NovelToon NovelToon
Tawanan Hati Sang Don Mafia

Tawanan Hati Sang Don Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.

Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.

Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.

Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.

Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17 : Saat semua orang merasa aman

Sementara itu...

Di sebuah kota kecil di perbatasan Swiss dan Italia. Wanita bermantel krem itu masih duduk di dalam mobil yang terparkir di balik deretan pepohonan. Hujan rintik mulai turun, membasahi kaca depan.

Pria bertubuh tegap yang sejak tadi mengemudikan mobil menoleh ke arahnya. "Nyonya."

Wanita itu masih memegang foto Aurora. "Apa ada laporan terbaru?" tanyanya. Wanita itu mengangkat kepalanya perlahan.

"Orang yang berada di panti jompo sudah dibungkam," jawab pria itu.

Tatapan wanita itu langsung berubah. "Jadi Anton, sudah mati?"

Pria itu mengangguk pelan. "Ya, Nyonya."

Wanita itu memejamkan mata. "Bagus..."

Pria itu kembali berbicara. "Tapi ada kabar buruk lainnya."

"Apa?"

"Don Adrian sendiri yang datang ke sana."

Wanita itu langsung membuka mata. "Apa dia melihat semuanya?"

"Ya."

Wanita itu menghela napas panjang. "Kalau begitu... dia pasti sudah tahu ada organisasi lain yang ikut bergerak."

Pria itu mengangguk. "Saya yakin begitu."

Wanita itu menatap keluar jendela. "Hanya tinggal masalah waktu sebelum dia menemukan keberadaanku."

"Apakah kita harus pindah?" tanya Pria itu.

"Tidak," jawabnya dengan tegas.

"Tapi Nyonya..."

Wanita itu mengangkat tangan, menghentikan ucapannya. "Selama Aurora berada di Mansion Moretti... aku tidak pergi dari kota ini, aku harus terus memantaunya." Nada suaranya dipenuhi kepedihan. "Aku sudah gagal melindunginya, kali ini aku tidak boleh gagal lagi."

Di saat yang sama, Mobil Adrian akhirnya memasuki halaman Markas Utama Moretti. Begitu kendaraan berhenti, Johan telah menunggu di depan pintu masuk bersama beberapa anggota keamanan elite.

"Selamat malam, Don."

Adrian turun tanpa membuang waktu. "Johan."

"Ya."

"Mulai sekarang semua laporan mengenai Aurora masuk langsung kepadaku."

"Dimengerti, Don."

"Jangan melalui siapa pun," jelasnya.

"Baik."

Mereka berjalan memasuki ruang operasi intelijen. Puluhan monitor memenuhi dinding ruangan. Di layar tampak berbagai sudut Mansion Moretti, gerbang utama, taman belakang, koridor, hingga balkon lantai tiga tempat Aurora menginap.

Seorang operator segera berdiri. "Selamat malam, Don. Laporan, seluruh kamera aktif."

"Apakah sensor panas?" tanya Adrian.

"Normal."

"Drone pengawas?"

"Dua unit berpatroli."

Adrian mengangguk singkat. Tatapannya berhenti pada layar yang memperlihatkan Aurora sedang duduk di dekat jendela kamarnya sambil membaca buku sejarah keluarga Moretti. Ia terlihat tenang, tidak mengetahui bahwa puluhan orang sedang mempertaruhkan nyawa untuk menjaganya.

Johan mengikuti arah pandangan Adrian. "Nona Aurora terlihat baik-baik saja."

"Hm."

"Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiran Don?"

Adrian tidak langsung menjawab, beberapa detik kemudian ia berkata pelan, "musuh kita terlalu tenang."

Johan mengernyit. "Biasanya setelah kehilangan dua orang... sebuah organisasi akan berhenti sejenak."

"Tapi mereka justru tetap bergerak."

Johan mulai memahami. "Berarti target mereka sangat penting."

Adrian mengangguk. "Bukan sekadar penting, melainkan tidak boleh gagal."

Ruangan kembali sunyi.

