NovelToon NovelToon
Jejak Di Pinggir Hutan

Jejak Di Pinggir Hutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:461
Nilai: 5
Nama Author: Thomaz3235

Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 : PERSIAPAN FESTIVAL SENI DAN PUISI DARI HATI

Sekolah kembali mengadakan Festival Seni Tahunan yang dinanti-nantikan oleh seluruh siswa. Ini adalah ajang bergengsi di mana siswa-siswa berbakat dapat menunjukkan kemampuan mereka di berbagai bidang seni. Ada empat kategori perlombaan: membaca puisi, menyanyi, menari, dan memainkan alat musik. Pemenang dari setiap kategori akan mewakili sekolah ke tingkat kecamatan.

Pengumuman festival disambut dengan antusiasme tinggi oleh seluruh siswa. Di koridor-koridor sekolah, di kantin, di ruang kelas, semua orang membicarakan festival ini. Siapa yang akan ikut? Siapa yang akan menang? Siapa yang akan mewakili sekolah ke tingkat kecamatan?

Rangga mendaftar untuk dua kategori: membaca puisi dan memainkan alat musik tradisional. Namun kali ini, ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Alih-alih membacakan puisi karya penyair terkenal seperti yang biasa dilakukan para peserta, ia memilih untuk menulis puisinya sendiri.

"Aku ingin membacakan sesuatu yang benar-benar berasal dari hatiku," kata Rangga pada Anisa saat mereka berdiskusi di taman sekolah. "Puisi karya penyair besar sudah sering dibacakan orang. Aku ingin memberikan sesuatu yang baru, yang otentik, yang benar-benar menggambarkan perjalanan hidupku."

Anisa memandangnya dengan kagum. "Itu ide yang bagus, Rangga. Tapi menulis puisi tidak mudah. Kau harus benar-benar merasakan setiap kata yang kau tulis."

"Aku tahu," kata Rangga. "Aku akan menulis tentang perjalanan hidupku—tentang kehilangan, tentang menemukan harapan baru, tentang perjuangan untuk bertahan, dan tentang cinta yang menyelamatkanku. Aku ingin membagikan ceritaku kepada semua orang."

Untuk alat musik, Rangga memilih memainkan suling bambu yang ia pelajari dari Nenek Saroh. Suling itu adalah peninggalan mendiang kakeknya, dan Rangga telah berlatih selama bertahun-tahun untuk menguasainya. Setiap kali ia meniup suling itu, ia merasakan kehadiran kakek dan neneknya, seolah mereka memberinya kekuatan dari alam lain.

"Rangga, kau bisa memainkan suling?" tanya Anisa dengan kagum saat ia melihat Rangga berlatih di aula sekolah. "Aku tidak tahu kau bisa bermain alat musik."

Rangga tersenyum sambil mengelus sulingnya dengan penuh kasih sayang. "Nenekku mengajariku. Kakekku dulu pandai memainkan suling, dan Nenek mewariskan keahlian itu padaku. Aku sudah berlatih sejak kecil, sejak pertama kali aku tinggal di desa. Setiap malam, setelah membantu Nenek di kebun, aku duduk di teras gubuk dan meniup suling ini. Suaranya selalu menenangkan pikiranku."

Anisa mendaftar untuk kategori menyanyi. Ia memiliki suara yang merdu dan telah berlatih vokal sejak SMP. Ia memilih lagu pop Indonesia yang penuh emosi, dengan aransemen yang ia buat sendiri. Namun ia masih ragu-ragu karena ada pesaing tangguh di sekolah.

"Rangga, aku takut," kata Anisa suatu sore saat mereka berlatih bersama. "Ada Dinda, siswa kelas 3 yang terkenal dengan suara emasnya. Ia sudah memenangkan berbagai lomba menyanyi di tingkat kecamatan. Bahkan pernah tampil di acara TV lokal. Aku tidak yakin aku bisa mengalahkannya."

Rangga meraih tangan Anisa dengan lembut. "Anisa, kau tidak harus mengalahkan siapa pun. Yang terpenting adalah kau memberikan yang terbaik dan menikmati setiap momen di atas panggung. Suaramu indah, dan aku yakin siapa pun yang mendengarnya akan terpesona."

Anisa tersenyum, merasa sedikit lebih percaya diri. "Kau selalu tahu cara membuatku merasa lebih baik, Rangga."

Sementara itu, Bram mulai menunjukkan ketertarikannya pada festival seni. Meskipun ia belum mendaftar, ia sering datang ke aula saat Rangga dan teman-temannya berlatih. Ia duduk di sudut ruangan, memperhatikan dengan seksama, terkadang jari-jarinya bergerak-gerak seolah memainkan alat musik imajiner.

"Bram, kenapa kau tidak ikut?" tanya Rangga suatu hari saat melihat Bram duduk sendirian di sudut aula. "Aku tahu kau punya bakat. Kau pernah bilang kau suka memasak, tetapi aku yakin kau juga bisa melakukan hal lain. Cobalah sesuatu yang baru."

Bram menggeleng dengan ragu. "Tapi Rangga, aku tidak pernah mengikuti lomba seni. Aku hanya... aku hanya anak preman. Orang-orang akan menertawakanku."

