NovelToon NovelToon
Terjerat Pesona Duda Beranak Tiga

Terjerat Pesona Duda Beranak Tiga

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Nikahmuda / CEO / Pengantin Pengganti / Duda / Romansa
Popularitas:380.6k
Nilai: 4.8
Nama Author: Donacute

Blurb

Aurora Clarance Adelia, seorang perempuan yang diberi nama seperti salah satu tokoh putri di dunia Disney, tetapi kisah hidupnya justru tidak seindah cerita dongeng.

Aurora terpaksa menjadi pengantin pengganti dengan seorang pria yang telah memiliki anak untuk menutupi pelarian yang dilakukan oleh sang sepupu sebagai calon pengantin. Dia terpaksa harus menjadi istri dan ibu sambung dari seorang duda beranak tiga di umur yang masih cukup belia. Namun, ia tak memiliki pilihan lain karena ada 'sesuatu' yang harus ia pertahankan.

Niat hati ingin terbebas dari 'sesuatu' yang selalu membuatnya tertekan, menikah muda dan menjadi ibu sambung justru membuat kehidupan Aurora berubah. Hal tersebut justru seolah merampas seluruh kebebasan yang selalu dinanti. Akankah perempuan itu dapat menemukan kebahagiaannya sendiri di tengah-tengah kabut nelangsa yang menguasa?

© Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Donacute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8

Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu lumayan lama karena sempat terjebak macet, Aurora dan Aksan akhirnya tiba di kediaman Mahanta. Sebelum Aurora turun, Aksan bergegas membukakan pintu untuk istri dari Keenan itu.

"Terima kasih, Mas Aksan. Harusnya Mas enggak perlu bukakan pintu segala karena aku bisa buka sendiri," ujar Aurora pada asisten pribadi suaminya.

Aksan tersenyum. "Enggak apa-apa, Aurora. Udah sepantasnya saya melakukan hal itu buat kamu, apalagi sekarang kamu adalah Nyonya Mahanta."

Aurora tersenyum kikuk, lalu pandangan perempuan itu fokus pada bangunan yang ada di hadapannya. Mansion Mahanta yang sangat mewah dan berkelas, benar-benar membuat Aurora terkagum-kagum dibuatnya. Rumah tersebut terdiri dari beberapa lantai dan menerapkan konsep skandinavian-modern dengan penerapan kaca yang banyak dijadikan sebagai sirkulasi cahaya utama saat siang hari.

Meskipun terlahir dari keluarga yang berada, Aurora tetap dibuat terpukau dengan rumah tersebut. Perempuan itu merasa baru pertama kali melihatnya seumur hidup. Dan terhitung mulai sekarang, ia akan tinggal di sana.

"Mas Aksan, ini serius rumahnya Mas Keenan?" tanya Aurora tak percaya.

"Iya, Aurora. Ayo, saya antarkan kamu masuk. Tuan Keenan dan anak-anaknya pasti udah menunggu di dalam," balas Aksan.

Aurora mengangguk mengiyakan, walau dirinya masih diliputi rasa terkejut. Perempuan itu mengekor di belakang Aksan yang jalan terlebih dahulu sebagai petunjuk jalan. Begitu tiba di ruang tengah, Keenan ternyata sudah menunggu di sana sambil duduk di salah satu kursi.

"Liatnya biasa aja kali. Jangan norak!" omel Keenan saat melihat Aurora yang menatap sekeliling ruangan sambil berdecak kagum.

Aurora langsung menunduk. "Maaf."

Tidak lama kemudian, muncul seorang wanita paruh baya bersama dua anak kecil yang berbeda jenis kelamin ke hadapan Aurora dan Keenan. Hal tersebut tak luput dari pengawasan Aurora.

Terlihat gadis kecil yang rambutnya dikuncir satu tengah berlari menghampiri Keenan sambil menyerukan kata 'Papa', begitu juga anak laki-laki yang usianya hanya terpaut beberapa tahun dengan gadis kecil itu.

"Papa!" panggil mereka dengan bersemangat.

"Papa dari mana? Kok baru pulang?" tanya si anak laki-laki.

Keenan tersenyum mendengar pertanyaan putra sulungnya, kedua anak kecil itu tidak lain dan tidak bukan merupakan putra dan putri dari Keenan. Si sulung bernama Arham Kaif Mahanta, sedangkan adik perempuan Arhan sendiri bernama Calysta Ardhania Mahanta.

Bukannya menjawab pertanyaan sang putra, Keenan justru meminta kedua anaknya semakin mendekat. "Arham, Calysta. Papa mau kenalin kalian sama seseorang."

"Siapa, Pa?" tanya Calysta bingung.

Keenan mengisyaratkan Aurora untuk mendekat agar dia dapat memperkenalkan diri. Namun, Aurora sangat bingung memikirkan bagaimana cara memperkenalkan diri kepada keluarga pria itu. Alhasil, ia hanya bisa mengangguk patuh.

