NovelToon NovelToon
Love Me Back

Love Me Back

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:406
Nilai: 5
Nama Author: Aan Iman

Zhao Ryn, gadis manis dua puluh tahun menganggap Sian Lee penerus Lee Group adalah cahaya terang dalam gelapnya hidup.

"Bawa dia pergi!" Perintah dingin seorang Sian berhasil meruntuhkan benteng kokoh Ryn.

"Sian, kumohon tolong aku." Ryn memohon belas kasih Sian agar bisa membantunya namun kembali mendapat penolakan darinya.

"Nona Ryn, mohon kerja samanya." Asisten Jun memberi isyarat agar Ryn bergegas meninggalkan klub nomer satu di kota Jasata.

Bisakah Ryn menemukan kebahagiaan hidupnya? Atau dia benar-benar harus bertahan sendirian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

lmb17

Di bawah terang sinar bulan melalui celah jendela yang terbuka, posisi Sian tengkurap tanpa atasan sedangkan Ryn mengoleskan salep pada bekas cambuk di punggungnya. Ryn tidak habis pikir mendengar cerita Pearly yang sengaja ia panggil ke kamar utama.

"Sian kau pikir di cambuk itu enak, tidak sakit? Kau tampan, kaya dan digilai banyak wanita tapi bodoh." Hanya Ryn yang berani mengatainya. Namun Sian malah tersenyum mendengar omelan Ryn, hatinya merasa hangat karena Ryn masih peduli padanya. Sian kemudian duduk menghadap Ryn.

"Aku hanya ingin tahu seberapa perih luka yang kau dapat. Ternyata bukan hal mudah menahannya." Jemari Sian mengusap lembut pipi Ryn, hangat. Sian selalu menemukan kenyamanan berada di sisinya. Sampai kapanpun dia tidak akan pernah melepaskan Ryn.

"Sian, jangan ulangi lagi ok?" Tanya Ryn menuntut jawaban iya dari pria yang nafasnya mulai terasa panas.

"Ryn, ada beberapa kondisi tertentu yang harus kau pahami. Keluargaku akan menjadi urusanku, dan kau tidak perlu memikirkan pandangan orang lain. Selagi bumi masih berputar kau harus tetap disisiku, mengerti?" Sian malah meminta pengertian Ryn mengenai sumber masalah keduanya. Sian terpancing emosi hingga melontarkan kata-kata kejamnya pada Ryn. Padahal Sian paling mengetahui bagaimana Ryn.

Noda darah di atas sprei ketika pertama kali mereka melakukannya menjadi bukti seberapa hebat perjuangan Ryn menjaga dirinya di dunia gelap kemarin. Sian sangat amat beruntung menjadi yang pertama dan harus satu-satunya pemilik Ryn.

"Sian aku mengantuk, aku ingin tidur." Enggan menjanjikan sesuatu Ryn mencoba mengalihkan pembicaraan.

Sian melepaskannya kali ini, membiarkan Ryn beristirahat di kamar tamu.

***

Menjelang dini hari Sian terpaksa meninggalkan rumah usai mendengar kabar baru dari Jun. Dia memerintahkan Jun menemuinya di tempat biasa ia melakukan pembersihan hama. Jun beserta kedua pengawalnya sudah menunggu kedatangan Sian. Seorang wanita duduk terikat kaki dan tangannya, penutup mata dilepaskan saat Sian muncul.

"Sian tolong aku, mereka melukaiku." Rengekan menggema mengisi kekosongan gudang terbengkalai milik Sian di kawasan pribadi.

"Kau yang sudah menyakiti wanitaku jalang!" Bentak Sian mengejutkan Yuri Chen.

Ya, Jun akhirnya berhasil membuat Pen buka mulut siapa dalang dari penculikan Ryn waktu itu. Bahkan Yuri juga memerintahkan seseorang untuk menyerempet Ryn. Beruntung sekaligus sial karena Lea menyelamatkan Ryn.

"Sian aku melakukannya karena mencintaimu, kau harusnya memilih aku bukan anak madam seperti dia."

