NovelToon NovelToon
Sistem Ayah Level Dewa

Sistem Ayah Level Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Bapak rumah tangga
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.

Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.

Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.

Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 034: Intrusi Bayangan

Lampu ruang server menyala putih tajam.

Deretan rak mesin berdengung stabil. Udara dingin menusuk kulit. Di depan konsol utama, Rizky Hakim duduk dengan hoodie kusut dan mata yang semakin merah.

Arya Pratama berdiri di belakangnya.

Pak Budi Santoso masuk membawa map tipis. Wajahnya keras.

"Saya sudah minta tim security kantor menyimpan rekaman CCTV lantai IT," kata Pak Budi.

"Bagus." Arya menatap layar. "Rizky?"

Rizky memperbesar log akses.

"Mereka memakai lima titik loncatan. Dua di Singapura, satu di Jakarta, satu VPS murah, satu proxy yang mati begitu kita lacak."

"Profesional?"

"Cukup. Tapi terlalu percaya diri."

Dimas yang berdiri di dekat pintu langsung menahan komentar. Wajahnya juga serius. Bayu berada di sampingnya, lengan terlipat.

Rizky menunjuk satu baris.

"Ini celahnya. Salah satu koneksi keluar lewat VPN korporat. Mereka lupa membersihkan header internal."

Nama jaringan muncul.

HG-NET-OPS.

Pak Budi mendekat.

"HG?"

Arya menjawab pelan.

"Hartono Group."

Ruangan menjadi sunyi.

Rizky membuka log kedua.

"Ada upaya autentikasi memakai akun lama: h.wijaya.admin."

Nama Herman Wijaya membuat rahang Bayu mengeras.

"Akun itu sudah dibekukan."

"Sudah," jawab Rizky. "Mereka memakai kredensial lama untuk menguji pintu yang pernah ada. Artinya mereka punya catatan struktur lama perusahaan."

Pak Budi memejamkan mata sejenak.

"Herman."

Arya menatap layar cukup lama. Emosinya naik, tetapi wajahnya tetap datar. Kemarahan yang terlalu cepat hanya memberi musuh suara.

Panel sistem menyala.

【Crisis Analysis Lv.3 aktif】

【Jenis ancaman: Intrusi digital / spionase komersial / potensi pencurian kode】

【Sumber kemungkinan: Jaringan Hartono Group + akses lama Herman Wijaya】

【Tingkat bahaya: Tinggi】

【Saran: Perkuat bukti, jangan membuka seluruh temuan sebelum rantai pelaku lengkap】

Arya menarik napas.

"Rizky, buat tiga lapis."

"Firewall, segmentasi server, rotasi kunci akses?"

"Tambah honeypot."

Mata Rizky menyala.

"Umpan?"

"Buat direktori palsu dengan nama yang cukup menggoda. Product_core_final. Biarkan mereka melihat pintu, lalu rekam semua yang menyentuhnya."

Dimas menelan ludah.

"Kita jebak balik?"

"Kita kumpulkan bukti."

Bayu mengangguk.

"Saya batasi akses gudang simulasi. Semua perangkat demo harus dicek sebelum masuk venue."

"Lakukan."

Pak Budi membuka map.

"Saya juga sarankan laporan awal ke pengacara Ahmad. Kalau nanti perlu masuk ranah hukum, kita sudah punya garis waktu."

"Kirim. Tapi jangan lapor polisi dulu."

Pak Budi menatapnya.

"Pak?"

"Bukti belum cukup untuk menghancurkan rantainya. Kita simpan, perkuat, tunggu mereka masuk lebih dalam."

Rizky mengetik cepat.

"Kalau mereka menyerang saat peluncuran?"

"Maka kita sudah siapkan panggung kedua."

Semua orang menatap Arya.

"Produk tetap diluncurkan," katanya. "Mereka menyerang karena mereka takut kita berhasil. Jadi kita beri mereka alasan lebih banyak untuk takut."

Pukul sebelas siang, ruangan Hartono Group di kawasan elite Surabaya dipenuhi asap cerutu.

Pak Hartono duduk di kursi kulit hitam. Di depannya, Herman Wijaya berdiri dengan map cokelat di tangan. Wajah Herman lebih kurus sejak keluar dari Polres, tetapi matanya masih licik.

"Gagal?" tanya Pak Hartono.

Herman menunduk sedikit.

"Belum berhasil, Pak. Sistem mereka lebih kuat dari perkiraan."

Pak Hartono mengetuk meja dengan ujung cerutu.

"Saya membayar orang untuk hasil."

"Saya tahu. Tapi Rizky itu memang bagus. Dulu di kantor, dia jarang bicara. Saya kira cuma programmer biasa."

"Kamu terlalu sering salah kira."

Herman menahan napas.

Pak Hartono membuka map. Di dalamnya ada foto Arya, Kirana, gedung PT Surya Teknologi, dan beberapa tangkapan layar berita kampus lama.

"Anak itu bergerak cepat. Terlalu cepat. Produk gudangnya bisa mengganggu anak perusahaan logistik kita kalau dibiarkan."

"Karena itu harus dipukul sebelum peluncuran."

"Bagaimana?"

Herman mendekat.

"Ada tiga cara. Ambil kode produk, kacaukan demo, atau tarik orang kuncinya."

"Orang kunci?"

"Rizky untuk teknologi. Bayu untuk operasional lapangan. Dimas untuk pasar. Dan Arya..."