"Hai! Selamat siang semua!" sapa Aurora.

Namun, belum sempat Aurora memperkenalkan diri, seorang wanita paruh baya memotong ucapannya dengan cepat.

Dengan wajah congkak, wanita paruh baya itu berkata, "Bagus, ya. Kamu pulang-pulang bawa perempuan asing! Kali ini siapa lagi, Keenan?"

Bukan hanya wanita itu penasaran siapa Aurora, kedua anak Keenan pun merasakan hal yang sama.

"Dia Aurora, Ma. Istri Keenan." Ucapan Keenan sangat mengejutkan mama dan kedua anaknya, tetapi Keenan tidak perduli dengan hal itu.

Aurora baru mengetahui bahwa wanita paruh baya itu adalah ibu dari suaminya, yang di mana sekarang sudah menjadi mertuanya. Wanita itu sendiri adalah Nandini Mahanta, istri dari dari Keevan Mahanta.

Dengan inisiatif, Aurora mencoba menyalami Nandini. Namun, Nandini menolak. Ia bahkan menatap Aurora dengan tatapan tidak suka.

Nandini tertawa meledek putranya. "Istri? Kamu lagi melawak? Kemarin kamu nolak dijodohin sama pilihan Mama karena katanya kamu mau nikah sama Grace, terus kenapa sekarang kamu justru bawa perempuan lain?"

Keenan membuang pandangan sebentar. Ia malas sekali mendengar nama wanita yang awalnya ingin dinikahi, tetapi justru menghilang tanpa kabar. Bahkan sudah hampir memasuki tahap 'benci'. Untung saja ada Aurora yang menjadi pengantin pengganti. Jika tidak, maka pria itu tidak akan tinggal diam. Ia akan menunjukkan taring.

"Ceritanya panjang, Ma. Nanti Keenan cerita kalo ada waktu." Nandini hanya bisa menggeleng mendengar jawaban dari putranya, tentu saja jawaban itu bukan yang ingin ia dengar.

"Pa, kok bukan Tante Grace yang jadi istri Papa? Kenapa harus Tante ini?" tanya Arham bingung.

"Iya, bener," tambah Calysta.

Aurora paham sekali, wajar saja kedua anak itu bertanya kepada sang papa. Karena mereka hanya mengenal Grace, wanita yang dekat dengan Papa meraka setelah Mama mereka meninggal dunia.

"No buts anymore, Kids. Lebih baik sekarang kalian ke kamar dan belajar," jawab Keenan dengan santai.

"Iya, Pa," jawab keduanya dengan berbarengan.

Saat hendak pergi, Aurora justru mendekat ke arah kedua anak sambungnya. Seakan ingin mencegah mereka pergi karena ia ingin melakukan sesuatu terlebih dahulu.

"Arham, Calysta, tunggu!" cegah Aurora.

Arham mengernyit. "Kenapa, Tante?"

"Kita belum kenalan. Nama aku Aurora, panggil aja Kak Rora. Kayaknya aku lebih cocok dipanggil Kakak aja dibandingkan Mama atau Tante, aku 'kan masih muda kayak kalian berdua," ujar Aurora dengan ceria sambil mengulurkan tangan di hadapan Arham dan Calysta.

Aurora berusaha mencoba untuk mengakrabkan diri pada Arham dan Calysta, meski mereka berdua mengacuhkannya.

"Arham gak mau manggil Tante dengan sebutan Kakak atau Mama karena Tante itu orang asing!" seru Arham sebelum pergi meninggalkan ruang tengah, Calysta pun ikut pergi mengikuti Abangnya.

"Arham bener-bener, ya. Anak itu," kesal Keenan.

"Enggak apa-apa, Mas. Arham masih kecil. Lagian wajar Arham bersikap kayak itu karena kenyataannya aku emang orang asing kok."

Aurora berusaha membela anak sambungnya,agar tidak mendapat kemarahan dari Keenan. Sungguh, Aurora tidak akan tega melihatnya. Apalagi Keenan memang semenyeramkan itu.

Keenan menyunggingkan senyuman kecil, ia tahu alasan Aurora membela putranya. Jelas wanita itu takut ia akan memarahi Arham, tetapi sebenarnya ia pun tidak akan melakukannya. Keenan tidak akan bersikap kejam kepada putranya sendiri. Untuk orang lain, jelas akan berbeda.

Nandini meludah tepat di hadapan Aurora. "Cih! Dasar cari muka!"

"Ma!" tegur Keenan karena terlalu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh mamanya.

Aurora pun terkejut, tetapi ia berusaha bersikap tenang. Perlakuan buruk sudah sering ia terima sejak kematian kedua orang tuanya, tentu saja dari Om dan Tantenya. Memang dari siapa lagi? Jadi, ia tidak akan terlalu kaget lagi.