Plak...

Sian tak segan menampar pipi Yuri, bersyukurlah dia Sian tidak menggunakan seluruh kekuatan tangannya.

"Jaga mulutmu! Sekali lagi kau menyentuh wanitaku, aku bisa membuatmu lenyap dan tidak akan ada yang menyadarinya." Sian memperingati Yuri yang digadang-gadang akan menjadi tunangannya.

Sebelum pergi Sian memberi Jun kode agar menjalankan hukuman untuk Yuri. Jun lalu memerintah pengawal menuangkan sesuatu ke minuman Yuri. Yuri berontak namun tidak mampu berbuat apa-apa selain pasrah meneguknya.

Tak lama setelahnya Yuri merasakan reaksi panas, menginginkan belaian seorang pria di tubuhnya. Jun memanggil satu orang khusus penghibur untuk Yuri, tak lupa menyetel mode aktif kamera tersembunyi tapi menyorot wajah sang pemain secara detail.

"Dia tidak akan berani macam-macam tuan." Bisik Jun kemudian menancap gas mobilnya.

Sian memejamkan mata menikmati ketenangan. Urusan Yuri mungkin selesai dalam beberapa waktu kedepan menggunakan ancaman video syurnya barusan. Maka kepada siapapun, jangan pernah menantang Sian jika tidak siap menanggung resikonya.

Sian masuk kedalam rumah yang masih gelap gulita meski waktu hampir menjelang pagi. Hening dan damai, mengingat ada Ryn tengah berbaring di salah satu kamar miliknya membuat hati Sian lega.

Saat ingin naik tangga Sian mendengar suara berisik dari arah dapur. Sian mengambil stick golf dalam guci kemudian berjalan dalam diam mendatangi sumber suara. Hampir saja Sian melayangkan pukulan mautnya andai saja tidak menyadari Ryn adalah sosok yang tengah sibuk mencari sesuatu di lemari pendingin.

Klik...

Saklar lampu ia nyalakan berhasil mengejutkan Ryn.

"Sian, kau habis pergi?" Sapa Ryn, kedua tangannya memegang telur dan tomat berniat membuat omelette.

"Ya Zhao Ryn, biar aku yang melakukannya." Sian meletakkan stick golf sembarang, menghampiri Ryn dan mengambil alih kedua bahan tadi.

Ryn memperhatikan Sian yang terlihat sangat tampan mengenakan celana kargo hitam dengan atasan kemeja oversize lengan pendek berwarna khaki. Ia selalu tak menyangka bisa dekat dengan pria disampingnya itu.

"Ingin lebih puas memandangku kita bisa berbagi kehangatan pagi ini." Tutur Sian menyadari sedang diperhatikan oleh Ryn.

"Ck, mesum sekali." Gerutu Ryn ogah mengakuinya sementara Sian hanya terkekeh kecil.

"Duduklah, sebentar lagi selesai." Perintah Sian tak mau Ryn lelah menunggu.

Ryn menurut dia duduk di kursi sebrang island. Sejujurnya Ryn masih mengantuk tetapi perutnya sangat amat lapar sehingga memaksanya turun ke dapur. Mencari apa yang bisa ia makan.

Tidak lama Sian meletakkan sepiring omelette di hadapan Ryn. Wanita muda itu hampir meneteskan air liur hanya karena tak sabar ingin mencicipi.

"Ini enak." Puji Ryn usai menikmati potongan telur gulung pertamanya. Sian ternyata pandai memasak meski berkepribadian angkuh, dia juga menuangkan segelas air untuk Ryn.

"Kurasa kita harus mencoba melakukannya di dapur." Melenceng dari topik pembicaraan, tiba-tiba Sian nyeletuk membahas kegiatan intim mereka.

"Uhuk... " Tentu saja Ryn tersedak mendengar ucapan Sian sekaligus gugup jika dia benar-benar melakukannya sekarang. Sian menyerahkan gelas agar Ryn meminumnya.

