Perjalan cinta seorang Elsa yang sangat rumit, berawal dari dendam orang tua angkatnya, Elsa yang harus jadi umpan untuk membalas dendam kepada keluarga Ayu, Elsa di paksa untuk mendekati anak Ayu dan di paksa pura pura mencintai anak Ayu yang bernama Leo, tapi sayang Elsa terjebak dengan cinta palsunya, ia benar benar mencintai Leo, di saat hari pernikahan Elsa dengan Leo, Elsa di paksa pergi meninggalkan Leo, hal itu membuat Leo marah dan membenci Elsa, tapi mereka di pertemukan kembali di saat Leo sudah menikah dan Elsa melamar kerja jadi pembantu di rumah Leo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yunia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 9
Ayu mulai sibuk mempersiapkan pesta pernikahan Leo, setelah Leo memberitahu kalau ia menikah di rumah mereka.
Sedangkan Ika merasa sangat marah mendengar Leo akan menikah.
"Leo bukan mencari Adnan, malah sibuk ingin menikah, apa kak Ayu tidak memikirkan bagaimana nasib Diba," kata Ika kepada Rido. Tapi Rido tidak menanggapi perkataan Ika, melihat suaminya seperti itu Ika semakin kesal.
"Percuma bicara kepada Papa, Papa selalu membela mereka." kata Ika. Lalu ia bangun dari duduknya meninggalkan Rido, Rido geleng geleng kepala melihat tingkah Ika. Ika pergi kemar, selang beberapa saat ia kembali keluar kamar dengan penampilan rapi.
"Pa, Mama pergi belanja sebentar." kata Ika pamit kepada Rido.
"Hmm." Rido berdehem menjawab perkataan istrinya, melihat suaminya seperti itu Ika semakin kenal. Tapi Ika tidak mau lagi ribut dengan Rido, akhirnya ia pergi.
Dengan hati gembira Ayu berbelanja persiapan pernikahannya Leo dan Elsa, ia pergi ke mall, tidak sengaja Ika melihat Ayu, melihat Ayu yang terlihat bahagia emosi Ika meluap.
"Anakku menderita dibuat anaknya, tapi ia tidak perduli." gumam Ika. Lalu Ika mendatangi Ayu yang sedang asik berbelanja.
"Wah, bahagianya Kakak sekarang, tidak seperti anakku dan aku menderita gara gara anak Kakak." ucap Ika dengan nada marah.
"Kamu bicara apa sih Ka? Kakak tidak mengerti." tanya Ayu lembut.
"Halah, jangan pura pura tidak tau, Kakak berbahagia menyiapkan pesta pernikahan Leo, sementara Kakak tidak perduli dengan nasib Diba."
"Kakak juga memikirkan nasib Diba, tapi Kakak tidak tau harus bagaimana menolongnya, Kakak sudah lelah mencari Adnan, tapi sampai sekarang tidak ketemu." kata Ayu menjelaskan, agar Ika tidak lagi berprasangka buruk kepadanya.
"Kakak pandai bersilat lidah, perkataan Kakak membuat semua orang percaya, tapi dengan aku, aku tidak percaya perkataan Kakak." kata Ika meninggikan suaranya, karena sudah banyak orang yang menonton mereka, Ayu pergi meninggalkan Ika.
"Aku belum selesai bicara!" kata Ika, agar Ayu berhenti, tapi Ayu tidak perduli. Ia terus berjalan meninggalkan Ika karena malu di lihat banyak orang. Melihat Ayu pergi meninggalkannya, Ika semakin marah kepada Ayu.
**
Saat ini Elsa gelisah, ia sampai tidak konsentrasi bekerja mengingat ancaman neneknya, kalau ia tidak meminta uang lamaran sebesar seratus juta kepada Leo pernikahan mereka batal. Ia tidak berani meminta uang kepada Leo, karena menurutnya Leo sudah memberikan uang banyak kepada mereka.
Saat Elsa sibuk melayani pembeli, suara ponselnya berbunyi, lalu ia mengangkatnya.
"Halo, Nek," kata Elsa setelah menerima telepon dari Mawar.
"Kamu sudah meminta uang lamaranmu kepada Leo?" tanya Mawar, ia sengaja menghubungi Elsa karena sudah tidak sabar ingin menerima uang lamaran Elsa.
"Belum Nek, Elsa masih sibuk." jawab Elsa beralasan.
"Kamu tinggalkan pekerjaanmu sebentar, Leo kan atasanmu, tidak mungkin dia memecat calon istrinya."
"Ya sudah, ini aku mau ke ruangan Kak Leo, aku tutup dulu teleponnya Nek."
"Iya, tapi jangan sampai lupa yang Nenek katakan." ujar Mawar mengingatkan.
"Iya, Nek." jawan Elsa. sambungkan telepon terputus.
Elsa mondar mandir di depan pintu ruangan Leo, ia sangat sungkan meminta uang lamaran kepada Leo, tapi ia juga tidak mau kalau sampai ia tidak jadi menikah dengan Leo. Dengan mengumpulkan keberaniannya Elsa terpaksa memberanikan diri masuk keruangan Leo.
