NovelToon NovelToon
Menyusui Bayi Tuan Muda, Ternyata Anakku Sendiri

Menyusui Bayi Tuan Muda, Ternyata Anakku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Cinta Terlarang / Ibu susu
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

"Angie Thio hanyalah seorang gadis biasa yang terpaksa bekerja sebagai pengasuh bayi di kediaman keluarga Liem — salah satu konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Tugasnya sederhana: merawat Guai, bayi mungil yang menolak semua susu formula dan terus menangis sepanjang malam.
Tapi Angie menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Diam-diam, di tengah kegelapan malam, dia menyusui Guai dengan ASI-nya sendiri. Bayi itu langsung tenang di pelukannya — seolah mengenali sentuhan ibunya. Angie tidak mengerti kenapa tubuhnya masih memproduksi ASI, kenapa hatinya terasa begitu terikat pada bayi yang bukan anaknya.
Atau... benarkah Guai bukan anaknya?
Sementara itu, sang Tuan Muda — Hansen Liem, CEO Liem Corporation — menyimpan rahasianya sendiri. Selama setahun, tubuhnya tidak pernah bereaksi terhadap wanita mana pun. Dokter memvonisnya mengalami disfungsi. Dingin. Mati rasa.
Sampai Angie datang.
Setiap kali gadis itu mendekat, jantungnya berdebar tak terkendali. Setiap kali aroma tubuhnya tercium, seluruh pertahanannya runtuh. Hansen tidak mengerti kenapa hanya Angie — seorang pengasuh bayi biasa — yang bisa membuat tubuhnya bereaksi seperti ini.
Di balik dinding mansion mewah Keluarga Liem, Celine Lau duduk di singgasananya sebagai ""ibu"" Guai dan calon istri Hansen. Tapi setiap kali Guai menangis, bayi itu hanya mau Angie. Setiap kali Hansen menatap seseorang, matanya hanya mencari Angie.
Celine tahu posisinya terancam. Dan Nyonya Lau — dalang di balik segalanya — tidak akan membiarkan seorang pengasuh menghancurkan rencana yang sudah disusun sejak setahun lalu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29 Saksi Bayaran

"Kunci semua pintu keluar rumah sakit."

Suara Hansen membuat petugas keamanan di ujung telepon langsung bergerak.

"Jangan hentikan ambulans yang membawa pasien gawat," lanjutnya. "Periksa kendaraan lain tanpa mengganggu pelayanan. Cari ranjang dorong bayi dengan penutup bertanda alat steril."

Pak Hasan sudah mengambil formulir palsu dari lantai menggunakan sarung tangan. "Tanda tangan Bu Angie disalin dari formulir persetujuan tadi malam."

Angie menatap ranjang kosong. "Bagaimana mereka mendapatkannya?"

Perawat pengganti menunduk. "Formulir asli berada di map meja. Saya meninggalkan ruangan ketika alarm pasien lain berbunyi."

"Jadi seseorang sudah mengamati jadwal dan pergantian petugas," kata Pak Hasan.

Hansen menghadap kepala keamanan rumah sakit yang baru datang. "Berapa menit sejak anak saya keluar?"

"Kamera koridor menunjukkan ranjang dorong meninggalkan lantai ini delapan menit lalu. Pelaku memakai lift layanan ke lantai dasar."

"Tampilkan rekamannya."

Di layar tablet, seorang perempuan berseragam biru mendorong ranjang tertutup melewati kamera. Wajahnya sebagian tertutup masker, tetapi lencana di dada terlihat.

Kepala perawat membesar-besarkan gambar. "Nama itu milik petugas kami, Dewi Pranata. Tapi Bu Dewi sedang cuti melahirkan."

"Sebarkan foto pakaian dan posturnya, bukan hanya wajah," kata Hansen. "Dia bisa berganti seragam."

Angie sudah bergerak ke pintu.

"Kau mau ke mana?" tanya Hansen.

"Mencari Guai."

"Kakimu terluka dan kau baru lepas oksigen."

"Jangan minta saya menunggu di kamar kosong ini."