"Di rumahmu banyak pekerja dan kamera pengawas, apa kau rela kita di tonton orang?" Sian terkesan dengan jawaban Ryn, sangat cerdik.

"Jadi kau bersedia kalau mereka pergi dan kamera mati?" Ryn kehabisan kata-kata menghadapi tingkah Sian yang selalu memikirkan urusan ranjang.

"Kau tidak akan mendapatkannya Sian." Ekspresi Sian seketika langsung membeku, apa alasannya? Mungkinkah,,,

"Tamu bulananku datang." Lanjut Ryn memperjelas khawatir Sian tidak mengerti maksud ucapannya. Raut kekecewaan jelas terlihat di wajahnya, bukan karena Sian tidak bisa menjamah Ryn melainkan usahanya membuat wanita itu hamil belum berhasil.

"Habiskan makananmu." Sebelum meninggalkan Ryn Sian tak lupa mengecup ujung kepalanya.

Hari-hari berlalu dengan lancar, Ryn ternyata masih betah menjadi seorang staf restoran. Beberapa rekan kerjanya tahu kalau Ryn dan pimpinan perusahaan mereka memiliki hubungan tertentu. Namun tidak ada yang berani mengungkit bahkan mencela Ryn. Kebanyakan memilih acuh, fokus bekerja.

"Ryn antarkan minuman milik tamu tuan Sian ke taman dekat kolam." Bass menyerahkan tugas pada Ryn, dia masih harus mengantar layanan kamar.

"Baiklah." Jawab Ryn menyanggupi. Restoran hotel terletak di lantai sebelas sedangkan kolam renang berasa di sebelah lobby.

Langkah Ryn terhenti begitu saja melihat Sian tengah dirangkul mesra oleh seorang gadis muda. Wajahnya cukup familiar bila Ryn perhatikan dari jarak dekat. Mengesampingkan rasa penasaran, Ryn menyajikan teh sore dan beberapa jenis kudapan manis juga asin di meja mereka.

"Silahkan tuan, nona." Tadinya Ryn berniat pergi, sayangnya gadis muda berpenampilan cantik nan elegan mengenakan dress Sabrina itu malah memanggilnya.

"Tolong foto kami." Pintanya sopan sekali.

"Tentu nona." Dia menyerahkan ponsel miliknya, Ryn Terima lalu mulai mengambil gambar keduanya. Sian? Dia tetap tenang seolah tak terjadi apapun.

"Sudah, silahkan cek kembali." Ryn mengembalikan ponsel tadi, menyempatkan melirik Sian sebelum pamit.

"Puas? Sekarang pulanglah!" Titah Sian mengusir Meimei yang merupakan adik kandungnya. Lee Meimei dan Ryn usianya hampir sama hanya berbeda bulan saja. Sian enggan memperkenalkan keduanya, alasannya yaitu Meimei pasti akan mengganggu Ryn dan ehidupan pribadinya. Itulah mengapa Sian berpura-pura tidak akrab dengan Ryn.

Sejak ibu mereka meninggal Meimei kecil dibesarkan oleh sang nenek. Ketika memasuki junior High school Sian terpaksa mengirimnya ke luar negeri berdasarkan pertimbangan alot. Adiknya harus memiliki pendidikan tinggi, jauh dari pergaulan bebas. Sian hanya mengupayakan masa depan yang cerah untuk Lee Meimei.

"Keke, bukankah staf wanita tadi sangat cantik?" Goda Meimei menyadari Sian tak pernah berkedip memandangi Ryn.

"Jun akan mengantarmu ke kediaman papa." Sian beranjak, Meimei segera mencekal lengannya menghentikan.

"Tidak mau, aku ingin menginap di rumah atau apartemen keke. Dimana saja asal bersamamu." Meimei masih tetap bersikap manja saat didekat Sian. Berbeda jauh bila ada papa dan nenek di sekeliling, Meimei merasa begitu terkekang dan tidak bebas.

"Ok, ke apartemen Jun." Titah Sian pada Jun yang sudah berdiri tak jauh, tak lupa Sian memberi kode agar Meimei jangan sampai datang ke rumahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!