"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23
Tidak Semudah Itu
Tiga hari setelah putusan, ancaman Agus muncul dalam bentuk ratusan notifikasi.
Pagi itu seharusnya menjadi perayaan kecil. Mbak Wati membuat tumpeng mini, Alif menancapkan dua bendera kertas pada telur balado, dan Arkan bersikeras meletakkan biskuit berbentuk tulang di piring Kopi.
"Ini bukan ulang tahun," kata Nadhira saat melihat meja makan.
"Syukuran," jawab Mbak Wati. "Beda."
Alif mengangkat tangan. "Alif sama Mama."
"Iya." Nadhira mencium kepalanya. "Alif tetap sama Mama."
Rayhan memotong bagian atas tumpeng, lalu menyerahkan piring pertama kepada Nadhira. Tidak ada pidato. Hanya tatapan tenang yang mengingatkan bahwa ia hadir pada setiap hari sidang.
"Terima kasih," kata Nadhira.
"Makan sebelum dingin."
Kalimatnya datar, tetapi ia menambahkan telur paling utuh ke piring Nadhira.
Alif terkikik. "Papa kasih Mama."
Arkan ikut mendorong satu potong mentimun ke piring Nadhira. "Arkan juga."
Nadhira belum sempat menjawab ketika ponselnya bergetar terus-menerus di atas meja.
Pesan pertama datang dari Bu Mega.
`Bu Nadhira, jangan kaget. Ada postingan soal Ibu di grup warga. Saya kirim tangkapan layarnya pribadi.`
Tangkapan layar itu menampilkan foto lama Nadhira berdiri di belakang Hendra dalam acara kantor. Wajah Rayhan terlihat beberapa meter di depan panggung. Seseorang memberi lingkaran merah pada keduanya, seolah jarak dalam satu ruangan adalah bukti hubungan rahasia.
Keterangan di bawahnya berbunyi: `Janda karyawan rayu bos mendiang suami, nikah kilat demi harta. Ibu kandung dan keluarga dibuang.`
Nama akun yang mengunggah tidak dikenal, tetapi unggahan itu membagikan rekaman suara Agus. Ia menyebut dirinya kakak Hendra dan mengaku menyaksikan Nadhira "mendekati atasan" sejak suaminya masih hidup.
"Bohong," kata Nadhira.
Rayhan membaca layar tanpa mengubah ekspresi. "Saya tahu."
Notifikasi lain masuk. Grup orang tua PAUD. Grup arisan kompleks. Akun gosip lokal. Satu video pendek sudah ditonton puluhan ribu kali karena memakai judul tentang janda miskin yang menjadi istri konglomerat.
Mbak Wati memindahkan anak-anak ke halaman sebelum percakapan memburuk. Alif masih membawa potongan telur. Arkan menggandeng Kopi, tidak tahu mengapa wajah orang dewasa mendadak kaku.
Nadhira membuka grup arisan. Bu Wulan meminta anggota tidak menyebarkan tuduhan tanpa bukti. Bu Mega menyetujuinya. Namun, beberapa nomor lain mengirim emoji tertawa dan bertanya apakah Nadhira memang sudah mengenal Rayhan sebelum Hendra meninggal.
Bu Ratna menulis satu kalimat yang tampak netral.
`Kalau memang tidak benar, sebaiknya Bu Nadhira jelaskan. Diam malah bikin orang curiga.`
Nadhira mengetik jawaban, menghapusnya, lalu mengetik lagi.
Rayhan mengambil kursi di sampingnya. "Jangan balas saat marah. Simpan semua tautan dan tangkapan layar."
"Kalau saya diam, mereka menganggap benar."
"Kalau kamu membalas satu per satu, mereka akan memotong setiap kalimatmu."
Ponsel Rayhan berbunyi. Gilang menelepon dari kantor bersama tim komunikasi perusahaan. Suaranya keluar melalui pengeras.
"Ray, unggahan awal mulai naik sejak tadi malam. Ada beberapa akun baru mendorong narasi yang sama. Kami bisa keluarkan pernyataan singkat bahwa tuduhan itu palsu, lalu minta platform menurunkan konten yang membocorkan data pribadi."
"Jangan sebut perusahaan," jawab Rayhan.
"Nama kamu dan Pradipta Group sudah disebut. Kalau kita terlambat, wartawan akan mengisi ruang kosong dengan versi Agus."
"Saya tidak mau urusan keluarga dijadikan kampanye perusahaan. Tidak ada tanggapan publik. Dokumentasikan saja."
Nadhira menoleh tajam. "Tidak ada tanggapan sama sekali?"
Rayhan menutup panggilan setelah meminta Gilang tetap memantau ancaman dan data pribadi. "Menanggapi akun gosip akan membuatnya lebih besar."