Saat itulah salah seorang analis berseru. "Don!"

Semua orang langsung menoleh.

"Apa?"

Analis itu memperbesar salah satu layar. "Kami baru saja menangkap sinyal drone asing."

Johan langsung menegang. "Dari mana asalnya?"

"Barat laut."

"Jaraknya?" tanya Johan lagi

"Empat kilometer dari Mansion."

Adrian melangkah mendekati monitor. Drone itu hanya muncul beberapa detik sebelum sinyalnya menghilang. "Hilang?"

"Ya, Don."

Analis mengangguk gugup. "Seolah-olah sengaja hanya mengirimkan koordinat sebentar."

Adrian menatap titik terakhir kemunculan drone tersebut. "Itu bukan pengintaian."

Johan menoleh. "Lalu?"

"Itu ujian."

"Ujian?"

"Mereka sedang mengukur seberapa cepat kita bereaksi."

Semua orang di ruangan saling berpandangan.

Adrian segera memberi perintah. "Kerahkan drone kita."

"Ya, Don."

"Periksa radius sepuluh kilometer."

"Siap."

"Dan..." Tatapan Adrian berubah semakin dingin. "Mulai malam ini, jangan hanya menjaga Aurora."

Johan mengangguk. "Lalu?"

"Temukan siapa pun yang sedang mengawasinya. Karena..." Adrian mengepalkan tangannya pelan. "Aku ingin permainan ini berakhir di pihak mereka, bukan di pihak kita."

Di tempat lain, jauh di atas bukit yang menghadap ke arah Mansion Moretti, seorang pria bertopeng hitam perlahan menurunkan teropong digitalnya.

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. "Sangat menarik..."

Ia memasukkan alat itu ke dalam tasnya, lalu berbicara melalui alat komunikasi kecil di telinganya. "Laporkan kepada Ketua."

"Moretti sudah meningkatkan keamanan ke Tingkat Merah."

Suara berat dari seberang menjawab singkat. "Bagus."

Pria bertopeng itu mengernyit. "Bagus?"

"Semakin kuat mereka menjaga Aurora, semakin yakin kita bahwa gadis itu memang kunci yang selama ini kita cari."

Sambungan telepon terputus.

Pria bertopeng itu kembali menatap ke arah Mansion Moretti yang diterangi cahaya lampu malam. "Sebentar lagi, Aurora Bellini... kau akan mengetahui siapa dirimu sebenarnya."

***

Di lantai tiga Mansion Moretti, Aurora masih duduk di dekat jendela kamarnya. Hujan tipis mulai turun di luar, membuat taman belakang yang diterangi lampu-lampu taman terlihat semakin indah.

Namun entah mengapa, hatinya justru terasa gelisah. Buku sejarah keluarga Moretti masih terbuka di pangkuannya. Tatapannya kembali jatuh pada foto lama Panti Asuhan Kasih Bunda.

Ia mengusap perlahan wajah Maria Laurent yang tersenyum hangat di dalam foto. "Ibu Maria..." gumamnya lirih.

Rasa rindu kembali memenuhi dadanya. Seandainya wanita itu masih hidup, mungkin semua pertanyaan ini sudah memiliki jawaban.

Tok... tok...

Suara ketukan pelan membuyarkan lamunannya.

"Masuk."

Pintu terbuka perlahan, bukan Isabel. Melainkan Leonardo.

Aurora segera berdiri. "Tuan Leonardo..."

Leonardo tersenyum hangat. "Duduklah. Aku hanya ingin berbicara sebentar."

Aurora mengangguk pelan lalu kembali duduk. Leonardo mengambil tempat di kursi seberangnya. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.

Tatapan Leonardo justru tertuju pada buku yang masih terbuka. "Kau sudah sampai bagian itu rupanya."

Aurora mengikuti arah pandangannya. "Maaf... aku jadi penasaran."

"Tidak perlu meminta maaf."

Aurora menatap pria tua itu. "Tuan..."

"Hm?"

"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanyanya dengan sedikit ragu.

