NovelToon NovelToon
Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.

Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.

Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.

"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."

Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.

Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.

"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29: Menantu Kaya Tersembunyi

Setelah Hadiprana runtuh, rumah keluarga Wirawan tidak lagi ramai.

Dulu, setiap kali ada kabar proyek besar, suara orang di ruang tamu bisa terdengar sampai halaman.

Pak Yunan bicara paling keras.

Pak Junaidi menghitung paling cepat.

Tante Juanita tertawa paling manis.

Nenek Ratna hanya perlu mengetukkan tongkat satu kali, semua orang langsung diam dan menunggu bagian masing-masing.

Sekarang, yang terdengar hanya kipas angin tua dan suara cangkir diletakkan terlalu keras.

"Tiga proyek berhenti," kata Pak Junaidi dengan wajah pucat. "Dua klien minta renegosiasi. Bank juga menunda fasilitas kredit."

Pak Yunan menggebrak meja.

"Semua gara-gara Hadiprana!"

Nenek Ratna menatapnya dingin.

"Saat mereka kuat, kalian berebut mendekat. Saat mereka jatuh, kalian menyalahkan mereka?"

Pak Yunan langsung diam.

Mama Ayu duduk di sisi lain, wajahnya kusut.

Sejak malam Hotel Marquis, Jessica tidak mau mengangkat teleponnya.

Ia sudah mencoba mengirim pesan.

Tidak dibalas.

Ia datang ke kantor PT Daun Kreasi.

Jessica tidak mau menemuinya.

Untuk pertama kalinya, Mama Ayu merasa pintu yang biasa ia tendang dengan nama "ibu" benar-benar tertutup dari dalam.

"Jessica bisa membantu," kata Tante Juanita hati-hati. "PT Daun Kreasi sekarang justru naik. Setelah kasus kantor dihancurkan, banyak orang simpati. Kalau dia mau bicara dengan beberapa klien..."

Michelle yang berdiri dekat tangga langsung tertawa kecil.

"Sekarang baru ingat Mbak Jessica?"

Semua orang menoleh.

Michelle mengangkat bahu.

"Waktu Mbak Jessica hampir dijual ke Vincent, kalian bilang keluarga butuh pengorbanan. Sekarang keluarga butuh uang, kalian panggil dia lagi?"

"Michelle!" bentak Mama Ayu.

Michelle tidak mundur.

"Apa? Aku salah?"

Ruangan itu mendadak lebih sunyi.

Nenek Ratna menatap Michelle lama.

Tongkatnya bergerak sedikit, tetapi tidak diketukkan.

Karena kali ini, bahkan Nenek Ratna tahu, tidak ada kata yang bisa membuat mereka terlihat benar.

Di rumah Hendry, suasananya berbeda.

Daun berlari di ruang makan membawa gambar matahari besar dengan tiga orang berpegangan tangan.

"Papa! Mama! Ini kita!"

Jessica duduk di meja makan, rambutnya diikat sederhana. Wajahnya belum sepenuhnya segar, tetapi matanya tidak lagi kosong seperti setelah malam hotel itu.

Hendry menerima kertas gambar dari Daun.

"Kenapa Papa digambar paling tinggi?"

Daun menjawab serius, "Karena Papa bisa angkat Daun tinggi-tinggi."

"Kalau Mama?"

"Mama cantik."

Jessica tersenyum kecil.

"Kalau Daun?"

Daun menunjuk gambar dirinya sendiri.

"Daun paling bahagia."

Hendry dan Jessica saling menatap.

Tidak lama.

Cukup lama untuk membuat sesuatu yang dulu dingin terasa hangat.

Beberapa hari itu, Jessica mulai melakukan hal-hal kecil yang dulu tidak pernah ia lakukan.

Ia bertanya Hendry sudah makan atau belum.

Ia menaruh kemeja bersih di kursi sebelum Hendry keluar.

Ia membuat kopi, walau rasanya kadang terlalu pahit.