Tok,, tok,, tok!
"Permisi, Pak, boleh saya masuk?" tanya Elsa. Leo tersenyum mendengar perkataan Elsa yang menurutnya lucu, mereka sebentar lagi akan menikah, tapi Elsa tetap sungkan kepadanya.
"Iya, masuk." jawab Leo. Lalu Elsa membuka pintu ruangan Leo. Leo tersenyum lebar menyambut Elsa.
"Ada apa sayang? rindu ya."kata Leo. Mendengar perkataan Leo Elsa semakin malu.
"Bukan, aku mau." kata Elsa terhenti, karena tidak sanggup mengatakan apa yang Ingin ia sampaikan.
"Hayo, mau apa?" tanya Leo, ia kembali menggoda Elsa. Elsa menarik nafas panjang lalu menghembuskannya, menghilangkan kegugupan dirinya.
"Aku mau meminta uang lamaran." kata Elsa. Setelah mengatakan itu Elsa menunduk, ia tidak berani melihat wajah Leo.
"Kakak memang sudah menyiapkan uang lamaranmu, tapi Kakak pikir di hari pernikahan kita kakak berikan, tapi kalau maunya kamu sekarang ya tidak masalah."
"Aku perlu uang itu sekarang, untuk membeli persiapan pernikahan kita." kata Elsa beralasan agar Leo tidak curiga.
"Ya sudah, aku kirim dulu." lalu Leo mengambil ponselnya ingin mentransfer ke rekening Elsa.
"Uang lamaranku seratus juga Kak." kata Elsa. Leo terkejut mendengar apa yang Elsa katakan.
"Uang Kakak tidak ada sebanyak itu."
"Tapi, kalau uangnya tidak segitu, aku tidak mau menikah dengan Kakak."
"Ya sudah, nanti Kakak cari pinjaman dulu, setelah dapat baru Kakak transfer."
"Kalau tidak ada sekarang, kita tidak jadi menikah." kata Elsa memaksa, Leo heran melihat sikap Elsa seperti memaksa dirinya, tapi ia mencoba berpikir positif.
"Tunggu sebentar! Kakak telepon Papa." kata Leo. Elsa menganggukkan kepalanya. Elsa sebenarnya sudah malu sekali dengan sikapnya sendiri. Tapi demi ia bisa bersama dengan orang yang ia cinta terpaksa ia menebalkan mukanya.
Leo menghubungi Radit, ia kembali meminjam uang papanya, untuknya Radit memberikan pinjaman kepadanya.
"Kakak sudah dapat uangnya, tunggu Kakak transfer ke rekening kamu." kata Leo. Elsa menganggukkan kepalanya. Lalu Leo mentransfer uang seratus juga ke rekening Elsa.
"Sudah sayang." kata Leo sambil menunjukan bukti transferan yang ada di ponselnya.
"Terimakasih Kak."
"Cuma itu saja?" tanya Leo, Elsa heran dengan pertanyaan Leo.
"Jadi aku harus bagaimana?" tanya Elsa bingung.
"Tidak ada, ya sudah tidak perlu di bahas." Leo mengalihkan pembicaraan ia baru ingat Elsa masih karena olos.
**
Sementara itu di rumah Radit saat ini mereka membahas Leo.
"Papa merasa perempuan yang akan menikah dengan Kakakmu bukan perempuan baik baik," kata Radit menyampaikan isi hatinya kepada Diba.
"Kenapa Papa berkata seperti itu?"
"Keluar calon istri Kakakmu meminta uang sangat banyak, kalau perempuan baik baik tidak mau seperti itu."
"Mungkin, memang calon Kak Leo membutuhkan uang, Papa tidak boleh berpikir buruk tentang calon istri Kak Leo."
"Bagaimana Papa tidak berpikir buruk kepada calon istri Kak kamu, belum apa apa mereka sudah meminta uang banyak."
"Tidak baik berprasangka buruk kepada orang lain Pa, kita doakan saja! agar istri Kak Leo perempuan baik baik dan bisa menerima kekurangan Kakak apa adanya." kata Diba mencoba berpikir positif.
"Amin." jawab Wulan diikuti bu Risma.
Saat Elsa sampai di rumah, Mawar sudah menunggunya di depan pintu.
"Assalamualaikum Nek," kata Elsa sambil menyalami Mawar.
"Kamu sudah meminta uang lamaranmu kepada Leo?" tanya Mawar ingin tau.
"Sudah Nek." jawab Elsa sambil terus berjalan menuju kamarnya, Mawar segera menarik tangan Elsa, agar Elsa berhenti.
"Mana uangnya? " tanya Mawar bersemangat.
"Belum aku ambil Nek."
"Ya sudah, kamu ambil sana uangnya!" kata Mawar. Terpaksa Elsa pergi mencairkan uang yang di berikan Leo kepadanya.
padahal PP y Elsa adalah PP sambung Elsa
kesian nasib mu Elsa, seperti y sulit mendapatkan jodoh dirimu Elsa
ingat leo km dah Puy anak & istri 🤭
yakinlah klo yg km ambil adalah jodoh yg terbaik untukmu