Tatapan mereka bertemu. Hansen tahu tak ada kata yang akan membuatnya duduk.

"Baik. Kau bersama saya. Jangan terpisah satu langkah pun."

Mereka turun melalui lift utama sementara Pak Hasan memimpin pemeriksaan tangga dan jalur layanan. Rumah sakit tidak membunyikan alarm umum agar pelaku tidak panik dan menyakiti Guai. Sebagai gantinya, pintu kartu akses dikunci satu per satu dari luar menuju pusat gedung.

William bergabung melalui sambungan video dari pusat keamanan. Denah rumah sakit muncul di tablet Hansen.

"Lift layanan berhenti di lantai dasar selama empat puluh detik," katanya. "Tidak ada kartu yang dipakai untuk keluar ke parkir. Pelaku masih di dalam gedung atau meninggalkan ranjang."

"Periksa ruang yang tidak memiliki kamera," kata Hansen.

"Ada tujuh: dua gudang linen, ruang panel, toilet staf, ruang limbah medis, tangga kebakaran timur, dan ruang ganti."

Angie menunjuk jalur yang berwarna abu-abu. "Radiologi ada di sisi mana?"

"Timur."

"Kalau dia ingin terlihat seperti petugas asli, dia akan bergerak ke timur dulu sebelum berbalik."

William mempercepat rekaman kamera. Sosok dengan ranjang bayi terlihat memasuki koridor timur, lalu menghilang di sudut yang menuju area linen.

"Benar," katanya. "Saya kirim tim ke sana."

"Jangan masuk serentak," ujar Angie. "Kalau Guai sedang digendong, dia bisa menjatuhkannya saat terkejut."

Kepala keamanan mengubah instruksi. Dua petugas mendekati dari depan tanpa berlari, sedangkan satu petugas menutup jalan keluar belakang. Namun ketika mereka tiba, ranjang bayi kosong ditemukan dekat ruang ganti. Kanopinya masih tertutup dan gelang identitas cadangan Guai sudah dipotong.

Angie memegang sisi ranjang agar tidak jatuh. "Dia memindahkannya."

"Berarti dia tidak bisa bergerak cepat," kata Hansen. "Kita masih punya waktu."

Di lantai dasar, perempuan berseragam biru melihat dua petugas memeriksa pintu parkir. Ia membelokkan ranjang ke ruang linen, mengangkat Guai yang mulai menangis, lalu memasukkannya ke dalam keranjang transportasi bersih di sebuah gudang kecil.

"Diam," bisiknya. "Aku akan kembali."

Ia tidak mengunci Guai di dalam kotak. Ia membaringkannya di keranjang terbuka beralas selimut, tetapi menutup pintu gudang dan mendorong troli besar ke depannya. Setelah itu ia mengganti seragam dengan pakaian pelayan hotel yang sudah disembunyikan di tas.

Rencana awalnya adalah membawa Guai ke mobil. Setelah pintu keluar terkunci, rencana kedua dimulai: tinggalkan bayi, buat keributan, dan arahkan semua tuduhan kepada Angie.

Lobi rumah sakit sudah dipenuhi beberapa wartawan dan tamu pesta yang ingin mengetahui kondisi Guai. Saat petugas meminta mereka mundur, perempuan itu berlari keluar dari koridor layanan sambil menangis.

"Saya melihat siapa yang membawa bayinya!"

Semua kamera beralih kepadanya.

"Siapa?" tanya seorang wartawan.

"Angie Thio. Pengasuh itu menyuruh saya menyiapkan pintu samping. Dia bilang mau membawa Tuan Kecil sebelum keluarga Liem mengambilnya."

Bisik-bisik berubah menjadi teriakan.

"Pengasuh menculik anak majikan?"

"Bukankah dia yang mengaku sebagai ibunya?"

"Di mana bayinya sekarang?"

Pada saat yang sama, dua polisi membawa Celine melewati lobi untuk dipindahkan setelah pemeriksaan medis. Melihat kamera dan perempuan yang sudah dibayar, Celine menjatuhkan diri ke lantai.