"Kau bukan preman lagi, Bram," kata Rangga dengan tegas, duduk di sampingnya. "Kau adalah Bram yang baru. Dan kau bisa melakukan apa pun yang kau inginkan. Aku pernah melihatmu memainkan gitar di kamar asramamu. Aku mendengar melodi yang indah. Kau punya bakat, Bram. Jangan sia-siakan."

Bram menunduk, memainkan jari-jarinya dengan gugup. "Aku belum pernah memainkannya di depan orang banyak. Aku takut membuat kesalahan. Aku takut diejek."

"Aku juga takut," kata Rangga jujur. "Setiap kali aku naik ke panggung, aku selalu gugup. Tapi aku belajar bahwa ketakutan tidak boleh menghentikan kita untuk mencoba. Kalau kita tidak pernah mencoba, kita tidak akan pernah tahu apa yang bisa kita capai."

Bram mengangkat kepalanya, ada keraguan di matanya, tetapi juga ada secercah harapan. "Kau benar-benar percaya aku bisa?"

"Aku percaya," kata Rangga dengan keyakinan. "Aku akan membantumu berlatih. Kita akan melakukannya bersama."

Akhirnya, Bram setuju untuk mengikuti lomba memainkan alat musik. Ia memilih gitar akustik dengan lagu instrumental yang ia pelajari dari ayahnya sebelum ayahnya berubah menjadi keras. "Ini lagu yang dulu sering dimainkan ibuku sebelum dia meninggal," kata Bram dengan mata berkaca-kaca. "Aku ingin memainkannya untuk mengenangnya."

Rangga tersenyum, merasakan betapa berarti lagu itu bagi Bram. "Itu indah, Bram. Ibu mu pasti bangga melihatmu."

Namun, ada dua peserta yang menjadi pesaing tangguh di sekolah. Yang pertama adalah Dimas, siswa kelas 3 yang terkenal sebagai "jago puisi". Ia sudah tiga tahun berturut-turut memenangkan lomba membaca puisi di tingkat sekolah dan pernah mewakili sekolah ke tingkat kecamatan. Dimas selalu membacakan puisi-puisi karya penyair terkenal dengan gaya yang dramatis dan penuh penghayatan, membuat siapa pun yang mendengarnya terhanyut.

"Rangga, kau harus bersaing dengan Dimas," kata Gilang suatu hari saat mereka berlatih. "Dia sangat berbakat. Aku pernah mendengarnya membacakan puisi, dan aku menangis. Aku tidak tahu apakah kau bisa mengalahkannya."

Rangga tersenyum tenang. "Aku tidak takut bersaing, Gilang. Yang terpenting adalah aku memberikan yang terbaik dan membacakan puisiku dengan segenap hati. Aku tidak menulis puisiku untuk mengalahkan siapa pun. Aku menulisnya untuk berbagi cerita."

Pesaing lainnya adalah Dinda, siswa kelas 3 perempuan yang terkenal dengan suara emasnya. Ia telah memenangkan berbagai lomba menyanyi di tingkat kecamatan dan bahkan pernah tampil di acara TV lokal. Setiap kali ia bernyanyi, semua orang terpesona oleh suaranya yang merdu dan penuh perasaan.

"Anisa, kau harus hati-hati dengan Dinda," kata Fajar. "Suaranya luar biasa. Aku pernah mendengarnya menyanyi, dan aku merinding. Aku tidak tahu apakah kau bisa mengalahkannya."

Anisa tersenyum, tetapi di dalam hatinya ia merasa gugup. "Aku akan berusaha sebaik mungkin, Fajar. Itu yang terpenting. Aku tidak bernyanyi untuk mengalahkan Dinda. Aku bernyanyi karena aku mencintai musik."

Persiapan semakin intensif seiring mendekatnya hari perlombaan. Rangga menghabiskan setiap malam menulis puisinya, mengoreksi kata demi kata, mencari diksi yang tepat untuk menggambarkan perasaannya. Puisi itu berjudul "Jejak di Pinggir Hutan"—terinspirasi dari awal kehidupannya di desa.

"Di pinggir hutan yang kelam, aku terbaring

Dengan luka di jiwa dan raga yang rapuh

Namun cahaya datang dari gubuk reot

Menawarkan kasih yang tak pernah kulupa..."

Ia membaca puisinya berulang-ulang, memperbaiki intonasi dan ekspresi. Anisa mendengarkan dengan penuh perhatian, memberi masukan tentang bagian mana yang perlu diperbaiki. "Rangga, bagian ini... saat kau menggambarkan Nenek Saroh, suaramu harus lebih lembut. Tunjukkan betapa kau mencintainya."

Rangga mengangguk, mencatat semua masukan Anisa. Ia juga berlatih memainkan suling dengan tekun, memastikan setiap nada keluar dengan sempurna. Bram berlatih gitar sampai jari-jarinya lecet, tetapi ia tidak pernah mengeluh.

"Malam ini, kita semua akan memberikan yang terbaik," kata Rangga pada malam sebelum lomba, saat mereka berkumpul di aula untuk latihan terakhir. "Apapun hasilnya, kita sudah berjuang bersama. Kita sudah berlatih, kita sudah berkorban, dan kita sudah saling mendukung. Itu yang terpenting."

Semua mengangguk, mata mereka berkaca-kaca karena haru. Mereka berpelukan, saling memberi semangat. Besok adalah hari yang mereka nantikan. Besok mereka akan menunjukkan kepada semua orang bahwa mereka layak berada di sini.

---

[Bersambung...]

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!