Hendry tidak pernah menggodanya.

Ia minum sampai habis.

Sore hari, mereka membawa Daun ke taman kecil dekat cluster lama Taman Indah Residence.

Udara setelah hujan terasa bersih.

Daun berlari mengejar gelembung sabun yang dijual pedagang keliling di pinggir taman.

Jessica berjalan di samping Hendry.

Mereka tidak banyak bicara.

Kadang, setelah badai terlalu keras, diam terasa lebih jujur daripada penjelasan.

Di depan mereka, Daun melompat dan berteriak, "Papa! Mama! Lihat!"

Jessica tersenyum.

Lalu tangannya bergerak pelan.

Jari-jarinya menyentuh punggung tangan Hendry.

Hendry berhenti setengah langkah.

Jessica tidak menatapnya.

Wajahnya sedikit merah, matanya tetap ke arah Daun.

"Jangan salah paham," katanya pelan. "Jalan licin."

Hendry melihat jalan yang sama sekali tidak licin.

Ia tidak membantah.

Ia hanya membuka telapak tangannya.

Jessica ragu satu detik.

Lalu menggenggamnya.

Tangan itu kecil.

Hangat.

Tidak lagi menolak.

Di depan, Daun berbalik dan melihat mereka.

Matanya langsung membesar.

"Papa Mama pegangan!"

Jessica hendak melepas, tetapi Hendry menahan lembut.

Daun berlari kembali, menyelip di antara mereka, lalu meraih tangan Jessica dan Hendry sekaligus.

"Daun juga mau!"

Mereka bertiga berjalan pulang di bawah matahari sore.

Bayangan mereka memanjang di jalan.

Untuk pertama kalinya, Hendry merasa rumah juga bisa melindunginya.

Rumah adalah tempat seseorang menunggunya kembali.

Dua hari kemudian, ulang tahun Jessica tiba.

Pagi itu, Hendry tidak memberi hadiah di meja makan.

Tidak ada kotak perhiasan.

Tidak ada mobil mewah.

Hanya sarapan biasa dan senyum Daun yang terlalu sulit menyimpan rahasia.

"Mama hari ini cantik sekali," kata Daun.

Jessica tertawa.

"Biasanya Mama tidak cantik?"

Daun panik.

"Cantik! Tapi hari ini cantik ulang tahun!"

Hendry batuk kecil untuk menahan tawa.

Siang hari, Adrian mengirim pesan singkat.

`Dokumen sudah atas nama Bu Jessica. Renovasi selesai. kunci siap.`

Hendry membalas:

`Terima kasih. Pastikan tidak ada nama saya di depan.`

Sore menjelang malam, Hendry mengajak Jessica keluar.

"Ke mana?"

"Sebentar saja."

"Daun ikut?"

Daun sudah berdiri dengan sepatu kecil.

"Daun ikut!"

Jessica curiga, tetapi tidak menolak.

Di mobil, Daun menutup mata Jessica dengan syal lembut.

"Mama jangan intip."

"Ini ide siapa?"

Daun menjawab terlalu cepat, "Bukan Papa!"

Hendry mengemudi sambil tersenyum.

Mobil berhenti di depan sebuah gerbang tua yang sudah dicat ulang.

Jessica turun dengan mata tertutup.

Angin sore membawa aroma rumput basah dan bunga kamboja.

Hendry berdiri di belakangnya.

"Buka."

Daun menarik syal itu.

Jessica membuka mata.

Lalu seluruh tubuhnya membeku.

Di depannya berdiri sebuah rumah dua lantai bergaya lama, dengan balkon putih, jendela kayu besar, dan taman yang baru dirapikan.

Rumah itu bukan rumah paling mahal di Kota Biru.

Tapi bagi Jessica, rumah itu menyimpan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan harga biasa.

"Ini..."

Suaranya hilang.

Hendry berkata pelan, "Rumah lama keluargamu di blok lama Taman Indah Residence."

Jessica menutup mulut.

