Chen datar.
"Y-Ya, Tuan! Babi tua itu yang membayar saya! Dia menjebak saya untuk menyinggung dewa seperti Anda!" Serigala Hitam menangis histeris di bawah sol sepatu Ye Chen.
"Bagus." Mata Ye Chen memancarkan niat membunuh yang membuat suhu udara anjlok. "Aku akan memberimu satu kesempatan untuk menebus nyawa anjingmu."
"T-Tuan perintahkan saja! Saya akan melakukan apa pun!"
Ye Chen melepaskan kakinya, lalu menatap arah cakrawala kota tempat kediaman Keluarga Wang berada.
"Keluarga Wang sangat suka bermain dengan api. Karena mereka sangat menyukai api... pergilah ke kediaman mereka malam ini. Bakar rumah itu hingga rata dengan tanah. Patahkan semua anggota gerak Wang Tianhai dan Wang Hao, dan lemparkan mereka ke depan pintu Grup Kosmetik Su besok pagi."
Serigala Hitam gemetar, namun dengan cepat ia berteriak. "Baik, Tuan! Saya akan melaksanakannya dengan nyawa saya sebagai jaminan!"
Ye Chen berbalik, berjalan menghampiri istrinya yang masih gemetar di samping mobil. Ia melepaskan jaketnya, lalu menyelimutkannya ke bahu Su Yuhan yang dingin. Tatapan matanya yang tadi bagai iblis pencabut nyawa, seketika berubah menjadi kelembutan musim semi.
"Jangan takut, aku ada di sini," bisik Ye Chen, memeluk istrinya yang masih syok. "Ayo kita pulang."