"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Dokter mengangguk pelan kepada perawat di sampingnya.
"Baik, kita mulai ya."
Perawat segera menyiapkan peralatan steril, sementara dokter kembali memastikan obat bius lokal sudah bekerja dengan baik.
Ia menatap Arjun sambil tersenyum ramah. "Arjun, Om Dokter mau jahit lukanya supaya cepat sembuh. Nanti mungkin terasa sedikit ditekan, tapi tidak akan lama."
Arjun langsung menggenggam tangan Azel semakin erat. "Kak... Aku takut."
Azel mengusap pelan pipi bocah itu. "Nggak apa-apa. Lihat Kak Azel aja. Jangan lihat lukanya."
"Iya..." Arjun langsung menyembunyikan wajahnya di pelukan Azel.
Dokter memberi isyarat kepada perawat. "Mulai."
Jarum pertama menembus kulit di sekitar luka.
Tubuh Arjun sempat menegang. "Kak... Sakit..."
Air mata kembali menetes dari sudut matanya. Azel langsung mengusap kepalanya dengan lembut.
"Iya, sayang. Sebentar lagi selesai. Arjun kan anak yang paling hebat. Tarik napas sama Kakak."
"Satu... Dua... Tiga..."
Arjun mengikuti hitungan itu sambil terus memeluk Azel.
Dokter bekerja dengan hati-hati. Setiap jahitan dipasang perlahan untuk menutup robekan di kulit kepala Arjun.
Ruangan menjadi hening. Hanya terdengar suara alat bedah dan sesekali isakan pelan Arjun.
Di sudut ruangan, Ibra berdiri dengan kedua tangan mengepal. Rasanya ingin sekali menggantikan rasa sakit itu.
Namun ia tau, saat ini yang paling dibutuhkan Arjun adalah ketenangan. Dan ketenangan itu sedang diberikan oleh Azel.
Beberapa menit kemudian Dokter menggunting benang terakhir.
"Nah... Selesai."
Perawat segera membersihkan sisa darah di sekitar luka, lalu memasang perban kecil untuk melindungi area jahitan.
Dokter tersenyum. "Masya Allah. Arjun hebat sekali. Bisa bekerja sama sampai selesai."
Arjun mengangkat wajahnya perlahan dari bahu Azel. "Udah...?"
"Iya. Sudah selesai."
Mata bocah itu langsung berbinar. "Beneran?"
Dokter mengangguk. "Bener. Nggak ada jahitan lagi."
Arjun mengembuskan napas panjang. "Alhamdulillah..."
Ucapan polos itu membuat dokter, perawat, bahkan Azel tersenyum.
Ibra yang sejak tadi menahan napas akhirnya mengembuskannya perlahan. Beban besar di dadanya seolah ikut terangkat ketika mendengar dokter berkata,
"Pak Ibra, proses penjahitannya berjalan lancar. Lukanya berhasil kami tutup dengan baik. Selanjutnya Arjun perlu diobservasi beberapa jam untuk memastikan tidak muncul keluhan akibat benturan di kepala. Jika kondisinya tetap stabil, insya Allah nanti boleh pulang dengan beberapa instruksi perawatan di rumah."
"Terima kasih banyak, Dok."
Ibra mengucapkannya dengan suara yang sedikit bergetar.
Kemudian pandangannya beralih kepada Azel yang masih memeluk Arjun.
"Dan..." ucap Ibra tulus, "Terima kasih, Azel. Kalau kamu tidak datang mungkin proses ini tidak akan semudah tadi."
Azel menggeleng sambil tersenyum kecil. "Sama-sama, Pak. Yang penting Arjun baik-baik saja."
"Makasih ya, Kak, udah datang." Arjun tersenyum malu-malu sambil memegang tangan Azel.
Azel membalas dengan mengusap lembut kepala bocah itu, menghindari bagian yang baru saja dijahit.
"Sama-sama. Kakak juga khawatir sama Arjun. Pas Ayah kamu telpon, kakak langsung kesini. Lain kali hati-hati ya kalau main."
"Iya, Kak. Janji."
Azel tersenyum. "Anak baik."
Ia kemudian melirik meja kecil di samping ranjang. "Arjun udah makan?"
Arjun mengangguk pelan. "Udah."
"Hebat. Kalau gitu... mau makan apel nggak?"
"Mau."
Azel mengambil sebuah apel dari kantong buah yang tadi dibawa Bu Zinda.
"Yaudah, Kakak kupasin dulu ya."
Baru saja ia hendak mengambil pisau buah...
"Biar saya saja." Suara Ibra membuat Azel menghentikan gerakannya.
"Oh... Iya, Pak."
Ibra mengambil apel itu lalu mulai mengupas kulitnya dengan cekatan. Kupasannya tipis dan rapi, nyaris tidak ada daging buah yang ikut terbuang.
Azel memperhatikannya sekilas. "Pantesan Arjun bilang ayahnya jago masak..." batinnya.
Suasana ruangan kembali hening. Hanya terdengar suara pisau yang menggesek kulit apel.
Tiba-tiba Azel teringat sesuatu. "Oh iya..."
Ia menoleh ke arah Arjun. "Makasih ya udah ngasih Kakak bekal tadi."
Arjun mengernyit bingung. "Bekal?"