"Tolong cari anakku!" teriaknya. "Angie sudah lama ingin merebut Guai dariku. Sekarang dia benar-benar membawanya!"

Pengacara mencoba menariknya berdiri. "Nona Celine, jangan memberi pernyataan."

Celine justru berlutut menghadap kerumunan. "Aku memang melakukan kesalahan saat panik semalam, tapi aku seorang ibu. Tolong jangan biarkan pengasuh itu menjual atau menyembunyikan anakku."

Kata menjual membuat kemarahan pecah.

Angie dan Hansen keluar dari lift tepat saat beberapa orang meneriakkan `penculik` dan `penjual bayi`. Angie berhenti. Wajah-wajah yang semalam menyaksikannya menyelamatkan Guai kini memandangnya seperti penjahat.

"Saya tidak membawa Guai," katanya.

"Saksi melihatmu!" sahut seorang pria.

"Mana anaknya kalau bukan kau yang ambil?"

Mata Angie berkaca-kaca, tetapi ia tidak menunduk dan tidak berlutut. "Saya tidak tahu. Itu sebabnya saya sedang mencarinya."

Seorang wartawan mengarahkan mikrofon ke wajahnya. "Mengapa tanda tangan Anda ada pada formulir?"

"Karena seseorang menyalinnya. Tanda tangan saya memiliki garis akhir ke kiri. Yang di formulir berakhir ke kanan."

"Apakah Anda berniat menuntut hak sebagai ibu Guai?"

"Saat ini saya berniat menemukan seorang bayi yang baru semalam berhenti bernapas. Pertanyaan lain bisa menunggu."

Jawabannya membuat beberapa kamera turun. Seorang ibu di antara pengunjung memeluk anaknya sendiri dan berkata, "Biarkan dia mencari dulu."

Namun Celine meninggikan tangisnya. "Dia pandai berpura-pura tenang. Sejak datang, dia merebut semua orang dariku."

Hansen berbalik kepadanya. "Kau masih mengetahui rencana tuduhan ini sebelum petugas mengumumkan Guai hilang. Dari siapa kau mendapat kabar?"

Celine membeku. Pengacaranya segera berdiri di depan kamera. "Klien saya tidak akan menjawab tanpa pemeriksaan resmi."

"Bagus," kata Hansen. "Simpan pertanyaan itu untuk penyidik."

Celine merangkak satu langkah. "Kembalikan anakku. Aku akan memaafkanmu."

Hansen berdiri di depan Angie. "Dia tidak membutuhkan maafmu."

"Ko Hansen, kau masih membelanya?"

"Pukul tujuh lewat empat puluh tiga sampai tujuh lewat lima puluh enam, Angie berada bersama saya di ruang pendamping yang hanya memiliki satu pintu. Kamera koridor merekam tidak seorang pun keluar."

Perempuan berpakaian pelayan menyela, "Saya melihatnya pukul delapan lewat lima di dekat lift barat."

Angie langsung menoleh. "Guai hilang sebelum pukul delapan. Dan jalur menuju radiologi ada di lift timur, bukan barat."

"Dia menyuruh saya berbohong tentang waktunya."

"Kalau saya menyuruh Anda menyiapkan pintu samping, pintu mana?" tanya Angie.

Perempuan itu terdiam sepersekian detik. "Pintu dekat dapur."

"RS Medistra tidak punya dapur di lantai dasar. Makanan pasien datang melalui lift katering dari gedung belakang. Anda bicara tentang denah Grand Hyatt, tempat Anda bekerja semalam."

Wajah perempuan itu memucat.

Hansen menatap lencana kecil yang masih menempel di tasnya. "Pak Hasan, periksa daftar pekerja harian hotel."

Pak Hasan menjawab melalui telepon, "Fotonya cocok dengan Sari, pelayan tambahan di area teras. Ia menghilang setelah insiden dan tidak menyerahkan kartu akses."

Kerumunan mulai berubah arah.

"Jadi dia saksi bayaran?"

"Mengapa Celine langsung menuduh Angie?"

Celine berhenti menangis. Tatapannya mencari Margaret, tetapi perempuan itu tidak ada di lobi.