Matanya langsung basah.

"Dulu Papa sering cerita... sebelum bisnis keluarga jatuh, kami tinggal di sini. Aku masih kecil. Aku ingat tangga itu. Aku ingat pohon mangga di samping..."

Daun melihat pohon itu.

"Ada mangga?"

Jessica tertawa sambil menangis.

Hendry menyerahkan sebuah amplop.

"Selamat ulang tahun."

Jessica membukanya dengan tangan gemetar.

Di dalamnya ada salinan sertifikat.

Nama pemilik: Jessica Mahendra.

Hendry tidak ada di sana.

Perusahaan juga tidak muncul.

Jessica menatap kertas itu, lalu menatap Hendry.

"Bagaimana kamu..."

Hendry hanya berkata, "Ada beberapa hal yang memang harus kembali ke pemiliknya."

Air mata Jessica jatuh.

Rasa takut tidak lagi menguasainya.

Rasa dikhianati juga bukan pusatnya.

Seseorang baru saja mengingat luka yang bahkan ia sendiri sudah berusaha kubur.

Ia melangkah mendekat dan bersandar ke dada Hendry.

"Kamu sebenarnya siapa?"

Pertanyaan itu keluar pelan.

Hendry menunduk menatapnya.

"Suamimu."

Jessica menangis lebih keras, tetapi sudut bibirnya tersenyum.

Daun sudah berlari ke taman.

"Papa! Mama! Rumah baru ada bunga!"

Malam itu, mereka makan kue ulang tahun kecil di teras rumah lama yang kembali menjadi rumah.

Tidak ada pesta besar.

Tidak ada tamu penting.

Hanya lilin kecil, suara Daun bernyanyi fals, dan Jessica yang beberapa kali menatap sertifikat seolah takut semua itu menghilang.

Keesokan paginya, sebuah truk pindahan berhenti di rumah seberang.

Hendry berdiri di halaman, membantu Daun menyiram tanaman.

Seorang perempuan muda turun dari mobil hitam.

Rambutnya panjang.

Senyumnya hangat.

Pakaiannya sederhana, tetapi caranya berdiri terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Ia melihat Hendry, lalu mengangkat tangan kecil.

"Selamat pagi. Saya Maya Devi. Baru pindah ke rumah seberang."

Hendry mengangguk sopan.

"Hendry Pratama."

Daun berbisik, "Papa, tante itu cantik."

Maya tertawa lembut.

"Terima kasih, adik kecil."

Jessica keluar dari rumah dan ikut menyapa.

Maya memperkenalkan diri sebagai desainer independen yang baru pindah ke Kota Biru.

Semuanya terdengar wajar.

Terlalu wajar.

Malamnya, setelah lampu rumah Hendry padam satu per satu, Maya menutup pintu rumah barunya.

Senyum di wajahnya hilang.

Ia mengeluarkan ponsel lain dari laci yang terkunci.

Nomor itu tidak bernama.

Panggilan tersambung.

"Saya sudah masuk posisi," kata Maya pelan.

Suara pria di seberang terdengar berat.

"Target?"

Maya berjalan ke jendela dan menatap rumah seberang.

"Terkonfirmasi. Hendry Pratama, Jessica Mahendra, dan anak mereka. Saya tinggal tepat di depan mereka."

Hening sesaat.

Lalu suara itu berkata, "Mulai pantau. Jangan bergerak sebelum perintah."

Maya menurunkan tirai.

"Baik."

Di luar, rumah lama Jessica tampak hangat di bawah lampu taman.

Di seberangnya, bayangan baru telah tiba.

1
Marchel
Seneng banget liat Yanto membeku seperti itu🤣🤣🤣
Marchel
Pasti Yanto punya niat terselubung
Marchel
Bagus Hendri kamu harus tegass
Marchel
Hendri mulut mertuamu lemesss bangetttt pengen aku sumpel pake baju cucian/Panic//Panic//Panic/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!