NovelToon NovelToon
Menantu, Tolong Ampuni Aku

Menantu, Tolong Ampuni Aku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.

Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.

Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 001: Apa Bedanya Aku Baca atau Tidak?

Pulpen hitam itu diletakkan tepat di depan Arga Pratama.

Di atas meja kayu jati ruang kerja Rumah Anggrek, selembar perjanjian perceraian sudah terbuka pada halaman terakhir. Nama Kiara Hartono tercetak rapi di sebelah kiri. Nama Arga Pratama menunggu di sebelah kanan, kosong, seolah dua tahun hidupnya hanya tinggal satu garis tanda tangan.

Ruangan itu terlalu sunyi.

Dari luar jendela, halaman Kebayoran Baru terlihat basah setelah hujan pagi. Anggrek putih di teras masih meneteskan air. Di dalam, pendingin ruangan bekerja tanpa suara, tetapi udara di antara mereka tetap terasa berat.

Kiara duduk di seberangnya dengan blazer abu-abu dan rambut terikat rapi. Wajahnya tenang, wajah yang biasa muncul di halaman bisnis sebagai CEO termuda PT Hartono Group. Hanya jarinya yang mengkhianati dia. Ujung jarinya terus menekan sudut map kulit di meja.

"Kamu bisa baca dulu," katanya pelan.

Arga menatap halaman itu sebentar.

Perjanjian pranikah. Pemisahan harta penuh. Kompensasi Rp 2 miliar setelah masa pernikahan dua tahun berakhir. Denda Rp 1 triliun jika ia menuntut harta keluarga Hartono atau mempermalukan nama keluarga.

Semua sudah ia tahu.

Selama dua tahun, keluarga Hartono memastikan ia tahu posisinya tanpa perlu membaca satu pasal pun.

Di ruang makan, Ratna Hartono pernah berkata di depan sepupu-sepupu Kiara, "Menantu nggak punya kerjaan, numpang makan, numpang tidur. Setidaknya bantu angkat galon."

Di acara keluarga, Bimo Hartono tidak pernah memperkenalkan namanya. Ia cukup berkata, "Ini suaminya Kiara." Bagi Bimo, Arga hanya aksesori yang kebetulan berdiri di belakang putrinya.

Pada Lebaran tahun lalu, Galang Hartono melempar kunci mobil ke dadanya. "Bisa nyetir, kan? Jangan cuma bisa cuci piring."

Arga melakukan semuanya.

Menyetir. Mencuci piring. Membawa koper. Menunggu di parkiran. Menunduk ketika orang-orang tertawa.

Tidak sekali pun ia membantah.

Hari ini, mereka pikir masa sabarnya habis karena mereka yang mengusirnya.

Mereka salah.

Arga mengambil pulpen.

Kiara mengangkat wajah. "Arga."

Ujung pulpen sudah menyentuh kertas.

"Baca atau tidak baca, apa bedanya?" suara Arga datar. "Hasilnya yang kalian mau tetap sama."

Goresan tanda tangannya turun tanpa ragu.

Satu garis.

Dua tahun selesai.

Kiara menatap tanda tangan itu cukup lama. Bibirnya bergerak sedikit, seperti ada kalimat yang hampir keluar, tetapi mati sebelum menjadi suara. Ia mengambil map itu, menutupnya, lalu menggesernya ke sisi meja.

"Dokumen ini akan disimpan kuasa hukum dulu," katanya. "Proses pengadilan belum diajukan hari ini."

Arga mengangguk. "Aku tahu."

Di Indonesia, tanda tangan bukan akta cerai. Pengadilan belum memutuskan apa pun. Secara hukum, pernikahan mereka masih hidup, hanya napasnya dibuat sangat pelan.

Kiara membuka aplikasi bank di ponselnya.

Beberapa detik kemudian, ponsel tua Arga bergetar di saku celananya.

Transfer masuk.

Rp 3.000.000.000.

Angka itu muncul di layar dengan dingin. Tiga miliar. Satu miliar lebih banyak dari isi perjanjian.

Arga menatap angka itu. Lalu menatap Kiara.

Kiara tidak menatap balik.

"Itu bukan dari keluarga," katanya. "Dari rekening pribadi saya."

"Kenapa?"

Pertanyaan itu pendek, tetapi membuat jemari Kiara berhenti.

Di luar sana, ia bisa memotong negosiasi bernilai triliunan rupiah dengan satu kalimat. Di depan Arga, untuk menjelaskan tambahan satu miliar, ia justru seperti kehilangan bahasa.

"Kamu tinggal di rumah ini dua tahun," jawabnya akhirnya. "Kamu... tetap membantu banyak hal."

Arga hampir tersenyum.

Membantu banyak hal.

Itu cara paling mahal untuk mengatakan maaf tanpa mengucapkan maaf.

"Terima kasih," katanya.

Kiara mengangkat wajah. Untuk sesaat, sesuatu di matanya retak oleh rasa bersalah yang terlalu lama disimpan di tempat gelap.

"Setelah ini," kata Kiara, "sopir bisa mengantarmu."

Kalimat itu pelan.

Tetapi cukup.

Arga mengerti.

Ruangan itu membiarkannya pergi begitu saja. Tak satu tangan pun menahan, tak satu suara pun memanggilnya tinggal.

Ia berdiri, mengambil ransel tua yang sejak pagi sudah bersandar di dekat kaki kursi. Ransel itu kecil, pudar, dan hampir kosong. Dua kaus. Satu jaket lusuh. Satu dompet. Satu ponsel.

Itulah semua barang yang menurut keluarga Hartono ia miliki.

Kiara ikut berdiri, tetapi hanya sampai di belakang meja.

"Arga," panggilnya lagi.

Ia berhenti di ambang pintu.