Tiba-tiba Angie mengangkat tangan. "Diam."

"Apa?" tanya Hansen.

"Saya mendengar sesuatu."

Di antara bunyi kamera dan suara orang, terdengar tangis bayi yang sangat lemah dari koridor layanan.

"Guai!"

Angie berlari. Hansen dan petugas keamanan mengikutinya. Mereka menyusuri suara hingga tiba di depan gudang linen yang tertutup troli besar.

Hansen mendorong troli itu seorang diri. Pintu tidak terkunci. Di dalam, Guai terbaring di keranjang terbuka, menendang selimut sambil menangis.

"Mama!"

Angie mengangkatnya dan langsung memeriksa napas, warna bibir, serta respons tubuh. Guai merapat pada dadanya, menangis lebih keras.

"Dia sadar. Dia bernapas."

Dokter anak yang ikut berlari mengambil alih pemeriksaan. Gula darah Guai sedikit tinggi akibat dot air gula, tetapi tidak ada tanda ia diberi obat penenang. Ia dibawa kembali ke ruang observasi dengan pengawalan ganda.

"Ada kemerahan di sudut bibirnya," kata dokter. "Kemungkinan dari dot yang tidak sesuai ukuran, bukan luka berat. Kami akan mengambil sampel sisa cairan dan memeriksa darah untuk memastikan tidak ada zat lain."

Angie menyerahkan dot yang ditemukan di keranjang menggunakan kain bersih. Petugas memasukkannya ke wadah bukti medis.

"Saya ingin ikut saat sampel diambil," katanya.

"Boleh," jawab dokter. "Kami juga mencatat siapa saja yang menerima dan memindahkan setiap sampel."

Hansen meminta dua petugas keamanan berdiri di pintu tanpa menghalangi tenaga medis. Nama setiap orang yang masuk dicatat. Setelah dua pemalsuan dalam dua hari, ia tidak mau kepanikan merusak perawatan atau bukti.

Hansen berjalan keluar dari koridor sambil menggendong Guai setelah dokter mengizinkan. Angie berada tepat di sisinya.

Lobi mendadak sunyi.

"Anak saya ditemukan di gudang yang diakses perempuan itu," kata Hansen. "Angie berada bersama saya ketika penculikan berlangsung. Setiap orang yang menuduhnya tanpa bukti akan diminta memberi keterangan resmi, bukan berlindung di balik kamera."

Sari mencoba mundur, tetapi dua petugas menghentikannya. Di dalam tasnya ditemukan seragam transportasi, kartu identitas palsu, lembar contoh tanda tangan Angie, dan sebuah ponsel prabayar.

Angie menatapnya. "Siapa yang membayar Anda?"

"Saya tidak tahu namanya."

"Berapa?"

"Utang saya dilunasi. Saya hanya diminta membawa anak itu keluar. Ketika jalan ditutup, saya harus menyalahkan Anda."

"Siapa yang memberi foto tanda tangan saya?"

Sari menutup mulut.

Polisi membawa perempuan itu pergi. Celine masih duduk di lantai, tetapi tak ada lagi yang mempercayai air matanya.

Meilin tiba dari pintu utama dan berhenti di depan Celine. "Berdiri."

"Tante, aku hanya ingin Guai kembali."

"Kalau begitu kau seharusnya bertanya siapa yang membawanya, bukan langsung menuduh Angie dengan cerita yang sudah disiapkan."

"Aku panik."

"Kepanikanmu selalu punya sasaran yang sama. Anak itu terluka, Angie dipersalahkan, dan keluargamu memperoleh keuntungan. Aku tidak lagi menyebut pola itu kebetulan."

Celine menatap sekeliling mencari dukungan. Yang ia temukan hanya kamera yang merekam runtuhnya cerita terakhirnya.

Pak Hasan menerima hasil pemeriksaan awal ponsel prabayar. Nomor pengirim memang tidak bernama, tetapi pembayaran utang Sari berasal dari rekening sebuah yayasan sosial.

Yayasan itu berada di bawah kendali keluarga Lau.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!