Wanita paruh baya itu menatap Keenan dengan tatapan kecewa. Ia tidak menyangka jika dirinya akan dibentak demi membela perempuan yang sangat asing baginya. "Siapa pun perempuan yang kamu pilih, Mama enggak akan pernah merestui pernikahan kalian! Kamu harus dapat pengganti Bella yang lebih baik ... dan harus Mama yang pilihin."

Keenan sangat terkejut ucapan sang mama, bisa-bisanya berbicara seperti itu. Ia jelas sadar bahwa wanita yang baru saja berbicara itu adalah wanita yang telah melahirkannya ke dunia, Keenan pun sangat menghormati.

Namun, bukan berarti Nandini bisa bersikap seenaknya. Apalagi usia pria itu sekarang sudah hampir kepala tiga, tetapi ia masih diperlakukan bak anak yang baru saja lulus SMA. Tentu Keenan bisa memilih sendiri wanita yang akan ia jadikan istri.

Melihat penolakan mamanya kepada Aurora, Keenan jadi teringat kepada mendiang istri pertamanya yang bernama Bella. Sejak ia menikahi Bella, sampai wanita itu meninggal dunia. Mamanya pun tidak pernah bisa menerima Bella sebagai menantu karena selalu menganggap Bella bukanlah perempuan baik-baik.

Padahal menurut Keenan, Bella adalah wanita yang sangat baik. Karena itu juga Keenan begitu mencintainya. Bahkan sampai Bella tiada, rasa cinta itu pun masih sangat besar di hatinya.

Jika bukan karena ketiga anaknya membutuhkan sosok ibu serta karena ingin menghindar dari perjodohan yang terus dilakukan oleh Nandini, Keenan pasti tidak akan memilih untuk menikah lagi.

Entah kenapa ia pun lebih memilih menikah dengan Aurora yang baru saja ia kenal, daripada perempuan pilihan Nandini. Keenan takut wanita itu tidak mencintai ketiga anaknya. Apalagi dia adalah pilihan Nandini, di mana jelas mamanya akan terus membela walau berbuat salah sekalipun. Belum lagi Nandini pasti akan menerus menyetir rumah tangganya. Sungguh Keenan tidak ingin hal itu sampai terjadi.

Jika Aurora yang tidak sayang atau bahkan berbuat buruk pada ketiga anaknya, Keenan tentu saja tidak akan segan-segan menceraikannya tanpa perduli apa pun. Pun ia tidak akan tinggal diam. Pria itu akan membalas Aurora lebih kejam lagi dari perbuatan istri kecilnya itu.

"Enggak bisa gitu, dong, Ma. Keenan sama Aurora udah nikah. Mama enggak bisa seenaknya gitu."

"Mama enggak peduli," ujar Nandini sebelum meninggalkan Keenan dan Aurora di ruang tengah.

"Abaiin aja ucapan Mama saya! Kamu cuma perlu menuruti semua ucapan saya."

Aurora mengangguk paham. "Iya, Mas."

"Sekarang kamu ikuti saya!"

"Ke mana, Mas?"

1
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
Puri khusuma
kok cerita aurora ndak lanjut kak
Donacute: belum bisa lanjut kak gak ada idenya, kakak mampir aja ke ceritaku yang lain
total 1 replies
marti 123
Lumayan
marti 123
Kecewa
Novi Kristina
jgn PHP dong.....
Nikma: Permisi kak Author ...

Halo kak reader, kalau berkenan mampir juga di novel aku 'Kesayangan Tuan Sempurna' yaa..
Terima kasih😊🙏
total 1 replies
bundha novita
Luar biasa
Falisha Azka
ceritanya seru
Falisha Azka
kak ini kapan update nya?
Falisha Azka
kapan update lagi thor
Apriliana Putri Kezia Sitepu
kapan update lagia thorr seru banget ceritanya...
Morina Simamora
nungguinnya setahun thorr😭😭
bunny_jeon.jk13.97.9707
kapan up nya thorr
uwuw
gk kerasa udah sampe sini, pdhl aku baru baca 2 hari. seru bgt ceritanya kak, ditunggu updatenya ya🤩
Donacute: terima kasih kak
total 1 replies
uwuw
Luar biasa
Rini AL
Semngt thor ,aku setia menunggu ,walau kadang masih baca yang lain hhe
Donacute: makasih Kak
total 1 replies
Rini AL
Jangan lama2 lagi ya thor ,hhh
Donacute: do'akan idenya ngalir terus
total 1 replies
Lussii Sihotang
untung ni aplikasih gak ku hapus
Donacute: hehehe untung ya kak, jadi nggak ketinggalan updatetan terbaru cerita ini
total 1 replies
bunny_jeon.jk13.97.9707
aa seneng banget, akhirnya up lagi 😭💗💗💗💗💗
Donacute: ikutin terus ya ceritanya, jangan sampai ketinggalan
total 1 replies
bembi septiani
Min udah setahun ni
Nurani Dwi Putri
thorr, ayoo up lagii huhuhuu🥹🙏🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!