Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.
Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.
Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: KIRANA MULAI CURIGA PADA DIRI SENDIRI
Malam itu Kirana tidak bisa tidur, meski jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Dia berbaring menatap langit langit kamar kos, pikirannya terus berputar pada kejadian sore tadi di kafetaria, cara wajah Alden berubah pucat begitu melihat nama Sarah di layar ponselnya, cara suaranya bergetar ketika mengucapkan nama itu, dan cara dia buru buru pergi tanpa penjelasan lebih lanjut.
Ponselnya bergetar di atas bantal. Pesan dari Tesa muncul di layar.
"Kir, kamu masih bangun? Tadi aku denger dari Nadia, katanya Pak Alden nggak masuk ngajar kelas sore tadi, katanya dia izin mendadak."
Kirana membaca pesan itu berulang kali, jantungnya berdebar tidak enak. Dia membalas cepat.
"Iya, Tes, aku tau kenapa. Tadi aku ketemu dia di kafetaria, terus tiba tiba dia dapet telepon, mukanya langsung pucat, terus dia buru buru pergi."
"Serius? Telepon dari siapa emangnya?" balas Tesa cepat, penasaran.
Kirana ragu sejenak sebelum mengetik jawabannya. Dia sudah berjanji ke Alden untuk menjaga rahasia soal Sarah, tapi rasa khawatirnya membuat dia butuh berbagi dengan seseorang.
"Nanti aku cerita pas ketemu langsung ya, Tes. Ini agak sensitif."
"Oke deh, tapi jangan lama lama, aku penasaran banget," balas Tesa, disusul emoji penasaran.
Kirana meletakkan ponselnya, menatap langit langit kamar dengan pikiran yang masih berkecamuk. Bayangan wajah Alden yang berubah drastis terus terngiang, membuat rasa khawatirnya semakin membesar seiring waktu berjalan.
Keesokan paginya, Kirana bangun dengan mata sedikit sembab karena kurang tidur. Dia bersiap ke kampus dengan perasaan yang masih belum stabil, khawatir tentang kondisi Alden yang tidak dia ketahui kabarnya sejak kejadian kemarin.
Di kelas, dia mendapati Alden sudah berdiri di depan seperti biasa, meski ada bayangan lelah yang jelas terlihat di bawah matanya, tanda dia mungkin juga tidak tidur nyenyak semalam.
"Selamat pagi," sapa Alden, suaranya terdengar datar seperti biasa, meski Kirana bisa menangkap sedikit ketegangan yang tersembunyi di baliknya.
Kelas berjalan seperti biasa, tapi Kirana memperhatikan Alden lebih seksama dari biasanya, mencoba mencari tanda tanda yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kemarin sore. Tapi Alden tetap menjaga profesionalitasnya, tidak menunjukkan ekspresi berlebihan yang bisa menarik perhatian mahasiswa lain.
Ketika kelas selesai dan mahasiswa mulai keluar, Kirana sengaja memperlambat langkahnya, berharap bisa bicara sebentar dengan Alden sebelum benar benar pergi. Tapi sebelum dia sempat mendekat, Alden sudah lebih dulu merapikan berkasnya dan keluar ruangan lewat pintu belakang, menghindari kontak langsung dengannya.
"Kir, kamu nggak jadi ngomong sama dia?" tanya Tesa yang memperhatikan dari dekat.
"Kayaknya dia buru buru, Tes," jawab Kirana, sedikit kecewa. "Aku juga nggak enak maksa ngejar dia."
Mereka berjalan keluar kelas bersama, dan Kirana akhirnya menceritakan lebih detail apa yang terjadi kemarin sore, tentang kopi yang diberikan Alden, tentang percakapan jujur mereka, dan tentang telepon misterius yang membuat semuanya berubah drastis.
"Sarah," gumam Tesa, mengulang nama itu setelah mendengar cerita lengkap. "Kir, itu nama yang sama kayak yang aku ceritain waktu itu, kan? Mantan calon istrinya."
"Iya," Kirana mengangguk, wajahnya terlihat khawatir. "Aku juga baru tau langsung dari dia beberapa hari lalu, soal Sarah yang ninggalin dia seminggu sebelum nikah."
"Terus kenapa Sarah tiba tiba telepon dia sekarang?" Tesa bertanya, penasaran sekaligus khawatir. "Setelah sekian lama, kenapa muncul lagi pas ini?"
Kirana menggeleng, tidak punya jawaban pasti. "Nggak tau, Tes. Tapi mukanya tadi bener bener kayak orang yang ketakutan. Aku jadi khawatir banget."
Sepanjang hari itu, Kirana tidak bisa fokus sepenuhnya pada kuliah, pikirannya terus melayang memikirkan kondisi Alden dan misteri telepon dari Sarah yang tiba tiba muncul. Dia mencoba menyibukkan diri dengan tugas tugas lain, tapi rasa khawatir itu terus mengintai di setiap sela waktu luangnya.
Menjelang sore, ketika dia sedang duduk sendirian di taman belakang kampus, mencoba menenangkan pikiran, dia mulai merenungkan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang selama ini coba dia hindari untuk dipikirkan secara langsung.