"Iya. Yang sandwich itu."
"Aku nggak ngasih Kakak bekal."
Azel ikut mengernyit. "Loh? Bukannya tadi Ayah kamu bilang..."
Arjun langsung menoleh ke arah Ibra yang masih mengupas apel.
"Tadi Ayah emang bikin bekal dua. Tapi kata Aya yang satu buat Ayah."
Arjun memiringkan kepalanya polos. "Oh.... Ternyata buat Kak Azel toh."
Pisau di tangan Ibra mendadak berhenti bergerak.
"Arjun." Nada suaranya datar, tetapi telinganya mulai memanas.
Arjun menatap ayahnya tanpa merasa bersalah. "Lah emang iya, kan? Ayah yang buat dan bilangnya tadi untuk Ayah?"
Azel perlahan mengalihkan pandangannya kepada Ibra. Tatapan mereka bertemu.
Untuk pertama kalinya, Azel melihat dosennya itu benar-benar salah tingkah. Sudut bibirnya langsung terangkat.
"Jadi... Itu bukan bekal Bapak?"
Ibra berdeham pelan. "Itu memang saya buat."
"Untuk kamu."
Jawabannya singkat. Namun cukup membuat suasana menjadi canggung.
Azel membulatkan mata. "Untuk saya? Kenapa, Pak?"
Ibra tetap fokus mengupas apel, berusaha menghindari tatapan gadis itu.
"Kamu sudah banyak membantu Arjun. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih."
Azel terdiam beberapa saat. Lalu tanpa sadar tersenyum kecil.
"Pak, Sebenarnya Bapak tinggal bilang aja. Nggak usah ngeles bilang dari Arjun."
Arjun langsung mengangguk semangat. "Iya, Yah. Kalau bohong itu dosa."
Ibra menutup matanya sejenak. "Arjun."
"Iya?"
"Diam dulu."
"Baik, Yah." Arjun langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, tetapi matanya berbinar penuh rasa puas.
Melihat ekspresi datar Ibra yang kali ini tampak benar-benar kehabisan kata, Azel tidak bisa menahan tawanya.
"Hehehe... Maaf, Pak. Tapi baru kali ini saya lihat Bapak malu."
Ibra mengembuskan napas pelan. "Saya tidak malu."
"Oh ya?"
"Kalau nggak malu kenapa telinganya merah, Pak?"
Kalimat itu membuat Ibra refleks menyentuh telinganya sendiri. Sedetik kemudian, ia menyadari Azel sedang menggodanya.
Azel pun tertawa semakin lepas. "Nah, ketahuan."
"Bisa diam?"
"Oke diam." Azel mengatupkan bibirnya. Berusaha menahan tawanya.
Ibra selesai memotong apel menjadi potongan-potongan kecil, lalu meletakkannya di dalam wadah plastik.
Ia menyerahkannya kepada Azel.
"Nah." Azel menerimanya sambil tersenyum. "Kalau gitu... Kakak yang suapin ya?"
"Iya." Arjun membuka mulutnya lebar-lebar.
"Ahhh..."
Azel tertawa kecil lalu menyuapkan sepotong apel. "Gimana apelnya? Manis gak?"
"Manis Kak, kaya senyum Kak Azel."
Azel spontan tertawa. "Ish bocah kok bisa-bisanya gombal.
Beberapa suapan kemudian, Azel kembali tersenyum kepada bocah itu.
"Karena Arjun hari ini sudah jadi anak yang hebat meskipun tadi sempat takut, tapi akhirnya berani dijahit. Nanti Kakak kasih hadiah."
Mata Arjun langsung berbinar. "Hadiah?"
"Iya. Mau apa?"
Arjun berpikir cukup lama. Alis kecilnya sampai berkerut.
"Apa kalau Arjun bilang, Kakak bakal ngabulin?"
Azel terkekeh. "Kalau hadiahnya gampang dicari dan nggak mahal insya Allah Kakak kasih. Kalau susah dicari ya Kakak butuh waktu."
Arjun mengangguk pelan. "Nggak susah kok dan nggak mahal juga."
"Oh ya? Apa memangnya?"
Arjun melirik ke arah ayahnya.nIbra yang berdiri di dekat jendela ikut mengangkat alis.
Ia pun penasaran. "Apa yang akan diminta anak ini?"
Arjun kembali menatap Azel. "Cuma..."
Ia menggenggam tangan Azel pelan. "Arjun... Mau Kak Azel."
Azel tersenyum bingung. "Loh? Kakak kan udah di sini."
Arjun menggeleng. "Bukan itu."
"Terus?"
Arjun menggenggam tangan Azel semakin erat. Ia menatap wajah gadis itu beberapa detik. Lalu, dengan suara lirih namun penuh harap, ia berkata, "Arjun... mau Kak Azel jadi Mama Arjun."
Deg!
biarkan apa yg oma arsyila ucapkan mnjadi kenyataan amiin
jjr slalu ada /Sob/kadang luka yg berujung trauma blm tentu bisa stiap org hadapi apalagi smpai berujung ke hal yg merugikan dan negatif
amiiiin
bnyak hikmah dlm stiap critamu
sejak kemunculan arjun bawaan stiap bc pasti sedih,menangis
ya allah