Leonardo mengangguk. "Tentu."

Aurora menarik napas panjang. "Kenapa keluarga Moretti begitu banyak membantu Panti Asuhan Kasih Bunda?"

Pertanyaan itu membuat Leonardo terdiam beberapa detik. Matanya perlahan beralih ke arah hujan di luar jendela.

"Karena..." Ia mengembuskan napas pelan. "Aku pernah berhutang budi kepada seseorang."

Aurora berkedip. "Berhutang budi?"

Leonardo mengangguk. "Orang itu pernah menyelamatkan seseorang yang sangat berarti bagi keluarga kami."

Aurora mengernyit. "Siapa?"

Leonardo hanya tersenyum kecil. "Ceritanya panjang."

Aurora tidak memaksa, namun rasa penasarannya semakin besar.

"Tapi..." lanjut Leonardo pelan. "Aku bisa memastikan satu hal."

"Apa itu?"

"Maria Laurent adalah wanita yang luar biasa."

Aurora tersenyum tipis. "Iya, Ibu Maria selalu memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri." Mata Aurora mulai memerah. "Ibu Maria bahkan sering tidak makan kalau makanan di panti tidak cukup."

Leonardo memandang gadis itu dengan sorot mata penuh penghargaan. "Itulah sebabnya aku sangat menghormatinya."

Aurora menundukkan kepala. "Aku merindukannya."

Leonardo tersenyum lembut. "Dia pasti juga sangat menyayangimu."

Aurora mengangguk pelan. "Tuan..."

"Iya."

"Kalau suatu hari nanti aku mengetahui siapa orang tuaku..." Ia berhenti sejenak. "Bagaimana kalau mereka ternyata bukan orang baik?"

Leonardo memandangnya cukup lama, kemudian ia berkata dengan suara tenang. "Darah tidak menentukan siapa dirimu."

Aurora perlahan mengangkat kepalanya.

"Yang menentukan adalah pilihanmu."

"Pilihanku?"

"Kau tumbuh menjadi gadis yang baik, itu bukan karena darahmu. Itu karena didikan Maria."

Air mata Aurora akhirnya jatuh. "Terima kasih..."

Leonardo mengambil sapu tangan dari sakunya lalu menyerahkannya.

Aurora menerimanya sambil tersenyum malu. "Maaf Tuan, aku jadi menangis."

Leonardo terkekeh pelan. "Menangis bukanlah tanda kelemahan."

Ruangan kembali dipenuhi keheningan yang hangat. Kali ini Aurora merasa benar-benar dianggap sebagai keluarga.

***

Di ruang operasi intelijen, salah seorang analis kembali berseru. "Don!"

Adrian segera menghampiri. "Ada apa?"

Analis memperbesar salah satu layar satelit. "Kami berhasil menemukan titik terakhir drone asing."

Johan ikut mendekat. "Di mana?"

"Hutan pinus sebelah barat."

Adrian memperhatikan layar tanpa berkedip. "Terlambat."

Johan mengernyit. "Mereka sudah pergi?"

Analis mengangguk. "Yang tersisa hanya bekas roda kendaraan."

Adrian terdiam beberapa saat. "Lupakan drone itu."

Johan sedikit terkejut. "Don?"

"Mereka memang ingin kita mengejarnya."

"Lalu?"

Adrian menatap monitor lain yang memperlihatkan Aurora sedang berbicara dengan Leonardo.

"Mereka mengalihkan perhatian kita."

Johan langsung memahami. "Berarti target sebenarnya..."

"Bukan malam ini." Adrian melipat kedua tangannya. "Mereka sedang mempelajari kebiasaan kita."

"Lalu kapan mereka akan bergerak?" tanya Johan.

Tatapan Adrian berubah semakin dingin. "Saat semua orang mulai merasa aman."

1
It's me Sky
terimakasih kakak🙏
Arditya
Mafia lali ini seru thoor, kagak kalah seru sama buku sebelumnya👍
Arditya
sukses terus thor, bukunya selalu menceritakan yang tidak membosankan/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!