Herman berhenti sebentar, lalu tersenyum.

"Arya paling kuat saat keluarganya tenang."

Pak Hartono mengangkat mata.

"Maksudmu?"

"Istrinya sedang hamil. Kalau ada tekanan kecil, fokusnya pecah."

Suasana ruangan turun berat.

Pak Hartono menaruh cerutu di asbak.

"Jangan sentuh perempuan hamil."

Herman cepat menunduk.

"Saya hanya menyampaikan titik lemah, Pak."

"Bisnis bisa kotor, Herman. Bodoh kalau membuat publik melihat kita menyerang istri hamil. Pakai cara bisnis dulu. Harga, izin, reputasi, pelanggan. Patahkan dia di meja pasar."

"Baik, Pak."

Pak Hartono menatap foto Arya.

"Saya ingin peluncuran mereka terlihat kecil. Siapkan orang media. Cari celah. Kalau demo gagal, sebarkan. Kalau sukses, bilang produk itu meniru luar negeri. Semua narasi harus siap."

Herman tersenyum lagi.

"Denny juga bisa membantu."

"Denny terlalu emosional."

"Untuk urusan kampus dan Kirana, dia punya akses."

Pak Hartono diam sebentar.

"Kendalikan dia. Jangan sampai membuat masalah yang sulit ditutup."

"Siap."

Sementara itu, di PT Surya Teknologi, Arya berdiri di depan layar besar. Tim inti berkumpul. Rizky menampilkan arsitektur keamanan baru. Bayu menampilkan daftar perangkat demo. Dimas membawa rundown acara peluncuran.

"Kita punya dua ancaman," kata Arya. "Serangan teknis dan serangan narasi."

Dimas langsung menulis di papan.

"Narasi saya pegang. Kalau ada media yang memutar cerita, kita jawab dengan demo, angka, dan testimoni calon klien."

"Bagus."

Rizky menunjuk diagram.

"Server produksi dipisah dari demo. Demo memakai data simulasi. Kalau server demo diserang, produksi aman."

"Honeypot?"

"Sudah dibuat. Namanya product_core_final_v2. Mereka pasti tergoda."

Dimas tertawa pendek.

"Nama folder itu seperti perangkap murahan."

Rizky menatapnya.

"Justru karena murahan, orang sombong sering masuk."

Bayu mengangkat daftar.

"Semua perangkat yang masuk venue diberi segel. Barcode scanner, laptop, router cadangan, power bank, semua dicek."

Pak Budi menambahkan.

"Pengacara Ahmad siap standby. Kalau ada bukti masuk dari jaringan Hartono, kita langsung punya jalur hukum."

Arya mengangguk.

"Kita lanjutkan peluncuran."

Mega masuk membawa tablet.

"Pak, daftar undangan sudah 213 orang. Ada media nasional, beberapa pemilik gudang besar, asosiasi logistik, dan tiga perusahaan yang kemarin hendak mundur."

"Pastikan mereka duduk di depan."

"Siap."

"Untuk Kirana?"

"Kursi depan, akses dekat pintu samping, air mineral, cushion, dan jalur keluar tanpa tangga sudah disiapkan."

Ekspresi Arya melembut satu detik.

"Terima kasih, Mega."

Pukul delapan malam, Arya pulang ke Grand Surya Residence. Kirana sedang duduk di sofa, membaca buku kehamilan. Perutnya makin jelas. Di meja ada susu hangat.

"Mas pulang lebih cepat dari perkiraan."

"Aku janji pulang."

Kirana menutup buku.

"Ada masalah di kantor?"

Arya duduk di sampingnya.

"Ada yang mencoba masuk server."

Wajah Kirana berubah cemas.

"Bahaya?"

"Sudah dikendalikan."

"Hartono?"

"Kemungkinan besar."

Kirana menyentuh perutnya. Gerakan kecil terlihat di balik kain bajunya.

"Mereka mulai takut, ya?"

Arya menatapnya.

"Sepertinya begitu."

Kirana mengambil tangannya.

"Kalau mereka takut, berarti Mas berjalan di arah yang benar."

Arya menggenggam tangan itu.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari nomor yang pernah muncul.

Peluncuran bisa menjadi panggung. Bisa juga menjadi pemakaman reputasi.

Arya membaca sekali, lalu mengirim tangkapan layar ke Pak Budi.

Ia tidak membalas.

Di gedung Hartono, Herman Wijaya keluar dari ruang rapat sambil menekan nomor Denny.

"Denny," katanya lirih saat panggilan tersambung. "Bapakmu bilang kamu bisa mulai langkah berikutnya."

Di ujung sana, Denny tertawa pelan.

"Akhirnya."

1
Ria Gazali Dapson
kirana bnyak tanya ya, udh untung arya mo tanggung jawab, dg fasilitas wow , ga da rasa syukur nya ,cuma penasaran⁹ doang , liatin ja dulu , bersama dg waktu akn mnjawab semua , karena suatu anugerah, sedang tercurah k arya
Maulana Sejati
buruk
Maulana Sejati
ni yg nggak masuk akal, punya sistem,sdh tau ada ancaman tpi trnyata msh dbuat cerita yg bgini...prettt
penggemar_Uangkecil?!
👍👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
sitanggang
gak seru, kok system org Lain ad yg tau🤣🤣🤣🤣🤣
σяιмσтσ (^• . •^)
.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!