"Hati-hati."

Arga menoleh sedikit. "Kamu juga."

Ia berjalan keluar melewati koridor marmer Rumah Anggrek. Dua pelayan menunduk canggung. Seorang satpam di dekat pintu utama membuka pintu lebih cepat daripada biasanya, mungkin karena hari ini semua orang sudah tahu: si numpang akhirnya pergi.

Arga melangkah ke halaman.

Di belakangnya, pintu rumah besar itu tertutup pelan.

Di dalam ruang kerja, Kiara masih berdiri dengan map perceraian di meja. Ponselnya berdering sebelum ia sempat menarik napas.

Nama ayahnya muncul di layar.

"Ya, Pak?"

Suara Bimo Hartono masuk tanpa salam. "Kiara, besok malam kamu datang ke ulang tahun Rendra Kusuma di Hotel Mulia. Jangan bawa Arga. Urusan kalian sudah selesai, kan?"

Kiara menggenggam ponsel lebih erat. "Baru tanda tangan perjanjian. Belum ada putusan pengadilan."

"Jangan main istilah hukum sama Papa. Intinya, kamu sudah bebas. Rendra tertarik padamu. Kusuma Group bisa jadi mitra penting kalau kamu pintar membawa diri."

Kiara memejamkan mata.

Di meja, tinta tanda tangan Arga bahkan belum kering.

"Jadi karena ini perceraian harus hari ini?" suaranya turun, dingin.

Di ujung telepon, Bimo terdiam setengah detik. Lalu ia berkata lebih keras, "Ini demi keluarga. Jangan keras kepala. Arga itu tidak memberi apa-apa untuk hidupmu."

Kiara melihat ke pintu yang baru dilewati Arga.

Untuk pertama kalinya hari itu, wajah CEO termuda di Sudirman tampak benar-benar lelah.

Sementara itu, di luar pagar Rumah Anggrek, Arga berhenti di bawah pohon tanjung. Hujan sudah berhenti. Jalanan Kebayoran Baru mengilap, memantulkan mobil-mobil mahal yang lewat tanpa peduli.

Ia mengeluarkan ponsel tua dari saku.

Kontak yang ia tekan tidak memiliki nama lengkap. Hanya satu kata.

Gacrux.

Panggilan tersambung pada dering pertama.

"Bos."

Satu kata itu menghapus seluruh suara Rumah Anggrek dari belakangnya.

Arga memandang pagar tinggi keluarga Hartono. "Aku masih hidup."

Di seberang sana, Gacrux tidak bertanya mengapa. Orang seperti dia tidak membuang waktu untuk hal yang sudah jelas.

"Dikonfirmasi."

Arga memasukkan tangan kiri ke saku. Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh suara ban mobil di aspal basah.

"Dan PT Kusuma Group akan lenyap."

Hening sebentar.

Lalu Gacrux menjawab, "Dosier Kusuma sudah lengkap. Kredit macet, laporan keuangan ganda, pembayaran ke pejabat pengadaan, semua ada. Tinggal perintah."

"Tahan sampai besok malam."

"Dipahami."

Arga memutus panggilan.

Ia berjalan tanpa menoleh lagi.

Sore berubah menjadi malam ketika sebuah mobil hitam tanpa logo berhenti di depan sebuah gerbang tertutup di Menteng. Gerbang itu terbuka tanpa bunyi. Di baliknya berdiri Villa Puncak, rumah pribadi dengan halaman luas, kaca tinggi, dan helipad kecil yang basah oleh sisa hujan.

Lampu-lampu Jakarta menyala jauh di bawah sana, seperti lautan emas yang tidak pernah tidur.

Seorang kepala rumah tangga membungkuk ketika Arga turun.

"Selamat datang kembali, Pak Arga."

Arga hanya mengangguk. Ransel tuanya masih menggantung di satu bahu, tampak aneh di tengah lantai batu mahal dan dinding kaca raksasa. Ia naik ke ruang kerja lantai dua, menaruh ransel itu di sofa, lalu berdiri di depan jendela.

Di atas meja, sebuah tablet sudah menyala.

Cakra Capital - Quarterly Report.

Angka utama di halaman pertama tidak berteriak. Ia hanya berdiri di sana dengan tenang, seperti sesuatu yang tidak perlu membuktikan diri.

Net asset value: Rp 180 triliun.

Ponselnya kembali bergetar.

Gacrux.

"Bos, laporan kuartal sudah dikunci. Bu Dinda meminta konfirmasi akhir sebelum rilis internal. Semua struktur tetap atas nama Cakra Capital. Nama Anda bersih dari dokumen publik."

"Bagus."

"Ada satu hal lagi."

Arga menatap pantulan dirinya di kaca. Kaos murah. Jaket lama. Wajah laki-laki yang dua jam lalu baru ditandatangani keluar dari sebuah pernikahan seperti barang rusak.

"Katakan."

"Rendra Kusuma mengadakan pesta ulang tahun besok malam. Lusa, mungkin sudah tidak ada yang bisa dirayakan lagi."

Arga diam.

Di bawah langit Jakarta, pria yang dipanggil benalu oleh keluarga istrinya berdiri di atas salah satu rumah paling sunyi di Menteng.

Mereka mengenalnya sebagai menantu yang tidak punya apa-apa.

SCBD mengenalnya sebagai bayangan yang tidak pernah muncul.

Para veteran tertentu mengenalnya sebagai mantan Letnan Kolonel Kopassus yang namanya dikunci negara.

Dan di balik layar Cakra Capital, hanya sedikit orang yang tahu nama satu itu.

Acrux.

Arga menutup laporan kuartal.

"Besok malam," katanya, "biarkan dia meniup lilin dulu."

1
Solardy Lardy
joooss👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!