"Kenapa sih aku sekhawatir ini soal dia," gumamnya pelan pada dirinya sendiri, menatap kolam kecil di depannya. "Kalau cuma soal dosen yang lagi ada masalah pribadi, harusnya aku nggak seharusnya sekhawatir ini."
Dia menghela napas panjang, mencoba jujur pada dirinya sendiri untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai. Rasa khawatir yang begitu besar, jantung yang terus berdebar setiap kali memikirkan Alden, keinginan untuk selalu tau kabarnya, semua itu bukan lagi sekadar perhatian biasa seorang mahasiswa ke dosennya.
"Aku beneran suka sama dia," bisiknya pelan, mengakui hal itu untuk pertama kalinya secara terbuka, bahkan hanya pada dirinya sendiri. "Bukan cuma kagum, bukan cuma penasaran. Ini beneran perasaan suka."
Pengakuan itu membuat dadanya terasa berat sekaligus lega di saat bersamaan. Berat karena dia tau situasi ini rumit dan penuh risiko, tapi lega karena akhirnya dia bisa jujur pada dirinya sendiri tanpa terus menyangkal apa yang sebenarnya dia rasakan selama berminggu minggu terakhir.
Ponselnya bergetar, memecah lamunannya. Pesan dari nomor tidak dikenal muncul di layar.
"Kirana, ini Alden. Maaf pakai nomor pribadi, saya dapat kontak kamu dari data mahasiswa. Boleh saya minta waktu sebentar sore ini? Ada yang perlu saya jelaskan soal kemarin."
Kirana menatap pesan itu lama, jantungnya berdebar kencang antara khawatir dan lega karena akhirnya Alden menghubunginya. Dia membalas cepat.
"Boleh, Pak. Saya ada di taman belakang gedung fakultas sekarang."
Tidak lama kemudian, Kirana melihat sosok Alden berjalan mendekat dari kejauhan, wajahnya masih terlihat lelah, tapi ada sedikit ketenangan yang mulai kembali terlihat dibandingkan kepanikan kemarin sore.
"Terima kasih udah mau ketemu," kata Alden begitu sampai, duduk di bangku yang sama dengan Kirana.
"Bapak baik baik aja?" tanya Kirana, khawatir masih terlihat jelas di wajahnya.
Alden menghela napas panjang, menatap kolam kecil di depan mereka sebelum menjawab. "Sekarang lebih baik. Kemarin emang cukup mengejutkan."
"Sarah telepon soal apa, Pak?" Kirana bertanya hati hati, tidak ingin terkesan terlalu memaksa meski rasa penasarannya sudah tidak tertahankan.
Alden terdiam sejenak, seperti mempertimbangkan seberapa banyak yang ingin dia jelaskan. "Dia bilang, dia mau balik ke kota ini. Katanya ada urusan kerjaan, tapi dia juga bilang pengen ketemu saya, buat ngomongin apa yang terjadi dulu."
Kabar itu membuat dada Kirana terasa berat, campuran antara khawatir untuk Alden dan sesuatu yang lebih personal, semacam kecemasan yang muncul dari perasaannya sendiri yang baru saja dia akui beberapa saat lalu.
"Bapak mau ketemu dia?" tanya Kirana pelan, mencoba menyembunyikan getar di suaranya.
Alden menatap Kirana lama, ada sesuatu di matanya yang menunjukkan pergulatan batin yang mendalam. "Saya nggak tau, Kirana. Bagian dari saya masih penasaran kenapa dia ninggalin saya waktu itu. Tapi bagian lain dari saya takut, kalau ketemu dia bakal buka luka lama yang udah susah payah saya coba sembuhin."
Kirana mengangguk pelan, mencoba memahami kerumitan perasaan yang sedang Alden alami. "Apapun yang Bapak putuskan, saya bakal dukung, Pak."
Alden menatapnya, senyum tipis penuh terima kasih muncul di wajahnya yang lelah.
"Terima kasih, Kirana. Entah kenapa, dukungan kamu berarti banget buat saya."
Mereka duduk dalam diam beberapa saat, keheningan yang penuh makna mengisi ruang di antara mereka. Kirana ingin sekali mengatakan apa yang baru saja dia sadari tentang perasaannya sendiri, tapi situasi yang sedang dihadapi Alden terasa terlalu berat untuk ditambah dengan pengakuan semacam itu sekarang.
"Pak," Kirana akhirnya bicara, memilih kata katanya dengan hati hati, "apapun yang terjadi nanti sama Sarah, saya harap Bapak tetap jaga diri baik baik."
"Saya akan coba," jawab Alden, suaranya terdengar tulus. "Dan terima kasih, karena selalu ada buat dengerin, meski situasi ini rumit banget buat kita berdua."
Kirana tersenyum kecil, meski hatinya masih dipenuhi kekhawatiran yang belum sepenuhnya reda. Dalam perjalanan pulang sore itu, dia terus memikirkan pengakuannya sendiri tentang perasaannya pada Alden, dan bagaimana kemunculan Sarah yang tiba tiba bisa mengubah segalanya, membawa ketidakpastian baru ke dalam hubungan yang baru saja mulai mereka bangun dengan begitu hati hati dan penuh pertimbangan.