"Sudah besar."
"Besok mereka mencari cerita lain."
"Yang dipanggil perempuan matre bukan kamu."
Ucapan itu membuat ruangan diam.
Nadhira meletakkan ponsel di meja. Jarinya gemetar, bukan hanya karena hinaan. Wajah Hendra dipakai untuk menuduhnya mengkhianati pria yang sudah tidak bisa bicara. Putusan yang melindungi Alif dipelintir menjadi bukti bahwa ia membeli hukum dengan uang suami baru.
"Saya mengerti kamu tidak suka media," katanya. "Tapi kalau kita memutuskan diam, saya perlu ikut memutuskan. Ini nama saya."
Rayhan menatap layar yang terus menyala. "Saya tidak ingin mereka menyeretmu ke panggung dan membuatmu membuka luka untuk hiburan."
"Melindungi saya bukan berarti memilihkan rasa malu mana yang harus saya telan."
Rahang Rayhan mengeras. Kali ini bukan karena marah kepada Nadhira, melainkan karena mengenali kesalahan yang pernah mereka pertengkarkan.
"Baik," katanya. "Kita tidak membalas sekarang. Sore ini, kamu ikut rapat dengan tim. Kita lihat pilihan dan risikonya."
Nadhira mengangguk. Kesepakatan itu belum menyelesaikan rumor, tetapi setidaknya suaranya tidak dihapus.
Menjelang siang, dampaknya sudah masuk ke kehidupan biasa.
Seorang ibu membatalkan jadwal bermain anak tanpa alasan. Penjual katering yang biasa mengantar ke rumah menanyakan apakah alamat Nadhira benar-benar milik "bos besar" sambil tertawa canggung. Di depan PAUD, dua orang berhenti bicara saat mobilnya lewat.
Bu Mega mengirim pesan kedua.
`Saya percaya sama Ibu. Tapi hati-hati, Bu Ratna tadi pagi kirim tautan itu ke tiga grup sekaligus sebelum pura-pura tanya.`
Nadhira menyimpan pesan tersebut. Ia tidak menuduh Bu Ratna tanpa bukti, tetapi pola penyebarannya dicatat bersama unggahan Agus.
Pada sore hari, tim komunikasi menunjukkan peta penyebaran. Sebagian besar unggahan awal berasal dari akun kecil yang memakai kalimat hampir sama. Nomor Agus muncul sebagai kontak yang menawarkan "bukti keluarga" kepada dua pengelola akun gosip.
"Kita punya dasar untuk meminta koreksi dan mengamankan data pribadi," kata staf komunikasi. "Namun keputusan memberi pernyataan pribadi tetap pada Ibu Nadhira."
Tiga pilihan ditampilkan di layar. Diam sambil meminta penghapusan data pribadi, pernyataan tertulis singkat, atau wawancara terbatas jika serangan masuk ke media arus utama. Tim hukum juga bisa mengirim keberatan kepada akun yang menampilkan alamat, sekolah, atau foto anak, tanpa mengancam setiap orang yang sekadar berkomentar.
"Wajah Alif jangan dipakai," kata Nadhira. "Jangan keluarkan foto ruang penyimpanan kalau itu membuat orang bisa mengenalinya."
Staf mencatat. Bukti kekerasan dapat diringkas melalui tanggal laporan, catatan medis milik Nadhira, dan putusan pengadilan yang sudah terbuka bagi para pihak. Detail trauma anak tetap ditutup.
Rayhan duduk di samping Nadhira, bukan di kepala meja.
"Saya salah menolak sebelum kamu melihat pilihannya," katanya.
Permintaan maaf itu tidak menghapus rasa sakit pagi tadi, tetapi membuat Nadhira menurunkan bahu.
"Saya juga tidak ingin berteriak pada semua akun," jawabnya. "Saya hanya tidak mau mereka menulis hidup saya sendirian."
Mereka sepakat belum menerbitkan pernyataan sampai melihat tayangan yang dikabarkan akan muncul malam itu. Tim akan menjaga bukti, memantau ancaman, dan menyiapkan jawaban yang tidak mengeksploitasi anak.
Nadhira baru hendak bertanya ketika ponselnya berdering.
Nama Nita muncul di layar.
Nadhira belum berbicara dengan adiknya selama berbulan-bulan. Dulu setiap panggilan dari rumah selalu berakhir dengan Pak Darmo mengambil alih telepon atau Suparti menyuruhnya mengirim uang.
Ia mengangkat panggilan itu.
"Nita?"
Di seberang, terdengar isak yang berusaha ditahan.
"Mbak, Papa muncul di TV... dia bilang kamu mempermalukan keluarga."